
Kabar hangat mengenai perceraian Endra dan Salma sampai juga ke telinga tetangga. Apa yang ditakutkan Salma selama ini benar-benar terjadi. Bukan menimpa dirinya, melainkan Aundy.
Beberapa hari yang lalu, Aundy pulang dalam kondisi pipi merah bekas cubitan. Bukan hanya itu, di lengan sebelah kanan ada luka cakaran kuku yang cukup dalam. Hebatnya, gadis yang sebentar lagi berusia tujuh tahun itu sama sekali tidak menangis.
Saat Salma bertanya mengenai apa yang terjadi pada Aundy. Gadis itu menjawab kalau dia baru saja bertengkar dengan anak dari gang sebelah. Salma ingin marah pada orang tua si pelaku. Akan tetapi, malam setelah Maghrib, ibu dari anak yang menjadi lawan Aundy lebih dulu mendatangi rumah pak Arif. Ibu Dahlia menuntut pertanggungjawaban pada Salma atas luka yang diterima anak lelakinya.
Pantas saja Bu Dahlia silaturahmi ke rumah pak Arif, saat Salma memperhatikan lebih dekat lagi, bocah bernama Arga itu mendapati luka yang lebih mengenaskan.
Meski begitu gempar, akhirnya berujung damai. Aundy meminta maaf pada Arga. Setelah mereka pergi Salma langsung mengintrogasi Aundy. Dan jawaban Aundy begitu mengusik hatinya.
"Arga duluan Bunda yang mulai! masa mencela Ody! Ngatain Ody punya banyak ayah! Katanya itu artinya Ody lahir dari benih nggak jelas!"
Salma geleng-geleng kepala seraya memejamkan mata saat mendengar penjelasan Aundy kala itu. Arga memang empat tahun lebih tua dari Aundy, tak sepatutnya dia mengatakan hal seperti itu pada Aundy yang belum tahu apa arti kata benih.
“Ody kan anaknya ayah Sabda, ya, Bunda?”
Malam itu Aundy bertanya dengan mata berkaca-kaca. Rupanya Aundy ketakutan saat Bu Dahlia mendatangi rumah Akung nya.
“Iya.” Salma ikut menjawab singkat.
Dari sanalah, Salma bertekad untuk lekas merampungkan perceraiannya dengan Endra. Dia tidak ingin di saat dirinya sudah merasa nyaman di tempat baru, ada berkas yang belum diselesaikan dan memaksanya kembali ke Semarang untuk merampungkannya.
Hari ini, adalah hari terakhir Salma mendatangi sekolah Aundy. Salma sengaja tidak memberitahu Aundy perihal kepindahannya. Takut gadis itu akan menceritakannya kepada Sabda.
Setelah mengambil raport dan surat pengantar dari sekolah, Salma bergegas mengantarkan Aundy pulang ke rumah. Masih banyak hal yang ingin Salma lakukan beberapa hari sebelum kepergiannya. Diantaranya; blokir nomor rekening dan memindahkan uang di rekening itu ke tabungan pendidikan untuk Aundy. Lalu memeriksakan kondisinya, usai sebulan yang lalu dokter memberikan obat yang lebih ampuh lagi untuk menghancurkan kista di tubuhnya. Kali ini Salma diminta untuk datang lagi, untuk memeriksa kista di rahimnya.
“Biar Panji yang mengantarmu, Sal!” Bu Deva mencegah Salma yang sudah siap pergi dengan motornya.
“Enggak perlu, Bu! pergi dengan Panji itu enggak sat-set! Biarkan dia di rumah, jaga Ody.”
“Bunda mau ke mana?”
“Mau ke Bank. Ngurusin tabungan sekolah Ody. Jadi, karena ini panas banget, Ody di rumah saja ya! soalnya, nanti di sana juga mengantri.” bulu mata Salma berkedip berulang kali menggoda Panji.
"Aji mumpung banget sih, Mbak!" cibir Panji yang duduk di sofa depan televisi.
__ADS_1
"Iya kan, mumpung ada tenaga nganggur!" balas Salma lalu mengambil helm.
“Bunda, Ody mau dibawain ayam kaepsi ya!”
“Nggak mau dibuatin sama bunda aja, nanti?”
“Enggak mau, buatan kaepsi lebih banyak dagingnya!” tolak Aundy membuat bibir Salma mengerucut.
“Ody, jangan suka makan ayam mati ah, nanti sakit perut!” goda Panji, sambil fokus ke arah layar yang tengah menampilkan tayangan Benteng Takeshi.
“Enggak! ayam kaepsi kan ayamnya hidup kan, Bunda! Buktinya Ody selalu makan tapi nggak sakit perut!” balas Aundy dengan sikap polosnya.
“Udah enggak usah diladeni, dia itu iri sama Ody!” bisik Salma di depan wajah Aundy.
“Iya.” Aundy cemberut, pandangannya menyimpan dendam pada Panji. “Nanti beli yang banyak ya Bunda, om Panji enggak usah kukasih!”
Salma langsung mengacungkan dua jempol tangannya, setuju dengan pernyataan Aundy.
“Aku bisa beli sendiri, wlex!”
“Ya, udah! tinggal pergi aja kok repot!”
“Nanti kalau om Panji nya nakal, teriak aja panggil Akung, biar dibawain Tang buat nyetting filter di bibirnya yang suka nyinyir!”
“Iya, Bunda.”
“Ayam kaepsi kan bukan ayak katsu?” Salma memastikan lagi, takut salah beli.
“Iya, sama sundae juga ya!”
“Okay tuan putri.” Salma lantas berlalu, untuk menyelesaikan tugasnya yang menumpuk.
Satu bulan sudah berhasil dilewati Salma dengan baik. Selama itu pula proses perceraian Salma dengan Endra berjalan. Sayangnya, tidak ada pihak Endra yang hadir di persidangan.
Tiga hari lagi, Pangadilan agama akan membacakan sidang putusan. Dan tepat sehari setelahnya, Salma akan langsung pergi meninggalkan kota Semarang. Semua sudah disusun Salma dengan baik. Baik tempat baru, maupun usaha kecil-kecilan yang akan dilakukan nanti. Tidak ada yang tahu mengenai rencananya, termasuk orang tuanya sendiri.
__ADS_1
Empat puluh menit mengendarai motor, Salma akhirnya tiba di bank tujuan. Antrian tampak begitu banyak, Salma memutuskan duduk menunggu di kursi, bersama nasabah lainnya.
Seraya menunggu, pandangan Salma tertuju pada buku tabungan dalam genggaman tangan. Saldo di rekening itu cukup banyak, karena selama ini Salma hanya mengambil beberapa untuk kebutuhan Aundy.
“Maaf ya, Mas—kalau aku mengambil keputusan ini. Aku nggak ingin nafkah yang kamu berikan justru menjadi masalah dalam keluarga barumu.” Salma bergumam pelan. Selain karena Hani, Salma benar-benar ingin meninggalkan kenangan pahit di kota kelahirannya. “Sekalian juga aku ingin mengubur semuanya tentang kita. Aku berharap kamu akan bahagia dengan hidupmu yang sekarang.”
“Salma!”
Suara yang baru saja mengudara mengusik ketenangan Salma yang tengah menunggu giliran. Kali ini bukan senyuman yang diberikan Salma pada wanita itu.
“Ngapain di sini?” tanya wanita itu lagi, melihat Salma tidak merespon sapaannya.
“Ada urusan!” Salma menjawab singkat.
Wanita itu manggut-manggut. “Apa ada yang bisa kubantu?”
Salma menilai penampilan wanita di depannya. Lalu menampilkan wajah tak berminat.
“Jangan heran begitu. Aku pimpinan cabang di sini kok!” Wanita mengamati jam yang melingkar di pergelangan tangan. “Lima belas menit lagi aku istirahat, apa kita bisa makan siang bersama?” tawarnya sambil menatap Salma lekat.
“Ah, tidak bisa. Aku harus menyelesaikan urusanku.” Salma menolak.
“Katakan saja, mungkin aku bisa membantumu!”
Salma menyerah. “Aku hendak mendatangi CS.”
“Ow. Masih dua lagi. Sepertinya tepat kok dengan jam istirahatku.”
Salma tidak bisa menolak. Toh jam praktek dokter kandungan juga masih nanti pukul tiga sore. “Okay!” Salma mengangguk pelan setuju dengan ajakan wanita di depannya saat ini.
“Makasih, ya! aku berharap kita bisa makan siang bersama.” Wanita itu berlenggang pergi setelah mendengar jawaban singkat tersebut.
Sedangkan Salma pandangannya jatuh pada sosok Regina yang begitu cantik dan se-xy. Bentuk tubuh wanita itu terlihat proporsional, karir mapan, dan yang menjadi pertanyaan Salma; Kenapa Sabda tidak memilih Regina, dan justru bersama Hani?
Mendengar nomor antriannya disebut, Salma buru-buru melangkah mendatangai meja CS. Dia segera menyelesaikan urusannya, memindahkan uangnya ke tabungan pendidikan untuk Aundy, kelak.
__ADS_1