
Salma baru selesai melakukan pemeriksaan MRI dengan dokter Edi. Setelah enam puluh menit menjalani pemeriksaan, akhirnya dokter menjelaskan jika kerusakan system lembik yang dialami Salma tidak begitu parah. Itu artinya, ingatan Salma bisa pulih kapan saja.
“Kenapa dari tadi ngomong ingatan terus? Kalian khawatir banget ya?” Salma langsung protes saat Sabda berhasil membawanya keluar dari ruang neurologi.
Sabda hanya tersenyum simpul, perlahan menurunkan kecepatan langkahnya. “Salma, apa kamu tahu siapa presiden saat ini?”
“Jelas tahulah, Mas! Masa gitu aja ditanyain! Jawabannya pak SBY!” jawab Salma, membuat Sabda semakin lebar tertawa.
“Salah, Salma! Kita sekarang, berada di tahun 2017. Presiden kita sudah ganti Pak Jokowi! Kamu tahu? Itu artinya, kamu sedang terjebak dalam kenangan lima tahun silam.”
Sabda yang sudah berada di depan ruang Obgyn berganti menghadap Salma. “Dan lagi, kamu harus sembuh. Kamu harus ingat mengenai hubungan kita.” Sabda berkata sungguh-sungguh.
“Ya, aku harus mengingat momen pertumbuhan Ody. Tapi masalah kita, aku yakin kita masih terikat. Mengingat janji yang selalu kamu ucapkan, aku tidak akan percaya jika kita sudah bercerai!”
"Pelan-pelan, biarkan waktu yang menjawab!" Sabda kembali mendorong kursi roda yang ditempati Salma saat seorang perawat mendatangi mereka.
Sebenarnya dokter Obgyn sudah tidak buka praktek lagi. Akan tetapi, karena permintaan dari dokter Edi, wanita itu pun membuka kesempatan untuk Salma melakukan pemeriksaan.
Dengan penuh kesabaran Sabda membantu Salma naik ke atas ranjang pemeriksaan. Sabda yang sungkan memilih menunggu di kursi depan meja kerja sang dokter.
Sejenak telinganya bisa mendengar keramahan dokter yang kini memeriksa Salma. Mungkin merilekskan Salma yang terlihat tegang sejak masuk ke ruangan tersebut.
Sudah hampir lima menit Sabda mendengarkan obrolan mereka. Mendadak suasana berubah tenang, tidak ada lagi suara dari balik tirai. Sabda yang bosan memainkan apapun yang ada di atas meja sang dokter. Sampai kemudian, sebuah kertas pasien menarik perhatian Sabda.
Salah. Bukan kertas pasiennya, melainkan nama pasangan pasien yang tertulis di kertas itu. Arwenda? Sabda hanya bisa membaca nama belakangnya saja, karena sebagian kertas itu masih tertutup tumpukan kertas lain.
Banyak orang bernama belakang Arwenda, dia berharap kertas itu bukan milik pria yang kini sedang merecoki pikirannya. “Mbak!” panggil Sabda tanpa Suara.
Wanita itu menoleh, sosok assiten yang sejak pagi menemani sang dokter, mendekat ke arah Sabda. "Ada apa, Pak?"
“Ini pasien apa?” Sabda bisik-bisik.
“Ini pasien yang datang tadi pagi, Pak.” Perawat itu seakan paham, dia menjawab sama berbisiknya.
“Apa boleh saya pinjam?” tanya Sabda.
__ADS_1
Perawat itu langsung merangkum kertas-kertas di sana. “Mohon maaf, Pak! Ini privasi pasien,” ujarnya yang membuat Sabda mende-sah kecewa. Tahu begitu tadi tidak perlu melapor.
“Bentar saja, Mbak!”
Perawat itu menggeleng. “Saya harus menjaga privasi pasien, Pak.” Perawat itu mengakhiri dengan senyuman.
“Mari saya jelaskan!”
Suara dari dalam bilik, membuat Sabda menyerah. dan merelakan kertas itu.
“Ada masalah ya, Dok?”
Dokter itu tersenyum simpul. “Santai saja, zaman sekarang kalau ditangani dengan baik. Insya allah bisa sembuh.”
Ucapan dokter membuat Sabda mengalihkan fokusnya ke arah mereka berdua yang kini mendekati meja dokter. “Apa yang terjadi, Dok?” tanya Sabda setelah berhadapan dengan sang dokter.
“Jadi, Pak! Di rahim ibu Salma, terdapat kista.”
“Tidak begitu menganggu, dan saya yakin jadwal menstruasi Bu Salma masih normal. Besarnya kira-kira 12 milli. Sebaiknya kita coba metode obat dulu ya, bulan depan saat haid ke dua kita bisa memeriksanya ulang. Jika mengecil, kita tidak perlu melakukan operasi.”
“Dokter, apa itu artinya saya tidak bisa hamil lagi?” tanya Salma.
“Saya tidak pernah mengatakan pada pasien saya, sulit hamil ataupun tidak bisa hamil. Saya selalu menekankan pada pasien, siapa yang berusaha maka dia akan mendapatkan. Jadi tenang saja, kita serahkan semuanya pada Allah. Anak itu kan titipan! punya anak itu artinya kita juga harus siap bertanggung jawab dunia akhirat.”
“Tuh dengar kan?” ucap Sabda, kali ini berganti memeluk tubuh Salma karena tangisnya semakin pecah.
“Apa kamu masih mau menerimaku, jika aku tidak memiliki bayi laki-laki?”
Sabda tersenyum simpul, tangannya mengusap surai hitam milik Salma.
“Ayo jawab, SABDA!”
“Apapun kondisinya, jika wanita itu kamu, aku akan menerimanya. Jadi, jangan berpikir berat. Kita ikuti kata dokter ya!”
Salma menganggukan kepala, belum sepenuhnya tenang. Tapi dia juga tidak bisa berlarut dalam kesedihan, ada Sabda dan Aundy yang wajib dia layani.
__ADS_1
“Terima kasih atas penjelasannya, Dok!” ucap Sabda lalu menuntun Salma keluar dari ruangan itu.
Hingga malam menjelang tidur, wajah Salma terlihat murung. Bahkan enggan merespon saat Aundy mengajaknya bermain Cublak-cublak Suweng. Dia hanya bergeming meratapi nasibnya.
Sabda pun tidak bisa berbuat banyak. Selain menjaga Salma. Ya, tugasnya hanya menjaga Salma. Untuk pengambilan keputusan, Sabda menyerahkan sepenuhnya pada suami asli dan keluarga besarnya.
Beruntung Bu Deva dan Panji segera datang jadi Salma seperti mendapat tempat untuk berkeluh kesah.
Jauh berbeda dengan pak Arif, bu Deva lebih welcome terhadap Sabda. Wanita itu tidak membenci Sabda dengan apa yang sudah terjadi dengan kehidupan pernikahan mereka. Jodoh di tangan Allah, jika memang keputusan mereka adalah bercerai, mungkin ada hal yang tidak bisa diungkapkan pada keluarga.
“Uti, besok bunda boleh pulang. Tadi dokter berkumis itu bilang begitu.” Aundy melapor.
“O, ya? bagus dong! Kalau begitu, biar bunda Salma pulang ke rumah Uti ya!”
“Enggak. Kita keluarga bahagia Uti, harus ada ayah dan bunda di rumah Ody.”
Bu Deva tersenyum kecut. “Ody masih ingatkan, kalau ada ayah Endra?”
Wajah Aundy langsung muram. Bagaimana bisa seperti itu. Dia membenci Endra, bahkan berharap ayah tirinya itu tidak akan kembali. "Ody mau punya ayah Sabda aja. Ayah Endra itu jahat, punya istri lain selain bunda."
Ucapan Aundy membuat Bu Deva terbahak. "Nggak mungkin Ody, mana bisa seperti ini."
Melihat Aundy asyik ngobrol dengan Bu Deva, Sabda memutuskan membawa Panji keluar dari ruangan. “Ody, ayah keluar dulu ya sama Om Panji.” pamit Sabda sambil melirik Panji.
“Iya, Ayah!”
Sabda memberi isyarat pada Panji untuk berbicara di luar.
“Apa sih, Bang!” protes Panji setelah berada di luar ruangan.
“Ada hal yang ingin kubicarakan. Tapi hanya kamu yang boleh mendengar.”
“Maksudnya?”
“Sepertinya kekasihnya tinggal di sekitaran Dieng. Tadi pagi aku melihatnya lagi. Kamu ikuti dia saja, siapa tahu menemukan bukti kuat untuk ditunjukan ke Salma.”
__ADS_1
“Dilihatkan pun percuma, Mas. Mbak Salma ingatnya masih nikah sama kamu. Ini justru kesempatan buat kamu merebut simpati dari bapak.”