Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Mulai Curiga


__ADS_3

“Hallo, Mas … ke mana saja sih kok baru telepon?” Salma menyambut panggilan itu dengan kalimat protes. Kesal juga padahal setiap dia berniat menghubungi Endra dia memiliki niatan untuk meminta pendapat, terlebih kemarin Aundy sedang sakit.


“Harusnya aku yang tanya ke kamu. Kamu kok baru angkat teleponku! Habis teleponan sama siapa? Apa yang kamu lakuin di sana aku tahu Sal, jangan sampai aku lihat kamu aneh-aneh.”


Salma mengerutkan kening, dalam hatinya menerka. Apa benar bu Tantri sudah ya semuanya ke Endra? Jika begitu, artinya Endra tahu mengenai kejadian di kamar Cempaka pagi itu.


"Habis teleponan sama siapa, KAMU?"


Pertanyaan kedua dari Endra mengudara, menarik kesadaran Salma. “Bukan aku, Mas tapi tadi Ody. Dia rewel minta diteleponin Mas Sabda. Biasa habis sakit jadi sedikit manja.” Salma menjelaskan sambil melirik Aundy.


“Dan kamu menggunakan anakmu sebagai alasan? Pinter ya kamu!”


Dari suaranya, Salma paham jika Endra kini sedang marah besar. Suaranya cukup bertenaga dan penuh penekanan, jujur Salma khawatir Aundy bisa mendengar apa yang dikatakan Endra saat ini.


“Mas, percaya sama aku! Ody sendiri yang minta,” pinta Salma.


“AKU TAHU AYAHNYA AUNDY CUMA TELEPON SETIAP HARI MINGGU! dan ini udah malam, Salma ... Lagian bahas apa sih malam-malam telponan sama mantan. Kamu lagi kangen-kangenan sama dia, sambil mbayangin lagi di atas tubuhnya gitu!”


Salma melirik ke arah Aundy, lagi. Dia tidak ingin putrinya mendengar ucapan kasar dari Endra. Dia memutuskan melangkah keluar kamar, bersembunyi di dalam toilet. Jujur emosinya mulai terpancing saat mendengar ucapan Endra. Dia sudah berusaha setia di sini.


“Kamu ngomong apa sih, Mas?” Salma ikut bicara ngotot. “Ody yang sibuk bicara sama Mas Sabda. Jadi jangan asal nuduh! Harusnya aku yang tanya ke kamu, ke mana aja dua hari ini, kenapa nomormu sulit dihubungi!”


“Oh, jadi kalau aku sulit dihubungi kamu cari pria lain buat menemanimu, biar nggak kesepian gitu?” tuduh Endra semakin menjadi. "Kalau kamu cinta sama dia, kenapa nikah sama aku, jangan-jangan, mereka minta aku buat nikahin kamu, hanya supaya kamu bisa balikan sama Sabda, IYA?! Dan lagi, kita sedang bahas, kamu yang teleponan sama SABDA! Bukan aku SALMA! jadi jangan mengalihkan obrolan."


Pikiran Salma mulai terusik dengan kalimat yang baru saja diucapkan Endra. Jadi ayah dan ibu meminta Endra buat nikahin dirinya, bukankah begitu kalau dijelaskan lebih detail lagi? Mungkin dia perlu mengkonfirmasikan hal ini kepada mereka. Sebab Salma tahunya keduanya dijodohkan.


“Mas, aku udah capek kamu tuduh terus! aku tu mau serius sama kamu! aku nggak mau cerai untuk yang kedua kalinya. Jadi, sebisa mungkin aku menjaga supaya tidak melakukan kesalahan. Kalau kamu nggak percaya sama aku lebih baik aku dan Ody ikut kamu ke Kutai! toh di sana kamu juga ngontrak, kan? biar kita juga enggak salah paham terus, masalah sekolah Ody kita bisa pindahin juga, toh dia masih kelas satu.”

__ADS_1


“Enggak! tidak bisa!” Endra langsung menolak tegas permintaan Salma.


“Kenapa? Kenapa tidak bisa? Kenapa kamu langsung menolak tanpa berpikir dulu? Dan kenapa aku nggak boleh ikut?” protes Salma.


“Teman-temanku itu, tahunya aku menikahi seorang gadis. Kalau kamu datang ke sini dan bawa Aundy apa kata mereka, Salma! Lagian percuma kamu datang ke sini! Waktuku habis buat kerja, aku nggak mau waktu liburku tiga hari, justru terganggu dengan adanya kalian di sini, paham?!”


Dada Salma rasanya ngilu, seiring aliran darahnya yang berdesir begitu kuat. Matanya pun sudah merah, menahan sedih sekaligus marah yang bercampur menjadi. Dia tidak mengira dengan sikap Endra pada teman-temannya. Apa itu artinya dia tidak mengakui keberadaan Aundy? Salma berusaha membuang pikiran buruk itu. Tidak mungkin Endra melakukannya, selama ini sikap yang ditunjukan Endra tampak menyayanginya.


Salma yang duduk di closet hanya bisa menyugar rambutnya untuk meredakan emosi. Berulangkali menarik napas dalam, berharap pria itu peka dengan apa yang kini dirasakan.


“Di kontrakan tidak ada sinyal, kemungkinan aku akan pasang wifi. Nanti minta tolong dibayarkan ya.”


“Apa tidak bisa ditunda dulu?!” tawar Salma.


“Salma …. Kalau nggak dipasang sekarang, aku nggak bisa hubungi kamu.” Endra protes lagi.


“Ini aku kerja di tambang masuk malam, cuma di sini saja sinyalnya cukup bagus.”


Salma terdiam, dalam hatinya menghitung kapan terakhir Endra menelepon. Harusnya Endra masih masuk pagi ke tiga. Kenapa sudah masuk malam? tidak mungkin roster shift nya diganti secara tiba -tiba.


“O, ya, Sal. Nanti tanggal 5 aku training Dump Truk 785. Jadi, mungkin mulai bulan depan hanya dapat basic aja.”


Salma menghembuskan napas kasar. Kenapa pria itu tidak memberitahunya sejak awal, atau setidaknya meminta pendapatnya mau diambil atau tidak. Jika sudah begini dia sendiri yang kerepotan mengatur keuangan. “Jadi dapat basic aja? Berapa bulan?”


“Mungkin dua bulan. Jadi sedikit hemat-hemat pengeluaran ya!”


“Ya, Salma usahain. Kalau cuti, masih tetap kan?” tanya Salma, dengan nada ketus, dia masih memendam amarahnya saat ini.

__ADS_1


“Ya, aku ngajuin nya sesuai tanggal. Kalau nggak ACC ya, kemungkinan mundur dari tanggal ST (Surat Tugas).”


Salma tidak menjawab, diam lebih baik meski tak sepenuhnya melepaskan pria itu. Di saat obrolan mereka mulai tenang, Salma kembali melangkah menuju kamar yang ditempati Aundy. Gadis itu masih terjaga, sepertinya tengah menunggu Salma masuk ke kamar.


“Bunda, Ody mau ngomong sama ayah Endra!” minta gadis itu.


Salma memberikan ponselnya, mungkin Aundy juga merindukan Endra. Mengingat, Endra yang biasanya menelpon setiap hari, mendadak menghilang tanpa kabar.


“Ayah? ayah belum bobo?”


Salma hanya bisa menyaksikan bagaimana ekspresi Aundy saat ini, yang terlihat begitu menggemaskan. Kantuknya seakan melebur, entah dia bahagia atau hanya dipaksa pura-pura bahagia menghadapi Endra saat ini.


“Belum Sayang, ada apa, Aundy?”


“Ayah, Ody sudah sembuh!” Aundy melapor, mengingat saat terakhir mereka berkomunikasi dia masih dalam kondisi sakit.


“Iya, pinter. Harus makan yang banyak biar selalu sehat ya, biar bunda juga nggak kecapean ngurusin kamu!” pesan Endra.


“Iya, Ayah. O, iya Ayah, Ody mau liburan sama Bunda sama ayah Sabda. Bolehkan?”


Pandangan Salma langsung tertuju ke arah Aundy, jantungnya berdegup lebih cepat. Khawatir pria itu akan meluapkan amarahnya ke Aundy. Di saat Salma hendak mengambil alih ponsel itu, justru terdengar suara dari seberang panggilan.


"Liburan? emang mau liburan ke mana?"


"Ke villa, Yah? boleh kan, Yah? Boleh, kan? Sekali saja!"


Nyawa Salma seakan mati begitu saja, pikirannya buntu, hendak memberikan penjelasan apa lagi setelah ini nanti!

__ADS_1


__ADS_2