
Kedai kopi tidak selalu menjadi tempat tujuan utama untuk menyesap nikmatnya si hitam. Banyak yang singgah ke Kedai Kopi Kayu Manis untuk sekedar menikmati pemandangan di sekitar pantai.
Salma tidak pernah merasa keberatan akan hal itu. Kedatangan mereka justru ikut menggerogoti kenangan pahit yang pernah hadir dalam kehidupannya. Perlahan dan pasti waktu berhasil membiasakan segalanya. Salma kini sudah terbiasa dengan kehidupan baru yang dimiliki.
Dear Ody ….
Semangat belajar, Sayang.
Senyum tipis terbit di bibirnya, usai mengamati tulisan tangan yang baru saja digoreskan di atas selembar kertas putih.
Meski Salma sudah bisa melangkah jauh meninggalkan masa lalunya. Kenangan sosok Sabda tak pernah hilang dari ingatan.
Gimana mau lupa, jika sosok Aundy kini semakin mirip dengan pria itu. Tingkahnya, wajahnya, semuanya mirip dengan Sabda. Jujur Salma akui, melupakan Endra jauh lebih mudah ketimbang Sabda.
“Bundaaaa!”
__ADS_1
"Yuhuuuu! Bentar, Sayang!" Mendengar teriakan dari Aundy, Salma buru-buru menutup buku di tangannya. Dia bergegas turun untuk mengantar putrinya pergi sekolah.
Tiba di luar rumah, Salma bisa melihat Aundy dengan wajah cemberut. Kecantikan Aundy melebur lima puluh persen saat wajahnya seperti itu. “Sudah siap, Ody?” Salma berusaha meredam amarah putrinya.
Gadis itu menganggukan kepala. "Dari tadi, Bunda!" Aundy menjawab pelan.
"Baiklah, maafkan bundamu ini," ujar Salma, seraya mengambil kunci motornya.
Merasa Aundy sudah siap, Salma segera melajukan motornya menuju SD Negeri Palapa. Di perjalanan, Salma berusaha memperbaiki mood Aundy. Menggodanya dengan ocehan ini itu.
"Bunda, kapan papa datang?" tanya Aundy mengalihkan perintah Salma yang semula memintanya bernyanyi.
"Bukankah lusa hari peringatan kematian mama? Apa papa tidak lagi merindukan mama Astrid? sama seperti ayah Sabda yang nggak pernah merindukan kita?"
"Husshhh, kalau ngomong nggak boleh gitu. Ody, kamu nggak bakal tahu seberapa sedih papamu atas kepergian mama-mu. Jadi, jangan bicara sembarangan. Kita doain saja yang terbaik untuk papa Farhan." Salma menelan ludah kasar. "Dan untuk ayah Sabda, mungkin dia sedang menantikan kelahiran adikmu. Bukankah kamu bilang ingin segera memiliki adik laki-laki."
__ADS_1
"Aku nggak mau adik yang seperti itu, Bunda!" tolak Aundy, tegas. "Berarti, apa ayah Sabda membohongi Ody?"
"Emh, kurasa tidak begitu—saat kamu dewasa nanti kamu akan tahu kenapa ini semua bisa terjadi dengan kita."
Tragedi besar setahun yang lalu tidak akan pernah hilang dalam ingatan Salma. Kepergian Astrid untuk selamanya turut menambah kesedihan di hati Salma. Teman baiknya itu meninggal saat kecelakaan.
Tragedi besar setahun yang lalu tidak akan pernah hilang dalam ingatan Salma. Kepergian Astrid untuk selamanya turut menambah kesedihan di hati Salma. Teman baiknya itu meninggal saat kecelakaan.
Saat itu hanya Farhan dan Aundy yang selamat. Aundy memang tidak terluka berat. Hanya saja, hingga detik ini Aundy masih trauma menaiki mobil. Dia hanya mau bepergian naik motor ataupun jalan kaki.
Sebenarnya sejak tragedi itu, Aundy tidak pernah merengek, meminta bertemu Sabda. Mengingat kondisinya sendiri yang tidak memungkinkan untuk kembali ke Semarang.
Assalamualaikum....
silakan baca lanjutannya di novel baru Ella yang berjudul "Hallo Mantan" silakan cari di kolom pencarian. Kalau masih belum ketemu silakan klik profil Ella (Call Me Ella) cari yang judulnya "Hallo Mantan" Ella tunggu ulasan kalian di sana 🫣🫣
__ADS_1
Sekian,
Wassalamu'alaikum.