
“Bunda!”
Suara teriakan dari Aundy menyambut kedatangan Salma di rumah kedua orang tuanya. Pagi ini, Salma terpaksa pulang ke rumah, mengurus putrinya yang hendak pergi sekolah. Tapi, saat Salma tiba di rumah orang tuanya. Gadis itu sudah rapi dengan seragam batik yang dikenakan.
Salma mengulas senyum, dalam hatinya mengeluh. Bagaimana bisa dia lupa dengan sosok Ody? aku harus mengingat semuanya.
“Bunda, apa ayah Sabda sudah telepon?” tanya Aundy, seraya memeluk erat pinggang Salma.
Aundy tahunya Sabda sudah kembali ke Kalimatan Selatan, kemarin. Jadi, pantas saja sekarang dia bertanya seperti itu padanya.
“Em—sudah.” Salma menjawab singkat.
“Bunda dari mana? Semalam ada urusan, sama siapa? Ayah Sabda kan sudah pergi!”
Karena gemas dengan pertanyaan yang diajukan Aundy. Salma mencubit lembut pipi putrinya. “Jangan penasaran, bunda sedang menyelesaikan urusan orang dewasa. Jadi, Ody untuk sementara waktu, di rumah akung dulu ya!”
“Ih bunda! Tapi, Ody penasaran. Apa nanti bunda juga pergi lagi?”
"Kita lihat nanti." Salma mengurai pelukan Aundy, melanjutkan langkahnya, mendekati Bu Deva yang duduk di teras rumah.
“Sudah sarapan belum, Sal!” tanya bu Deva.
“Nanti dulu, Bu.”
Salma menoleh ke arah panji yang baru selesai memarkirkan mobil. “Anterin Ody ya, Nji! kepalaku rasanya berat banget!”
“Ya!” Panji yang tampak kelelahan, hanya menjawab singkat.
Melihat Salma sudah memasuki rumah, Bu Deva penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
“Ada apa dengan Mbakmu, Nji?” tanya Bu Deva sambil memukul tangan Panji, mencegah putranya yang hendak meraih pisang goreng di atas meja. “Kebiasaan! Kenapa nggak cuci tangan dulu! tangan banyak kuman itu!”
“Males, Bu!” Panji menjawab, nekat meraih pisang goreng tersebut. “Bapak nih parah ya, Bu! bikin masalah sukanya!” kata Panji suaranya tidak begitu jelas karena di dalam mulutnya dipenuhi pisang goreng.
Meski begitu, Bu Deva paham apa yang dikatakan Panji, ekor matanya melirik ke arah Aundy. “Nanti aja bicaranya, ada Ody!” bisiknya.
Sedangkan di dalam kamar, Salma langsung menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Semalam penuh begadang membuat kepalanya terasa berat. Dia pun memutuskan untuk tidur, berupaya memulihkan tenaganya yang terkuras habis akibat memikirkan fakta-fakta baru mengenai suaminya. Sebelum nanti, dia kembali ke rumah sakit untuk menjaga Endra.
__ADS_1
Sangking lelahnya, Salma begitu cepat terlelap. Bahkan tak mendengar suara Aundy yang mengucapkan kalimat pamit. Wanita itu sudah sibuk dengan dunia barunya ....
Mobil elf yang Salma tumpangi melaju pelan, semakin menjauh dari posisi Sabda dan Aundy. Sejenak pandangan Salma tertuju pada posisi mereka berdua, rasanya ingin menghentikan mobil elf yang ditumpangi, kemudian kembali memeluk putrinya. Meminta Aundy supaya pulang bersamanya.
Ada perasaan ragu, Salma tidak bisa percaya dengan Sabda sepenuhnya, khawatir pria itu akan mengabaikan Aundy. Ya, meski dia pernah berjauhan dengan Aundy, tapi biasanya gadis itu ada bersama orang tuanya.
Meninggalkan bayangan tentang Aundy dan Sabda karena jarak yang semakin jauh. Pandangan Salma beralih pada benda pipih yang sedari tadi setia berada dalam genggaman tangan. Salma paham, menunggu tiga bulan adalah hal biasa, tapi sehari tanpa kabar dari Endra membuat pikirannya carut-marut.
Selama menjadi istri dari Endra, dia selalu mengupayakan untuk menjadi istri yang taat pada suami. Ke manapun wajib izin, dan pasti—Endra selalu membalasnya. Tapi hari ini semua terasa berbeda, pesan, telepon yang dilakukan sama sekali tak mendapat respon.
Seharian ini, sudah berulangkali Salma menghubungi Endra, bukan cemas lagi, tapi rasa itu semakin mengecoh ketenangan jiwanya. Dia menghubungi Endra, bahkan jika dihitung sudah lebih dari tiga puluh kali. Dan hasilnya, tetap saja nihil.
“Ke mana perginya Mas Endra? orang training juga punya waktu untuk istirahat. Setidaknya balas pesanku, Mas!” gumam Salma, menatap kosong nama Endra di layar ponsel.
Tepat setelah itu, mobil elf yang dia tumpangi Salma berhenti di agen travel terdekat. Sang sopir sengaja menghentikan laju elf-nya, lantaran menaikan penumpang yang ingin melakukan perjalanan ke kota Semarang.
Salma terpaksa ikut menunggu, sejenak terasa menjemukan. Hingga tak selang lama, pandangan Salma jatuh pada pria yang ini duduk di bangku depan apotik. Pria berkaus putih dengan potongan rambut dicukur pendek. Yang tak lain adalah sosok pria yang seharian ini menganggu pikirannya.
“Bagaimana bisa pria itu berada di sini? Bukankah dia bilang akan training?!” Salma berniat turun, menghampiri Endra.
Dada Salma terasa sesak, menemukan kebohongan yang ditemukan sore menjelang malam ini. Kemesraan yang ditunjukan mereka semakin mempertegas hubungan keduanya. Sekejap kemudian Salma seperti tersadar. Dia ingin menghampiri keduanya untuk meminta penjelasan. Namun, mobil elf yang kini ditumpangi merambat pelan meninggalkan agen. Siap melanjutkan perjalanan.
“Pak bisa berhenti sebentar!” Salma memukul kaca jendela, memberi isyarat pada pak sopir untuk menghentikan elf-nya.
“Maaf, Bu! kita harus melanjutkan perjalanan. Kasihan sama penumpang lain!” Sopir menolak permintaan Salma.
Wanita itu mengamati kondisi sekitar, sudah banyak bangku yang terisi, dan dia paham sang sopir tidak mungkin menunda jam keberangkatan hanya untuk dirinya.
Salma berusaha tenang, mengontrol amarah yang seakan memeluk erat jiwanya. Jemari lentiknya kembali sibuk, menari-nari di atas layar, berupaya keras menghubungi Endra. Satu kali panggilan, tidak ada respon —hingga percobaan ke tujuh pria itu akhirnya mengangkat panggilannya.
“Mas Endra di mana?” todong Salma, langsung.
“Kenapa sih, Sal? Lagi pulang kerja, ke mana lagi, memangnya?”
Salma memejamkan mata, sekuat tenaga menahan air matanya saat mendapati kebohongan yang dilakukan Endra. Tapi rasanya sia-sia. Air matanya terlalu pintar mencari celah, bahkan pipinya kini sudah basah.
“Kerja? Yakin kerja?" tanya Salma, dengan suara parau. "Bukan berduaan dengan wanita lain di depan apotik? Mas tahu, Salma paling benci pengkhianat, tapi Mas Endra justru ngelakuin apa yang Salma benci.”
__ADS_1
“Sal?” suara seberang panggilan terdengar cemas.
“Kamu jahat, Mas!” Dengan tangan yang masih bergetar, Salma memutus panggilan itu. Satu tangan Salma kini bekerja menutup mulutnya, meredam tangis yang ingin di teriakan.
Saat hendak menyimpan ponselnya ke dalam tas, mobil elf yang ditumpangi Salma mendadak hilang kendali. Detik berikutnya beberapa penumpang mulai panik hingga jeritan terdengar begitu keras, memenuhi sudut kursi elf tersebut. Niat hati ingin menghubungi Sabda, tapi ponselnya malah jatuh entah di mana.
Tepat saat mobil berhenti terguncang, jantung Salma seperti berhenti berdetak. Salma terkejut, tubuhnya terasa baru dibangunkan dari mimpi.
Salma mengambil duduk, wajahnya tampak kebingungan. Bahkan seperti tak mengenali kamar yang ada di rumah ke dua orang tuanya.
“Mas Endra?” gumamnya. “Dia? Selingkuh? Jadi, wanita hamil itu Arienta?” Salma memukul ringan kepalanya yang terasa berat. Sepertinya dia harus pulang dan mengambil obat yang diresepkan dokter.
“Apa mungkin? Tapi aku merasa itu bukan mimpi? Mas Endra selingkuh, itu benar pernah terjadi?” gumam Salma. Butuh beberapa menit untuk menenangkan diri, setelah merasa cukup bisa mengontrol emosi. Salma melangkah keluar, mencari Panji, meminta pria itu untuk mengantarnya pulang.
“Panji mana sih, Bu?” tanya Salma, mendatangi Bu Deva yang kini berada di ruang laundry.
“Kuliah. Kamu nggak lihat ini jam berapa!” Bu Deva terlihat kesal.
Salma melirik ke arah jam dinding. Perasaan, dia baru tidur sebentar, tapi kenapa sekarang sudah pukul sebelas siang.
“Makan sana! punya perut itu di jaga, jangan sampai kena asam lambung!” kata Bu Deva.
Demi meredam kecemasan sang ibu, Salma lekas melangkah ke arah dapur, mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. Siapa sangka Bu Deva justru mengikutinya.
“Panji sudah cerita semua ke ibu, Sal!” kata Bu deva. “Bercerailah! Ibu akan mendukungmu! Lebih baik ibu melihat kamu hidup sendiri, dari pada harus tersakiti seperti ini! Ibu tidak masalah jika kamu terpaksa harus bercerai untuk yang kedua kali!”
Mendengar itu Salma langsung berhenti mengunyah, hilang sudah nafsu makannya. “Apa Bapak juga sudah tahu, Bu? gimana kondisinya sekarang?” tanya Salma yang justru mengkhawatirkan kondisi pak Arif.
“Belum. Panji hanya bercerita pada Ibu. Perselingkuhan itu terlalu menyakitkan buatmu. Sekalipun hari ini kamu memaafkannya, ibu yakin seumur hidup, kamu tidak akan pernah percaya lagi dengan Endra! toh, dia juga tidak bisa meninggalkan istri dan bayinya itu.”
Salma bergeming, menatap makanan yang baru saja diambil. Ibu benar, perselingkuhan itu akan terus terngiang di kepala. Jadi, sekalipun dia memaafkan pada akhirnya dia juga harus melepaskan Endra.
"Apa Mas Sabda dulu juga selingkuh, Bu?! Apa penyebab perceraian Salma dan Mas Sabda juga sama karena Salma diduakan?"
"Salma, kamu wanita yang pintar menjaga rahasia. Ibu tidak pernah tahu alasan apa yang membuat kalian memutuskan berpisah. Bapak aja sampai heran, perasaan selama kalian menikah, hanya kebahagian yang kalian tunjukan kepada kami."
__ADS_1