
Salma melirik Sabda yang berdiri di sampingnya, berusaha meminta penjelasan. Akan tetapi, melihat wajah Sabda yang tampak lebih tenang, sepertinya pria itu, juga tidak tahu siapa sosok wanita yang ada di dalam ruangan ICU.
"Mak—Maksudnya, ada korban lain di dalam mobil suami saya? Begitulah, Dok?" Suara Salma tercekat, nyaris tak keluar suaranya.
Dokter wanita itu mengangguk lemah. “Saat kecelakaan terjadi, ada pasien wanita di dalam mobil suami Anda. Dia sedang hamil besar. Perawat hanya melaporkan identitas pasien Endra. Sedangkan perempuan itu, dia tidak membawa identitas apapun di dalam tas-nya.”
Salma mera ba dinding, berusaha mencari tumpuan untuk menopang beban tubuhnya. “Kami tidak mengenalnya, Dok,” ujarnya disertai gelengan tegas.
“Lalu siapa yang akan bertanggungjawab? Mohon hubungi keluarganya! kita butuh persetujuan untuk bisa melakukan tindakan cesar.”
Semua diam, seakan sedang berinteraksi menggunakan isyarat mata. Sampai kemudian, Panji yang berdiri di sisi kiri Salma, tampak membuang napas kasar. “Bisa saya lihat sosok perempuan itu, Dok?” Panji ingin memastikan wanita yang kini terbaring lemah di dalam ruang ICU. Jujur hatinya perih mendengar perselingkuhan yang dilakukan iparnya, terlebih pria itu sampai menghamili wanita lain. Beruntungnya sang kakak saat ini dalam kondisi amnesia, jadi tidak begitu tampak kesedihannya. “Mungkin, saya mengenali perempuan itu.” Panji berusaha membujuk sang dokter, saat wanita itu tak kunjung memberinya jawaban.
"Silakan masuk!" wanita itu meminta Panji untuk mengikuti langkahnya.
“Untuk apa Panji masuk? Apa dia mengenali wanita itu?” gumam Salma mengamati langkah Panji yang memasuki ruangan. Hingga pandangannya terhalang oleh pintu kaca di depannya.
“Lebih baik kamu duduk saja! Ingat, Sal jangan terlalu stress, jaga kondisimu! kamu belum sepenuhnya pulih.” Sabda khawatir Salma justru akan jatuh sakit. Dan membuat ingatannya benar-benar hilang.
"Aku akan baik-baik saja!" perasaan Salma seakan mati rasa terhadap Endra. "Aneh, kalau dia mencintaiku, kenapa dia berselingkuh?!"
"Kita bisa mendengar penjelasan Endra setelah dia siuman."
Salma hendak merespon. Namun, dihentikan oleh suara pintu yang terbuka lebar. Dari dalam ruang ICU seorang dokter terlihat melangkah mendekati Salma. "Di mana keluarga Endra?"
“Sa—saya istrinya, Dok.” Salma menyahut cepat.
“Benar anda istrinya?” dokter itu kembali menatap ragu ke arah Salma. Ya, siapa juga yang percaya—kalau ternyata Salma adalah istri Endra, sedangkan pasien laki-laki itu datang bersama wanita lain.
"Iya, Dok! nggak perlu kan saya mengambil buku nikah, supaya dokter percaya." Salma berkata dengan nada tinggi, emosi dengan dokter yang menangani Endra. Yah, walaupun tadi dia sempat menyangkal pernah menikah dengan Endra, tapi mendapati Sabda sudah memiliki wanita lain, Salma pun menilai jika saat ini dia benar sudah menikah dengan Endra.
“Maaf, Bu. Saya akan menyampaikan kondisi pak Endra. Garis besarnya, pasien dalam fase kritis akibat trauma berat di kepalanya. Ada pendarahan di sekitar kepala.” Dokter Arya menjelaskan singkat.
“Lalu, apa yang harus kita lakuin, Dok? Dia akan selamat, kan?” sela Salma, panik mendengar penjelasan dokter itu.
“Kita akan melakukan operasi, membersihkan pendarahan di kepala. Jadi mohon dukungan dan doanya.”
Salma mengangguk, memasrahkan semuanya pada dokter. Apapun itu, Endra harus tetap hidup setidaknya bertanggungjawab padanya, menjelaskan mengenai perselingkuhan yang sudah dilakukan.
Melihat dokter Arya sudah kembali masuk, Salma beralih menatap Sabda. “Apa Mas Sabda mengenal keluarga Mas Endra? Beritahu mereka kalau putranya kecelakaan!” minta Salma, sembari kembali mendudukan tubuhnya di kursi.
Sabda sendiri tidak begitu dekat dengan keluarga Endra. Jadi, cukup bingung juga hendak menghubungi siapa. “Sebaiknya kita menunggu Panji. Dia pasti tahu banyak tentang keluarga Endra!”
__ADS_1
Tepat setelah Sabda mengatakan kalimat itu, pintu ruangan terbuka lebar. Tampak Panji keluar dengan wajah merah padam, langkahnya sempoyongan, seakan ruangan yang baru saja dimasuki memberinya beban yang begitu berat.
“Ada apa, Nji?” Sabda pun tak tahan untuk bertanya. Dia penasaran mengenai apa yang sebenarnya terjadi di dalam ruang ICU.
“Dia wanitanya, Mas! Arienta Monica, pasien hamil 30 minggu.” Panji menjelaskan mengenai apa yang tadi dilihat. "Gila! selama ini dia bohongi keluargaku!"
Wajah Sabda tampak terkejut, dia sendiri tidak menyangka kalau Endra justru bersama asyik berduaan di saat Salma sedang kacau. “Kamu serius, Nji?” tanya Sabda, memastikan.
“Iya, Mas. Dokter akan melakukan operasi karena bayinya harus diselamatkan.”
“Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Siapa Arienta?” Tanya Salma, tak paham dengan topik pembahasan yang mereka obrolkan.
“Salma, sebaiknya kamu duduk!” pinta Sabda, Saat Salma berusaha melihat sosok wanita yang ada di ruang ICU.
“Mas Sabda? Jelaskan dulu padaku!" pinta Salma.
“Aku akan mencoba mencari keluarganya. Mungkin ada temanku yang pernah berhubungan dengan Arienta.” sela Panji, kemudian mengayunkan langkahnya menjauh dari mereka berdua. Pria itu sibuk dengan benda pipih yang baru saja diambil dari saku.
“Apa sih Mas? Aku tu penasaran.” Salma terus merengek saat Sabda sengaja mendudukan tubuhnya di kursi tunggu.
“Kamu tidak akan mengerti karena kamu amnesia! Tunggulah di sini dulu!”
Wajah Salma berubah sendu, dia tidak tahu apa yang terjadi dengan Endra dan sosok perempuan bernama Arienta itu. “Dia selingkuh? Apa suamiku selingkuh dengan wanita lain?” tebak Salma berusaha mencari jawaban atas rasa penasaran yang kini dialami.
“Jadi Mas Endra selingkuh sampai wanita itu hamil anaknya atau gimana, sih? Aku butuh penjelasan, Mas.”
Sabda tidak memiliki pilihan lain selain menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. “Sal, kalian baru menikah satu tahun! Mungkin, dari awal hubungan kalian itu memang sudah salah!" Sabda menarik napas dalam-dalam. Tidak ingin membocorkan semuanya, toh ada pak Arif yang siap diminta pertanggungjawaban atas apa yang sudah dilakukan. "Dan dugaanmu mengenai Endra, itu benar. Dia selingkuh dengan Arienta. Aku juga baru tahu kalau wanita itu tengah berbadan dua, bahkan hendak melahirkan.”
Salma menunduk, mengamati jemari kakinya. “Lalu apalagi yang kamu ketahui, Mas?”
“Hanya itu, Sal!”
“Mas, tidak usah bohong!” tuntut Salma seraya mendongak menatap Sabda.
“Iya, aku serius. Hanya itu yang aku tahu, itupun aku baru saja mengetahuinya dari Panji.”
“Selama ini, apa aku terlihat mencintainya, Mas?” tanya Salma, penasaran juga dengan pernikahan seperti apa yang dia jalin selama ini.
“Iya.” Sabda mempertegas jawabannya dengan anggukan kepala.
“Iya?” Salma justru tertawa remeh. “Berarti aku mencintai mas Endra?” selidiknya, yang masih saja tidak percaya.
__ADS_1
“Yang aku lihat, kamu menghargai Endra sebagai suamimu.” Sabda mengatakan sesuai apa yang pernah dilihatnya kala itu.
“Pasti hubunganku dengannya tidak begitu baik, terbukti dia menyimpan wanita lain di hidupnya. Mungkin aku juga yang salah. Mungkin aku belum bisa menjadi istri yang baik. Dia bilang, kita bercerai karena kamu dulu selingkuh! ternyata, bukan hanya kamu tapi Endra juga, dia juga berselingkuh di belakangku. Mungkin aku membosankan, aku yang selalu manja, aku yang terus menerus menjadi beban, ak—”
"Salma, cukup!" Sabda menghentikan ucapan Salma. "Jangan nyalahin diri kamu sendiri. Kamu sedang tidak mengenali dirimu yang sekarang. Jadi, stop meratapi apa yang kamu perbuat. Kamu tidak salah!”
“Mas, aku belum menemukan nomor keluarganya. Bagaimana ini?” sela Panji, terlihat begitu kebingungan.
“Kamu nggak tahu dia orang mana?” balas Sabda, sejenak meninggalkan obrolannya dengan Salma.
“Ya, mana kutahu, Mas— jarak tahun kuliah kita juga cukup jauh, mungkin dia juga tidak mengenaliku.”
“Kalau begitu, sebaiknya kita tandatangani saja! Takutnya mereka tidak bisa di selamatkan.”
Panji diam berpikir, masalahnya kalau salah satu dari mereka pergi siapa yang akan bertanggungjawab? “Apa tidak apa-apa, Mas?” Panji bertanya sekali lagi, takut justru akan menambah masalah di hidupnya.
“Ya. Lebih cepat lebih baik, dan keselamatan keduanya bisa terjamin.” Sabda lalu beranjak dari kursi, menghampiri Panji. “Beritahu orang tua Endra kalau anaknya mengalami kecelakaan! Dia juga butuh operasi.”
“Astaga kenapa tidak dari tadi kita menghubungi mereka! Bisa jadi kan, Bu Tanti kenal dengan Arienta.” Panji mengeluhkan kebodohannya. Lalu kembali sibuk dengan ponselnya, menghubungi keluarga Endra.
Karena hari sudah larut malam, perlu menunggu beberapa menit untuk bisa mendengar suara Bu Tantri. Wanita di seberang sana sepertinya cukup shock saat mendengar putranya mengalami kecelakaan.
"Segera datang ke rumah sakit Parinama, Bu!" pesan Panji sebelum menutup panggilan itu.
Beberapa menit menunggu seorang dokter datang membawa surat persetujuan atas tindakan yang hendak dilakukan. Karena kondisi pasien semakin kritis, mereka harus lekas mengambil tindakan.
Akhirnya, mau tidak mau Salma menandatangani surat izin operasi untuk Arienta. Selain demi keselamatan keduanya, dia juga ingin Arienta cepat sadar dan bisa menjelaskan semuanya padanya.
Ranjang Arienta baru saja digelandang ke ruang operasi. Belum lama, kira-kira lima menit kemudian Keluarga dari Endra datang. Bu Tantri dan suaminya terlihat panik, kakinya melangkah dengan tergesa-gesa, mendekati Salma yang kebetulan tengah duduk sendirian di barisan kursi tunggu.
“Apa yang terjadi dengan putraku?”
“Mas Endra kecelakaan, Bu.” Salma berusaha menjawab singkat, dia menilai penampilan perempuan itu. Kepingan ingatan saat Bu Tantri meminta uang padanya tiba-tiba melintas di benak Salma. Wanita itu memejamkan mata saat merasakan kepalanya berdenyut nyeri.
“Kamu ini gimana sih, Sal? Jaga suami saja nggak bisa! Bagaimana bisa kamu tidak apa-apa, sedangkan Endra masuk ruang ICU!” bu Tantri memaki Salma. “Jangan-jangan ini rencanamu, ya! ngaku aja kamu, Sal! kamu ingin Endra cepat mati!”
Salma masih menahan kepalanya dengan tangan. Dia sampai kembali mendudukan tubuhnya saat merasakan sakit yang tidak tertahankan.
“Jangan sembarang bicara Bu! Asal ibu tahu saja, Endra kecelakaan, bersama kekasih gelapnya!” Panji yang baru saja dari toilet menimpali.
Wajah bu Tantri terlihat shock, begitupun suaminya. “Arienta? Di mana menantuku?” panik, kakinya melangkah tak tentu arah.
__ADS_1
“Apa ibu bilang, menantu? Jadi selama ini—ibu menipu keluarga kami?” Panji meraih lengan Bu Tantri, menahan gerakan tubuhnya yang tidak bisa diam.