
“Buat apa kamu meratapi kepergiannya?! Di sini suamimu itu aku, bukan Sabda!” Endra mendadak muak melihat tingkah Salma saat ini, bergeming di bibir pintu, seraya memeluk kusen, menekuri jejak bayangan Sabda yang baru saja menghilang.
"Apa urusanmu? Dia suamiku, jadi wajah!" Salma menjawab ketus.
“Sal, aku suamimu!” Endra mengayunkan langkahnya mendekati Salma.
“Suamiku Sabda.”
“BUKAN!” Endra murka, tangannya dengan kasar membalikan tubuh Salma supaya mereka bisa beradu pandang. “Suamimu itu aku!”
“Bullshit! Jangan mendekati ku, sebaiknya kamu pergi dari rumahku, Endra. Tidak baik sepasang pria dan wanita berduaan seperti ini! Apalagi di saat suamiku sedang tidak berada di rumah.” Salma mendorong tubuh pria itu, sialnya tenaga Endra jauh lebih kuat.
"Jangan seperti ini, karena aku suamimu yang asli! kamu itu amnesia Salma. Dan sekarang kamu harus ingat kalau kita pernah menikah!"
Salma menggeleng tegas, menolak menerima fakta tentang apa yang dikatakan Endra saat ini. "Bukan, itu semua tidak benar! mana mungkin aku jatuh cinta sama kamu!"
“Oh, okay. Aku sudah tidak tahan lagi!” Endra berlalu, memasuki kamar utama yang biasa ditempati Salma dan Aundy.
“Stop! jangan masuk ke kamarku!” larang Salma dengan suara teriakan. Tapi Endra yang dirundung emosi karena merasa terbakar api cemburu nekat memasuki kamar itu.
Tujuan Endra adalah lemari jati yang ada di sudut kamar. Dengan kasar Endra membuka lemari itu, mengambil dua buku nikah yang ada di bawah tumpukan pakaian. Dia tidak peduli dengan larangan-larangan yang menggema di dalam kamar, setelah berhasil mengambil buku itu, Endra langsung melemparkannya ke wajah Salma yang kini sudah berada tepat di belakangnya.
Tentu saja membuat Salma terkejut. Wajahnya sudah merah padam, menahan rasa kesal sekaligus marah. “Kenapa? Ini buku nikahku!” sentaknya sembari memunguti dua buku kecil tersebut.
“Itu bukti bahwa kita sudah menikah! Dan pria yang menikahimu itu adalah aku! Kamu sudah bercerai dengan Sabda karena dia selingkuh di belakangmu. Lalu—empat tahun kemudian kamu menikah denganku. Pernikahan kita berjalan satu tahun lamanya. Meski belum dikarunia anak, tapi aku masih tetap suamimu! Kita saling mencintai!”
Salma bergeming. Matanya mulai membaca buku kecil yang baru saja dibuka. Tak selang lama, kepalanya mendongak, mempertemukan tatapannya dengan Endra. “LIHAT INI!” Salma menunjukan bagian depan buku nikah itu, ke depan mata Endra. Di mana ada dua foto yang langsung menyambut penglihatan Endra.
“SUAMIKU SABDA BAGHASKARA. Dan kamu adalah orang asing yang berusaha merusak pernikahanku dengan Sabda. Jadi, STOP jangan ikut campur masalahku! ataupun masuk dalam hidupku dan Sabda!” Salma memberi peringatan, dengan suara tegas.
Kini giliran Endra yang kebingungan. Alih-alih mendapat bukti kuat, akan tetapi justru menemukan fakta mengejutkan mengenai buku itu. "licik sekali dia!" lirih Endra, menyadari Sabda sudah mengganti buku nikah itu.
“PERGI!” usir Salma. “Kalau sampai Sabda tahu kamu masuk ke kamarku. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukannya padamu!” kata Salma tegas. Dia tidak terima saat Endra masuk ke kamarnya. Menurutnya, itu melanggar batasan privasinya.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan mencari bukti lain, kalau kamu dan Sabda sudah bercerai!” Endra melangkah keluar kamar. Dia heran dengan dirinya, kenapa tidak rela melihat Salma hilang diambil Sabda. Padahal selama ini dia hanya berpura-pura mencintainya. Apa mungkin aku sudah jatuh cinta pada Salma?! TIDAK, ITU TIDAK MUNGKIN! pertanyaan seperti itu terus ada di pikiran Endra, seiring langkahnya yang menjauh meninggalkan kamar.
“Pergi dan jangan kembali!” teriak Salma emosi. Lalu kembali mengamati foto di buku nikah itu, bibirnya tersenyum simpul. Dia mengajak foto bicara, seakan-akan foto Sabda memiliki nyawa. “Kamu lihat kan, bagaimana dia ingin merusak hubungan kita? Please, bawa aku dekat denganmu, aku tidak bisa melepasmu, Mas.”
Sehari saja hidup tanpa Sabda berat rasanya bagi Salma. Dalam diamnya dia menunggu kabar dari pria itu. Tapi sayang, tidak ada pesan apapun yang didapatkan hari ini.
Sama halnya dengan Aundy. Gadis itu merasa kesepian, sedari tadi mondar-mandir seperti orang kebingungan yang tidak tahu harus melakukan apa.
Hingga menjelang sore, Salma terpaksa mengirimkan pesan pada pria itu. Lagi-lagi Salma hanya menerima kekecewaan, Sabda tidak membalas pesannya. Satu yang Salma ketahui saat ini, pesawat yang ditumpangi Sabda sudah mendarat. Terbukti pesan yang dia kirim sudah mendapat centang dua warna abu.
“Bunda, bagaimana kalau kita ke timezone?”
Salma bingung saat pertanyaan Aundy mengudara. Seingatnya dia tidak pernah jalan-jalan dengan Aundy. “Gimana kalau mainnya sama om Panji aja?” tawar Salma.
"Bunda tidak mau ikut?" tanya Aundy.
"Tidak."
Beruntung Aundy paham dengan kondisi Salma yang masih amnesia. Gadis itu mau pergi bersama Panji. Salma langsung menghubungi Panji, meminta datang ke rumahnya.
"Iya, Mbak."
Kepergian Panji dan Aundy belum lama, rumah yang ditempati Salma semakin sepi. Kini Salma merasa bingung harus berbuat apa. Hingga beberapa menit kemudian, ada tamu datang ke rumahnya.
“Mau apa lagi kamu?!” tanya Salma, saat melihat Endra mendorong pintu utama dengan kasar.
“Ikut aku!” Endra meraih pergelangan tangan Salma.
“Enggak!” Salma menolak tegas.
“Kau mau bukti kalau kalian berdua sudah bercerai. Malam ini Sabda tunangan dengan wanita baru di hidupnya. Kalau kamu benar pengen tahu hubungan kalian seperti apa. Ikut aku!” bujuk Endra.
“Tidak mau!”
__ADS_1
“Salma!”
“Kamu hanya ingin hubunganku dengan Sabda berakhir.” Salma berteriak keras.
Endra melemahkan suaranya. “Lihat dulu, jika aku bohong. Biar aku pergi jauh dari hidupmu!”
Mendengar itu Salma tak ingin menolak lagi, Demi Endra pergi jauh dari kehidupannya, Salma bersedia menuruti kemauan Endra. Dia menaiki mobil Endra, meminta pria itu tidak membuang-buang waktunya.
Saat perjalanan, Salma sempat mengirimkan pesan singkat pada Sabda dan juga Panji. Salma berpesan pada Panji, meminta pria itu untuk mengajak Aundy menginap di rumah akung nya.
Salma sendiri bisa tersenyum cerah saat Sabda membalas pesan singkatnya. Itu berarti, sebentar lagi kekacauan yang dilakukan Endra selama ini akan hilang selamanya.
Keduanya masih saling bungkam, sampai tiga puluh menit menempuh perjalanan Salma menoleh ke arah Endra. Bingung saat pria itu justru menghentikan mobilnya di salah satu restoran. "Kenapa berhenti?!" protes Salma.
“Malam ini keluarga Sabda ada pertemuan dengan keluarga Hani. Mereka akan mengadakan pesta pertunangan. Sebaiknya kita tunggu di sini! Jangan masuk dan mengacaukan acara.”
Tepat setelah Endra mengatakan kalimat itu, Salma melihat mobil Sabda keluar dari restoran. Sayangnya, Salma tidak melihat siapa yang menggunakan mobil itu.
“Kita ikuti mobil itu!” gumam Endra, sembari menyalakan mesin mobilnya.
Lima menit pertama Endra mampu mengikuti mobil Sabda. Namun sialnya, mereka kehilangan jejak, rambu lalu lintas yang menyala merah membuat jarak mobil keduanya semakin jauh.
"Itu artinya—kamu cuma mengarang cerita. Bisa jadi mobil Sabda dipakai mertuaku! Jadi stop ya, jangan ikut campur lagi masalah rumah tanggaku!" Salma berkata penuh kemenangan. Berbeda dengan Endra yang memilih bungkam, setelah lampu hijau menyala, dia fokus menekuri jalanan yang tadi dilewati mobil Sabda.
Sampai akhirnya, dia bisa melihat mobil Rush putih, milik Sabda terparkir di depan minimarket. Seakan menang telak, saat mendapati Sabda bersama perempuan lain sedang bergurau di depan pintu minimarket.
"Kamu lihat gadis itu! Dia calon istri Sabda. Lelaki pintar tidak akan memilih wanita yang lebih buruk dari mantan istrinya!"
Cukup lama pandangan Salma tertuju ke arah Sabda dan Hani. Perlahan dan pasi air matanya jatuh, meleleh turun membasahi pipi.
“Puas, kan? namanya Hani, seorang mahasiswi, anak juragan minyak, Sal! kalah jauh sama kamu. Kalian tidak memilihi hubungan apa-apa. Setelah lima tahun kalian bercerai ibunya menjodohkan Sabda dengan wanita itu.”
Dada Salma semakin sesak, mendengar dan melihat fakta yang terjadi di depan mata. Dia meraih ponselnya untuk menelepon Sabda.
__ADS_1