
"Jangan salah paham dulu, Bu. Aku dan Salma tidak melakukan apapun." Sabda yang melihat Bu Tantri menatap Salma lekat, berusaha menjelaskan. Tapi sepertinya penjelasannya itu tak menurunkan kadar amarah yang dipendam Bu Tantri.
Wanita yang semalam terlihat begitu baik kini rautnya berbanding terbalik dengan yang ditunjukan semalam. Salma tak mau mengelak karena ini juga kesalahannya. Andai semalam dia mengalah dan tidur bersama Aundy. Pasti adegan kepala Sabda jatuh di pangkuannya, tidak akan terjadi.
"Kamu nggak mempermainkan perasaan anakku, kan, Sal?"
Salma mendongak, mempertemukan pandangannya dengan Bu Tantri. "Sama sekali tidak. Salma mencintai mas Endra. Ini hanya kebetulan, kami di bawah alam sadar!"
"Cukup sekali saja aku menemukan kalian seperti ini. Kalau sampai dua kali. Aku nggak segan mengadukan perbuatanmu ke Endra!" ancam Bu Tantri.
Ada rasa lega dalam diri Salma, apa yang memeluk erat tubuhnya. Kini perlahan terlepas. Tentulah setelah ini hubungan mereka berdua tidak akan seperti sedia kala.
Apa yang dirasakan Salma jauh berbeda dengan Sabda, ada ruang kosong di hatinya yang teramat besar, setelah mendengar kalimat jika Salma mencintai Endra. Lagian, apa yang diharapkan dari mantan istri yang sudah memiliki suami? Harusnya dia berdoa untuk kebahagian mantan istrinya, bukan malah terluka tak berdarah seperti ini.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu, Sal!" pamit Sabda, paham jika situasinya tidak kondusif.
Salma pun tidak menyahut, tapi keadaan Aundy yang tiba-tiba berteriak menyebut nama Sabda, menghentikan langkah pria itu. "Ayah katanya enggak akan pergi lagi?"
Pria itu tersenyum simpul. "Ayah harus pergi, ada urusan! Nanti kalau Ody boleh pulang, pasti ayah jemput." Sabda terpaksa melakukan itu. Kalau dia tetap tinggal kasihan Salma harus terlibat masalah.
"Enggak mau, ayah enggak boleh pergi!" Aundy tidak rela ditinggal Sabda. Tangisnya pecah sembari menahan lengan Sabda.
"Kalau Bunda—apa bunda boleh pulang, Dy? Kan belum ganti baju!" bujuk Salma.
"Udah-udah!" Bu Tantri menyela, kasihan dengan Aundy yang ingin masih menangis. "Kenapa kalian ketakutan seperti itu? Kalau kalian nggak melakukan apa-apa seharusnya nggak bakal ketakutan!" Sindir Bu Tantri.
"Bukan begitu, Bu! Kita memang tidak melakukan apa-apa. Kita cuma jaga perasaan ibu atau lainnya saja, supaya tidak salah paham dan menyudutkan Salma!" Sabda ikut menjelaskan.
"Rupanya kamu masih menyimpan perhatian sama dia?" Bu Tantri berdecak sambil geleng-geleng.
"Hanya karena Salma, ibu dari anak saya. Tidak lebih!" Jelas Sabda lagi.
__ADS_1
Bu Tantri pun diam. Dia meletakan makanan yang tadi dibawa, kemudian berlalu dari ruangan yang ditempati Aundy. Salma langsung terduduk lemas, dia tidak bisa membayangkan gimana jadinya kalau Bu Tantri mengadu ke Endra.
"Bunda jadi pulang?"
"Hem, iya—bunda akan pulang." Salma beranjak secara tiba-tiba. "Titip Ody dulu!" Pamit salma pada Sabda yang masih berdiri di samping ranjang.
Salma langsung berlari keluar kamar, mencari keberadaan Bu Tantri yang mungkin belum terlalu jauh. Namun, seketika langkahnya terhenti melihat Bu Tantri tengah mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon.
"Endra baru pulang cuti jadi mungkin tidak bisa langsung pulang! Sebisa mungkin aku akan membujuk untuk cuti emergency!"
"Kita bisa membicarakan ini nanti, setidaknya sampai Endra di rumah."
"Tolong rahasiakan ini dari siapapun, yang jelas kami akan menyelesaikannya."
Salma membatin, apa keluarga Endra terlilit hutang dan dikejar-kejar rentenir. Makanya, mungkin Bu Tantri mengharapkan uang dari Endra.
Saat melihat Bu Tantri melangkah, Salma lekas berlari mendekat. "Ibu!"
Seruan itu membuat Bu Tantri menoleh ke arah Salma. Wajahnya tampak terkejut saat melihat Salma berdiri tak jauh dari posisinya. "Sa—Salma? Ada apa?" Ucapnya tergagap.
Bu Tantri menarik tangan Salma, lalu membawanya duduk di salah satu kursi tunggu di depan apotek. "Salma, jangan ngadu ke Endra—jangan!"
"Kalau boleh Salma tahu berapa, Bu?" Bukan bermaksud membedakan dengan keluarga Sabda, tapi memang keluarga Endra tergolong tipe ekonomi menengah ke bawah. Keluarganya terkenal suka berhutang di mana-mana.
"Dua puluh lima juta."
Tentu saja Salma terkejut mendengar hutang perempuan itu.
"Ibu cuma nggak mau Endra kepikiran. Tapi bapaknya itu loh, diam-diam masih main judi."
Salma menarik napas dalam. Jujur mereka semua baik kepadanya. Tapi, bu Tantri dan pak Adiguna memang tidak bisa dipercaya masalah uang.
__ADS_1
"Jadi jangan bilang Endra ya—ibu nggak mau konsentrasinya terganggu saat bekerja. Bahaya!"
Salma menganggukan kepala. Dia merasa memiliki senjata yang sama-sama tajam yang bisa digunakan untuk saling menutup mulut.
"Apa kamu punya tabungan, Sal?"
Pandangan Salma langsung tertuju ke arah Bu Tantri. Uang pemberian Sabda sebelum dia memutuskan untuk melarang pria itu mengirimkan uang nafkah lagi, masih utuh. Bahkan, Endra tidak tahu mengenai uang itu. Tapi itu milik Aundy, dia tidak berani menyentuh hak putrinya.
Sedangkan tabungannya—"ada Bu, tapi nggak ada dua puluh lima juta."
"Kalau begitu, apa boleh ibu memakainya. Nanti ibu kembalikan!" Bu Tantri memelas.
Salma harus itung-itung dulu, belum nanti biaya BPJS yang butuh nambah, karena dicovernya hanya kelas dua. Suami Salma bekerja di bawah perusahaan besar jadi mewajibkan karyawannya memiliki bpjs. Bukan karena enggak mampu bayar, tapi karena itu memang program dari perusahaan.
"Kalau tiga juta saja, gimana, Bu?" Tawar Salma.
"Salma punya uang dua puluh juta. Tapi kalau ini ibu pinjam semua. Salma bingung harus gimana jelasinnya nanti ke mas Endra soalnya dia tahu isi tabungan Salma. Salma juga butuh membayar keperluan hidup Salma juga."
"Kamu nggak punya emas atau kalung yang bisa dijual?" Bu Tantri berusaha menawar.
"Salma nggak tega Bu. Itu milik Ody. Kalau mau tiga juta ya, biar sekarang juga Salma ke ATM depan."
"Ya, sudah. Setidaknya ibu bisa menutup mulut mereka dulu."
Salma meraba saku celananya, sialnya sangking tadi buru-buru pergi. Dia lupa membawa dompet itu. "Bu, Salma ambil dompet dulu ketinggalan soalnya. Ibu duduk dulu di sini ya!" Minta Salma, sungkan.
Bu Tantri mengangguk, senyum terbit dari bibir tebalnya. Sedangkan Salma berlari menuju kamar Cempaka yang ditempati Aundy. Baru saja masuk kamar, kehadirannya disambut suara tawa dari Aundy dan Sabda.
"Lalu gini yah, kamu itu udah dapet perjaka, harusnya bersyukur dong janda dapat jaka. Ayah Sabda, emang apa bedanya janda sama Jaka, kan sama -sama depannya J?"
"Ayah Endra suka marahin bunda Salma kaya gitu?" Sabda justru penasaran dengan ucapan Endra ke mantan istrinya.
__ADS_1
"Iya, Yah. Dulu pas malam-malam, kan ujan jadi Ody takut tidur di kamar sendiri, eh pas mau pindah dengar ayah Endra marahin bunda. Jadi Ody paksain tidur di kamar Ody sendiri. Takut, ada petir besar."
Salma berdehem, sengaja menghentikan obrolan mereka. Pandangannya jatuh pada Sabda yang menatapnya penuh kasihan. Dia tidak mengharapkan belas kasihan dari pria itu. Sungguh dan dia membenci tatapan Sabda yang seperti ini.