
Salma : Pesawat udah landing belum sih Mas kok nggak ada kabar? Kita di sini khawatir tahu enggak.
Sabda masih setia menatap pesan singkat yang dikirimkan Salma beberapa jam yang lalu. Ketika jemarinya siap membalas, pesan berikutnya kembali hadir.
Salma : Aku semakin yakin Ody ini anak kita. Dia minta jalan-jalan ke time zone. Kaya kamu dulu sukanya ngajakin aku ke pasar malam.
Emo tawa menutup pesan ke dua yang dikirimkan Salma. Sabda hanya mengulas senyum tipis, usai membaca pesan itu. Entahlah, dia merasa tidak fokus dengan acara malam ini. Raganya memang berada bersama keluarga Hani, tapi pikirannya berkeliaran, memikirkan keluarga masa lalunya. Dia justru berpikir; gimana caranya meluluhkan hati pak Arif.
Sabda : Pesawat sudah landing, pukul tiga sore tadi. Pasti kamu capek banget ya. Buruan istirahat ya!
Sabda menyimpan kembali ponselnya, saat mendengar panggilan dari Bu Habibah. Wanita itu memintanya supaya menyematkan cincin emas ke jari manis Hani.
Sabda mengambil cincin itu, dengan berat hari memasukannya ke jemari Hani. Tepukan tangan meriah menggema di ruangan. Mereka tampak bahagia kecuali calon mempelai pria.
“Kalau begini, kita sebagai orang tua ikut lega!” kata Bu Habibah, setelah Sabda selesai menyematkan cincin itu ke jari Hani.
"Jaga putri kami ya, Nak Sabda!" pesan Bu Astuti, ibu dari Hani.
Suasana kembali hening, mereka mulai menikmati hidangan di atas meja yang sudah disajikan. Sabda pikir keluarga Hani akan mengadakan acara lamaran di rumah. Akan tetapi, justru di restoran milik kakak dari Hani. Sabda berharap, malam ini Salma tidak keluar dan mendapati dirinya masih di Jawa.
Obrolan ringan antara dua keluarga tercipta usai makan malam selesai. Berbeda dengan Sabda yang memilih menutup mulutnya rapat. Dia kembali mengeluarkan ponselnya. Sayangnya, tidak ada balasan apapun dari Salma.
“Mungkin dia sudah tidur?” gumam Sabda.
“Apa?” Hani yang berada di samping Sabda berusaha bertanya. “Mas Sabda tadi ngomong apa?” selidik Hani.
“Mungkin dia sudah tidur.” tanpa memiliki rasa bersalah Sabda mengulanginya lagi.
“Dia? Dia siapa?”
“Aundy. Kamu masih ingat Aundy, kan?” kata Sabda, berdusta.
__ADS_1
“Ya. Nggak papa sih kalau Aundy. Asal jangan ibunya saja.” Hani mengakhirinya dengan tawa.
“Tapi bagaimana pun, untuk ke depannya kamu tidak bisa melarangku, untuk tidak berhubungan dengan ibunya. Dia wanita yang melahirkan putriku, otomatis aku perlu menghubungi Salma untuk mencaritahu kabar Aundy.”
Wajah Hani berubah muram. “Santai saja, aku bisa mengerti jika itu untuk Aundy. Tapi kalau mantan istrimu sepertinya akan berat.”
“Aku tahu batasannya.” Sabda berharap ke depannya dia tidak akan bertingkah melewati batas layaknya kemarin pagi, usai mengantar Aundy sekolah.
“Jadi gimana, Nak Sabda. Cuti depan, apa jadi kalian menikah?” Ibu Astuti yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua mulai melempar pertanyaan.
“Apa boleh Sabda pikir dulu, Bu? Ada banyak pertimbangan, selain karena pekerjaan Sabda yang jauh dari kota, apa mau Hani ikut dengan saya pergi ke sana.”
“Ikut kamu? Bukankah kita sudah sepakat?”
“Sepakat apa?” tanya Sabda, dia harus tahu jelas, khawatir ke depannya akan menjadi masalah.
“Ya, Hani akan tetap berada di sini. Kamu tahu sendiri Hani putri satu-satunya di keluarga kami. Dua kakaknya semua laki-laki, jadi berat untuk kami melepaskan Hani.” Bu Astuti menjawab.
“Maaf, Bu … Sabda minta waktunya untuk berpikir. Kita juga belum lama mengenal, mungkin butuh waktu untuk mengenal satu sama lain.”
“Sabda, kenapa? Apa yang perlu dipikirkan?”
“Ibu, Sabda ini laki-laki. Sabda nyari wanita yang mau dipimpin Sabda.”
Bu Habibah berdecak merasa keberatan. “Pokoknya ibu ingin cuti depan kalian menikah.” Bu Habibah berkata tegas.
“Kalau begitu ibu saja yang nikah!”
Sabda terkejut mendengar suara ayahnya mengatakan hal itu pada ibunya. Suasana meja makan berubah tegang.
“Mereka sudah dewasa, tentu saja tahu mana yang baik untuk hidupnya. Dan lagi, jangan lupakan Aundy. Dia berhak memberi pendapat tentang kehidupan baru ayahnya.” Pak Ageng menatap orang tua Hani bergantian. “Mohon maaf, tolong beri waktu Sabda untuk berpikir. Saya sebagai orang tua tidak menginginkan pernikahan Sabda kembali batal.”
__ADS_1
“Ayah!” Bu Habibah protes.
“Saya akan tetap menikah dengan Hani. Tapi tidak cuti depan. Saya butuh waktu untuk memikirkan hal besar ini.”
“Baiklah. Lagian Hani juga masih kuliah.” Kakak dari Hani ikut menimpali.
Sabda benar-benar lega mendengar ucapan kakak dari Hani. Mereka kembali terdiam menikmati apa yang tersedia di atas meja.
“Malam ini anterin aku pulang ya, Mas! Ada yang ingin aku bicarakan ke kamu!” pesan Hani, berbisik di samping telinga Sabda.
Sabda mengangguk, menyetujui apapun permintaan Hani. Jujur dari awal bertemu dia tidak berminat untuk menjadikan Hani istrinya. Sabda hanya menuruti apapun perintah sang ibu.
Pukul delapan lewat tiga puluh menit. Keluarga Sabda dan Hani keluar dari restoran sederhana itu. Malam ini Sabda benar-benar mengantarkan Hani kembali pulang. Jadi setelah berpamitan, Sabda menuntun Hani menuju tempat parkir mobilnya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan, Han?” kata Sabda bertanya dengan nada ragu-ragu. Mobil sudah berjalan sekitar sepuluh menit, khawatir Hani akan menahannya saat berada di rumah nanti.
Sabda melihat jemari-jemari Hani meremas rok yang dikenakan.
“Mas Sabda, maaf—kalau mas Sabda mikirnya aku masih perawan itu SALAH BESAR! Ya statusku memang belum menikah, tapi untuk keperawanan. Jujur aku sudah melakukan hubungan itu dengan mantan kekasihku.
Kaki Sabda yang menginjak pedal gas sedikit terangkat, membuat laju mobil yang dikemudikan melambat. Jujur dia salut dengan keberanian Hani mengatakan hal itu padanya. Tapi, bukan masalah keberanian, melainkan—apa keluarga Hani tahu mengenai hal ini?
“Itulah kenapa aku mau menerima mas Sabda yang berstatus DUDA! Karena aku—sebut saja perawan rasa janda!”
Astaga! Kenapa Hani bisa sebegitu percaya dirinya berbicara seperti itu di hadapannya Bahkan dia masih bisa melihat senyum tipis terbit di bibirnya.
“Hani? Ada berapa banyak mantanmu?” tanya Sabda, penasaran.
"Ada tiga, Mas. Dan maaf, kenapa aku tidak semangat dengan pernikahan ini, karena sejujurnya aku belum putus dengan kekasihku." Hani terlihat menelan air liurnya. "Jadi, saat mas Sabda menjelaskan ingin berpikir dulu, aku justru senang. Setidaknya aku masih memiliki waktu untuk memutuskan hubunganku dengannya."
Dalam benak Sabda justru terpikirkan cara lain. Gimana kalau seandainya dia bekerja sama dengan Hani? Andai dia mau menolak, pasti akan semakin mudah membatalkan pernikahan itu.
__ADS_1
"Hani, maaf aku cukup terkejut. Ternyata apa yang kamu bicarakan di restoran tadi sepertinya bukan dari hatimu ya! Apa kamu bisa membantuku?!"