Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Kecelakaan


__ADS_3

"Mas, aku sudah mendapatkan informasi mengenai identitas perempuan yang kita cari!"


Ucapan Panji di seberang panggilan membuat Sabda penasaran. Pria itu sampai menepikan mobilnya terlebih dahulu—demi bisa fokus mendengar apa yang disampaikan Panji.


"Tunggu, Nji, apa ibu dan pak Arif tahu mengenai hal ini? Sebaiknya jangan dulu sebelum kita benar-benar menemukan bukti yang pas." Sabda memperingati, khawatir pak Arif akan jatuh sakit sama seperti saat mendengar keputusan Salma yang ingin menggugat cerai dirinya, dulu.


Terdengar tawa masam dari seberang sana. Cukup lama, entah apa maksud Panji tertawa selama itu. Sabda merasa tidak ada yang lucu dengan ucapannya.


"Santai aja, Mas! untuk sementara waktu—aku memang ingin merahasiakan ini dari mereka. Kita tunggu waktu yang tepat untuk membongkar keburukan Endra." Panji menjawab, usai tawanya reda.


"Sejak awal, aku memang tidak begitu menyukai Endra. Selain wajahnya yang sok cool, Mas Sabda paham sendiri gimana keluarganya, mata duitan semua! gara-gara bapaknya Endra sering main judi, mereka terlilit banyak hutang pada bapak. Giliran ditagih malah—anaknya yang jadi tumbal. Apa Mas Sabda tahu? Endra itu adalah ganti dari hutang yang tidak bisa dibayarkan oleh keluarga Endra."


"Kamu serius, Nji?"


"Iyalah, Mas. Bapak itu kasihan sama mbak Salma karena jadi omongan tetangga. Akhirnya bapak menyetujui apa yang ditawarkan keluarga Endra."


Sabda yang mendengar saja sudah merasa tersakiti. Gimana jadinya dengan Salma? Astaghfirullah, kenapa juga pak Arif yang dia kenal selalu mengutamakan kebahagiaan putrinya mendadak menjadi seperti itu. Belum tentu apa yang dia putuskan, membahagiakan Salma. pikir Sabda. "Kenapa kamu baru kasih tahu aku sekarang sih, Nji?!"


"Masih banyak rahasia yang ingin aku sampaikan pada mas Sabda. Dan seharusnya malam ini kita bertemu, Mas. Tapi aku banyak kerjaan. Jadi, aku hanya bisa mengatakannya lewat panggilan."


"Ceritakan satu persatu, Nji! selama apapun itu aku akan setia mendengar ceritamu!"


"Balik lagi, dengan sosok wanita yang kita curigai kekasih Endra. Aku rasa dia bukan kekasihnya, Mas! Namanya Arienta Monica lulusan hukum tahun 2015. Sepertinya mereka memang sudah lama menjalin hubungan. Aku ingat-ingat lagi, aku pernah beberapa kali melihat Endra ketemuan dengannya di kampus. Tapi, ini dulu. Mungkin karena udah lulus aku tidak bisa lagi melihatnya. "


"Kamu nggak salah orang, Nji?" Sabda bertanya, untuk memastikan jika informasi yang disampaikan Panji tidak salah.


"Enggak, Mas! Awalnya, aku berniat nyamperin cewek itu di kantor. Setahun terakhir dia bekerja di kantor notaris, sekitar Dieng. Tapi, tadi saat aku datangi tempatnya dia sudah resign sejak hari Senin."

__ADS_1


Sabda seakan menemukan alasan atas sikap Endra yang enggan membawa Salma ke Kutai. "Menurutmu, apa yang harus kita lakukan, Nji?" tanya Sabda, pikirannya sudah sulit diajak berpikir keras sejak perdebatannya dengan Salma beberapa menit yang lalu.


"Sebaiknya, kita beritahu mbak Salma saat dia sudah mengingat momen pernikahannya dengan Endra. Aku khawatir, kerja keras kita sia-sia."


Sabda bergeming, padahal dia ingin sekali memberitahu Salma mengenai identitas wanita itu. Dia masih kesal saat teringat dengan ekspresi Endra waktu mendapati dirinya sedang bersama Hani.


"O, ya Mas! Ody tidur di sini. Tadi mbak Salma telepon. Meminta aku untuk jaga Ody."


Sabda paham, mungkin wanita itu butuh waktu untuk sendiri.


"Ya, tapi tetap saja aku tidak bisa menemuinya. Aku sudah berpamitan pada Ody. Dia tahunya, hari ini aku sudah balik tambang."


"Mas Sabda sedih banget, ada apa?" tanya Panji.


"Salma sudah tahu kalau aku menjalin hubungan dengan Hani. Dia merasa dibohongi olehku, jadi aku memutuskan untuk menjauh saja. Tapi, aku rasa kita berdua perlu menjelaskan seperti apa sesungguhnya pria itu. Setelah itu, aku bisa benar-benar pergi dari hidup Salma."


Sabda menatap layar ponsel yang kini tengah menampilkan status panggilan. Dia setia menunggu Panji yang tengah berbicara dengan Salma.


Rasa penasaran pun menyelinap saat panggilan itu tak kunjung terhubung kembali. Hampir satu menit berlalu terdengar suara Panji menyapa pendengarannya.


"Hallo Mas! Masih di sana?" tanya Panji.


"Iya. Ada apa, Nji?" tanya Sabda malas.


"Mas, mbak Salma bilang mas Endra kecelakaan. Dia dibawa ke rumah sakit Parinama. Aku mau jemput mbak Salma dulu! Aku matikan, nanti kita bicara lagi."


"Nji, hubungi aku kalau ada sesuatu dengan Salma!" pesan Sabda sebelum panggilan itu terputus sepihak.

__ADS_1


Sabda menatap layar ponselnya yang menampilkan gambar Aundy dengan dirinya. Pikirannya mendadak bingung harus pulang atau ke rumah sakit Parinama.


Sabda memutuskan menginjak pedal gasnya, melanjutkan tujuan menuju rumah kedua orangtuanya. Belum sampai satu kilo menekuri jalanan beraspal itu. Sabda kembali memutar arah mobilnya.Sabda memutuskan untuk mendatangi rumah sakit itu, setidaknya dia bisa menjaga Salma.


Saat tiba di rumah sakit Parinama, Sabda langsung bertanya pada perawat mengenai pasien korban kecelakaan itu. Hingga tak lama, sepasang matanya tertuju ke arah Salma. Wanita itu berjalan mondar-mandir. Wajahnya terlihat begitu cemas.


Jarak Sabda dan Salma semakin terkikis, Hingga tak lama kemudian pandangan mereka bertemu. Bukannya marah, Salma justru memeluk erat tubuh Sabda, seakan mencari sandaran untuk meletakan sejenak kekhawatirannya.


"Semua akan baik-baik saja," gumam Sabda, seraya mengusap surai hitam milik Salma.


"Bukan masalah itu, Mas? Dia, aku khawatir dia—sebelum kami pergi berdua untuk melihat kamu dan kekasihmu, dia mengatakan akan pergi menjauh dariku. Dan aku tidak ingin dia pergi selamanya, sebelum aku mengingat semuanya."


"Mbak? Mas Sabda, gimana kondisi Mas Endra" tanya Panji saat tiba di sana.


Pelukan Salma terlepas. Pandangannya tertuju ke arah Panji. "Mbak belum mendengar penjelasan dokter. Mereka masih memeriksa kondisi Mas Endra."


Panji ikut mengangguk. Dia ingat saat perjalanan pulang dari main timezone dengan Aundy, dia melihat mobil Endra berhenti di pinggir jalan. Tapi, dia tidak ingin kepo bertanya mengenai apa yang pria itu lakukan. "kita berdoa saja, Mbak. Semoga mas Endra baik-baik saja."


Salma mengangguk pelan. Ada dua pria di sampingnya, hati gelisah pun kini sedikit lega setelah mendengar kalimat penghiburan itu. Dia menurut saat sabda menuntunnya ke arah bangku tunggu yang tidak jauh dari pintu masuk ICU.


"Apa Bapak dan Ibu tahu, Nji?"


"Ya, tapi mereka memintaku untuk menjaga mbak Salma, mbak tenang saja Ody aman kok, tadi dia sudah tidur."


"Dengan keluarga Endra?"


Suara dokter yang mengudara membuat Salma lekas kembali beranjak dari posisi duduknya. "Iya, Dok!" Salma berlari kecil menghadap dokter. "Saya—saya istrinya."

__ADS_1


"Istrinya?" Dokter itu mengernyit, bingung. "Lalu pasien wanita yang sedang bersamanya itu, Siapa?"


__ADS_2