
Setelah hampir seharian menemani Aundy bermain di rumah orang tuanya, Salma memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Dengan alasan tidak tega, Salma terpaksa menyembunyikan kondisi Endra pada Aundy.
Selain itu Salma tidak ingin keburukan yang disembunyikan ayah sambungnya terbuka di depan Aundy. Salma sama sekali tidak tahu, jika Aundy sudah menyadari tabiat asli pria itu.
Di dalam taksi yang kini ditumpangi, Salma memeriksa ponselnya. Rupanya, dia melewatkan pesan singkat yang dikirimkan Sabda beberapa jam yang lalu.
Sabda : Salma, aku pamit ya—kapanpun aku siap membantu. Titip anak kita. Maaf tidak bisa menemanimu, aku punya kewajiban mencari nafkah untuk Ody! Sampai jumpa lagi.
Salma tersenyum lebar tanpa menunjukan barisan giginya. "Bukankah semua pria sama saja! Tidak puas dengan satu wanita," gumam Salma, enggan membalas pesan Sabda, memilih menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Hilang sudah respect nya terhadap lelaki, Salma menilai semua lelaki itu sama saja, suka bohong!
Beberapa menit berlalu, Salma sudah tiba di rumah sakit. Langkah kakinya terayun menuju kamar perawatan yang ditempati Endra.
Selesai operasi, pria itu langsung dipindahkan ke ruang perawatan. Bu Tantri sempat mengabari Salma, memberitahu jika saat ini, Endra tinggal menunggu proses pemulihan.
Saat tangannya mendorong pintu ruang Mawar, Salma hanya mampu bergeming di bibir pintu. Kali ini, bukan Endra yang ada di ruangan itu, melainkan sosok wanita yang kini tengah dilayani Bu Tantri.
"Masuklah! Endra ada di ruang sebelah!" Bu Tantri memberitahu Salma, menunjuk bilik ruangan yang tertutupi kain. "ayo makan, biar A-si nya lancar!" pintanya memaksa Arienta.
"Sepertinya kedatanganku mengganggu kalian?" Salma menyadari kecanggungan yang ditunjukan Arienta. "Aku akan pergi!"
__ADS_1
"Bukan begitu, Mbak!" cegah perempuan itu. "Justru ini adalah suatu kebetulan bagiku!" sambungnya tegas. "Masuklah, Mbak!" pintanya, saat melihat Salma masih bergeming di bibir pintu.
"Ibu, apa bisa keluar sebentar! Arin ingin bicara dengan Mbak Salma!" pinta Arienta, beralih menatap mertuanya.
Bu Tantri menatap Salma penuh peringatan. Dari cara dia menatap Salma, rasanya tidak ikhlas meninggalkan mereka berdua. "Ingat ya, Sal. Kondisi menantuku ada di tanganmu? Kalau sampai terjadi sesuatu, kamu yang akan bertanggungjawab!" Pesan Bu Tantri sebelum menjauh dari ranjang yang digunakan Arienta.
"Bu, bisa minta tolong ambilkan tas Arin!" Pinta wanita itu, sebelum Bu Tantri berlalu dari kamar perawatan. Arienta tahu, tim penyidik baru saja mengantarkan barang-barang yang ada di TKP. Dan tas-nya sudah dikembalikan, dan disimpan oleh Bu Tantri di lemari kecil.
Bu Tantri dengan sigap melayani menantunya. Dia mengambilkan tas itu lalu menyerahkan kepada Arienta. Setelah itu, beliau lekas meninggalkan ruangan.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? Kamu ingin pamer kalau sudah berhasil menggaet suamiku?" Salma mengakhirinya dengan tawa kecil, kali ini dia sudah berdiri di samping ranjang.
Kesedihan Salma yang semula tenggelam kini kembali naik ke permukaan saat menyadari dia lah yang merebut Endra dari Arienta. Tapi seandainya dia tahu, dia tidak akan mungkin melakukan itu.
Salma hanya bisa diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Sejenak, pandangannya tertuju pada Arienta yang sibuk mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Mohon Mbak Salma menandatangani ini!" Arienta menyerahkan sebuah amplop bewarna coklat ke hadapan Salma. "Endra sudah berniat menyerahkan surat perceraian itu ke Mbak Salma. Tapi, terhalang oleh ingatan Mbak Salma yang tiba-tiba menghilang."
Salma masih bergeming, menunggu kalimat berikutnya yang hendak diucapkan Arienta.
__ADS_1
"Pasti mbak Salma udah tahu tentang aku. Awalnya aku berniat menyusulkan surat itu ke Endra untuk diberikan kepadamu, Mbak. Karena sebenarnya hari ini aku dan Endra akan pergi ke Kalimantan. Kebetulan kami bertemu di jalan, saat hendak kembali ke rumah mbak Salma. Mobil yang kami tumpangi justru mengalami kecelakaan."
Kali ini Salma melangkah semakin dekat dengan ranjang, menerima amplop coklat yang sedari tadi disodorkan padanya. Salma membuka surat itu, ternyata isinya adalah surat pengajuan perceraian. Di sudut kertas bagian bawah Endra sudah membubuhkan tanda tangannya.
Salma memaksakan senyuman ke arah Arienta. "Baik, aku akan mengembalikan surat ini padamu!" Ya, memang sudah tidak ada harapan untuk hubungannya dengan Endra, mau tidak mau dia harus bercerai dengan pria itu demi kebaikan bersama. Salma berharap setelah melepaskan, dia bisa membuka lembar kehidupan baru bersama Aundy.
Salma sudah bersiap pergi, tapi ada satu hal yang dia lupakan. "O, iya! Selamat atas kelahiran bayi kalian. Semoga ke depannya tidak akan ada Salma ke dua dalam pernikahan kalian. Eh, tapi ingat ya! Bahwa karma itu benar ada—Arienta, mohon izin menemui Endra untuk yang terakhir kali!" ujar Salma sopan.
"Silakan, sebaiknya gunakan waktu terbaikmu! Karena setelah ini, aku tidak akan mengizinkan mu menemuinya!" Arienta memberi izin, berkata penuh bangga, seakan sudah memenangkan sebuah pertandingan.
"Baiklah! tapi keyakinanku mengatakan, bukan aku yang akan mencari Mas Endra, tapi sebaliknya." Salma beralih mendatangi bilik ruang yang ditempati Endra, meninggalkan Arienta yang tengah dirundung emosi. Gorden di ruangan itu sengaja ditutup rapat oleh Salma, dia tidak ingin Arienta ikut melihat kesedihan yang dialaminya saat ini. Dia harus menunjukan pada dunia, jika saat ini dia baik-baik saja.
Kini Salma seperti berada di ruangan private dengan Endra. Sepasang matanya menatap lekat-lekat pada sosok pria yang terbaring lemah di atas ranjang. Terlihat sebagian rambutnya sudah hilang akibat operasi yang dijalani.
Jujur Salma akui sosok Rajendra Arwendha memiliki wajah rupawan, berkulit bersih, tinggi sekitar 188 cm. Saat dia memandang wajahnya dari jarak paling dekat, pria itu memiliki tahi lalat kecil di bawah bibir. Di kala Endra tersenyum ada lesung pipi di sebelah kanan yang menambah plus ketampanannya.
Endra adalah gambaran manekin dalam kehidupan nyata, sempurna. Tapi ternyata, kebaikan fisik yang dia miliki tak menjamin pria itu memiliki sikap baik. Ya, bisa jadi itu adalah efek dari tuntutan yang dilakukan orang tuanya.
Hampir lima menit Salma mengamati wajah Endra, seolah tengah memuaskan diri dengan pertemuan terakhir mereka. "Sekarang, aku tahu kenapa Allah membuatku lupa ingatan, melupakan hubungan kita—supaya aku kuat menerima ini. Entah perasaan apa yang aku rasakan terhadap Mas Endra dulunya. Yang jelas, sekarang dan ke depannya—aku yakin akan baik-baik saja!" Salma berkata lirih, tepat di samping telinga Endra.
__ADS_1
"Apapun itu! seperti apapun kehidupan pernikahan kita selama setahun berlalu, terima kasih sudah pernah hadir dan menjadi suamiku. Dan mungkin, mas Endra juga sudah menjadi ayah yang baik untuk Ody! Sebenarnya, Salma ingin bertahan sebentar lagi—ada di saat kondisimu seperti ini. Tapi, ternyata kamu tidak lagi membutuhkan aku. Kali ini bukan mas Endra yang akan pergi. Tapi biarkan Salma yang pergi dari kehidupan kalian. Besok pagi, Salma akan menyerahkan surat ini ke pengadilan. Mas Endra tenang saja, aku akan membujuk bapak supaya tidak lagi mengusik kehidupan kalian." Salma menarik napas, sulit sekali mengontrol suaranya supaya terdengar baik-baik saja. "Aku minta satu hal sama mas Endra. Selanjutnya, saat nanti kita bertemu, kamu harus menunjukan kebahagian kalian di depanku!" pesan Salma. "Selamat tinggal, Mas—aku pergi dulu!" Salma memutar tubuhnya, dengan berat hati meninggalkan bilik yang ditempati Endra.