
Ngilu, itulah dirasakan Sabda usai mendengar penjelasan dari salah seorang perawat. Pikirannya begitu berisik, akal sehatnya terus mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Tepat ketika Salma hendak naik ke elf.
"Bunda pulang duluan, jangan nyariin bunda, nurut sama ayah!"
Apakah kalimat itu sebagai pesan terakhir Salma untuk putrinya.
"Mas nitip Ody, jagain dia. Jangan sampai dia terluka, awas saja!" dan itu adalah pesan terakhir untuknya. Sabda menggeleng cepat ketika kalimat itu berdengung di telinga. Dia tidak ingin dan tidak mau menerima kabar buruk mengenai kondisi Salma saat ini. Salma harus baik-baik saja! pikir Sabda. "Di mana saya bisa melihat korban kecelakaan itu?"
"Beberapa dompet korban ada di meja pendaftaran, silakan dilihat dulu, Pak. Jika sudah menemukan, saya yang akan mengantar bapak ke ruang pasien ataupun ke ruang jen—
"CUKUP!" sela Sabda, sedikit lantang, seakan tidak mau menerima kabar buruk apapun tentang Salma.
"Bunda—beneran bobo di sini, Yah?"
"Shut! Ody diam dulu. Ayah sedang ada perlu!" Sabda mengingatkan, dengan suara lembut.
"Emang bunda sakit ya, Yah?!"
"Iya, Ody."
"Bukannya bunda sudah kembali ke Semarang kok bisa bobok di sini?"
__ADS_1
Sakit kepala yang dirasakan Sabda seperti dilipat gandakan, tapi sebisa mungkin dia tidak berkata kasar pada Aundy. Dia tidak ingin melukai perasaan putrinya dengan kata-kata kasar, karena itu lebih sulit menyembuhkan ketimbang luka fisik.
"Ody, boleh Ayah minta satu aja sama Ody?" tanya Sabda, yang sudah menyamakan tingginya dengan Aundy.
Gadis itu mengangguk. "Apa, Ayah?" tapi pandangan Aundy masih tertunduk dalam.
"Lihat Ayah, Sayang!" Sabda sedikit memaksa.
"Iya."
"Ody, Ayah lagi repot. Bisakah Ody duduk dulu di kursi itu." Sabda menunjuk kursi tunggu tak jauh dari posisinya saat ini. "Nanti kalau urusan ayah sudah selesai, ayah janji bakal temani Ody!"
"Tapi, ayah enggak bakal ninggalin Ody di sini, kan?"
Aundy mengangguk, lalu berlari kecil menghampiri kursi tunggu. Setelah memastikan jika Aundy aman. Sabda kembali fokus pada perawat yang ada di depannya. "Saya mau lihat korban meninggal dunia!"
"Mari saya antarkan, Pak."
Dengan separuh jiwa yang masih menempel di tubuh, Sabda berjalan dengan langkah gontai, mengikuti langkah perawat yang menuntunnya ke kamar jenazah.
Dari rautnya, Sabda terlihat begitu ketakutan. Dalam hatinya terus berdoa supaya bukan Salma yang berbaring di brankar kamar jenazah itu!
__ADS_1
Sabda melangkah maju memasuki ruangan itu, udara dingin langsung menusuk pori-porinya. Aroma kamper begitu nyengat sampai membuat perutnya terasa mual.
"Silakan, Pak! Ada lima jenazah yang menjadi korban kecelakaan elf itu." Perawat itu mendekat ke arah jenazah . "Ada dua jenazah yang belum berhasil diidentifikasi."
"Apakah ada yang perempuan?" Tanya Sabda begitu berdiri di antara dua jenazah itu.
"Dua-duanya perempuan, Pak. Bisa diperkirakan usianya 23-30an"
Tangan Sabda mere mas ujung kausnya. Dia sendiri tidak paham, bukankah sebelum pulang tadi dia berniat melepas Salma. Kenapa sekarang justru berat?! Apa mungkin semua itu akibat dari perbuatan Endra yang tega menduakan Salma.
Saat hendak membuka kain penutup wajah, tiba-tiba saja pintu berdentum keras. Seseorang mendorong kasar pintu tersebut dari arah luar, disusul empat orang memasuki ruangan itu, mereka berpasangan. Tak lama tangis dari seorang wanita terdengar membahana, bahkan seorang pria mendorong tubuh Sabda dengan kasar. Hingga Sabda menyingkir jauh dari posisi mereka.
Ada rasa lega sekaligus bahagia. Saat melihat mereka meraung meminta anggota keluarganya bangun. Sabda tak Ingin membuang waktu lagi. Kakinya lekas melangkah keluar mencari keberadaan Salma. Semangatnya begitu membara.
Ruang selanjutkan adalah ICU. Dan sosok pertama yang dilihat Sabda saat memasuki ruangan itu adalah ranjang Salma. Perempuan itu terbaring di ranjang pasien, dengan matanya yang terpejam rapat.
Sabda menatap Salma sembari menahan air matanya yang siap tumpah. Luka di kepala, pecahan kaca yang menggores pipinya. Dia bersyukur setidaknya, masih diberi waktu untuk merebut Salma kembali.
"Sekalipun dia memiliki ragamu, tapi kali ini aku akan merebutmu Salma. Aku tak ingin melihat orang lain melukaimu."
"Maaf, Sal!"
__ADS_1
"Maaf, aku tidak bisa melihatmu seperti ini!" Sabda bergumam, seraya membenturkan keningnya di ranjang. "Kamu harus bertahan, demi anak kita, Aundy."
"Aku janji, akan memperbaiki semuanya." Sabda berkata lirih. Mendadak bimbang, haruskah dia benar-benar merebut Salma setelah tahu apa yang dilakukan Endra.