
“Berarti cuti depan Ody kita usia berapa?” Sabda menyerahkan Aundy ke tangan Salma. Ketika itu, usia Aundy baru enam puluh hari.
“Ya tinggal ditambahkan.” Salma menjawab malas, dia sudah lelah menjalani kehidupan seperti ini. Pasti hatinya galau ketika Sabda hendak kembali ke lokasi kerja.
“Enam bulan kan ya?” Sabda berkata asal.
“Mas emang mau mundur cutinya?” protes Salma. Seharusnya usia Aundy lima bulan pria itu sudah kembali lagi.
Pria itu menggeleng. “Ada kamu dan Ody. Mana bisa jauh-jauh? Nggak betah!”
Salma mendengkus, kenyataanya tiga bulan di sana, pria itu betah-betah aja. Bahkan sebelum pulang cuti periode ini, Sabda berada di Kalimantan Selatan selama empat bulan.
“Aku berangkat ya! Percaya sama aku, jangan percaya ucapan orang lain!” pesan Sabda, seraya menarik lembut hidung Salma.
“Bisa satu jam lagi enggak, masih pengen pelukan!” lirih Salma, dengan suara bergetar, bahkan pandangannya sudah buram tertutupi air mata.
“Itu ojeknya udah nunggu!”
Salma merengek, seakan tidak terima Sabda pergi meninggalkannya. "Pengen kamu di sini, Mas! kita rawat Ody sama-sama."
Sabda terkekeh, menutupi rasa sedihnya. “Cepat loh, tiga bulan itu cepet. Dua kali gajian, gaji ketiga udah di rumah.”
“Aku mau ikut ke sana!” rengek Salma.
“Baru aku siapin! Kan nggak murah bawa keluarga di sana. Ada waktunya nanti.” Ya, Sabda memang baru diangkat menjadi karyawan tetap, setidaknya beri waktu bernapas untuk mengumpulkan uang.
“Janji?”
“Janji, Amora ku ….” Sabda melepas pelukannya, berganti merangkum pipi Salma. “Baik-baik di sini ya! jaga Ody, aku akan selalu menelponmu! Kalau ada apa-apa telepon, kalau sampai aku nggak jawab, kamu bisa mengirimkan lewat pesan.”
Salma mengangguk, rela tak rela harus melepas kepergian Sabda untuk kembali ke Kalimatan Selatan. "Hati-hati ya, Mas! ingat ya, tiga bulan lagi kita harus bertemu."
"Aku usahain nggak sampai tiga bulan." Sabda meninggalkan ciu man di area wajah Salma, dan terakhir melu mat bibir Salma sebagai salam perpisahan.
Setelah merasa puas Sabda lantas keluar kamar, menghampiri ojek yang sudah menunggunya. Ibu dan bapak nya sedang pergi jadi dia langsung melesat pergi.
Dari balik jendela kamar, karena Aundy masih berada di gendongan. Salma menatap kepergian Sabda. Sebenarnya Sabda sudah mendapat cuti tambahan, di pulang ke Semarang selama 18 hari. Tapi selama apapun itu, Salma merasa tidak puas dengan waktu Sabda berada di rumah.
Sebulan setelah kepergian Sabda ke tempat kerja, Salma merasakan perubahan drastis di hidupnya. Bukan hanya fisiknya yang mudah lelah, tapi mertuanya pun seakan ikut memusuhinya. Entah hanya perasaan Salma atau memang benar adanya, tapi Salma merasa dia hanya dijadikan pembantu di rumah itu.
Bu Habibah begitu egois. Tidak peduli serepot apa Salma mengurusi Aundy dia ingin pekerjaan rumah selesai tepat waktu.
Dan lebih mengejutkan lagi, tanpa Salma sadari sebelumnya, dia tengah hamil anak kedua. Salma mengetahui kehamilannya saat usia delapan minggu. Saat merasa mual parah di pagi hari, bahkan lebih parah saat hamil Aundy.
__ADS_1
Tubuh Salma sering kehabisan tenaga, lemas, inginnya baring di atas ranjang. Hal itulah pemicu kemarahan bu Habibah, karena pekerjaan rumah yang biasa dilakukan Salma tidak pernah selesai tepat waktu. Belum lagi suara Aundy yang rewel, suaranya mengganggu ketenangan wanita itu.
Sampai suatu hari, Salma menyerah, dia tidak ingin terjadi hal buruk dengan bayi di perutnya. Hari itu Salma memutuskan mengadu pada Sabda perihal sikap ibunya yang mulai berubah.
Salma bercerita ini itu, kegiatannya dari pagi hingga menjelang tidur. Tapi, respon Sabda hanya biasa saja, seolah tidak peduli dengan masalah yang terjadi di rumah.
Sampai akhirnya, kabar kehamilan yang niatnya hendak dikatakan Salma ketika pria itu pulang ke Semarang, terpaksa harus diberitahukan sekarang. “Mas, aku hamil ….” setelah itu Salma terisak. "Aku takut terjadi sesuatu dengan calon anak kita, Mas. Apalagi Ody masih menyu su. Aku bahkan nggak punya waktu untuk periksa. Aku—
“Kamu yakin, Sal?”
“Iya, Mas. Aku mual parah, dan enggak bisa menyelesaikan pekerjaan rumah, tapi ibu sudah mengomeliku panjang lebar, kaya kereta lewat.”
“Kok bisa sih Sayang?” tanya Sabda.
“Maksudmu apa? Kok bisa aku hamil begitu? kamu yang salah kenapa enggak pakai pengaman, padahal aku udah jelasin ke kamu. Sekarang udah ada baru nyesel, kan?”
“Sayang, bu—
“Apa? Jangan bilang kamu nuduh aku tidur dengan lelaki lain!" sentak Salma tidak terima. "Aku capek! hari ini juga ody rewel banget, Mas. Perutku kram, aku pengen pulang ke rumah ibu. Setidaknya ada ibu yang bantuin jaga Ody.” Salma terisak, napasnya begitu pendek sampai terdengar jelas di telinga Sabda. Mertuanya sedang arisan PKK jadi Salma bisa leluasa menceritakan masalahnya pada Sabda.
“Iya Sayang, maaf … nanti aku bilang ke ibu. Supaya tidak memintamu untuk melakukan pekerjaan berat. Kamu jaga kesehatanmu. lebih baik Ody jangan dikasih A S I takutnya anak kedua kita yang kurang nutrisi.”
“Iya. Mas, aku tidur dulu ya. Aku capek.”
Belum ada tiga puluh menit Salma memejamkan mata, suara bu Habibah terdengar menggelegar dari arah luar kamar. Aundy yang semula terlelap pun, kini menangis karena terkejut.
"Salma, buka pintunya!"
Begitu pun dengan Salma yang baru saja memejamkan mata, kepalanya langsung pusing. Salma menggendong Aundy, melangkah mendekati pintu. Saat pintu kamar terbuka lebar, makian dari bu Habibah langsung mengudara, memekakkan pendengaran Salma.
“Kamu ngadu domba aku sama Sabda?”
“Ibu?”
“Baru disuruh kerja ringan aja, ngadu nya selangit. Bukannya ibumu sering memintamu mencuci baju!”
Bu Habibah salah, meski bu Deva membuka jasa laundry, wanita itu tidak pernah meminta Salma membantunya. Semua atas niat Salma sendiri, jika tidak ada niat dia juga tidak akan terjun ke laundry room.
Kepala Salma semakin nyut-nyutan. Wajahnya sudah pucat pasi menahan rasa sakit kepala dan perutnya.
“Andai Sabda enggak nikah sama kamu. Hidupnya nggak akan seperti ini. Ibu bakalan bisa nyewa art yang bisa ngerjain rumah. Kamu itu lahir dari keluarga miskin yang beruntung dinikahi Sabda! Punya bapak kok sukanya maksa anak orang!”
“Bu!” Salma berusaha meredakan amarah Bu Habibah, sambil menimang Aundy yang merengek. "Jangan berkata seperti itu! Mas Sabda nikahin Salma itu karena cinta!"
__ADS_1
"Cinta? makan tu cinta! Jodoh Sabda itu udah aku siapin! tapi dihancurkan oleh keinginan bapakmu! Sabda juga bodoh, mau maunya sama kamu!"
Salma hendak membela pak Arif, dia tidak terima keluarganya ikut dihina. Tapi disela kembali oleh cacian Bu Habibah.
“Udahlah Salma, sekali lagi kamu ngadu ke Sabda perihal aku dan pekerjaan rumah. Aku bisa saja berbuat nekad pada keluargamu! Bersyukurlah aku hanya memintamu melakukan pekerjaan rumah!”
Sejak hari itu Salma enggan melapor-lapor lagi. Dia melakukan apa yang diminta bu Habibah, tanpa berani membantah. Dia begitu taat saat Bu Habibah meminta ini dan itu. Tanpa peduli dengan rasa sakit yang dirasakan.
Hingga di usia kehamilan tiga bulan, Salma dan Sabda terpaksa kehilangan calon anak kedua mereka, faktor kelelahan adalah pemicu keguguran yang di alami Salma. Dan sialnya, Bu Habibah tidak merasa bersalah sedikitpun.
Selang satu hari, Sabda pulang ke Semarang. Dia sengaja mengajukan cuti emergency, saat mendengar kabar jika Salma mengalami keguguran.
Kehadiran Sabda hari itu seolah menepati ucapan Sabda di hari mereka berpisah. Sabda datang, bahkan sebelum pria itu bekerja selama tiga bulan.
“Bunda?”
Suara itu memenuhi ruangan ICU.
“Mas! Maaf, aku nggak bisa jaga anak kedua kita.” Salma terisak.
“Salma. Ka—mu?”
“Ody, mana?”
Sabda berusaha meraba situasi saat ini. Mungkinkah Salma melupakan sesuatu. Beberapa kenangan pahit mereka yang hilang.
“Bunda ini, Ody!” Aundy menunjuk dirinya. "Ody, di sini Bunda!" sambungnya riang.
“Ody?” Salma cemas karena seingatnya Ody masih berusia lima bulan.
“Tenanglah! Tidurlah di situ, aku panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu!” Sabda langsung melesat pergi, memanggil dokter.
“Bunda ini Ody, Aundy Saesya Baghaskara, anak Bunda Salma,” ucap Aundy terlihat kebingungan. “Bunda lupa ini Aundy? Ody bunda!”
Salma menatap tak percaya ke arah Aundy. “Ody baru lima bulan. Dia baru belajar merangkak!” Salma memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri. Lalu pandangannya jatuh pada Endra, sosok pria tinggi putih yang baru saja masuk ke ruang ICU.
“Salma ….” Pria itu melangkah mendekati ranjang. Tanpa basa-basi Endra memeluk erat tubuh Salma.
“Mas Sabda, dia siapa?” tanya Salma terlihat kebingungan dengan situasi saat ini. Bukankah tadi Sabda memintanya untuk menunggu karena dia hendak memanggil dokter kandungan? apa pria ini dokter kandungannya? kenapa peluk-peluk? Bahkan Sabda tidak menghalangi tingkah pria ini.
“Dia suami kamu. Endra.”
Salma melapas pelukan pria itu. Kepalanya menggeleng tegas. "Enggak!" Saat Salma berusaha mengingat kenangan tentang Endra, semuanya kosong. “Suamiku kamu, kan? kita punya Ody, dan aku baru saja kehilangan anak kedua kita.”
__ADS_1