Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Akhirnya Telepon


__ADS_3

“Coba lihat sini! Masa gambar dari tadi nggak kelar-kelar!” Sabda hendak merebut selembar kertas A4 dari tangan Salma.


Namun, usahanya gagal. Gadis tujuh belas tahun yang kini mengenakan seragam putih abu-abu itu begitu sigap menjauh dari Sabda.


“Tunggu sedikit, Ayang. Sebentar lagi juga kelar! STOP, tetap duduk di sana!” Salma melemparkan tatapan tajam, meminta Sabda untuk tetap duduk di rerumputan, menghadap utara, supaya sinar mentari sore bisa memancarkan aura malaikat dalam diri Sabda.


“Kelamaan, Yang! Keburu gosong kulitku!” Sabda nekat, langsung beranjak dan meraih kertas itu dari tangan Salma. Matanya melebar, alisnya berkerut saat melihat hasil karya Salma. “Astaga! Ini mah, gambar popeye bukan aku lagi!” Sabda menarik hidung Salma yang bangir, lalu meraih pensil mekanik dari tangan Salma.


"Sini giliran aku!" Sabda meminta Salma untuk bertukar tempat. Setelah menemukan angle yang pas Sabda mulai menggerakan tangannya. Pria itu jago melukis, harusnya memang Sabda masuk ke jurusan Seni. Tapi, entahlah hanya dia yang tahu kenapa memilih satu sekolah dengan Salma.


Tidak butuh waktu lama, Sabda memamerkan hasil karyanya ke Salma. Sebuah sketsa gambar seorang gadis yang duduk di padang rumput tercetak jelas di selembar kertas A4 itu.


“Bagus banget, Yang! Tunggu-tunggu, ini beneran aku, nggak nyangka bisa jadi cantik! Terus ini huruf S apa artinya? Sabda atau Salma?” Salma menunjukan sikap takjub atas hasil karya Sabda.


“Kan emang kamu cantik. Kalau nggak cantik bukan pacar Sabda namanya! dan S di situ, karena yang ngelukis aku, jadi Sabda aja deh!” Sabda membereskan alat lukisnya. “Ayo pulang! itu masih sket, besok dibawa ya! kita lanjut lagi, aku sempurnakan lukisannya.” dia beranjak lebih dulu naik ke sepeda polygon miliknya.


“Jangan sampai rumah lo ya! nanti kita dinikahkan sama bapak!” kata Salma seraya naik ke dalangan sepeda yang dinaiki Sabda.


“Ya, enggak papa! kamu cinta nggak sama aku?” tanya Sabda sambil mengayuh pedal sepedanya.


“Hm … cinta tapi segini.” Salma menunjukan ujung jari kelingkingnya.


“Ya, enggak papa lah yang penting ada. Nanti, kalau kita udah sama-sama, setiap hari aku kembangin biar jadi seluaaaaassss samudraaa!”


“Nggak dunia sekalian?” Salma terkekeh sambil fokus mengendalikan setang sepeda yang mereka naiki.


“Kalau sedunia, gimana baginya sama anak-anak nanti?”


“Dasar masih kelas dua udah mikirin anak!”


"Itu tandanya, aku serius sama kamu, Sal! kamu itu pacar pertama dan aku mau kamu jadi yang terakhir dalam hidupku."


"Mau pisah semalam, malah ngomongnya sweet banget!"


Sabda tidak membalas, dia justru mendaratkan kecupan di rambut Salma.


Saat libur latihan basket, mereka akan pulang bersama. Mereka berhubungan sejak kelas dua semester satu. Meskipun beda kelas tapi mereka setiap hari masih bisa bertemu.

__ADS_1


“Yang, besok kalau udah lulus SMA rencana mau ke mana?” tanya Salma, mengisi suasana yang tiba-tiba hening.


“Ke mana aja, yang penting nggak di rumah.”


“Nggak pengen lanjut kuliah?”


“Nggak minat. Pengennya lanjut ke KUA sama kamu.”


“Dasar SABDA aku serius!”


Sabda terkekeh mendengar teriakan Salma yang membahana. Beruntung rumah Salma sudah terlihat. Jadi, Sabda lekas meninggalkan kekasihnya di pinggir jalan. Dia belum berani menemui orang tua Salma. Soalnya pak Arif itu kumisnya tebal, belum lagi adiknya yang masih ingusan. Ada lagi ibunya yang setiap saat selalu bawa setrikaan, takut kalau dia memperkenalkan diri sebagai pacarnya Salma setrika itu akan hinggap di tubuhnya. Kan panas!


Banyak kenangan tentang Sabda yang disimpan Salma. Semua yang berhubungan dengan Sabda hanya tinggal kenangan. Karena kenyataannya, mereka kini sudah memiliki kehidupan masing-masing.


“Bunda, kenapa liatin lukisan itu?”


Suara Aundy mengudara, menarik kesadaran Salma dari ingatan masa lalunya. Dia tersenyum ke arah Aundy yang sibuk mengucek matanya. “Enggak papa, ini foto bunda waktu masih SMA.”


"Ini cantik rambutnya kaya kuda poni, tapi kok item! apa bunda dulu hitam?"


Salma menahan tawa, mencubit gemas pipi putrinya, hitam karena pensil yang digunakan Sabda hari itu. Saat dia hendak mengembalikan bingkai itu ke tempat semula. Pertanyaan Aundy menghentikan langkahnya.


Aundy dengan sigap berlari ke luar kamar—mencari keberadaan Sabda. Dia kembali menangis setelah menyadari tidak ada Sabda di rumahnya. “Ayah … ayah … ayah mana, Bunda!” tak lama dia meraung terus menyebut nama sang ayah. Aundy mulai terbiasa karena semenjak sakit dan dirawat di rumah sakit, dia selalu dijaga oleh Sabda. Tapi Salma tidak ingin seperti itu terus, dia harus membiasakan Aundy tanpa ayahnya.


“Ody, Nak ... ini sudah malam. Udah jam sebelas. Ayah Sabda sudah pulang.” Salma berusaha berbicara lembut. Akan tetapi tetap saja gadis itu semakin keras menangis sembari menyebut nama 'ayah'.


“Diam ya, Ody ... bunda teleponin ayah Sabda.”


Dengan isak tangis yang masih terdengar Aundy menganggukan kepala. “I—iya, cepet Bun—bunda! O—Ody pengen ketemu sama ayah!” ucapnya dengan suara tersendat-sendat. Kedua telapaknya kini mengusap air matanya yang membasahi pipi.


Lupa sudah coklat yang semula menjadi perdebatan mereka berdua. Kini Aundy justru teringat dengan kehadiran Sabda sebelum dia terlelap.


Salam : Mas, bisa telpon? Dicari Ody.


Beruntungnya pesan itu langsung dibaca oleh Sabda. Tak lama kemudian Sabda menghubungi Salma melalui panggilan video.


“Masih si luar?” tanya Salma saat menyadari keramaian di sebrang panggilan.

__ADS_1


“Iya—nongkrong sama anak-anak.” Sabda tampak sedikit menjauh, hingga suaranya sedikit lebih tenang. Salma bersyukur melihat Sabda langsung mematikan puntung rokoknya.


“Dicari sama Ody, minta tolong telpon bentar ya!” pinta Salma, lembut.


“Aku ke rumah kalau begitu.”


“JANGAN UDAH MALAM!” Salma mengingatkan.


Pria itu mengangguk. Salma kemudian menyerahkan ponselnya ke Aundy.


“Kenapa Ody Sayang? Kan tadi udah bobo, bangun lagi?”


“Ayah … ayah kapan kita liburannya? Kan Ody udah sembuh!”


“Tanya sama Bunda Salma, dong! Ayah kapan aja siap anterin kalian.”


Aundy melirik ke arah Salma yang tengah melangkah mengembalikan lukisan potret dirinya.


“Besok saja gimana, Yah?” tanya Aundy.


“Ody … kan bunda belum izin sama ayah Endra.” Salma menyela.


“Terus kapan, Nda. Ayah Sabda keburu pergi lagi.” Aundy menatap wajah Sabda di layar ponsel.


“Kita liburan tapi jangan nginap di villa ya?”


Wajah Aundy berubah sayu, air mata tampak kembali menggenang di pelupuk mata, yang semakin membuat Salma merasa bersalah.


Saat ekor matanya melirik ke arah layar, dia melihat nama Endra sedang menelponnya. Otomatis panggilan pria itu tidak berdering lantaran ponsel sedang digunakan Aundy menelpon.


“Ya. Bunda ngikut aja kalau gitu! Udah kan bicara sama ayahnya?” Salma berusaha mengambil ponsel itu. Khawatir suaminya akan naik pitam jika menyadari dia tengah menelpon orang lain.


“Besok ya yah bilang bunda besok kita liburan ke villa yang dulu ayah bilang itu.” Aundy melapor ke Sabda. Bahkan, Salma tidak tahu menahu villa apa yang kini tengah dibicarakan Aundy dan mantan suaminya itu.


“Okay tuan putri. Sekarang Ody bobok ya! enggak boleh rewel lagi!”


Gadis itu mengangguk, dia seperti lega setelah mendapat kepastian dari sang ayah. Tak lama kemudian panggilan itu pun terputus. Aundy sudah kembali naik ke atas ranjang, dengan wajah yang terlihat sembab.

__ADS_1


Benda pipih yang tadi digunakan Aundy, sudah beralih ke tangan Salma, saat jemarinya membuka layar, ada notifikasi panggilan tak terjawab dari Endra. Dia pun berniat menghubungi pria itu. Tapi, terlambat karena Endra kini sudah menghubunginya.


__ADS_2