Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Bersama Ibu


__ADS_3

Urusan Aundy sudah selesai. Gadis kecil itu kini sudah berada di sekolah. Akan tetapi, Salma yang baru selesai mengantarkan masih setia duduk di teras rumah kedua orang tuanya.


"Buruan mandi, Sal! keburu panas!"


Suara Bu Deva mengalihkan perhatian Salma. Dia hanya menampilkan senyuman tipis ke arah sang ibu. "ibu sudah mandi?"


"Ya, kamu dulu yang mandi—ibu masih ada urusan ngabarin anak kos sebelah, kalau hari ini ibu nggak ambil cucian."


Salma manggut-manggut. Lalu berjalan gontai memasuki rumah, bersiap untuk pergi ke kantor pengadilan.


Satu jam kemudian, Salma dan Bu Deva sudah berada di dalam taksi yang hendak mengantarkan mereka ke gedung pengadilan agama. Salma sudah berpesan pada pak Arif untuk menjemput Aundy tepat pada jam sebelas siang. Dan tiba-tiba saja—acara Salma berubah padat. Banyak hal yang ingin dia lakukan, di antaranya mengambil barang -barangnya di rumah lama. Dia harus memindahkan barang itu, sebelum Arienta memasuki rumah Endra.


“Tapi sebelum itu, sebaiknya kita pergi ke salon dulu, Sal! kamu harus potong pendek, biar sialmu ikut terbuang!” saran Bu Deva.


Salma menyisir rambut panjangnya dengan jari. Mas Sabda kan suka aku punya rambut panjang? Gimana bisa aku—Detik berikutnya Salma menggeleng tegas. Bisa-bisanya dia memikirkan Sabda! Astaga!


“Emang pantas ya, Bu?” tanya Salma.


“Tentu saja pantas! Kamu dasarnya sudah cantik. Mau diapa-apain juga cantik!” kata Bu Deva, memuji membuat rasa percaya diri Salma menapaki titik tertinggi. Dia sampai mengamati kaca kecil yang ada di depan sopir, lalu mengumpulkan rambutnya dengan tangan.


“Gimana? Ibu juga sudah lama tidak menemui teman ibu satu itu. Eh, siapa tahu dia punya anak yang bisa jadi jodohmu.”


“Ibu—Salma nggak berminat sama laki-laki. Salma ingin fokus dengan Ody!” kata Salma, lembut. Tapi ekspresinya jelas menunjukan penolakan.


Bu Deva terkekeh, “iya iya, terserah kamu. Ibu hanya ingin, siapapun pria yang sudah tega mencampakkan putriku menyesal seumur hidupnya. Bu Habibah, mereka yang menganggap kita miskin? Andai dia tahu, tunduklah dia sama bapakmu. Kita cuma tidak ingin menunjukan apa yang kita miliki. Ibu sama bapakmu paham, harta dunia itu tidak ada yang abadi! Kalau bapakmu enggak ketakutan melihatmu wira-wiri sama Sabda, pasti nasibmu akan berbeda. Kamu akan jadi orang sukses—kuliah setinggi-tingginya karena sebenarnya saat itu bapakmu sudah menyediakan uang kuliah untukmu, Sal!”


Salma merengkuh lengan ibunya. “Sekarang, apa uang itu masih ada?” goda Salma, dengan suara lirih.


“Dulu, setelah melihatmu menikah dengan Sabda. Bapakmu merasa tenang, kebahagian dan kehidupanmu terjamin. Bapak senang melihat Sabda bertanggung jawab atas kehidupanmu. Jadi, uang yang sebenarnya disiapkan untuk masuk kuliah dipinjamkan pada keluarga Endra, mereka meminjam dengan alasan dipakai untuk modal usaha. Tapi sampai detik ini usaha pun gagal, bukannya lunas tapi hutangnya justru semakin numpuk. Karena tidak bisa bayar, akhirnya Endra lah yang menjadi suamimu.”


Ya, akhirnya Salma menemukan cerita yang masuk akal. Mendengar cerita versi Bu Tantri dan bu Deva semuanya terasa sinkron. Berarti memang itulah alasan kenapa dia menikah dengan Endra, bukan karena cinta melainkan karena sebuah kesepakatan. “Ih, bapak mah gitu, giliran kini Salma butuh uang. Uangnya malah nggak ada!” Salma mengeluh dengan nada menggoda. Dia tidak sungguh-sungguh menyampaikan itu. Dia hanya menggoda bu Deva.


“Emangnya kamu butuh berapa?” bisik bu Deva. “Kalau banyak biar ibu bujuk bapak untuk jual tanah!”


Salma justru terbahak. Tawa yang sengaja dibuat-buat untuk menghibur ibunya. “Banyak, Bu! Buat melarikan diri dari kota Semarang!”


Plak!


Satu pukulan keras mendarat di paha Salma. "Ibu, ih! tangan ibu itu berat loh! bikin panas paha Salma aja!"


“Jangan coba-coba bawa cucuku kabur ya!” peringat Bu Deva.


“Berarti kalau Salma kabur sendirian tidak apa-apa, kan?”


Bukan lagi pukulan yang mendarat di paha Salma, dia merin-tih kesakitan saat mendapatkan hadiah cubitan dari tangan keriput wanita itu. Meski sudah berumur, tangan Bu Deva masih cukup memiliki tenaga. Salma sampai meringis merasakan panas yang luar biasa di pahanya.

__ADS_1


“Kalian harus selalu sama-sama. Tapi, jika kamu ingin pergi dari Semarang. Apapun itu kami akan mendukungmu. Asalkan itu adalah jalan terbaik untuk melupakan luka yang kamu dapatkan disini. Ibu rela tersiksa rindu setiap malam, demi melihatmu bahagia, Sal!”


Salma menggaruk pipinya, terharu mendengar setiap kata yang disampaikan sang ibu. Beruntung taksi yang mereka tumpangi sudah tiba di depan gedung kantor pengadilan. Jadi, Salma langsung menuntun ibunya untuk turun.


“Sal, rambut ibu sudah putih semua kan?”


“Masih ada hitamnya. Tapi yang hitam bisa dihitung!” Ledek Salma, seraya merangkul lengan Bu Deva.


"Mau ibu semir hitam nanti, biar keliatan muda!"


Salma menganggukan kepala, menyetujui apapun yang hendak dilakukan sang ibu asalkan beliau bahagia. Sepanjang kaki mereka melangkah, Bu Deva selalu melemparkan kalimat candaan. Sepertinya, wanita itu sengaja menghibur Salma yang tengah dirundung kegelisahan. Obrolan mereka baru berhenti, setelah menemukan ruang pengaduan.


Ternyata prosesnya lebih lama. Beberapa pertanyaan diajukan oleh petugas terkait gugatan yang kini diajukan oleh Salma. Hingga tiga puluh menit berlalu, Salma akhirnya selesai diintrogasi.


“Minggu depan kita lakukan sidang pertama ya, Bu. Dengan agenda mediasi.”


Salma mengangguk pelan, menahan bibir bawahnya saat kilasan tentang masa lalu mendadak melintas dalam pikiran. Ya, Salma merasa pernah mengalami hal serupa. Dia ingat saat mengajukan gugatan atas pernikahannya dengan Sabda.


“Saya akan menyiapkan diri sebaik mungkin, Bu. Mohon maaf, saya ingin bertanya, apabila pihak pria tidak bisa hadir, apakah sidang bisa terus dilanjutkan?”


“Bisa, tapi perlu menunggu satu minggu ke depan untuk melanjutkan proses persidangan. Tapi tidak akan selama persidangan yang dihadiri kedua belah pihak.”


Setelah benar-benar paham, Salma dan Bu Deva lekas beranjak dari ruangan tersebut. Bu deva dengan semangat menarik kembali tubuh Salma memasuki taksi.


“Ibu nih, kenapa semangat banget! Kaya lagi puber kedua aja!” olok Salma, seiring mobil taksi yang merambat pelan meninggalkan gedung pengadilan agama.


“Doa ibu akan selalu menyertaimu, Sal! Semoga setelah ini, kamu akan menemukan kebahagian yang sesungguhnya! Dan ibu, bukan sedang puber kedua. Tapi ibu merasa lega, melihat kamu bisa terlepas dari cengkraman Endra.”


“Aamiin, biasanya doa ibu selalu dikabulkan sama Allah.” Salma berkata lirih, seraya memejamkan matanya rapat. Dia hanya pura-pura tidur, agar bu Deva tak mengajaknya bicara.


Namun, Salma merasakan perjalanan kali ini terasa lebih lama. Dia sendiri tidak begitu paham, ke arah mana mobil taksi yang kini ditumpangi.


Kira –kira tiga puluh menit Salma memejamkan mata. Akhirnya mobil taksi yang ditumpangi berhenti di depan ruko sederhana di pinggir jalan raya.


“Kan, rame banget, Sal! Salon ini terkenal bagus. Kamu harus coba!” Bu Deva sudah mengintai situasi di dalam ruko. Setelah melihat sahabat lamanya, dia menuntun Salma untuk masuk ke dalam.


“Assalamu’alaikum, Mbakyu!”


“Wa’alaikumsalam—astaga siapa kamu?” wanita itu menggoda sambil memeluk Bi Deva erat. Dia cukup shock melihat kedatangan bu Deva bersama Salma. “Kamu masih ingat sama aku ternyata? astaga Deva kemana aja sih kamu!!” pelukan kerinduan itu berubah menjadi rema-san di kedua lengan Bu Deva.


Salma yang sedari tadi menyaksikan berupaya mengambil celah untuk menyalami wanita itu. Perempuan itu terlihat begitu cantik dan elegan. Sebenarnya ibu jauh lebih cantik dari pada dia. Tapi, karena kesibukan ibu, jadilah wajahnya lebih tuaan ibu.


“Sibuk aku, Lan!” bu Deva menepuk lengan wanita itu. “Salma berniat potong rambut, pas kebetulan lewat sini jadi mampir sekalian!” Bu Deva menjelaskan.


Wanita bernama Rembulan itu menelisik penampilan Salma dari atas hingga ujung kaki. “Ini anakmu, yang dulu kamu bawa ke salon? Dulu, masih kecil banget, kalau nggak salah ingat, dia masih pakai seragam merah putih! iya, kan, Ma, Salma?”

__ADS_1


“Iya.”


“Di ruko antri banyak. Ke rumah aja yuk, gimana? biar aku yang mengurusi rambut Salma!” tawar Bu Rembulan. Wanita itu begitu ramah, sepertinya hubungan pertemanan ibu dengan wanita itu memang terjalin dengan baik.


Bu Deva sendiri terlihat begitu bersemangat. Dia memberi isyarat pada Salma untuk mengikuti langkah Bu Rembulan.


Salma pikir mereka akan berhenti di salah satu ruangan. Tapi siapa sangka jalan lorong kecil itu menembus ke rumah utama bu Rembulan.


“Berantakan tempatnya, anak-anak kalau main pada nggak mau beresin. Si mbak yang biasa bersih-bersih juga belum datang!”


“Cucumu udah berapa?” tanya Bu Deva.


“Tiga sebenarnya. Cuma yang satu enggak mau dimong. Meninggal saat usia tiga bulan.” Wajah Bu Rembulan terlihat begitu sedih. “Kebetulan kemarin habis dari sini. Tapi udah diambil lagi sama ibunya.”


“Owalah, nggak bisa ketemu berarti kita!”


Bu Rembulan menggeleng pelan. lalu bertanya pada Salma. “Salma udah berkeluarga?”


“Udah!” Salma menyela ketika bu Deva berniat menjawab.


“Alhamdulillah. Sejak anakku bercerai dengan istrinya sampai sekarang dia betah menduda. Nyesel dia Nduk, karena salah paham, dia justru mengambil keputusan cerai dengan istrinya. Dan sayangnya, istrinya itu diajak rujuk nggak mau. Lah bingung anakku!”


“Anak-anak sekarang tu susah, Mbak.” Bu Deva menimpali. “Anakmu sekarang kerja di mana, Mbak?”


“Meneruskan pekerjaan warisan papine! La siapa lagi kalau bukan dia?” Bu Rembulan tertawa lebar. Dia sendiri juga seorang janda yang ditinggal mati oleh suaminya.


“Ya, sih ibune juga udah punya bisnis sendiri.”


Wanita itu mengangguk lalu fokus menatap rambut Salma. Menuruti Salma yang ingin dipotong model seperti apa.


"Sal, teman ibu ini janda juga loh. Dia ditinggal mati suaminya saat putranya baru berusia lima tahun. Bukti, wanita itu bisa jadi apa saja, bahkan tanpa pria di sampingnya!"


Bu Rembulan terlihat bingung mendengar ucapan temannya. Sampai akhirnya, terbongkarlah status pernikahan Salma saat ini. Mereka singgah di sana cukup lama. Sangking asyik mengobrol tanpa terasa hari sudah sore.


Namun, pekerjaan Bu Rembulan belum selesai. Wanita itu masih sibuk memberi warna pada rambut Bu Deva. Hingga suara bel pintu berbunyi membuat bu Rembulan beranjak dari posisinya untuk membuka pintu.


“Ibu, nitip anak-anak sebentar bisa? Saya ada acara yang nggak bisa diwakilkan!”


Salma yang mendengar suara itu langsung menoleh. Pandangannya bertemu pada sosok wanita yang baru saja memasuki rumah.


“Salma?" wanita itu tampak shock melihat Salma berada di rumah mantan mertuanya. "Kamu Salma, kan?”


Salma sendiri masih bingung. Berusaha mencari tahu siapa sosok wanita yang ada di depannya saat ini.


 

__ADS_1


__ADS_2