
Sudah 24 jam Aundy mendapat perawatan khusus di rumah sakit Parinama. Sayangnya panas yang dialami bayi 18 bulan itu tak kunjung turun. Berulangkali Salma berusaha menenangkan tapi bayi itu tetap saja rewel. Mungkin, Aundy bisa merasakan jika kondisi Salma sedang tidak baik-baik saja.
Setelah talak 2 yang diucapkan Sabda kemarin, Salma memang memikirkan hubungan pernikahannya dengan pria itu. Karena stress yang dialami, produksi A-si nya pun juga tidak lancar. Dan itu berakibat pada kondisi Aundy saat ini.
“Ayah Ody besok balik ke Kalimantan, Kan? dia ke mana, Sal? Kok Ody opname nggak muncul!”
Bu Deva yang bertugas menemani Salma mulai curiga, lantaran sudah 24 jam tak mendapati Sabda mendatangi Aundy.
“Ada acara sama teman-nya, Bu.”
Bu Deva pun tak ingin ambil pusing dengan jawaban Salma. Dia terus menimang Aundy yang kini sedang merengek. "Apa kamu hamil, Sal? biasanya kalau ibu-nya ngisi bayi juga bakalan rewel!"
Salma rasa itu mustahil. Sejak Sabda datang di hari pertama sampai kemarin dia berdebat hebat dia kedatangan tamu bulanan. Dia pun tidak begitu paham kenapa bisa selama itu, karena setelah keguguran haidnya pun tidak seperti dulu. "Enggak, Bu, kemarin Salma baru aja selesai haid kok."
Melihat wajah lelah ibu-nya Salma merasa tidak tega membiarkan wanita itu begadang lagi. Sejak semalam, hanya Bu Deva yang menggantikan Salma menimang Aundy. Sepertinya dia harus menemui Sabda, setidaknya pria itu harus tahu, jika Aundy sedang dirawat di rumah sakit.
“Bu, Salma keluar dulu ya!” pinta Salma, hendak mencari Sabda.
“Jangan lama-lama ya, Sal!” pesan Bu Deva.
Salma mengangguk. Sembari keluar kamar jemari Salma dengan cekatan mengirim pesan singkat ke nomor Panji. Meminta pria itu untuk datang dan menemani ibunya menjaga Aundy. Usai mendapat konfirmasi dari Panji, Salma melanjutkan langkahnya ke area parkir motor.
Salma mengendarai motor maticnya. Tanpa jaket yang menutupi tubuhnya, dengan kencang Salma menerjang udara dingin malam itu. Sebenarnya sudah malas kembali mendatangi rumah mertuanya. Tapi apa daya, dia harus memberitahu Sabda mengenai kondisi Aundy.
Sekitar lima belas menit mengendarai motor, Salma kini sudah tiba di rumah mertuanya. Malam belum begitu larut, tapi bagian depan rumah mertuanya sudah gelap gulita.
Mereka tidak pergi. Salma bisa melihat cahaya dari televisi yang menyala terang. Entah sengaja atau tidak, yang jelas saat itu Salma kesulitan untuk memasuki rumah mertuanya. Sekeras apapun dia mengetuk pintu, tak ada seorang pun yang mau membukakan pintu untuknya.
Sampai akhirnya, Salma memutuskan untuk masuk lewat pintu dapur. Kini dia berhasil memasuki rumah mertuanya. Entah apa yang saat ini mereka pikirkan yang jelas dia tidak bermaksud membuat nama kedua orang tuanya buruk di depan mereka. Salah mereka juga tak kunjung membukakan pintu untuknya! dan membuat Salma menerobos masuk.
“Pak, apa Mas Sabda di rumah?” tanya Salma mengejutkan mertuanya yang sedang menyaksikan tayangan tv.
Pak Ageng yang nyaris terlelap langsung membuka matanya lebar, saat mendengar pertanyaan Salma. Pria itu tampak terkejut melihat Salma ada di rumahnya.
“Datang-datang kok tanya Sabda!” bu Habibah mencibir, wajahnya khas ibu-ibu FTV yang tengah kesal. “Lagi butuh Sabda? Jadi kamu nyariin dia?! Nyari kok pas butuh!” imbuhnya semakin menjadi.
Salma merasa tidak perlu menanggapi ucapan mertua putrinya itu. Tanpa berkata lagi dia melangkah memasuki kamar yang biasa di tempati. Sayangnya hanya kehampaan yang ada di dalam kamar itu. Tidak ada seorang pun yang bisa dia temui.
Jemari lentik Salma berusaha menghubungi teman yang biasa bersama Sabda. Biasanya, setiap Sabda pulang cuti, dia akan main dengan Rendi. Jadi, kemungkinan besar Rendi tahu keberadaan pria itu saat ini.
“Hallo, Ren! Sabda ada sama kamu.” Salma langsung mengajukan pertanyaan saat panggilannya tersambung.
“Tadi habis ngumpul sama anak-anak. Tapi dia baru saja pulang kok, katanya mau mampir ke Ayam Bakar Bu Gombloh.”
__ADS_1
Salma menarik napas dalam, bisa-bisanya Sabda bertingkah seperti ini. Padahal Salma juga sudah mengirimkan pesan ke nomornya, mengabari jika Aundy demam. Alih-alih mendapat balasan dari Sabda pria itu sama sekali tidak membacanya. Salma semakin yakin, jika kehadirannya dengan Aundy hanyalah penghalang bagi Sabda meraih kebebasan.
“Jam berapa dia perginya, Ren?”
“Belum lama, sekitar lima menit yang lalu!” pria itu menjelaskan singkat.
“Okay terima kasih, Ren.” Salma menutup panggilannya, tidak ada harapan menunggu Sabda di rumah. Lebih baik dia mendatangi rumah makan itu.
Salma berpamitan pada mertuanya, tapi—yang menjawab hanya pak Ageng. Bahkan mengantar Salma hingga dia benar-benar meninggalkan rumah itu.
Sekitar lima belas menit Salma sudah berhasil memasuki rumah makan tersebut. Sinar keemasan menambah syahdu setiap sudut rumah makan tersebut. Suasana rumah makan ini, sepertinya sengaja didesign untuk pasangan yang ingin memadu kasih.
Sayangnya, sejak Salma menikah dengan Sabda pria itu tak pernah mengajaknya masuk ke rumah makan itu. Dulu, setiap malam Minggu Sabda selalu membawanya duduk di gazebo nomor 13, memesan menu paket yang harganya ramah untuk pelajar.
Kaki Salma melangkah semakin dalam menelusuri setiap kursi yang ada di sana. Dia tahu detail rumah makan itu. Karena tidak menemukan Sabda di bagian depan, Salma melewati lorong kecil yang menghubungkan ke arah Gazebo.
Tujuannya hanya satu gazebo nomor 13. Dia yakin, pasti Sabda mengajak teman-temannya berkumpul di sana. Kepala Salma yang semula menunduk, kini mendongak saat jarak dengan gazebo 13 semakin dekat. Tidak ada kebisingan obrolan anak-anak muda di sana. Yang ada, pandangan Salma justru menemukan sosok pria yang kini tengah memeluk erat seorang wanita.
Salma sengaja menghentikan langkahnya, mengamati apa yang sedang mereka lakukan. Kesedihan semaki memeluk erat hati Salma saat melihat Sabda tertawa lantang bersama wanita lain.
Melihat pria yang dicintai bahagia bersama orang lain itu sangat menyakitkan, keceriaannya seakan digerogoti paksa oleh makhluk tak kasat mata. Siapapun wanitanya pasti akan marah melihat aksi suaminya saat ini. Sabda terlihat begitu perhatian bersama orang lain. Sedangkan dia tengah cemas memikirkan kesehatan Aundy.
Setelah merasa puas mengamati mereka, Salma melangkah cepat ke arah Gazebo tersebut. Saat langkahnya tiba di samping gazebo yang ditempati Sabda, Salma meraih secangkir es teh yang dibawa pelayan. Dengan kejam Salma mengguyurkan es teh itu ke tubuh mereka berdua. “Bang-sat kalian berdua!”
Bukan hanya Sabda, wanita yang tadi begitu diperhatikan Sabda Terkejut melihat Salma berdiri di samping gazebo.
"Kenapa?!" hardik Salma dengan mata membulat sempurna. "KAGET? aksi selingkuh mu diketahui istrimu!"
"Salma."
“Ternyata kamu brengsek ya! Kamu itu udah punya istri! Anak mu sakit! Eh, malah berduaan sama wanita lain! Nggak habis pikir sepertinya otak mu itu ketinggalan di kabin pesawat!” Salma menahan tangisnya, berteriak dengan bibir bergetar. "Rasanya SAKIT banget tahu enggak!" Salma berkata tegas sambil menepuk dadanya berulangkali, seakan menunjukan pada Sabda di mana lukanya saat ini. "Kamu sudah berhasil ngerusak harapan Ody, dan aku!"
“Ngomong apa sih kamu?! aku bisa jelasin semuanya! Kamu pulang dulu, Sal!” bentak Sabda, tak terima dengan tuduhan.
"Mau ngeles apa lagi?! kalian berdua tak punya malu tahu enggak! bermesraan di tempat umum! ingat ya bukan cuma sekali, aku sering menemukan foto kalian seperti ini!"
"Serah deh mau ngomong apa!" Sabda pasrah, menurutnya percuma menjelaskan pada wanita yang sedang emosi.
"Salma, aku akan jelasin!" Regina berusaha mencegah Salma yang hendak pergi.
“Aku nggak butuh penjelasanmu! Ambil saja pria itu! aku bisa hidup tanpa dia!" Salma menunjuk ke arah Sabda. "Aku sudah lelah hidup dengannya!” Salma langsung berlalu, membawa tangisnya menjauh dari mereka berdua.
“SAL!” Regina hendak mengejar Salma. Tapi langsung ditahan oleh Sabda. "Mbak Salma, tunggu!"
__ADS_1
“MBAK SALMA!” teriak Panji, yang membuat Salma terhenyak, dia risih saat helaan napas Panji mengenai wajahnya.
Salma langsung mendorong tubuh Panji. "Apaan sih kamu, Nji!" protesnya. Sekarang, Salma ingat sosok wanita yang tadi sore ditemuinya.
“Bu! wanita itu selingkuhan Mas Sabda!” teriak Salma yang masih bergeming di samping mobil.
Bu Deva yang sudah siap masuk, langsung menahan langkahnya. Dia menoleh ke arah Salma. “Maksudmu apa?”
“Ya, Regina, dia selingkuhan Mas Sabda. Salma ingat.”
Bu Deva langsung menarik tangan Salma, menuntun mereka ke salah satu gazebo yang ada di rumah makan itu. Memberi isyarat pada Panji, supaya membawa Aundy main ke Playground.
“Regina, mantan mantu Rembulan maksudmu?” tanya Bu Deva, memastikan.
Salma mengangguk pelan.
“Gimana ceritanya sih, Sal?” Bu Deva semakin penasaran dengan kisah masa lalu putrinya.
Salma lalu menceritakan kejadian di masa lalunya pada mereka berdua. “Dia dan mas Sabda ada di Gazebo nomor 13.” Jemari Salma menunjuk ke arah gazebo yang kini tengah kosong.
“Hari berikutnya, Mas Sabda tidak datang ke rumah sakit. Dia justru pergi ke Kalimantan karena jatah cutinya sudah habis.” Salma mengusap air matanya, dia seperti mengulang rasa sedihnya hari itu.
Bu Deva membantu mengusap punggung Salma, berusaha menenangkan. "Sudah, sudah! jangan diingat lagi kalau memang membuatmu sakit hati."
Salma tidak berhenti bercerita, dia justru melanjutkan ceritanya. “Lalu tiga bulan kemudian, tepatnya saat dia cuti. Dia berusaha menjemputku dan Ody di rumah bapak! Mas Sabda pikir, aku sudah bisa memaafkan kejadian itu. Tapi Salma justru menjelaskan kalau Salma sudah mengajukan surat cerai ke pengadilan. Mas Sabda setuju, tapi dia tidak hadir sama sekali di pengadilan. Dia hanya mengirim Rendi untuk mewakilinya. Tepat saat Ody berusia dua puluh dua bulan kami resmi bercerai.”
“Astaghfirullah … jadi seperti itu ceritanya.” Pak Arif yang sedari tadi takzim mendengarkan ikut merespon. “Kamu anak yang kuat, Sal.”
“Iya, kan bapak yang selalu ngajarin Salma.”
“Udahlah, Salma mulai hari ini, pikirkan kebahagiaanmu. Kamu mau apa, kami sebagai orang tua akan selalu mendukungmu.”
Salma menelan air liurnya. “Sepertinya, Salma sudah bisa mengingat sebagian ingatan Salma yang hilang, Pak, Bu.”
“Alhamdulillah. Besok lagi, jangan sampai kelewat obatnya ya.” Pesan Bu Deva.
Salma kembali menganggukan kepala. “Pak, Ibu apa boleh Salma pergi dari Semarang.”
Dua lansia itu bertukar pandang seakan sedang meminta persetujuan melalui kontak mata.
“Perceraian kedua Salma, kemungkinan besar akan jadi perbincangan para tetangga. Apalagi konflik itu sama dengan perceraian Salma yang pertama. Tentu itu akan menjadi cemooh sendiri untuk keluarga kita. Salma tidak mempermasalahkan. Tapi itu tidak baik untuk Ody. Dia masih terlalu kecil untuk menerima cacian di sekitar kita.”
Pandangan Salma jatuh pada Aundy yang tengah tertawa lebar bersama sang adik. “Cuma dia harapan Salma, Pak, Bu! Tujuan Salma sama dengan bapak dan ibu, bahagiain putri kesayangan.” Salma menyeka air matanya kasar.
__ADS_1
“Salma!”
“Bukan untuk Salma, Bu! anggap saja untuk Ody.” Salma sedikit memohon supaya mereka membiarkan dia pergi.