Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Pulang Lebih Awal


__ADS_3

Diam memang lebih baik dari pada berbicara tak berguna. Tapi kediaman Salma saat ini adalah memendam amarah yang ingin diledakan. Emosi yang terpatik dari awal membuka mata, kini semakin membara saat dia harus menunggu sosok Sabda duduk di depannya.


Ya, karena kebetulan bertemu dengan teman lama saat dulu pendidikan, Sabda harus merelakan mereka berdua masuk restoran terlebih dahulu. Yang disesalkan Salma sudah hampir tiga puluh menit pria itu tak kunjung menampilkan batang hidungnya.


Sarapan sudah tersaji di atas meja. Nasi goreng, telur mata sapi, dan teh hangat yang semula mengepulkan uap kini sudah berubah menjadi dingin. Pandangan Salma menatap nanar hidangan yang tersaji, dia menunggu sabda, berbeda dengan Aundy yang makan lebih awal, karena mengeluh kelaparan.


"Bunda, ayah ke mana?" tanya Aundy.


"Hm?" Salma tersadar.


"Ayah Sabda ke mana, Bunda?" Aundy mengulangi pertanyaannya.


"Ketemu tadi sama temannya." Salma menjelaskan singkat, hingga tak lama kemudian terlihat bayangan Sabda melangkah mendekati meja yang mereka tempati.


Pagi ini pria itu mengenakan kaus hitam, topi hitam serta celana jeans biru cerah. Postur tubuh Sabda tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 180 cm. Tubuhnya tegap, rambutnya yang lurus sedikit di bawah telinga.


Sabda yang cerewet, asyik dalam bergaul memudahkan dia memiliki banyak teman. Beda jauh dengan Endra yang memiliki pembawaan yang cukup tenang.


“Ayah lama banget perginy!" Protes Aundy melihat sosok Sabda mengambil duduk di depannya.


"Iya, maaf, Ody ...." Sabda melirik piring Salma. "Monggo didhahar, Mbak!" Sabda berusaha meluluhkan hati Salma yang terlihat marah.


Salma makan dalam diam, begitupun Sabda, kini hanya terdengar suara Salma yang memang sudah berhasil menyelesaikan makannya. "Ayah, kita jadi ke pemandian air hangat, kan?"


Sabda melirik Salma. "Jadi, dong! Tapi bentar saja ya. Ada teman ayah, nanti malam mau nikah tadi ketemu dan ayah mendapat undangan. Jadi, ayah harus mengantar kalian pulang dulu."


“Wah, apa Ody boleh ikut?” berbeda dengan Salma, Aundy begitu menyukai pesta.


“Ody, itu acara orang dewasa, banyak asap rokok, dan lagi kita harus pulang nanti malam.” Salma mencegah Aundy. Mereka harus kembali ke Semarang, selain tidak baik untuk kesehatan jantungnya, berduaan dengan Sabda, terlalu lama. Juga bisa menimbulkan fitnah.


“Bunda ….” Aundy merengek, menatap Salma dengan tatapan memohon.


“Ody, bunda udah nurutin kamu ya! jadi jangan harap bunda mau nuruti permintaan keduamu lagi.”

__ADS_1


“Bunda ….” Suara Aundy semakin lemah, berusaha membujuk Salma. "Kali ini saja."


“Kita pulang aja ya Ody, nanti ayah anterin kamu sekitar jam tiga.” Sabda yang paham situasi berusaha memberi masukan.


Wajah Aundy semakin muram, seakan tidak terima dengan keputusan sepihak yang disarankan Sabda. Salma sendiri tidak berniat menuruti keinginan Aundy, dia hanya izin satu malam kepada Endra, kalau sampai pria itu tahu dia masih berduaan dengan Sabda, masalah akan semakin runyam.


"Ayah akan anterin kalian, setelah itu balik lagi ke sini!" Kata Sabda.


Melihat Aundy menangis, Salma jadi tidak tega. Segala bujukan dilontarkan untuk meluluhkan Aundy. Akan tetapi, sikap keras kepala Aundy tak goyah sedikitpun. “Baiklah, Ody di sini sama Ayah Sabda. Tapi, bunda tetap pulang. Bunda naik travel.” Salma terpaksa mengambil keputusan itu. Dia tidak ingin keputusannya menjadi bomerang untuk dirinya sendiri.


“Kamu yakin? Atau kamu mau tinggal dulu di villa nungguin kita! Setelah acara selesai kita bisa langsung pulang.”


Salma tidak akan percaya dengan ucapan Sabda. Yang ada pria itu akan beralasan kelelahan, dan memaksanya kembali menginap. “Tidak perlu, aku izin sama mas Endra malam ini sudah kembali pulang. Aku tidak ingin melebihi batas, seharusnya aku berterima kasih padanya sudah diberikan kesempatan menemani kalian.”


“Kalau gitu— Sabda tampak bingung.


“Udah tenang aja, aku bisa kok! Kita jadinya mau liburan ke mana? Ayo, keburu panas!” Salma sudah beranjak dari kursi, bersiap untuk pergi.


“Ody, kita pulang aja ya. Kan kasian bunda pulang sendirian.”


“Bu—bukan, aku malah nggak enak sama kamu.”


“Santai saja, aku tidak apa-apa.”


“Gimana Ody, kamu setuju pulang sama Ayah?”


“Setuju, Ayah, aku mau ikut ayah ke pesta nikahan.”


Setelah keputusan itu, mereka pergi ke pemandian air hangat. Berhubung Aundy anak gadis, jadi yang boleh menemaninya adalah Salma. Sabda hanya menatap keduanya dari kejauhan. Sesekali mengarahkan kamera ponselnya ke mereka berdua.


Aundy terlihat begitu bahagia saat ini. Dia seperti memiliki keluarga sempurna yang selalu diidamkan anak-anak di luar sana.


Namun sayang, kenyataan pahit harus menimpanya saat menyadari fakta kalau kedua orang tua kandungnya tidak bisa lagi bersama.

__ADS_1


Tujuan kedua, Sabda membawa mereka ke bukit Sikunir, sepertinya dia ingin Aundy menyukai suasana alam. Dia mengajak Aundy melihat sun set. Sayangnya, karena cuaca sedikit mendung, sinar jingga tidak bisa dilihat dengan jelas.


Pikiran Salma tidak bisa tenang, nomor ponsel Endra tak bisa dihubungi. Berulangkali Salma mencoba menghubungi pria itu, tapi panggilannya tak juga terhubung. Padahal, dia yakin sinyal ponselnya sudah penuh.


“Masih saja khawatir berlebihan ya!” Sabda mencibir saat menyadari apa yang dilakukan Salma saat ini.


“Sayang dua kali, pria yang aku khawatirkan tidak pernah peduli.” Salma membalas, seakan menyindir apa yang dilakukan Sabda di masa lalu.


Sabda hanya tersenyum masam. Kemudian terhenyak merasakan tembakan air yang diluncurkan Aundy.


“Dia kan masuk malam, mungkin sedang istirahat.” Sabda berusaha menjelaskan, seraya menemani Aundy bermain.


Jika seperti ini, pikiran Salma semakin tidak tenang. Dia ingin buru-buru pulang dan mencaritahu kabar pria itu. "Mas, boleh aku pulang sekarang?"


Sabda menoleh ke arah Salma, keningnya berkerut dalam. "Aku anterin." Pria itu menggendong Aundy, lalu membawa turun Salma., dia harus mengantar Salma ke agen travel terdekat.


"Kamu bawa dompet kan?"


"Iya. Ada di tas."


"Kalau begitu biarkan pakaian gantimu kubawa besok."


Salma berdehem, setuju karena jujur pikirannya sedang fokus ke arah layar.


Sepuluh menit mengemudikan mobil akhirnya Sabda menghentikan mobilnya di area parkir agen travel. Beruntung masih ada travel yang belum berangkat. Jadi Salma langsung menaiki elf itu.


"Ody, nurut sama ayah ya, Sayang!"


"Baik Bunda." Aundy menjawab singkat.


"Bunda pulang duluan, jangan nyariin bunda! harus mandiri, okay!" pesannya sebelum masuk ke elf.


"Mas Sabda, nitip Ody, jagain dia. Jangan sampai dia terluka, awas saja!" ancam Salma seraya melamar tatapan tajam ke arah Sabda.

__ADS_1


"Iya, udah tenang saja. Dia aman bersamaku." Sabda meminta Salma segera naik, lantaran elf sudah siap berangkat.


__ADS_2