
Dokter ber- nametag Edi Budianto Sp.N tengah memeriksa kondisi Salma, beliau membrondongi Salma dengan aneka pertanyaan ringan yang sehubungan dengan kondisi Salma.
"Apa tindakan yang diambil kemarin mempengaruhi fertilitas saya, Dok?" Salma melirik Sabda yang berdiri di samping ranjang.
"Sebaiknya, ibu jangan terlalu memikirkan itu! Sekarang banyak alat canggih." dokter Budi pun begitu pengertian, seakan mengikuti alur cerita yang dibuat Salma. "Istirahat ya, Bu! biar bisa cepat pulih!" pesannya, lalu beranjak dari ranjang.
Sejenak pria itu menatap sekeliling. Bingung hendak berbicara dengan siapa mengenai keadaan Salma saat ini. "Saya ingin berbicara mengenai kondisi pasien!" kata Dokter Budi, seraya berlalu dari ruang ICU.
"Ody, jagain bunda ya! Di ponsel ayah banyak sekali foto Ody. Kamu bisa menunjukannya sama Bunda." Sabda berpesan sebelum mengejar langkah Endra dan pak Arif yang sudah lebih dulu berlalu.
Aundy mengangguk.
"Mas?!"
Sabda menahan langkahnya, setelah mendengar suara Salma.
"Kamu melupakan sesuatu!"
"Hm?" Sabda mengernyit bingung.
"Peluk! biasanya sebelum pergi kamu selalu memelukku!" wajah Salma tertekuk, sedangkan sepasang tangannya terbuka lebar meminta Sabda untuk memeluknya.
Dengan ragu Sabda kembali melangkah mendekati Salma. Ada rasa takut, jika dirinya tidak bisa mengontrol diri. Belum juga tiba, kedua tangan Salma lebih dulu meraih tubuhnya.
Saraf pusat Sabda mendadak mati fungsi, merasakan hangat dekapan tangan Salma. Sejenak Sabda berniat memulihkan kerinduan yang dirasakan selama ini.
"Mas Sabda, perginya jangan lama-lama!"
"Ow—okay. Kamu sama Ody dulu ya!" ucap Sabda setelah saraf otaknya kembali berfungsi.
Pandangan Salma tertuju pada gadis kecil yang duduk di kursi roda. Diam-diam menilai senyum Aundy sama persis dengan Sabda yang sedang tersenyum. Bahkan sebagian besar wajah gadis itu mirip dengan Sabda.
__ADS_1
"Ody, jagain bunda ..." bisik Sabda kemudian berlalu dari ruangan itu.
Dua wanita beda generasi itu beradu pandang. Terdiam cukup lama. Sampai akhirnya Aundy lebih dulu berbicara.
"Bun—Bunda ...." Aundy menyingkap selang infus yang masih menempel di tangan. Dia kesal, karena gerakannya tak bisa leluasa. "Ini Ody! Bunda harus ingat ya!" Ujarnya lalu jemarinya sibuk membuka ponsel, masuk ke aplikasi galeri.
Aundy menunjukan potret kebersamaan mereka berdua, sebelum kecelakaan itu terjadi. Ternyata ayah Sabda begitu banyak mengambil gambar mereka berdua.
"Bunda, lihat ini Ody lagi foto sama Bunda. Pasti ini yang ngambil gambar Ayah!" Aundy menunjukan foto mereka yang sedang menikmati sarapan di restoran hotel.
Salma mengunci mulutnya rapat, pandangannya masih setia mengamati foto Aundy. Ada juga foto mereka dengan Sabda. Laki-laki di foto itu memang Sabda, tapi kenapa Ody kini sudah besar? Pikir Salma.
Jemari kecil Aundy begitu lihai menggulir layar ponselnya. Foto-foto pun menampilkan potret dirinya bersama ayah dan bundanya. Dalam gambar itu seakan menerangkan metamorfosis keduanya dari waktu ke waktu.
Bibir Aundy tak henti berbicara, hingga gambar itu tiba di gambar akhir, di mana ada foto Aundy ketika lahir.
"Sekarang Bunda percaya kan, kalau ini Ody?"
--
"Apa, amnesia?" Endra menggeleng tak percaya. "Ini bukan sinetron! Jangan mengada-ada, Dok!" Protes Endra dengan wajah kesal. Selama hidupnya, dia belum menemukan penyakit amnesia di dunia nyata. Kecuali dalam sinetron yang biasa ditonton sang mama. Pasti jika kecelakaan terjadi akan ada scene amnesia yang membuat mamanya mencak-mencak memaki sutradara sinetron itu.
"Maksudnya Salma mengalami amnesia, Dok?" Sabda meyakinkan lagi, berharap dia salah mendengar, karena sesungguhnya dia ingin Salma baik-baik saja.
"Iya, Pak! Mungkin akibat benturan keras yang dialami pasien. Mobil elf tergelincir dan jatuh dari ketinggian 25 meter. Jadi wajar jika hal itu terjadi. Anda harus bersyukur setidaknya pasien hanya kehilangan ingatan, bukan kehilangan nyawa!"
"Kapan dia akan sembuh, Dok?" Endra mulai mengajukan pertanyaan.
"Untuk waktunya, saya belum bisa menjawab pasti. Semua tergantung seberapa parah kerusakan pada sistem lembik. Sistem lembik ini biasa berperan penting dalan mengatur ingatan dan emosional Bu Salma. Jika rusaknya parah, bisa jadi amnesia yang diderita akan permanen. Saya juga berharap ini hanya sementara."
"Dari mana kita bisa tahu jenis kerusakannya, Dok?" Sabda kini ikut bertanya.
__ADS_1
"Kita bisa mengambil jadwal untuk pemeriksaan neurologis. Kita lakukan CT Scan supaya tahu seberapa parah kerusakan yang di alami Bu Salma."
Diam, tiba-tiba suasana ruangan itu berubah hening. Empat pria termasuk dokter, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Apa yang harus kami lakukan, Dok?" Pak Arif yang sejak tadi hanya mendengarkan mulai bersuara. Dia ingin putrinya baik-baik saja.
"Memang berat menyesuaikan apa yang dia anggap benar. Tapi kita juga tidak bisa memaksa supaya dia mengingat memorinya yang telah hilang. Tapi, apapun itu ... coba turuti apa yang dia inginkan, pelan -pelan sampai Bu Salma berhasil mengingat semuanya. Tapi, kembali lagi, ini adalah keputusan keluarga. Sebagai dokter yang biasa menangani kasus seperti ini, saran saya lakukan apapun itu jika memang menyangkut ingatannya."
"Saat ini, yang dia ingat usia anak kami masih lima bulan. Bagaimana bisa begitu, Dok? Padahal kami sudah bercerai sejak empat tahun yang lalu."
"Apa ada kejadian berkesan di saat putrinya berusia lima bulan?" tanya Dokter Edi.
Sabda bungkam, dia merasa bersalah karena sebenarnya keluarga Salma pun tak tahu mengenai kejadian ini. Matanya terpejam rapat sebelum menjawab. "Dia pernah mengalami keguguran, Dok! Kami kehilangan calon anak kedua kami."
"Kamu tidak pernah cerita?!" pak Arif protes dengan nada tinggi.
"Maaf, Pak! Salma yang meminta saya untuk merahasiakan ini." Ya itu memang permintaan Salma. Dia beralasan jika cerita ke keluarganya dan mencari tahu penyebab dia mengalami keguguran, maka sikap Bu Habibah terhadap nya juga akan ikut terbuka. Dan Salma tidak ingin keluarganya ikut membenci Bu Habibah.
Helaan napas berat terdengar dari mulut pak Arif. Pria itu sepertinya frustasi mendengar kabar tersebut.
"Sebaiknya apapun itu turuti kemauannya. Jangan sampai kerusakan otaknya semakin parah," sela dokter Edi.
Sabda diam, dia merasa tidak berhak atas semua ini. Dia hanyalah masa lalu Salma yang dipaksa hadir kembali. Meski dia ingin tapi bukan begini caranya. Sedangkan Endra adalah masa depan Salma yang lebih berhak memutuskan semua ini.
Setelah berpamitan dengan dokter Edi. Sabda keluar terlebih dahulu. Lalu disusul pak Arif yang melangkah mengikutinya.
Sedangkan Endra masih bergeming di kursi. Pria itu masih menunggu ruangan itu sepi. "Dok, kira-kira sebulan lagi, apa Salma bisa ingat semuanya?" tanya Endra, penasaran.
"Saya tidak bisa memastikannya, Pak."
Terlihat wajah cemas yang ditunjukan Endra. Ada kekhawatiran tersendiri dengan amnesia yang dialami Salma saat ini.
__ADS_1
"Apa yang anda takutkan?"
"Dia istri saya, Dok! saya tidak rela jika dia kembali berhubungan dengan mantan suaminya?"