Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Hukuman


__ADS_3

Baru saja masuk rumah, selesai mengantar Aundy sekolah, pendengaran Salma disambut oleh nada dering panggilan masuk yang begitu membahana dari ponselnya. Dia begitu bersemangat, karena berpikir Endra lah yang kini menghubunginya.


Namun, saat melihat layar ponselnya, Salma hanya bisa merespon dengan desahann kasar. Dia kecewa, menyadari yang menghubunginya pagi ini adalah Sabda. Bukan Endra. Salma mengabaikan panggilan itu. Toh, Aundy juga sedang berada di sekolah.


Setelah beberapa menit panggilan berhenti, Sabda beralih mengirim pesan kepadanya.


Mas Sabda : Sal, aku udah masuk kabin. Hari ini aku yang jemput Ody ya.


Salma : Landing jam berapa? Antre bagasi enggak? Emang nggak capek? Enggak besok saja?


Mas Sabda : Tiba di Semarang sekitar jam 9 Wib. Aku udah kangen berat sama Ody, nggak bisa ditunda lagi.


Salma kecewa karena ini dadakan. Tapi, dia harus ikhlas saat ayah kandung putrinya yang meminta.


Salma : Ya sudah. Jangan malam-malam ya mulanginnya.


Salma menyadari, harinya akan terasa lama jika tidak ada Aundy di sampingnya. Jadi, dia berusaha mengingatkan Sabda terlebih dahulu. Masa bodoh, tapi dia tidak ingin Aundy pergi terlalu lama.


Mas Sabda : Ya.


Salma sudah mengetikan pesan bertulis "save flight" tapi kembali dihapus. Dia membiarkan begitu saja ponselnya. Memilih melakukan kegiatan lain demi membunuh waktu yang akan terasa begitu lama hari ini.


Jarum jam terus berdetak, dua jam kemudian Sabda mengirimkan pesan kepadanya.


Mas Sabda : Sal, Ody pulang jam berapa?


Salma : 10 ini Sabtu.


Mas Sabda : Okay thanks.


Sudah dipastikan pesawat yang ditumpangi Sabda mendarat dengan sempurna di bandara Ahmad Yani Semarang. Kini giliran Salma yang merasa kesepian. Hampir satu hari penuh. Ia gunakan waktunya untuk berguling-guling di atas ranjang. Dia bingung hendak melakukan apa, mau bantu ibu laundry pun sudah terlambat karena pasti sudah pada dijemur.


Alhasil, Salma melakukan hal yang tidak penting. Luluran, maskeran, dia benar-benar menikmati kehidupannya sebagai seorang wanita bebas. Sayang, kini hatinya justru terasa kosong.


Endra sudah satu minggu tidak ada kabar, putri kecilnya yang tengah melepas rindu dengan sang ayah kandung lupa akan dirinya.


Hingga dering panggilan dari seseorang akhirnya hadir menjelang sore ini. Salma tersenyum cerah saat mendapati Endra menelponnya melalui sambungan video.


"Hallo, Mas Endra." Dia bersemangat sekali mengangkat panggilan pria itu. Rasa rindu yang memuncak seakan lupa dengan cacian pesan singkat hari itu.


"Hm ... Sudah intropeksi diri?"


"Apaan sih, Mas!" Salma duduk bersandar di ranjang, sambil melepas masker di wajahnya.

__ADS_1


"Sudah sadar kesalahanmu?" tanya pria di seberang panggilan.


"Iya. Maaf." Wajah Salma cemberut. Satu Minggu kemarin adalah hukuman untuknya. Dan hari ini hukuman yang diberikan Endra sudah berakhir.


"Aku tu cinta sama kamu, Dek! jadi enggak mungkin aneh-aneh!"


"Iya, Salma minta maaf. Mas Endra, masuk apa?"


"Masuk malam terakhir. Besok udah off lagi."


"Hm cepat banget."


"Iya, kalau off harinya justru terasa lama. Pengen cepat-cepat pulang dan ketemu sama kalian."


"Bisa aja! Ketemu juga palingan gitu-gitu aja."


"Nggak papa, yang penting bisa meluk kamu, dimasakin kamu, nafkahi kamu, main sama Aundy juga!"


Salma menatap dalam wajah suaminya di layar ponsel, rindunya semakin membara saat mendengar suara Endra berkata seperti itu..


"Eh, Aundy ke mana, Sayang? kok nggak ada suaranya, lagi main ya sama Ara?"


"Nggak, Ody pergi sama ayahnya. Mas Sabda hari ini pulang langsung jemput Ody."


"Iya. Katanya mau tunangan."


"Bagus dong! Jadi nggak gangguin kalian lagi."


Salma hanya tersenyum simpul, dia bisa melihat pria di seberang sana sibuk dengan rokok yang terselip di jemarinya. Mereka mengobrol menghabiskan waktu berdua meski terpisah jarak dan waktu. Banyak pembahasan tak berfaedah yang mereka bicarakan, mengenai potongan rambut Endra yang baru, isi tabungan Salma, dan Endra izin untuk tinggal di luar mess, karena aturan di mess mulai diperketat.


Panggilan itu berakhir pukul setengah empat, Endra pamit hendak persiapan masuk kerja. Dan tepat saat itu juga, suara mobil terdengar di depan rumah Salma. Dia lega akhirnya Aundy diantar pulang.


Tanpa menunggu mereka mengetuk pintu Salma sudah berlari untuk membukakan pintu. "Bunda! assalamualaikum..." Teriak Aundy sembari melangkah mendekati Salma. Gadis itu begitu ceria usai bertemu Sabda.


"Wa'alaikumsalam...."


Gadis yang hampir berusia tujuh tahun itu bercerita tentang kejadian seru bersama Sabda. Hingga obrolan mereka terjeda oleh suara Sabda.


"Assalamualaikum, Sal," sapa Sabda sembari membawa beberapa bingkisan yang lebih didominasi untuk Aundy.


"Wa'alaikumsalam... Banyak banget, Mas barang-barangnya!" protes Salma, selama suaminya tidak ada di rumah, kecuali bapak dan Fandi, Salma tidak pernah membiarkan orang lain masuk ke rumahnya. Jadi, mereka hanya ngobrol di depan pintu.


"Punya Ody!"

__ADS_1


Salma melirik ke arah putrinya.


"Salma cuma minta satu boneka yang bisa dipeluk tapi ayah Sabda, dibeliinya yang Gedhe banget! Tingginya lebih tinggi dari Ody!" Aundy berusaha membela diri ketika sang bunda melemparkan tatapan kesal.


"Kebiasaan, jangan suka nuruti Ody, Mas. Nanti lama-lama nglunjak."


"Enggak tiap hari juga kok. Eh, iya—besok aku jemput Ody jam sebelas ya! Aku mau ajakin dia ketemuan sama Hani."


"Harus ya Ody dibawa? Nanti ganggu kalian?"


"Enggak. Cuma ketemuan bentar kok. Habis itu aku mau ajak Ody jalan-jalan."


"Ody mau?" tanya Salma melirik putrinya.


Aundy menggeleng. "Ody di rumah saja sama Bunda."


"Bantu aku ya!" ucap Sabda berusaha meminta bantuan ke Salma supaya mau membujuk Aundy.


"Enggak janji ya Mas!"


Sabda justru mencubit gemas pipi Aundy, rasa rindunya belum terobati. Tapi, mereka harus kembali berpisah.. "Ayah pulang ya Ody! Besok bertemu lagi."


"Ya, Ayah!" Gadis itu melambaikan tangan ke arah Sabda, meskipun pria itu acuh sembari terus melangkah menuju mobilnya.


Setelah mobil Toyota Rush itu menghilang dari pandangan, Salma menuntun Aundy masuk ke dalam rumah. "Tadi ngapain aja sama ayah?" Tentu, itulah yang membuat Salma penasaran, dia selalu bertanya seperti itu tatkala Aundy habis pulang bertemu Sabda.


"Jalan-jalan, main ke timezone, makan, beli boneka, ayah juga beliin sandal buat Bunda. Sandalnya samaan punya Ody, ayah, sama bunda!"


"Ody ...." Salma memanggil Aundy lembut. "Ody tahu kan kalau ...


"Ayah Sabda nggak bisa sama-sama kita!" potong Aundy berusaha tersenyum palsu, sembari menganggukan kepala.


Salma tersenyum getir, dia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi Aundy saat ini.


"Bunda tenang saja. Ody enggak marah kok, teman Ody juga banyak bapak ibunya yang bercerai! Dan punya ibu baru." Gadis itu menampilkan wajah polos yang justru semakin mirip dengan Sabda. "Kan enak, Ody jadi punya dua ayah, ayah sabda dan ayah Endra. Dua-duanya sayang sama Ody." Gadis itu mengunyah coklat Silverqueen Chunky Bar pemberian Sabda, lalu mengambil satu potong lagi menyuapkan ke Salma.


"Terima kasih ya, Ody. Kalau bunda jadi kamu mungkin tidak akan sekuat kamu."


"Bunda kan cengeng suka menangis!" ledeknya.


"Eh, bunda—memangnya kalau ayah Sabda sama Tante Hani nikah, ayah nggak bakal nemuin kita lagi ya? Dia bakal lupain Ody?" tanya Aundy.


"Jangan terlalu berharap sifat ayahmu akan sama seperti saat sebelum nikah ya! Biarkan waktu yang menjawab rasa penasarannya Ody, Bunda nggak bisa mastiin salah atau benar persepsimu itu."

__ADS_1


__ADS_2