Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Sadar


__ADS_3

Di luar jendela, terlihat sinar matahari mulai menyapa dunia. Sudah hampir 24 jam Sabda terjaga menemani wanita yang dicintainya. Tapi, saat ini dia hanya bisa menemani Aundy.


Pak Arif tengah berada di ruang ICU, Sabda tidak ingin kehadirannya membuat pria itu stress. Ya, sebenarnya keputusan cerai yang diambil mereka berdua begitu mengejutkan keluarga besar. Terutama pak Arif, beliau sempat jatuh sakit setelah mendengar kabar mengenai Salma yang mengajukan gugatan ke Departemen Agama


Jadi, dari pada menimbulkan konflik yang berkepanjangan Sabda memutuskan untuk berada di kamar Aundy. Menunggu putrinya bangun.


Hening semakin terasa di ruangan itu, berbeda dengan isi kepala Sabda yang tiada henti memikirkan kehidupan Salma. Sebenarnya memang tidak baik terus menerus memikirkan mantan, mengingat wanita itu sudah memiliki suami. Tapi, melihat sikap Endra seperti itu, rasanya dia semakin tidak ikhlas melepas Salma. "Apa aku bilang ke pak Arif saja kalau Endra memiliki wanita lain? Setidaknya pak Arif bisa melindungi Salma!"


Banyak ide bermunculan di kepala Sabda. Sekejap kemudian, dia sadar, rasanya tidak etis jika terlalu ikut campur masalah rumah tangga Salma. Mereka memberi kebebasan padanya hanya untuk hidup Aundy, bukan masuk lagi dalam kehidupan Salma.


“Ayah ….”


Panggilan itu membuat Sabda tersadar dari lamunan. Kakinya buru-buru melangkah menuju ranjang yang dipakai Aundy. “Sayang, udah bangun? gimana apa masih tidak enak badan?”


“Bunda?” ucap Aundy lemah.


“Bunda? ada dong ditempat kemarin.” Sabda menjelaskan singkat. Mendadak iri dengan Salma, sekental itulah ikatan Aundy dengan wanita itu. Lain halnya jika dia yang sakit, pasti Aundy biasa saja. “Makan dulu yuk, Sayang! Ody harus cepat sembuh biar bisa jagain Bunda.”


Diam, Aundy tidak menjawab. Matanya yang bulat menatap langit-langit kamar. Hal itu membuat Sabda trauma, khawatir Aundy akan seperti kemarin, step.


“Ody!” panggil Sabda, lembut, sengaja memecah lamunan Aundy. “Ody mau ketemu sama Bunda?” Sabda bertanya, mengalihkan perhatian Aundy yang tampak kosong.


Gadis itu mengangguk penuh semangat. “Boleh kan, Yah!”


“Em ayah ambil kursi roda dulu, ya?”


Aundy kembali mengangguk.


Sabda sengaja melangkah pelan menuju meja perawat. Dia tidak yakin Aundy diizinkan untuk menemui Salma yang kini masih berada di ruang ICU.


Tapi kembali lagi, Sabda mengeluarkan rayuannya. Meski sempat berdebat sengit, tapi akhirnya mereka mengizinkan Sabda membawa Aundy menemui Salma.

__ADS_1


Sebenarnya perkaranya bukan hanya itu, ketika Sabda dan Aundy tiba di depan ruang ICU, di sana ada pak Arif yang menjaga ketat ruangan Salma. Mungkin Aundy bisa masuk, tapi jangan harap dirinya bisa melihat kondisi Salma. Pak Arif tidak akan mungkin mengizinkan dia menemui Salma.


“Akung....” panggil Aundy lemah, saat menyadari pak Arif duduk di kursi ruang tunggu.


“Ody!” pria itu cukup terkejut melihat Aundy berada di kursi roda. “Kok pakai kursi roda, apa kakinya sakit?” tanya pak Arif yang sudah berjongkok di depan Aundy.


“Enggak, tapi tubuh Ody masih lemas, jadi ayah ngasih kursi roda, Kung.”


"Mau gendong akung aja?"


Aundy lantas menggeleng, bukan itu niatnya mendatangi ruang ICU. “Akung, Ody mau bertemu bunda.”


Sabda yang berada di balik tubuh Aundy hanya diam mengamati interaksi mereka berdua. Tampaknya pak Arif keberatan dengan niatan Aundy.


“Sayang, Bun—


“Aundy!” panggilan itu membuat tiga orang yang berada di depan ruang ICU menoleh ke sumber suara. Terlihat Endra mengenakan jaket hitam dan ransel hitam, melangkah mendekati mereka.


Berbeda dengan pak Arif yang terlihat menyambut kedatangan Endra. Aundy justru menatap malas ke arah pria itu. Dia seolah masih menyimpan kebencian yang teramat besar untuk Endra.


“Ayah Endra, kenapa bohong?!” kata Aundy, menegur Endra. "Jangan bohong, bunda bilang itu akan menjadi kebiasaan!" sambungnya.


Endra mengernyit, lalu melirik Pak Arif. “Ody?” dia melangkah menghampiri Aundy. “Apa maksudmu?” selidiknya.


“Ayah, semalam pergi sama istri baru—iyakan?” tuduh Aundy, dia masih ingat dengan jelas, bagaimana ayah sambungnya itu ber cumbu dengan wanita lain.


Endra tampak tak percaya dengan ucapan Aundy, pandangannya beralih ke arah Sabda. Seakan mengatakan jika pria inilah yang sudah membuat pikiran Aundy kotor seperti saat ini.


“Masalah kamu sama aku apa sih?! Kamu racuni pikiran Aundy yang masih di bawah umur untuk membenciku?” protes Endra, beralih menghampiri Sabda.


Sedangkan Sabda hanya diam, dia ingin melihat reaksi pak Arif setelah mendengar ucapan Aundy, tapi sayang sepertinya tidak berefek apapun.

__ADS_1


“Kalau kamu masih cinta Salma, bukan kek gini caranya, Bro!” Endra bersikap seakan dia yang tersakiti, padahal dia lah pelaku yang sesungguhnya. Satu tangannya mendorong kasar pundak Sabda.


“Ayah Endra, jangan marahi ayah Sabda!” lerai Aundy saat melihat Endra berteriak di depan wajah Sabda.


“Kita lihat saja nanti siapa yang akan mendapatkan hati Salma!” nekad melemparkan ancaman untuk Sabda.


"Silakan, kalau kamu ngajak bersaing aku pasti bisa memenangkan nya!" kata Sabda, berusaha menanggapi ucapan Endra.


Saat tangan Endra bersiap melayangkan pukulan seorang perawat tampak berlari keluar menghampiri kerumunan.


“Ada yang namanya Sabda? Pasien sudah sadar, dia mencari Sabda.” Perawat itu memberitahu mengenai kondisi Salma yang baru saja siuman.


Pandangan mereka menatap aneh ke arah perawat, seakan tidak percaya jika yang dicari Salma saat membuka justru Sabda, bukan Endra ataupun Aundy.


"Saya suaminya, saya akan masuk terlebih dahulu. Dia hanya mantan. Dan saya tidak akan mengizinkan dia untuk masuk!" Endra bersitegang, sambil menatap tak suka ke arah Sabda.


"Apa anda bernama Sabda?"


"Bukan, dia ayah Endra. Ayo, ayah kita masuk!" rengek Aundy.


Sabda yang paham meminta izin pada pak Arif untuk menemui Salma. "Izinkan saya menemui Salma, Pak! Saya hanya ingin melihat kondisinya."


"Pak jangan! Jangan izinkan Sabda menemui Salma!" Endra yang masih setia di depan pintu, berusaha memberi peringatan.


“Kalau kamu punya harga diri, sebaiknya jaga sikapmu saat berada di depan Salma! ingat kalian sudah bercerai.”


“Baik, Pak,” ucapnya lalu melangkah maju, sambil mendorong kursi roda milik Aundy.


Ketika mereka berdua sudah masuk ke ruangan yang ditempati Salma. Sabda justru heran dengan senyum palsu yang ditampilkan Salma. Terlihat aneh, seperti bukan Salma.


“Salma?” panggil Sabda lembut, membuat wanita itu menoleh ke arahnya.

__ADS_1


Pandangan wanita itu jatuh pada gadis kecil yang berada di kursi roda. Tidak ada ekspresi yang ditunjukan Salma saat ini. Pandangannya justru kosong.


“Mas Sabda … anggap saja kamu tidak mengetahuinya. Bisa kan? maaf, maaf aku tidak bisa menjaganya.”


__ADS_2