Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Bab 32


__ADS_3

“Maksud Mas Sabda bantuan apa?”


Sabda tersenyum cerah, seakan mendapat celah untuk lari dari sistem perjodohan yang dibentuk antara ibu Habibah dan ibu Astuti. Jika Bu Habibah tidak bisa menghentikan niatannya. Mungkin, yang dibutuhkan Sabda adalah Hani untuk menghentikan semua ini.


“Kita bisa obrolin ini lewat pesan singkat.” Sabda menjawab dengan singkat.


Hani tertawa kecil. “Apa Mas Sabda juga punya kekasih? Aneh!” Hani menggeleng tegas. “Kenapa enggak nikahi kekasih Mas Sabda aja, sih!” saran Hani.


“Aku tidak memiliki pacar—tapi ada orang lain yang tetap tinggal di hatiku.”


“Apa bundanya Aundy?” Hani tertawa mengejek. “Berat mencintai istri orang lain, Mas.”


“Setahuku, aku mencintai orang yang tepat.”


Hening menjeda sejenak suasana dalam mobil. Tepat ketika mobil Sabda berhenti di lampu merah, Hani meminta pria itu untuk menghentikan mobilnya sejenak di minimarket depan.


“Kamu mau beli apa?” tanya Sabda, penasaran.


“Nggak perlu juga aku kasih tahu Mas Sabda. Jangan kepo gitu!” Hani menjawab tanpa menoleh ke arah Sabda.


“Enggak gitu, masalahnya aku juga mau beli sesuatu.”


“Sesuatu apa?”


“Enggak usah kepo juga!” balas Sabda sambil tertawa menang. Dia kembali memainkan gas nya, saat lampu hijau menyala terang. Lalu mulai menepikan mobilnya memasuki parkir minimarket yang ada di kiri jalan.

__ADS_1


Hani turun terlebih dahulu saat mobil Sabda berhenti. Sabda sendiri masih sibuk mengambil dompetnya. Setelah itu menyusul Hani memasuki minimarket.


Sabda tersenyum simpul melihat gadis itu justru masuk ke rak pem balut, mungkin malu mengatakan hal itu padanya. Sabda pun melanjutkan langkahnya menuju barisan showcase yang terletak di bagian belakang.


Tangannya mengambil beberapa minuman caffeine kaleng. Lalu membawanya ke meja kasir.


“Sama pembalutnya sekalian ya, Mbak!” kata Sabda dari balik tubuh Hani, membuat gadis itu tersentak.


“Mas Sabda apaan, sih!” kata Hani, malu-malu.


“Nggak usah malu! Udah biasa aku lihat gituan!” balas Sabda.


Dengan gerakan cepat Hani memukul tubuh Sabda dengan tas jinjing yang dibawa. Reflek Sabda melindungi kepalanya, takut lupa dengan Salma akan lebih berbahaya.


“Jadi cowok kok nyebelin, pasti kamu ngintilin aku kan. Pasti karena kepo!” kata Hani seraya terus mendaratkan pukulan di tubuh Sabda.


“SABDA!” pekik Hani, semakin gencar memukuli pria itu. “RESE! Banget sih jadi orang!”


“Udah-udah! Besok aku penerbangan, aku nggak mau tubuhku sakit semua!” cegah Sabda terpaksa menahan lengan Hani.


“Biar aja! Makanya jangan suka ngintil!”


“Totalnya empat puluh ribu, Mas!” suara kasir melerai perdebatan itu.


“Itu sekalian nggak?!” dagu Sabda menunjuk alat kontrasepsi yang ada di rak depan kasir. “Nanti hamil, loh!” ledeknya lagi.

__ADS_1


“SABDA BAGHASKARA!” teriakan itu semakin keras. Beruntung Sabda berhasil mengeluarkan uang warna biru lalu melesat keluar dari minimarket, meninggalkan Hani.


“Kembaliannya, Mbak!” kata penjaga kasir saat Hani keluar paling akhir. Hani pun mengambil uang kembalian terlebih dahulu kemudian keluar dari minimarket.


Melihat Sabda hendak meminum kopi, Hani mendorong tubuh pria itu. Hingga minumannya tumpah.


“Anjirrr! Bisa sopan enggak sih!” maki Sabda, kesal karena minumannya mengotori baju batik yang dikenakan.


“Kamu duluan yang ngajakin rese kok!” Hani meraih satu kaleng minuman.


Saat Sabda hendak membalas, dering panggilan telepon masuk ke nomornya. Mendapati nama Salma di layar, Sabda memberi isyarat kepada Hani untuk diam.


“Hallo, Sayang. Ada apa?” kata Sabda, mencoba bersikap mesra di depan Hani.


Hening tidak ada balasan yang bisa didengar telinga Sabda. “Hallo, Sayang … udah kangen ya?”


Sabda curiga, tiba-tiba saja teringat dengan pesan singkat Salma yang mengatakan jika dia sedang mengantar Aundy ke time zone. Matanya berusaha mencari sosok yang dicurigai. Hingga pandangannya jatuh pada mobil warna metalik yang berada di bahu jalan.


Di dalam mobil itu, Salma tengah menatapnya dengan mata dipenuhi cristal bening. Tangan Sabda gemetar mendapati itu, tiba-tiba saja dia takut kehilangan Salma.


“Salma!” sebut Sabda lirih.


“Puas kamu bohongin aku?”


“Sal—tunggu aku bisa jelasin dulu!”

__ADS_1


Pandangan Sabda beralih pada pria yang duduk di balik kemudi. “Sal, dengerin aku!” saat Sabda berlari hendak mendekati mobil itu. Sang pengemudi lekas melajukan mobilnya, menjauh dari lokasi minimarket.


__ADS_2