
Sabda menahan tawa saat melihat Salma kembali masuk ke kamar. Dia yang baru saja membuka pintu untuk Salma, mengikuti langkah wanita itu. "Nggak jadi nambah kamar?" ledeknya.
"Kamu sengaja, kan!" Salma bersungut-sungut seraya membuka ranselnya, mengambil alat mandi. Tentu saja kamar di penginapan itu full, ini tanggal merah banyak orang pergi berlibur. Apalagi liburan disambung akhir pekan.
"Gimana maksudmu?" tanya Sabda, masih setia mengawasi gerakan tangan Salma, yang sibuk mengenakan head band.
"IYA. Sengaja supaya kita berduaan!"
Sabda menahan tawa saat melihat Salma kembali masuk ke kamar. Dia yang baru saja membuka pintu untuk Salma, mengikuti langkah wanita itu. "Nggak jadi nambah kamar?"
"Kamu sengaja, kan!" Salma bersungut-sungut seraya membuka ranselnya, mengambil alat mandi.
"Gimana maksudmu?"
"Iya sengaja supaya kita berduaan!" sahut Salma, ketus.
"Aku sadar kali, Sal—udah punya Hani. Lagian aku juga enggak mau merusak rumah tanggamu. Kal—
"Kalau bukan karena Ody, kita nggak bakalan ada di sini!" Salma memotong dengan tegas, kemudian tertawa gamang. "Iya, sama! demi Ody, apalagi dia baru pulih, butuh refreshing untuk memperbaiki imun!" Salma lantas berlalu, hendak membersihkan diri sebelum berangkat tidur. Dia harus mempersiapkan hari esok, pasti tenaganya akan terkuras habis demi menemani Aundy main seharian.
Setelah memastikan kamar mandi terkunci rapat, Salma berusaha menarik napas dalam, berulang kali sampai dirinya merasa sedikit lega. Menit berikutnya, dia menatap dirinya dalam pantulan kaca. Bibir tipisnya tersenyum masam, berusaha menyangkal apa yang sedang ada di pikirannya saat ini.
Mendengar suara Sabda, Salma lekas mencuci wajah dan menggosok gigi. Saat kakinya kembali melangkah ke kamar, Salma justru menemukan Sabda sudah berbaring di sofa.
"Like father like daughter!" Cibirnya menyadari Sabda sudah terlelap. Begitu banyak persamaan Aundy dan Sabda. Dan sekeras apapun Salma melupakan Sabda, dia justru seperti terkurung dalam kenangan itu, sosok Aundy, segala tingkah anak itu, selalu mengingatkan semua tentang Sabda.
Setelah mematikan lampu utama, Salma membaringkan tubuhnya di samping Aundy, memeluk tubuh Aundy erat. Hari ini, tidak ada waktu untuk keduanya bercerita. Salma memutuskan untuk langsung memejamkan mata, berharap malam mencekam ini akan segera berlalu.
Hampir satu jam berlalu Salma sudah terlelap dalam tidurnya. Berbeda dengan Sabda yang terbangun ketika merasakan udara semakin dingin. Dia terpaksa beranjak dari sofa, mematikan pendingin udara.
Langkahnya singgah ke sisi ranjang yang ditempati Salma, menarik kain tebal tersebut dan menutupkan ke tubuh Salma dan Aundy. "Masih suka lupa, atau sengaja lupa?" Bibir Sabda mengukir senyuman simpul. "Manja!" gumamnya.
Salma pernah bilang, sengaja sering melupakan selimut supaya dia lebih perhatian padanya. Tapi sepertinya hal buruk itu sudah menjadi kebiasaan Salma. Dan Sabda berharap, seseorang yang kini menjadi pendamping Salma, peka akan hal itu.
Hanya di saat seperti ini Sabda bisa menatap puas wajah Salma. Ada kerinduan yang terpendam, ada rasa ingin memiliki lagi, tapi tidak bisa. Kehilangan Salma sulit diterima, dan melepaskan Salma adalah hal paling menyakitkan dalam hidup Sabda.
Hal baiknya, Sabda tidak pernah menyesali pernah mencintai Salma di hidupnya. Sekarang, dia hanya bisa berangan-angan, yang mungkin akan sirna, bahkan sebelum dirinya mencoba untuk berusaha. "Have a nice dream, Amoraku ...." Sabda melangkah menuju kamar mandi, membiarkan Salma dan putrinya terlelap dalam mimpi.
__ADS_1
Pagi ini, Salma masih bergeming di bawah selimut tebal, udara dingin khas Dieng membuatnya malas untuk sekedar membuka mata ataupun menjauh dari bantal. Seluruh sendinya masih merasakan ngilu akibat perjalanan semalam, hal itu semakin memperkuat alasan dirinya untuk bangun lebih siang, ditambah lagi suasana terasa sepi dia yakin, Aundy masih terlelap di sampingnya.
Di saat kesadarannya nyaris kembali terlelap, Salma justru dihebohkan oleh guncangan dahsyat dari ranjang yang ditempati. Putrinya berdendang ... suaranya begitu membahana sampai-sampai memaksa Salma untuk membuka mata.
"Ody, Sayang ... kalau jatuh gimana?" Salma berupaya menghentikan tingkah Aundy. Sayangnya, gadis itu nekad, asyik dengan lagu dan lompatan kakinya di atas kasur.
Salma memandangi Aundy, aroma parfum dari tubuhnya sudah menyebar, gadis itu sudah mandi. Bahkan, aroma parfumnya sudah menyebar ke penjuru kamar.
"Ody udah mandi?"
Harusnya bukan kalimat itu yang ingin ditanyakan Salma. Meski sudah tahu siapa yang mengepang rambut putrinya. Dia hanya ingin memastikan, apa benar Sabda melakukannya sebaik ini? Hebat, bahkan dirinya saja belum tentu bisa.
Gadis itu mengangguk. Lalu kembali bernyanyi. "Bunda, rambut aku bagus, kan?" pamer, Aundy memperlihatkan rambutnya. "Yang ngepangin ayah," adunya penuh bangga.
"Ya, bagus, cantik. Ayah Sabda mana?" Salma bersandar di kepala ranjang, heran saat tak menemukan sosok yang semalam tidur di sofa.
"Sedang mandi."
"Kenapa?"
"Masih lama nggak, kalau lama aku keluar aja nyari toilet umum." Kebiasaan Salma setiap bangun pagi selalu absen ke kamar mandi.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, lama pintu itu terbuka lebar. Sabda muncul dengan rambut masih penuh busa. Sedangkan bagian bawah masih mengenakan kolor se xy nya.
"Tahu gitu aku ke kamar mandi umum saja!"
"Udah buruan, keburu mataku pedes!" Sabda sendiri masih hapal dengan kebiasaan Salma. Dia memberi jalan supaya mantan istrinya itu segera masuk ke kamar mandi.
Hampir lima menit Sabda berdiri di depan kamar mandi, busa di rambutnya sudah tampak hampir mengering.
"Kamu ngapain sih, Sal?! Lama bener!"
"Iya, iya sebentar lagi!"
Sabda yang tidak kuat lagi, membilas rambutnya di wastafel depan kamar mandi. Sangking sempitnya wastafel itu, rambutnya tidak bisa terbilas semua. Air busa yang tersisa pun menetes ke wajah melewati mata dan membuat matanya pedih.
__ADS_1
Tangannya sudah berusaha menyeka air busa itu, tapi matanya terlanjur kemasukan air shampoo.
"Aneh-aneh saja kamu, Mas!" Salma yang baru saja keluar, justru mencibir.
"Pedih, pedih ini minggir dulu!" Dengan langkah sempoyongan Sabda meraba bibir pintu berusaha masuk dan mencari air shower. Tapi justru mendapati tubuh Salma.
"Tangan kondisikan!" Peringat Salma saat tangan Sabda mengancam aset pribadinya. Tak ingin Sabda semakin lancang, Salma menarik tangan pria itu, menyeret masuk ke kamar mandi. Niat hati ingin segera berlalu, tapi saat menoleh ke belakang, rasa iba-nya muncul saat mendapati Sabda tak kunjung mendapatkan tuas kran.
Sekuat tenaga Salma membuka kran air shower, dia membantu Sabda mengusap wajahnya yang penuh busa. Hingga percikan air yang begitu kuat ikut menguyur seluruh tubuhnya.
"Senengnya di mandiin lagi sama, Salma!" goda Sabda masih dengan mata terpejam.
Menyadari akan hal itu, Salma langsung mendorong tubuh Sabda, hingga kepala pria itu kebentur dinding kamar mandi, cukup keras, bisa di gambarkan setelah ini kepala Sinchan pindah di kepala Sabda.
"Sial dua kali! Astaga!" keluh Sabda mengusap kepala bagian samping yang tadi terbentur.
Salma meringis, dia baru menyadari ternyata sekuat itu tenaganya. "Makanya jangan aneh-aneh! Nyebelin kamu itu!" kata Salma, dengan nada tinggi.
"Sama dong kaya yang ngomong!" balas Sabda.
"Kamu duluan yang nyebelin!" Salma tak mau kalau.
"Kamu!" begitu pun dengan Sabda.
"Kamu!!"
"Kamu!!! Kamu yang makai kamar mandi nggak kira-kira! lama banget!"
"Kamu yang ngasih! Kenapa nggak minta aku buat di luar aja tadi!" balas Salma, jiwa menang tinggi membuatnya enggan mengalah dengan Sabda.
"Ayah Sabda mandi bareng sama Bunda kok berantem? Nggak kaya bunda sama ayah Endra?" gadis kecil yang sedari tadi berdiri di bibir pintu berusaha melerai perdebatan itu.
"ODY KITA NGGAK MANDI BARENG!" Keduanya serempak, dengan saling menatap kesal. Tiba-tiba Salma mencemaskan ucapan Aundy. Gimana kalau dia mengadu, sama Endra?
"Apa sebentar lagi Ody mau punya adik? Apa tadi ayah sama bunda lagi bikin adik?" Aundy bertanya, wajahnya terlihat begitu penasaran.
"Shut! Ody!" Pekik Salma seraya menghampiri putrinya, dia berjalan dengan baju basah kuyup.
__ADS_1