
“Gimana? Mas Sabda tidak mengatakan apapun ke Bapak, kan?”
Sabda berusaha meraba arah pembicaraan Salma, sepertinya mantan istrinya itu masih tenggelam dalam memori masa lalunya. "Ma—maksudnya?" tanya Sabda, terbata-bata.
“Mengenai sikap ibu padaku!”
Sabda bergeming, dia mulai menegakan tubuhnya. Penasaran juga karena sampai detik ini dia tidak tahu pasti apa yang menyebabkan Salma mengalami keguguran. “Emang apa yang dilakukan ibu?”
Salma membuang napas kasar. “Ya sudah, lupakan!”
“Amora Salmadani ….” Sabda memanggil penuh penekanan.
“Cium dulu!” pinta Salma, manja.
“Nggak!” tolak Sabda. "Malu sama Ody."
“Ya sudah aku juga tidak mau! Lagian dengan aku cerita ke kamu. Itu tidak akan merubah keadaan, kita tetap kehilangan anak kedua kita, kan? Aku protes sama ibu pun, dia tidak akan bisa menggantikan anak kita juga.”
Sabda membuang napas kasar, menyerah tak ingin melihat raut sedih Salma. “Mau cium di mana?”
Salma menatap Sabda dengan tatapan jahil. “Tanpa kamu tanya pun biasanya juga tahu!”
Sabda melirik ke arah pintu, memastikan tidak ada Endra maupun pak Arif yang mengintip. Menatap ke arah Salma yang sudah memejamkan mata rapat.
Merasa situasi aman. Sabda mendaratkan kecupan di kening Salma, cukup lama dan dalam, lagi-lagi dia tengah berusaha melepas kerinduannya. Tapi, tidak sepuas itu juga!
Mata Salma terbuka lebar, membuat Sabda langsung menjauhkan bibirnya dari kening Salma. “Jahat! aku tetap tidak ingin cerita! Kamu tahu aku paling suka dicium di area bibir!”
“Salma ….”
Tolong ingatkan Sabda jika Salma masih dua puluh satu tahun. "Ayo, cerita sama aku. Supaya kita juga bisa mengambil langkah yang benar." Sabda membujuk, meski tahu apapun kejadian hari itu, tidak akan mengubah keadaan saat ini.
“Aku marah sama kamu!”
Sabda menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. Bingung juga harus melakukan apa jika dihadapkan situasi seperti ini. Menghadapi sikap manja Salma memang biasa, yang tidak biasa itu menghadapi Salma yang manja tapi dalam kondisi tidak ingat dengan status mereka.
__ADS_1
Dia juga tidak mau kelewatan. Dia sadar, ada Endra dan Hani yang akan tersakiti. Kalaupun tidak ada mereka dan dia nekat berjuang, ada pak Arif dan ibunya yang akan jadi penghalang.
Secepat kilat yang menyambar, Sabda mendaratkan kecupan di bibir Salma. “Udah sekarang cerita!” kata Sabda, wajahnya merah padam seakan baru saja mencuri ciuman pertama dari kekasihnya.
“Aku jadi ingat kejadian di perpus.” Salma terkekeh, dia memang teringat sikap Sabda yang dulu mencuri ciuman darinya. Di perpus saat jam istirahat. Karena ketahuan jadi Sabda nekad mencuri ciuman itu.
Berbeda dengan Sabda yang semakin malu, yah meski dulu dia terkenal clengekan, tapi saat berhadapan dengan Salma, dia seperti mati gaya. Salma itu seperti pawangnya.
Wajah Salma mendekati Sabda, wanita itu mengunci pandangan Sabda, tidak membiarkan Sabda menatap ke arah lain selain dirinya. "Kita sudah halal loh, kenapa harus malu-malu!" protes Salma. Semakin mendekatkan wajahnya ke arah Sabda. Hingga sekarang kening Sabda kini mampu menyentuh kening Salma.
“Maafin aku ya, Mas! Andai aku memiliki keberanian menolak permintaan ibu. Pasti kita tidak akan kehilangan anak kita. Sebenarnya, selama ini, ibu masih memintaku mencuci, ngepel, dan pekerjaan rumah. Itu semua harus selesai sebelum dia bangun. Salma berusaha menyelesaikan hingga malam, soalnya kalau siang waktu Salma untuk Ody. Belum lagi kemarin, karena aku ngepel lantainya kurang kering, jadi aku kepleset. Mungkin karena aku juga tidak hati-hati.” Salma menjelaskan dengan setengah suara.
“Sal—ma ….”
“Bawa aku pergi! Aku ingin ikut denganmu. Aku rela tinggal di kontrakan sempit asalkan bisa hidup berdua denganmu, dan Ody!” pinta Salma dengan rengekan kecil.
“Salma ….” panggil Sabda kemudian terhenti saat merasakan bibir Salma mulai menyentuh bibirnya. Sabda memejamkan mata rapat.
Beruntung, pintu kamar itu terbuka lebar, jadi belum sampai bibir itu bertingkah melebihi batas, Salma sudah berhasil menjauhkan bibir itu dari bibir Sabda.
“Ibu Salma sudah diizinkan pindah ke ruang perawatan. Tapi jangan lupa nanti sore ada janji dengan dokter edi untuk cek CT scan.” perawat itu menjelaskan seraya melangkah mendekatinya ranjang.
“I—iya, Sus!” kata Salma. Dia heran kenapa bukan USG saja? dan kenapa justru CT Scan langkah yang diambil oleh dokter?
“Terus kapan saya periksa USG nya, katanya setelah kuretase, harus USG buat cek kondisi rahim sudah bersih atau belum.”
“Sebaiknya lakukan sekalian, Sus!” saran Sabda.
“Baik, Pak.” Perawat sudah menyiapkan kursi roda untuk Salma. Bersiap memindahkan Salma ke ruang perawatan.
“Biar saya saja yang mendorong, Sus!” pinta Sabda, mengambil alih posisinya. Saat berada di luar, dia hanya mendapati pak Arif dan Aundy.
“Endra mana, Pak?” tanya Sabda. Memberanikan diri berbicara pada pak Arif.
“Dia ada urusan, sekaligus memberitahu orang tuanya supaya tidak datang. Mengingat kondisi Salma saat ini.”
__ADS_1
"Ayah, infus aku sudah boleh dilepas!" Aundy mengadu, seraya menunjukan tangannya yang bersih dari jarum infus.
"Iya." respon Sabda, seraya meminta Aundy dan pak Arif mengikutinya.
"Apa kita boleh pulang sekarang, Ayah?!"
"Belum, nanti sore bunda Salma harus melakukan CT scan."
Tiba di ruangan Sabda memindahkan Salma ke ranjang. "Istirahatlah!" pinta Sabda.
"Apa Mas Sabda akan pergi lagi setelah ini?"
"Tidak."
"Bapak mau pulang dulu, ibumu ingin datang sedangkan Panji tidak bisa mengantar karena hari ini ada tes."
"Santai aja, Pak sudah ada mas Sabda di sini. Dia bisa menjagaku dengan baik," balas Salma, sabda pun merespon dengan anggukan kepala. Wanita itu tidak tahu menahu jika saat ini berada tidak jauh dari obyek wisata Dieng.
Pak Arif menitipkan Salma kepada Sabda. Berharap pria itu bisa menjaga putrinya dengan baik. Sepeninggal pak Arif, ruangan itu terlihat sepi, Aundy yang lelah pun ikut terlelap di samping Salma.
Di waktu senggang itu, Sabda menggunakan waktunya untuk menelepon Bu Habibah. Dia memberitahu, tidak bisa pulang karena ada kendala. Sabda sengaja tidak menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Salma. Dia tahu pasti ibunya akan langsung memintanya pulang jika mengetahui hal itu.
"Ingat ya, Sabda ... keluarga Hani sudah menunggu kamu melamarnya! jangan sampai cuti periode ini, lamaran kamu batal ya!"
Bu Habibah mengingatkan dengan tegas.
"Sabda usahain, Bu!" lirihnya seraya menatap ke arah ranjang, di mana Salma menggeliat.
"Ya, sudah. Pokoknya Ibu tunggu!"
Sabda tidak merespon, tak lama ponsel itu terputus. Melihat Salma masih terlelap, Sabda memilih tetap berdiri di posisinya. Menatap ke arah tempat parkir, di mana puluhan mobil berjajar di sana.
Hingga tak lama kemudian, sepasang manusia yang tengah berjalan mengalihkan perhatian Sabda. Gemeretuk giginya terdengar begitu jelas. Kepalan tangannya menggenggam kuat saat melihat kemesraan sepasang manusia di sana.
"Maunya apa sih?" gumam Sabda, setelah mengetahui kedua kalinya Endra dengan wanita yang sama dengan yang ditemui kemarin.
__ADS_1