Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Rumah Makan


__ADS_3

Wanita yang kini berpakaian rapi itu, mendekat ke arah Salma. Seakan ingin memastikan jika dirinya tidak salah lihat. “Iya, kan? kamu Salma! Mantan istri Sabda.”


Meski Salma tidak ingat sama sekali dengan sosok wanita yang kini berdiri di sampingnya, bibirnya berusaha tersenyum. Menyambut ramah, sapaan wanita tersebut.


“Aku Gina. Masa lupa, sih?” protes wanita itu.


Mungkin, jika Salma tidak terserang amnesia. Dia bisa mengingat sosok wanita di sampingnya ini. Akan tetapi dia tidak ingat sama sekali. Jadi, yang bisa dilakukan hanyalah diam.


“Apa aku boleh minta nomor ponselmu?! Aku buru-buru, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Lain kali, aku akan menghubungimu untuk bertemu.”


“Ya, catatlah nomor ponselku!”


Astaga, dingin sekali wanita ini! Regina, wanita yang kerap disapa Gina itu membatin saat mendapati sikap yang ditunjukan Salma.


Namun, dengan senang hati dia mencatat angka yang disebutkan Salma. “Bisa dipakai WA kan? nanti aku hubungi kamu, ya!”


Salma mengangguk. Melihat wanita itu pergi dan berpamitan pada ibu Rembulan, Salma menatap sang ibu. “Dia siapa sih, Bu?” tanya Salma, penasaran.


“Kata Bulan, dia mantan menantunya.”


“Mantan?”


Bu Deva mengangguk.


“Kok bisa dia kenal Salma?” tanya Salma lagi. Siapa tahu, dengan dipancing ingatannya bisa pulih.


Belum juga bu Deva menjawab terdengar suara langkah bu Rembulan mendekat ke arah mereka berdua.


“Itu tadi, Mbak—mantan istrinya Raffa. Sejak dulu cita-citanya pengen jadi wanita karier! Aku sih setuju-setuju saja, tapi Raffa yang enggak suka. Dia itu pikirannya kuno. Menurutnya wanita itu wajib di rumah, ngurusi anak, ngurusin suami. Tapi sebenarnya Raffa juga tanggungjawab sih, dia meminta Gina di rumah karena merasa cukup dengan penghasilannya. Yah, mungkin itu tadi perbedaan prinsip juga jadi penyebab perceraian, ditambah lagi faktor dari luar! jadilah mereka bercerai.”


“Cerainya udah lama, Bulek?” Salma yang mendengar ikut penasaran.


“Lumayan, tiga tahun yang lalu.”


“Jangankan wanita zaman sekarang, kita aja disuruh diem juga nggak bisa.”

__ADS_1


Ibu Rembulan menertawakan ucapan bu Deva. Itu Fakta, dia juga seperti itu. Pekerjaan yang ditekuni sudah menjadi santapannya setiap hari, jadi tidak bisa jika disuruh meninggalkan. “Raffa itu keras, persis papinya! Pengennya A ya A! Aku tu cuma kasihan sama dua cucuku. Masih kecil-kecil, pasti dalam hatinya pengen bapak ibunya akur.”


“Iya, Mbak jelas!” respon Bu Deva.


Salma yang duduk di sofa, sudah dengan potongan rambut barunya hanya mendengarkan obrolan mereka berdua. Sesekali Salma berusaha mengingat akan sosok Regina yang mereka bicarakan.


“Seperti tidak asing, tapi di mana aku pernah bertemu dengannya.” Salma bergumam, seraya menyandarkan punggungnya di sofa. Lamunan Salma pecah, oleh notifikasi pesan masuk ke nomornya. Panji menanyakan keberadaan Salma karena Aundy terus mencarinya.


Salma : Ajakin jemput aja, Nji.


Salma mengirimkan lokasinya saat ini. Berharap Panji bersedia menjemputnya.


Salma: Ibu lagi nyalon.


Panji : Okey. Bapak juga ikut.


Salma terkejut melihat jawaban Panji. Dia juga tidak paham kenapa juga bapaknya ikut? Bukankah di rumah sedang banyak kerjaan? Tapi apapun itu, dia hanya bisa pasrah, seraya menunggu sang ibu yang sedang membilas rambutnya.


Tiga puluh menit kemudian Panji dan Aundy sudah tiba di sana. Salma dan bu Deva pun lekas berpamitan pada pemilik rumah.


"Heleh! Salma susah, kaya trauma." Bu Deva berbisik, seakan takut didengar putrinya. "Pamit ya!" izin Bu Deva, lalu menyusul langkah Salma yang berjalan mendahuluinya.


Sudah lima belas menit mobil yang ditumpangi mereka melaju pelan meninggalkan rumah Bu Rembulan. Salma masih mengunci mulutnya rapat. Membiarkan suara bapak yang tengah menggoda ibu mendominasi.


Namun, sesaat kemudian Salma menyadari situasi di dalam mobil berubah total. Ternyata, sedari tadi—Salma ditatap tajam oleh Aundy. Gadis itu ngambek karena ditinggal terlalu lama. Apalagi melihat perubahan dirinya. Salma merasa sedang diintai binatang buas.


“Kaya gini kok mau ditinggal jadi TKW! Yang ada ibu sama bapakmu kewalahan, Sal!” sindir Bu Deva.


“Emang Bunda mau jadi TKW, Uti?” tanya Aundy, menoleh ke arah Bu Deva.


“Tadi sih bilangnya gitu.” Bu Deva sengaja membuat gossip supaya Aundy mau bicara. “Makanya Ody jangan jahat-jahat sama Bunda, nanti kalau ditinggal nangis!”


“Ibu … sukanya ngegosip nggak bener!” tegur Salma, khawatir Aundy akan semakin marah padanya.


Salma memang berniat mencari pekerjaan untuk menyambung hidup. Tapi tidak ada niat sedikitpun untuk bekerja di negara lain.

__ADS_1


“Kenapa enggak kerja sama ayah Sabda aja? Di sana banyak lowongan.” Aundy memberi saran.


“Kamu ngomong apa sih, Dy! Bunda nyetir mobil aja nggak bisa, gimana mau jadi sopir alat berat.” Panji yang sedari tadi fokus dengan jalan turut menimpali.


“Bapak sih pengennya kamu itu bikin usaha kecil-kecilan. Jadi Ody juga enggak terabaikan. Syukur-syukur mau nerusin usaha laundry ibu.” saran pak Arif.


“Jangan, Mbak! Kerjaan babu itu!” Panji melirik ke arah Salma melalui spion kecil di depannya.


“Hust! Babu-babu gini, uangnya juga bisa bantu biaya kuliah kamu! Yang penting halal!” bu Deva kesal dengan ucapan putranya.


Salma terkekeh melihat Bu Deva mencubit lengan Panji, hingga pria itu merin tih kesakitan.


“Kalian nggak usah repot-repot mikirin masa depanku. Soalnya, Salma udah nyiapin rencana sendiri.”


Bu deva menyenggol lengan Salma. “Rencana apa? Jangan aneh-aneh ya!” bisiknya, yang ingin tahu, apa rencana Salma ke depannya.


Salma tersenyum simpul. “Enggak aneh, Bu! minta doanya saja deh, semoga bisa terwujud.”


Pak Arif yang duduk di bangku depan ikut menoleh ke bangku putrinya. “Apa rencanamu, Sal?”


“Rahasia, Pak! Jangan sampai ada yang tahu dulu! Untuk sementara waktu—biarkan jadi doa Salma.”


Helaan napas panjang terdengar begitu jelas. Mereka yang berada di dalam mobil terlihat kecewa dengan jawaban Salma.


Salma sendiri sengaja merahasiakan rencanan. Khawatir kedua orang tuanya tidak memberinya izin. Dia hanya butuh doa restu dari keluarga yang tak pernah berhenti mendukungnya.


“Ayo, katanya mau makan!” ajak Panji, ketika mobil sudah tiba di rumah makan. “Perutku udah lapar, di rumah nggak ada makanan! Ibu lupa kan kalau masih punya anak dan cucu? masa nggak dikasih apa-apa!”


“Sekali-kali ibu cuti masak kan nggak papa juga Le! lagian tinggal nyebrang jalan pesan mie ayam kan juga bisa! Dasarnya kamu aja yang manja!” balas Bu Deva.


“Iya-iya cuti aja nggak papa, Bu! Tapi malam ini ibu yang traktir kita!”


"Heleh! ya udah ayo! ibu traktir es dawet aja!" Bu Deva meminta Salma supaya turun, menyusul suaminya yang sudah berada di depan anak tangga.


Rumah makan bergaya classic dengan bangunan khas joglo terlihat begitu asri. Salma menghentikan langkahnya, memandang rumah makan di depannya, cukup lama. Salma merasa pernah mengunjungi rumah makan ini. Dia berusaha mengingat dengan siapa dia pergi. Hingga kilasan kenangannya di masa lalu mendadak melintas di benaknya.

__ADS_1


__ADS_2