
Sama seperti dulu, Salma selalu menangis ketika Sabda meninggalkannya di rumah. Hari ini Sabda melarang Salma mengantarnya. Pria itu memilih naik ojek, berpamitan berangkat ke bandara. Padahal sebenarnya dia sedang pulang ke rumah Bu Habibah.
Saat tadi berpamitan, Aundy ikut mengikat janji dengan Sabda. Menyanggupi akan Salma, hingga dia datang kembali.
Dan sekarang, Sabda berada di rumah kedua orang tuanya. Di kala siang seperti ini, kondisi rumah masih terasa sepi, bapak sedang berada di gudang beras. Sedangkan Bu Habibah sendiri, sedang berkumpul dengan para tetangga, membicarakan ini itu. Dia bisa menduga, pasti ibunya membicarakan acara lamarannya nanti malam.
Bu Habibah jelas saja gembira, mendapatkan mantu seorang Hani, selain masih pera wan, Hani juga anak dari juragan minyak. Yang Sabda khawatirkan, bagaimana nasibnya nanti? Gimana kalau harga dirinya justru diinjak-injak oleh keluarga Hani lantaran pekerjaannya hanyalah seorang kuli. Belum lagi statusnya, yang merupakan duda beranak satu.
“Udah pulang, Le? Kok nggak dengar suara mobilmu?” bu Habibah yang baru saja masuk rumah terkejut melihat Sabda menyalakan televisi.
“Gimana mau dengar, kalau ibu saja main ke tempat Bu Ratmi.”
Balasan Sabda disambut gelak tawa dari bibir Bu Habibah. “Ibu itu bingung, kalau di rumah kesepian, jadi ya dolan. Kan enak, ada teman ngobrol!” Bu Habibah duduk di samping Sabda. “Makanya buruan nikahin Hani! Biar ibu juga ada temannya.” Tangan Bu Habibah mengusap lembut pundak Sabda.
“Ibu yakin?” tanya Sabda seraya membuka kulit kwaci yang baru saja diambil.
__ADS_1
“Yakin seratus persen, Le! Ibu sudah klop banget sama dia!” Bu Habibah meyakinkan. "Hani itu selevel, diajak ke mall, ya keliatan miayi. Buruan nikah, punya anak, biar ibu yang mengasuh bayimu! wes gak sabar aku, le!"
“Nanti kalau dia nggak mau disuruh ini itu, gimana?” tanya Sabda.
Wajah bu Habibah terlihat pucat. “Maksudmu apa to, le? Ibu mana tega nyuruh-nyuruh mantu ibu!”
“Kenyataanya? Salma keguguran tidak lain juga karena ibu!” kata Sabda santai.
“Sabda! Aku ibumu, jadi jangan percaya ucapan siapapun!” Bu Habibah mulai naik pitam.
“Inginnya Sabda seperti itu, Bu! tapi faktanya, semua karena ibu yang selalu nyuruh Salma ini itu dan membuatnya kelelahan, akibatnya kami kehilangan anak kedua kami, dan ingat Bu. Kebahagiaanku itu bukan dari pihak luar yang mengatur, aku bahagia atau tidak, yang tahu cuma Sabda!”
“Wajib untuk Salma, tapi bukan untuk ibu, begitu?” Sabda tertawa gamang. “Ibu aja nggak pernah masakin buat Sabda. Bahkan ibu lebih sering beli makanan, kan? lalu rumah! rumah berantakan begini! Sabda lihat ibu tidak pernah menyentuh sapu. Kerjaan ibu itu hanya ngerumpi sama tetangga sambil nungguin Ayah pulang!” napas Sabda naik-turun. “Dulu … saat pulang main, kalau Salma belum selesai dengan pekerjaannya ibu maki-maki enggak jelas! Giliran sekarang, ibu begini, gimana bisa Sabda mempercayakan istri Sabda ke ibu lagi.”
“Ya, sudah-sudah… kalau kamu punya istri lagi, bawa aja ke sana sekalian! Ibu masih mampu kok bayar Mbok Jum.” bu habibah ikut terpancing emosi.
__ADS_1
“Kenapa ibu enggak pernah mikirin perasaan Sabda sih?” kesal Sabda, dia kesulitan mengontrol emosinya saat ini.
“Perasaan? Maksud kamu cinta?” Bu Habibah sudah beranjak dari kursi. “Cinta akan datang dengan sendirinya, Sabda … Hani cantik berkelas, beda sama Salma! Bapaknya mau beli oli saja harus bon dulu ke Bank. Hani baru calon aja udah beliin ini itu!”
“Percuma Sabda bicara sama, Ibu!” Sabda beranjak dari kursi yang ditempati, melangkah menuju kamarnya. Dia tidak ingin melawan ibunya. Khawatir apa yang dikatakan justru akan menyakiti perasaan sang ibu.
Setelah tiba di kamar, Sabda menyesali sikapnya yang sudah berkata kasar pada sang Ibu, bukan bermaksud seperti itu. Tapi kadang bu Habibah sendiri begitu keterlaluan, dia tidak pernah mikirin perasaan Sabda. Andai ibu tahu, jika dia tidak mencintai Hani.
Sabda memutuskan untuk beristirahat. Dia tidak ingin bayangan Salma yang menangisi kepergiannya, terus menerus terngiang di kepala. Belum lagi acara nanti malam, Sabda merasa belum siap menemui kedua orang tua Hani. Dia takut tidak bisa mencintai Hani, karena di hatinya masih terisi wanita lain.
Berulangkali Sabda memejamkan mata, guling di pelukannya pun sudah menjadi sasaran kekesalannya, kucel. Dia memikirkan perasaan Aundy, gimana jika gadis itu tahu dia menikah lagi? punya ibu baru, yang kemungkinan, bisa saja sifatnya akan sama dengan Endra.
Sabda tidak bisa membayangkan gimana perasaan Aundy nanti saat tahu dia menikah. "Maafin Ayah, Ody. Ayah belum bisa membahagiakanmu. Tapi, apapun itu, ayah janji tidak akan melupakanmu. Sekalipun ada keluarga lain yang ada di samping ayah." Sabda bergumam lirih. Hingga notifikasi pesan, mengalihkan perhatian Sabda.
Tertera nomor HRD dari perusahaan tempat Sabda bekerja mengirimkan pesan singkat. Sabda begitu semangat karena dia pikir pengajuan cuti perpanjang nya diterima. Akan tetapi, Sabda justru menerima kode penerbangan dan jadwal pesawat yang hendak ditumpangi besok.
__ADS_1
“Baiklah, besok aku kembali. Meninggalkan Salma dan Ody!” Sabda beralih membuka galeri ponselnya, memutar video liburan kemarin. Video itu otomatis berputar. Dari video terakhir yang diambil hingga video Aundy berusia beberapa hari.
Sebenarnya bukan hanya Aundy, di sana ada suara Salma juga, dan itulah yang membuat Sabda bisa terlelap ketika merasa kesulitan tidur. Kadang Sabda sampai hapal dengan apa yang hendak disampaikan Salma dalam video itu.