Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Bersama Aundy Saja


__ADS_3

Hampir separuh jalan menuju rumah kedua orang tuanya, Salma memilih untuk berjalan kaki. Dia butuh waktu sendiri untuk memahami semua ini. Sampai akhirnya, karena hari sudah mulai larut malam, Salma memutuskan untuk memanggil taksi.


Beberapa panggilan masuk yang didominasi dari nomor Panji sengaja diabaikan oleh Salma. Wanita itu tidak paham saja, jika keluarganya mencemaskan keberadaanya saat ini.


Saat mobil taksi yang ditumpangi Salma berhenti di depan pagar rumah, tampak keluarga Salma menunggunya dengan raut cemas. Mereka langsung menghampiri mobil taksi, memastikan jika yang datang adalah Salma.


“Astaga, Salma!” bu Deva langsung meraih lengan putrinya. Seakan-akan sedang memeriksa, apakah ada luka atau tidak di tubuh putrinya. “Syukurlah kamu tidak apa-apa!” gumamnya seraya memeluk tubuh Salma. Terdengar suara napas Bu Deva yang naik turun.


Dari balik tubuh bu Deva, pandangan Salma tertuju pada pak Arif yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Salma berusaha tersenyum, tapi jelas apa yang dialami tak bisa ditutupi dari keluarga. Sepandai-pandainya dia menutupi, pasti mereka akan tahu apa yang kini menimpanya. Mana bisa seumur hidupnya, dia menyimpan perceraiannya dengan Endra.


“Apa kamu akan menyembunyikan lagi masalahmu? Apa kamu pikir dengan diam orang akan berhenti menyakitimu? Kamu punya keluarga, kami siap menampung kesedihanmu, Salma!” Pak Arif berkata lirih penuh penekanan.


“Ody di mana? Kenapa cuma bertiga?” Salma berusaha mengalihkan pembicaraan. Padahal tanpa bertanya pun Salma tahu Aundy pasti sudah terlelap di dalam kamar.


“Mbak!” Panji ikut protes.


“Astaga, kalian ini! aku tidak apa-apa, aku aja lupa pernah mencintai Mas Endra atau tidak.” Lagi-lagi, Salma cukup bisa memberi alasan pada mereka. Padahal, kepingan ingatannya tentang Endra kini mulai hadir di kepalanya. Tepatnya, saat kakinya mulai meninggalkan rumah sakit.


“Syukurlah, anggap saja kamu tidak pernah mencintai pria itu!” pak Arif berkata tegas.


Salma mengangguk yakin. “Aku lelah sekali, bolehkah aku tidur sekarang?”


Bu Deva mengurai pelukannya. “Pergilah! Besok pagi, ibu akan mengambil libur, kita datangi kantor pengadilan!”


Jantung Salma akan berhenti berdetak mendengar ucapan ibunya. “Apa ibu sudah tahu mengenai ini?” tanya Salma. Jika ibu berkata seperti itu, mungkin Bu Tantri sudah menceritakan sesuatu pada ibunya.


“Ibu dan bapak dari rumah sakit, Mbak! berniat mengunjungi Mas Endra. Tapi, mereka justru bertemu dengan Arienta.” Panji menjelaskan.


Salma menoleh ke arah pak Arif, “Maafin Salma, Pak! Salma gagal lagi dalam pernikahan. Sepertinya, Salma nggak bakat jadi istri baik.”

__ADS_1


“Salma, apa kamu baik-baik saja?!” pak Arif mengabaikan ucapan Salma. Bisa-bisanya Salma berkata seperti itu. Hubungan pernikahan itu melibatkan dua orang, jika keduanya memutuskan untuk bercerai berarti memang sudah tidak sejalan lagi. Bukan masalah bakat atau tidak bakat!


“Salma baik-baik saja, Pak!” kedua tangan Salma merangkul lengan pak Arif. “Sebaiknya, mari kita masuk, sudah malam—gimana kalau obrolan kita didengar tetangga? Pasti, besok pagi akan menjadi topik hangat di kampung.”


Salma menuntun mereka untuk masuk. Lalu melepas rengkuhannya saat tiba di dalam rumah. “Salma istirahat dulu ya!” pamitnya.


“Ya.”


Mendapat izin dari kedua orang tuanya, Salma lekas melangkah menuju kamar yang digunakan Aundy. Tiba di dalam kamar, Salma mendapati Aundy terlelap dalam posisi meringkuk.


Setelah mencuci wajah dan kaki Salma ikut menyusul Aundy, berbaring di atas ranjang. Kedua tangannya memeluk tubuh Aundy erat, menciumi aroma strawberry yang tertinggal di rambutnya.


“Maafin Bunda, Ody! Bunda belum bisa memberikan keluarga yang lengkap untukmu. Untuk hari-hari berikutnya, maukah kamu saja yang menemani Bunda? Kita cari apa arti kebahagian berdua, bunda dan Ody!” gumam Salma, berbisik di samping telinga Aundy. Berulangkali Salma mendaratkan kecupan di wajah cantik putrinya. Sialnya, wajah Aundy justru mengingatkan papa sosok pria yang kini sudah berstatus menjadi mantannya.


“Ody, apa cita-citamu, Sayang?” Salma mengajak bicara aundy, seakan gadis itu akan menjawab pertanyaan yang diajukan. “Sekarang tujuan bunda fokus membantu mewujudkan cita-citamu!” Salma mengusap pipi Aundy, lalu beralih memeluk tubuh mungil Aundy dengan gemas. Begitu terus, seperti tidak ada puasnya.


Suasana kamar mendadak berubah hening. Saat Salma hendak meninggalkan kesadaran, tiba -tiba saja suara Aundy menyapa pendengarannya.


“Bahagia. Ody senang punya bunda seperti bunda Salma. Bunda itu terbaik di sejagad raya!”


Salma terkekeh pelan. “Kenapa Ody bangun?” ujarnya mencubit pipi dengan gemas.


“Gimana tidak bangun, bunda memeluk Ody terlalu erat.” Aundy protes.


“Maaf ….” Salma menyahut, dengan raut penuh penyesalan.


“Bunda, cita-cita Ody itu ingin jadi pilot cantik, biar suatu hari nanti—Ody bisa bawa bunda keliling dunia.”


“Hanya ada kita berdua?” Salma berusaha mencaritahu, tidakkah ada seseorang yang berkesan dalam hidup Aundy. “Apa Ody tidak berniat mengajak, Uti, Akung, atau om Panji?”

__ADS_1


Aundy tampak berpikir. “Kita bertiga saja!”


Salma terkekeh, berusaha menutupi kesedihannya saat paham Aundy ingin mengajak Endra. “Tapi, Ody … kita sudah nggak bisa sama ayah Endra lagi. Bunda dan ayah Endra tidak bisa tinggal bersama lagi, Sayang.”


“Emangnya harus ngajak ayah Endra? Ody kan mau bawa ayah Sabda!” kata Aundy sambil melemparkan tatapan kesalnya pada Salma.


Salma mengernyit. “Ayah Sabda juga sama saja—dia sudah punya tante Hani. Mereka sudah punya pasangan masing-masing. Jadi, sebaiknya kita berdua saja!”


“Pokoknya, ayah Sabda nggak boleh nikah lagi, ayah itu sudah punya Ody dan bunda!”


Salma mengusap wajah ody dengan tangan, gemas saja melihat wajah Aundy yang terlihat sok berkuasa.


“Bunda, lagian bunda tahu nggak sih—ayah Endra itu jahat, dia punya istri baru.”


“Ody!” Salma merasa Aundy tidak perlu mengetahui hal itu. Dari pada dia buka suara, lebih baik Salma mulai mengalihkan obrolan. Dia hanya ingin kebaikan saja yang disimpan dalam ingatan Aundy.


“Iya, Bunda! Tanya saja sama ayah Sabda! Dia tahu kok wajah istri barunya. Karena itu, Ody nggak suka sama dia!”


“Shutt! Ody tahu dari mana?” Salma merasa terlambat, rupanya putrinya justru sudah tahu mengenai perselingkuhan antara Endra dan Arienta.


“Tahulah, Bunda! bunda sih dulu nggak ikut ke acara pesta jadi—


Aundy menutup mulutnya rapat saat teringat ucapan Sabda. Hilang sudah kesempatannya untuk pergi ke Bali, lantaran dia sudah membocorkan rahasia itu kepada Salma.


Salma hanya menatap heran ke arah Aundy. "Ayah Sabda meminta Ody untuk merahasiakan ini?"


"Iy, kalau Ody berhasil dia bilang mau ngajakin Ody jalan-jalan ke Bali."


Alangkah malunya Salma dengan pria itu, ibaratnya dia seperti membuang batu berlian dan justru mendapatkan batu kali.

__ADS_1


__ADS_2