
Setelah tiga hari dirawat di rumah sakit, Aundy kini sudah diperbolehkan pulang. Sore ini, Salma dijemput oleh Panji karena kebetulan bengkel tutup lebih awal.
Diam-diam ada yang tengah memendam rasa kecewa karena yang dinanti tak kunjung hadir. Siapa lagi kalau bukan Aundy, sejak naik ke mobil Inova milik pak Arif, wajah mungilnya tertekuk, dengan raut masam, seakan memberitahu apa yang kini tengah dirasakan.
“Mas Sabda nggak jemput kenapa, Mbak?” Panji melirik ke bangku belakang di mana Aundy tengah menatap ke arah jalan yang mereka lewati.
“Ada urusan sama—“ Salma berkedip berulang kali, berharap Panji mengerti dengan apa yang diisyaratkan. Ya, sore ini Sabda tengah pergi jalan-jalan dengan calon istri barunya.
“Baru aja pacaran udah lebih mentingin calon istri. Apa jadinya kalau udah beneran jadi istrinya, bakalan lupa deh sama Ody.” Panji menggerutu, kasihan melihat Aundy seperti itu.
Salma sebenarnya tidak mempermasalahkan, toh dia selama ini juga baik-baik saja tanpa Sabda di sampingnya. Satu tarikan napas dia lakukan. “Apaan sih kamu, Nji! Lagian, aku juga nggak masalah kok, malah bersyukur kalau bisa bener-bener lepas dari dia. Toh juga udah ada mas Endra, yang bakal gantiin posisinya.”
“Mbak yakin?” ledek Panji, sambil melirik tajam ke arah sang kakak.
“Maksudmu?”
“Mbak yakin kalau Mas Endra tu nikahi Mbak karena cinta? Bukan karena hal lain?” Panji terkekeh, berharap sang kakak hanya mengganggap ucapannya sebagai candaan belaka.
Salma menoleh ke arah Panji. “Maksudmu apa sih, Nji?!” Salma sedikit membentak, khawatir jika Aundy mendengar ucapan pria itu.
“Nah kan siapa tahu—ada perjanjian tertentu antara orang yang mengatur perjodohan itu.”
Salma semakin bingung. “Apa yang kamu ketahui?” dia curiga kalau panji menyembunyikan sesuatu darinya.
Panji terbahak. “Nggak ada, katanya mas Endra cinta, ya udah jalani saja!”
“Nji!”
“Udahlah, yang penting Mbak Salma seneng, Ody juga bahagia. Udah gitu aja.”
__ADS_1
Salma mulai berpikir keras, mengenai apa yang membuat Panji berkata seperti itu. Dia yakin Panji membunyikan rahasia darinya. “Ya sudahlah. Kakak bisa cari tahu sendiri, kok!” ujarnya, kini giliran dia yang kesal.
Di sisa perjalanan menuju rumah hanya keheningan yang mengudara. Salma masih memikirkan alasan yang mungkin saja membuat Endra mau menerimanya. "Apa pak Adiguna punya hutang ke bapak? jadi dia memaksa Endra menikahiku?" tebak Salma, tak sabar ingin tahu kebenarannya.
"Mana Panji tahu sih, Mbak!" kata Panji sedikit ngotot.
"Terus kamu ngomong gitu tadi, maksudnya apa?"
"Nggak papa. Cuma ngetes sejauh apa perasaan cinta Mbak Salma ke mas Endra!"
Salma kembali mengunci mulutnya. Menunggu mobil yang dikemudikan Panji berhenti di depan rumah. Dia berusaha mengikis kecurigaannya itu, berharap itu hanya pikiran buruknya saja.
Sampai di rumah, pria itu membantu Salma memasukan barang bawaan. Panji baru pergi setelah mendengar adzan isya' berkumandang. Pria itu menolak ketika Salma memintanya supaya tidur di rumah. Lantaran besok hendak kuliah pagi.
Salma benar-benar mengontrol apa yang dimakan Aundy. Gadis itu masih dalam fase pemulihan. Jadi, tidak membebaskan aundy makan yang aneh-aneh. Apalagi saat Aundy merengek meminta coklat, Salma menolak tegas. Hingga saat bu Habibah dan rombongannya datang. Mereka mendapati Aundy tantrum, melempar apapun ke tubuh Salma.
Salma sudah berusaha menenangkan, tapi Aundy tetap saja keras kepala. Begitu pun dengan Salma dia tetap pada pendiriannya. Karena kalau Aundy sakit, dia sendiri yang repot.
“Sini Mbah bukain!” Bu Habibah mengambil coklat itu dari tangan Aundy.
“Jangan, Bu!” cegah Salma.
“Enggak papa, kan dikit saja!”
“Ody!” diperingati begitu Aundy langsung menjerit, kaki kecilnya berlari ke arah depan, menghampiri Sabda, gantian bocah kecil itu mengadu pada sang ayah.
“Kamu itu dari dulu enggak berubah ya, Sal. Lebih memilih anaknya nangis ketimbang ngasih apa yang dia mau! Nggak kasihan apa sama Ody nangis kaya gitu?!”
“Ody baru keluar dari rumah sakit, Bu. Dan perutnya masih sensitif! Salma cuma nggak mau Ody sakit lagi, dia harus menjaga apa yang dimakan.”
__ADS_1
“Astaga, Salma, Salma! Dikit aja loh!” Bu Habibah mengatakan dengan nada penuh penekanan. Salam kesal dengan situasi saat ini. Dalam hatinya, Salma menginginkan mereka segera pulang. Karena jujur kedatangan mereka justru membuat kepalanya nyeri apalagi sudah tiga hari jam tidurnya kurang.
"Hani, nanti apapun yang ibu katakan, harus kamu turuti ya! Jangan sampai seperti Salma! bisanya mbantah terus! dan berakhir bercerita karena Sabda lebih berat ke ibunya."
Salma tidak membela diri, terserah mereka mau berkata apa. Sampai akhirnya, saat pandangannya beralih ke teras rumah. Dia bisa melihat Aundy sudah tertelap dalam dekapan Sabda. Salma berniat mengambil alih bocah itu untuk ditidurkan.
“Biar aku yang menidurkannya.” Sabda menolak ketika Salma hendak mengambil alih.
“Tidak perlu. Salma bisa kok, Mas!” cegah Salma, nggak baik mengizinkan pria masuk ke rumah, apalagi tak ada suami.
“Sal! Jangan keras kepala Ody bisa bangun lagi! Aku juga nggak bakal ngapa-ngapain kok!”
Untuk pertama kalinya, Sabda masuk ke rumah Salma. Dia bahkan menidurkan Aundy ke kamar yang biasa dipakai Salma.
“Besok pagi aku datang lagi. Aku akan mengantar mereka pulang dulu.” Sabda beranjak setelah berhasil menidurkan Aundy.
“Tidak perlu, Mas! aku bisa kok!" cegah Salma.
“Bukan untuk mendatangimu, tapi untuk Ody, anakku!"
Hanya pasrah jika kalimat itu keluar dari bibir Sabda. Setelah mengucapkan itu Sabda berniat keluar dari kamar. Namun, langkahnya terhenti melihat sesuatu yang terletak di atas meja.
“Jangan salah paham!” peringat Salma berusaha menjelaskan, saat tahu ke mana arah pandangan Sabda.
Pria itu tersenyum simpul, tanpa menunjukannya di depan Salma. “Aku pulang, enggak usah keluar kalau memang tidak nyaman. Kamu bisa mengunci pintunya, saat aku dan ibu sudah pergi!” Sabda mengingatkan. Kemudian berlalu membawa mereka keluar dari rumah Salma.
Tubuh Salma lemas, dia langsung terduduk di pinggiran ranjang. Harusnya dia membuang lukisan yang dibuat Sabda untuknya, supaya pria itu juga tidak berpikiran negative tentang dirinya. "Enggak kan, Dy! bunda kan cintanya sama ayah Endra," gumam Salma berusaha menyakinkan dirinya sendiri. Dia yakin cintanya untuk Sabda sudah padam sejak putusan pengadilan hari itu.
Jemari Salma bergerak mengambil ponsel di atas meja. Dia ingin menghubungi Endra, karena sejak hari terakhir pria itu menelpon, nomornya tidak bisa dihubungi. Dia justru khawatir, apa Bu Tantri mengadukan kejadian pagi itu ke Endra.
__ADS_1