Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Drop


__ADS_3

Helaan napas panjang Sabda lakukan, apa yang dikhawatirkan benar -benar terjadi. Saat ini Aundy ikut berbaring tak berdaya di ruangan yang berbeda dengan Salma.


Suhu badan Aundy kembali tinggi. Gadis itu sempat mengalami kejang beberapa detik, sebelum akhirnya dilarikan ke ruang IGD. Kesehatan Aundy ikut drop.


Seharusnya, Aundy masih dalam fase pemulihan usai keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu. Akan tetapi, karena ingin berlibur dengan keluarganya, Aundy pun memaksakan diri mengambil kesempatan yang ada. Dan berakhir dia harus menerima risiko nya.


“Gimana kondisi— ucapan Sabda tertahan, dia masih sering lupa kalau harus menyebut Salma dengan sebutan 'mantan istri'. "Kondisi mantan istri saya, Sus?” Sabda bertanya pada suster yang baru saja memasuki ruang IGD.


“Dokter belum selesai menanganinya, Pak?”


Nyawa Sabda seakan ikut beranjak dari raga, menyaksikan tubuh Salma tiba-tiba kejang. Apalagi, menyadari jika kesadaran Salma menurun drastis. Tak peduli dengan situasi beberapa menit yang lalu, Sabda langsung berteriak memanggil dokter.


Lebih mengerikan lagi, saat menoleh ke arah Aundy, putrinya mengalami step. Saat kejadian itu, tanpa pikir panjang Sabda langsung menggendong dan membawa Aundy ke ruang IGD. Detik itu juga, Sabda merasakan apa yang dulu dirasakan Salma.


Sendiri, anak sakit. Bahkan dengan teganya dia memilih berkumpul dengan rekannya. Dia paham Salma itu panik'an. Dulu dia benar-benar egois, membebani Salma dengan banyak hal yang dia pikir wanita itu mampu melewatinya.


Sabda kembali fokus pada kesehatan Aundy, gadis itu sudah tenang. Bibirnya sudah merah dan kering.


“Bisa minta tolong, jagain anak saya!” pinta Sabda.


Setelah mendapat anggukan kepala dari sosok wanita berseragam putih, Sabda lantas keluar ruangan. Dia melangkah menuju meja pendaftaran untuk mengambil ponsel Salma yang masih ditahan oleh petugas. Sabda tidak bisa tinggal diam. Dia harus memberitahu Endra.


Kini ponsel Salma sudah berada dalam genggaman, dengan ragu Sabda menghubungi nomor Endra. Cukup lama Sabda menunggu panggilan itu diangkat, dia sempat emosi saat Endra tak kunjung mengangkat panggilan itu. Panggilan ke tiga kali, akhirnya pemilik nomor mengangkat panggilan Sabda yang kini menggunakan ponsel Salma.


“Apa sih, Salma! Di sini masih jam satu pagi—ngapain sih kamu gangguin aku malam-malam gini?! Kamu tahu enggak aku besok harus training! Jangan ganggu aku! Aku harus dapat nilai terbaik supaya bisa mengambil hati instruktur ku!”


Bunyi ‘tut’ khas panggilan terputus terdengar. Sabda mengumpat keras ketika panggilan itu tak terhubung lagi. Jelas, suara Endra terdengar begitu marah. Dan Sabda merasa tidak terima akan hal itu. Saat jemarinya kembali menghubungi Endra, pria itu justru tak menjawab panggilannya.


“Masih berani dia bohongi Salma!” Sabda ikut tersulut emosi. Menit berikutnya Sabda memilih menggunakan ponselnya untuk menghubungi Endra. Sama halnya dengan menggunakan ponsel Salma. Panggilan itu tak segera dijawab oleh Endra. Dia perlu mencoba beberapa kali sebelum akhirnya panggilan itu tersambung.


Tak ingin panggilan itu senasib dengan panggilan yang pertama, Sabda lebih dulu mengajukan pertanyaan ke Endra. “Kamu di mana? Masih hidup kan?”


“Kamu siapa?” Mereka berdua memang tidak pernah berbicara melalui sambungan telepon. Mungkin Endra masih asing dengan suara Sabda.

__ADS_1


“Aku Sabda." Sabda mendengkus kesal menyadari respon Endra yang terdengar meremehkan dirinya. "Aku cuma mau ngasih kabar kalau Salma mengalami kecelakaan. Saat ini dia dirawat di rumah sakit. Tapi jangan panik dia aman bersamaku!”


“Kecelakaan? Kok bisa? Di mana dia sekarang?”


Tawa mengejek keluar dari bibir Sabda saat menyadari kepanikan yang ditunjukan Endra. “Kamu panik? Kamu mau lihat Salma? Bukankah kamu tadi bilang kalau sedang training? Urus training mu itu!” Sabda memilih pura-pura tidak tahu mengenai apapun masalah Endra dan Salma. Meski itu keputusannya, dia masih tetap memantau apa yang akan dilakukan Endra di belakang Salma.


“Bang-sat di mana Salma?”


“Kamu peduli?” tanya Sabda diiringi tawa.


“Dia istriku! Dan ingat keberadaan mu di hidup Salma itu cuma mantan! Kamu itu nggak ada arti apa-apa di hadapan Salma! Mengerti?”


“Ya, aku paham. Aku tahu, tapi untuk saat ini lebih baik kamu training dulu. Kamu nyari kimper DT 785 kan? sepicik itu kamu bohongi Salma?!”


Training? Ya, mungkin Endra sedang mengajari rekan ceweknya untuk menari di atas ranjang. Pikir Sabda, semakin murka saat teringat kembali kejadian beberapa jam yang lalu.


“Aku akan cari tahu di mana Salma dirawat, awas saja kalau sampai ketemu, aku tidak akan membiarkanmu dekat dengan Salma, bahkan kupastikan kamu tidak berada di jarak seratus meter darinya.”


"Seharusnya aku tidak boleh ikut campur mengenai rumah tanggamu, Sal!" lirih Sabda. Lalu kembali ke ruang IGD, menemui putrinya.


Waktu terus bergulir, kini Aundy sudah dipindah ke kamar perawatan. Tepat pukul dua pagi terlihat Panji sudah datang bersama pak Arif. Mereka berdua langsung membrondongi Sabda dengan aneka pertanyaan.


“Mas Sabda? Kok bisa, kok bisa mbak Salma kecelakaan?”


Sabda menjelaskan kronologi awal sebelum kecelakaan. Dia menyesalkan, sudah memberi izin Salma yang ingin pulang lebih awal.


“Ody di mana?” tanya Panji.


“Ody kembali drop, tadi sempat kejang dan sekarang sudah dipindah ke ruang perawatan.” Sabda menjelaskan, seraya melirik pak Arif yang sudah me jauh darinya. Pria itu terlihat berbicara dengan salah seorang dokter yang tadi menangani Salma.


"Antar aku bertemu Ody, Mas!"


Sabda mengangguk lalu menuntun Panji menuju ruangan yang dipakai Aundy.

__ADS_1


“Nji!”


“Hm?” Panji menoleh malas, dia justru sibuk dengan ponselnya


“Dugaan kita benar, Nji. Kamu nggak salah lihat!”


“Kan?” Panji menoleh ke arah Sabda, tanpa dijelaskan lebih detail pun dia sudah paham. "Maunya apa sih tuh laki?!"


Beberapa bulan yang lalu, Endra sempat meminta Panji untuk menservis mobilnya. Saat membersihkan mobil Endra. Panji justru menemukan pil kontrasepsi di dashboard mobil.


Dan yang membuat Panji bertanya-tanya, tidak mungkin itu milik sang kakak, lantaran hadirnya sang buah hati sangat dinantikan oleh mereka. Hal itu membuatnya curiga, dan bodohnya Panji justru membicarakan itu dengan mantan kakak iparnya.


“Terus gimana, Mas?”


“Ody tahu, dia sempat melihat pria itu berciuman dengan seorang wanita. Yang aku khawatirkan ody akan mengadu ke Salma.”


“Bukankah itu memang harus dilaporkan?”


“Nji, kamu mikir nggak sih, Kalau saat ini tu, Salma mencintai Endra, kalau dia tahu sekarang, menurut mu gimana? Bisa jadi, selamanya dia tidak akan percaya lagi dengan laki-laki.”


Panji beralih menatap Aundy.


“Pikirin dia juga, dia sudah terlanjur menyayangi Endra.”


Panji tercenung. Semua ini salah bapak dan ibu! Kalau mereka tidak menikahkan Salma dengan alasan yang tidak masuk akal itu, pasti hidup sang kakak tidak akan begini.


“Yang penting Salma pulih dulu. Masalah ini, kita pikirkan nanti!” Sabda mengakhiri obrolannya dengan menepuk pundak Panji.


“Mas Sabda sendiri, bagaimana? Apa sudah bisa melupakan mbak Salma?” Panji tertawa gamang. “Laki-laki bisa mudah melupakan wanita, apalagi sekarang Mas Sabda sudah memiliki calon istri."


Sabda tidak merespon apapun. Mengenai perasaannya, biarkan dia saja yang tahu.


"Sorry tidak seharusnya aku bertanya begitu," kata Panji usai melihat respon Sabda.

__ADS_1


__ADS_2