Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Ketahuan Aundy


__ADS_3

Sekitar pukul setengah delapan malam, Aundy dan Sabda sudah tiba di lokasi resepsi. Motif batik yang dikenakan Aundy tampak sama dengan yang digunakan Sabda malam ini. Mereka terlihat serasi mendatangi resepsi pernikahan salah satu teman baik Sabda.


Tanah sekitar yang masih basah akibat guyuran air hujan sebelum adzan magrib membuat Sabda was-was, khawatir Aundy akan terpleset dan terluka. Pria itu berusaha menghentikan langkah Aundy yang mendadak jadi gadis hiperaktif.


"Jangan lari, Ody!" peringat Sabda melihat Aundy sudah terlepas dari genggamannya.


"Aku mau lihat dalamnya, Yah!" Aundy begitu penasaran dengan pelaminan yang ada di resepsi pernikahan itu. Dia sudah tidak sabar ingin lekas melihatnya.


"Iya, kita bakalan lihat nanti!" Sabda yang khawatir berniat menggendong tubuh Aundy. Tapi sialnya gadis itu tidak mau, dia menolak, mengaku sudah besar dan bisa jalan sendiri. Sabda pun mengalah saat melihat wajah Aundy yang begitu sumringah. Tapi dia tetap mengawasi Aundy dari jarak paling dekat.


Kedatangan mereka disambut ramah oleh orang tua si mempelai pria, yang memang mengenal Sabda. Itu karena Sabda pernah menginap beberapa kali di rumah Ahmad yang kini menikahi Yulia.


"Wah, udah besar ya, Le ...." Ibu dari Ahmad mengusap gemas pipi Aundy.


"Kasih salam dulu sama Mbah!" Pinta Sabda pada Aundy. "Iya, Mbah udah pinter ngoceh," balas Sabda sambil melirik Aundy yang langsung bersembunyi di balik tubuhnya, usai memberikan salam.


"Udah berapa lama nggak ketemu sama Ahmad, Da?" tanya wanita itu.


"Ya sejak Ahmad dipindah di Kaltim, Bu."


Bisa dikatakan Ahmad adalah teman seperjuangan Sabda. Di tempatkan di pusat pendidikan yang sama, berkerja pun di lokasi yang sama. Sangking dekatnya, Ahmad sampai tahu awal mula konflik Sabda dan Salma. Tapi sayang kedekatan mereka sedikit renggang setelah Ahmad dipindahkan di Kalimantan Timur.


"Lama juga ya! Katanya sama bundanya Aundy, mana?" tanya Bu Sum. Sedikit banyaknya, wanita itu paham mengenai jalan hidup Sabda. Dulu, Sabda memang dekat dengan Bu Sum. Dan sangking dekatnya dia pernah menceritakan masalah rumah tangganya pada beliau. Jujur Sabda lebih nyaman curhat dengan wanita itu ketimbang mama nya sendiri. Dan pagi tadi, saat bertemu dengan Ahmad. Sabda memberitahu kalau sedang liburan bersama Salma dan Aundy. Dan yang Sabda sesalkan, kenapa Ahmad memberitahu pada Bu Sum? Dan wanita itu penasaran dengan wajah Amora nya.

__ADS_1


"Udah pulang duluan, Bu." Sabda menjawab, lalu mengikuti langkah Bu Sum yang kini menuntun Aundy duduk.


"Di sini saja, biar embah nyari kalian tuh gampang." Bu Sum mempersilakan mereka duduk. "jangan pindah-pindah Yo, le!" pesannya sebelum meninggalkan bangku yang ditempati Aundy dan Sabda.


"Baik, Bu."


"Dia siapa, Yah?" tanya Aundy, menatap wanita bertubuh gempal yang semakin jauh dari posisi mereka.


"Dia teman ayah. Embahnya Ody juga." Sabda menjelaskan, seraya mengambilkan teh hangat untuk Aundy.


Mereka duduk manis menunggu makanan lain disajikan di atas meja. Sabda paham pasti ini semua permintaan Bu Sum yang tidak ingin mereka berdua menunggu terlalu lama. "Ody, kalau ngantuk bilang sama Ayah, ya. Kita bisa balik ke villa." Sabda berpesan, khawatir anak gadisnya merasa bosan karena tak ada teman sebaya nya.


"Em enggak, Ody suka pesta ini kok, Yah."


Sabda mencintai Salma, dia pikir dengan cinta saja mereka bisa bertahan hingga maut memisahkan. Lalu hadirnya Aundy, menjadi pelengkap keluarga kecilnya. Dia bahagia, tapi tidak dengan Salma. Ya, mungkin benar kata Salma dulu, dia hanya mementingkan ego-nya sendiri.


Sabda mengakhiri ingatan tentang masa lalunya. Dia menoleh ke arah Aundy, tampak gadis itu begitu senang menikmati kue yang tersaji di atas meja. Sabda hanya diam menyaksikan, hingga perlahan rasa bosan mulai menyerang. Demi mengurangi perasaan itu, Sabda mengeluarkan ponsel di saku-nya. Berusaha mengetikan pesan singkat ke nomor Salma.


Sabda : Sal, biasa Ody tidur jam berapa?


Itu hanya pertanyaan basa-basi sebenarnya, kalimat intinya dia hanya ingin memeriksa apakah mantan istrinya itu sudah tiba di rumah atau belum. Sayangnya, tidak ada balasan apapun dari Salma. Ponsel di tangannya seakan menertawakan Sabda yang tidak memiliki arti apapun di hidup Salma. "Sepertinya aku memang harus melupakanmu, Sal?" lirihnya, yang tak dapat didengar oleh Aundy.


"Ayah enggak makan? Sop nya enak ada makaroninya." Aundy merancau, sambil menyuap sup hangat yang baru saja disajikan.

__ADS_1


Sabda hanya tersenyum simpul. "Sayurnya kenapa nggak dimakan?"


Aundy menggeleng. "Ody enggak suka sama kapri."


Sabda membiarkan Aundy menikmati makanan itu. Netranya kembali fokus dengan ponsel di tangannya. Saat dia membuka, tidak ada balasan apapun dari Salma. Cukup lama Sabda berselancar dengan ponselnya, hingga suara Aundy membuyarkan fokusnya.


"Ayah itu kok kaya ayah Endra ya!"


"Hm?" Sabda menoleh ke arah Aundy.


"Itu! Iya kan itu ayah Endra!" ucap Aundy yang sudah berdiri dari kursinya. "Nah, iya Ayah ... itu ayah Endra!" ulangnya setelah memastikan apa yang dilihat memang benar adanya. Cahaya tidak begitu terang tapi Aundy bisa melihat dengan jelas sosok pria yang menjadi ayah sambungnya.


Pandangan Sabda langsung tertuju ke arah sosok pria yang ditunjuk Aundy. Rupanya benar, di sana ada Endra yang sedang berbincang dengan salah satu temannya. Mungkin Ahmad mengenal dekat dengan Endra, jadi pria itu diundang menjadi tamunya. Tapi? bukankah pria itu sedang berada di Kutai? kok bisa di sini? Kenapa membohongi Salma dengan mengatakan sedang training DT 785?


"Ody mau sapa ayah Endra dulu!" gadis itu sudah keluar dari bangkunya, berniat menghampiri Endra.


"Ody, Ody! Tunggu!" Sabda menahan lengan Aundy yang hendak berlari menghampiri Endra.


"Kenapa, Ayah? Kita ajak gabung saja!" Aundy kesal, dalam hatinya dia juga merindukan ayah sambungnya itu.


Sabda ingat jika Endra tidak tahu mereka menginap di sekitar Dieng. Salma hanya izin menginap semalam dengannya dan Aundy. Mungkin ini kebetulan yang membuat dia tahu tabiat asli Endra.


"Ody, kita sapa saat nanti sepi, kita nggak boleh buat keributan di tempat acara orang."

__ADS_1


"Emangnya, siapa yang mau ngajak ribut? Ody cuma mau sapa ayah Endra kok." Gadis itu sudah melangkah, tapi tiba-tiba saja langkah Aundy terhenti saat melihat sang ayah sambung men-ciumi bibir wanita yang bukan Bundanya.


__ADS_2