Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Keputusan


__ADS_3

Sabda memutar tubuhnya, menampilkan wajah penuh penyesalan di depan Hani. Bagaimanapun dia butuh waktu untuk mengejar Salma, menjelaskan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Dan situasi itu, memaksanya untuk meninggalkan Hani yang kini hendak pulang bersamanya.


“Sorry, apa kamu bisa naik taksi? Ow, atau aku carikan kamu taksi dulu!” Sabda sudah beranjak menuju tepi jalan, berniat mencarikan taksi untuk Hani.


“Biar aku cari sendiri saja!” kata Hani, saat Sabda tak kunjung menemukan taksi. "Udah pergi sana!"


Sabda memejamkan mata rapat, berusaha meredakan gemuruh yang seolah tak ingin berlalu di dadanya. Bukankah seharusnya dia tidak perlu sekacau ini? Seharusnya, dia benar-benar bisa melepas Salma—sama seperti hari itu, di mana pengadilan agama resmi memutuskan hubungan pernikahan mereka.


“Hani—maaf!”


“Udah santai aja! pergi sana!” usir Hani, mendorong tubuh Sabda ke arah mobilnya. “Enggak perlu sungkan, lagian kita kan memang nggak punya perasaan apapun.”


Sabda membenarkan ucapan Hani, selain karena paksaan dari dua wanita itu mereka hanyalah dua orang yang tidak saling mengemal. Sabda lekas melangkah menuju mobil lalu segera menancap gas, mengatur kemudinya mengejar mobil Endra.


Berulangkali Sabda menyalakan klakson, menyingkirkan pengendara lain yang berusaha memperlambat laju mobilnya. Pikirannya carut-marut, konsentrasinya pecah belah. Hatinya berusaha menerka, mengenai ucapan terakhir yang disampaikan Salma; kata bohong. Memang banyak kebohongan yang dia lakukan selama Salma amnesia. Jadi, kebohongan bagian mana yang Salma ketahui?


Saat tiba di depan rumah Salma, Sabda menggedor cukup keras rumah tersebut. Dia tahu Salma berada di dalam rumahnya. Jadi, sebisa mungkin Sabda memaksa Salma untuk membuka pintu.


Namun, tidak ada tanggapan apapun dari Salma. Wanita itu masih setia bergeming di dalam rumahnya. "Sal, buka pintunya!" Sabda seakan tidak peduli dengan keadaan rumah sekitar.


“Sal, aku bisa jelasin. Please, buka dulu pintunya!” teriak Sabda, tubuhnya kini sudah berada di depan jendela kamar Salma. "Salma .... beri aku waktu lima menit saja, Sal!" bujuk Sabda, wajahnya terlihat begitu frustasi, saat tak mendapatkan respon apapun dari Salma.

__ADS_1


Siapa juga yang tidak frustasi, tiket sudah dalam genggaman, jika malam ini masalahnya tidak selesai, besok dia tidak bisa lagi berhubungan dengan Salma. “Sal, lima menit—setelah itu terserah kamu. Kalau kamu merasa nggak lagi membutuhkan aku. Aku akan pergi menjauh darimu! Kalau perlu—dari kehidupan Ody juga!!” bujuk Sabda, yang tidak bisa berpikir jernih. Dan setelahnya Sabda menyesali kalimat yang baru saja diucapkan. Itu artinya, dia bukan hanya kehilangan Salma, tapi Aundy juga.


Dan sialnya, setelah itu Sabda melihat bayangan yang bergerak keluar kamar. Bukankah itu artinya Salma menginginkan dia pergi dari kehidupannya? Tapi apapun itu, Sabda harus berpegang teguh pada ucapannya, itu adalah konsekuensi atas keputusannya.


Sabda buru-buru melangkah menuju pintu utama. Perasaan lega langsung hinggap di hatinya saat melihat Salma berdiri di bibir pintu. Namun, sedetik kemudian aliran darahnya ikut berdesir menyaksikan pipi lembab milik Salma.


“Apa yang ingin kamu jelaskan?! Bukankah hubungan kita sudah jelas? Kita sudah bercerai. Mungkin aku belum mengingat momen itu, tapi aku akan meyakini kalau itu benar-benar kenyataan yang harus aku terima.”


“Sal, maaf aku—


“Hanya tidak ingin membuatku terluka?" sela Salma. "Tapi kenyataanya, kebohongan yang selama ini Mas Sabda lakuin semakin membuat Salma sakit hati.” Salma menarik napas dalam, kepalanya mendongak. Kembali mempertemukan pandangannya dengan Sabda. “Aku akan mengingat semuanya. Aku akan mengingat jika suamiku itu Endra bukan kamu. Endra yang mencintaiku, bukan kamu yang berselingkuh dariku. Pergilah! Terima kasih sudah ikut terlibat dalam kehidupanku.” Salma sudah hendak menutup pintu, tapi keburu di tahan oleh Sabda.


“Sal, tunggu!” pinta Sabda.


"Aku terpaksa. Aku ingin menolak permintaan pak Arif, tapi aku mau kamu baik-baik saja! Dan Endra —" Sabda sendiri bingung, mendadak lidahnya begitu sulit digerakan. Dia takut salah bicara dan membuat kondisi amnesia Salma semakin parah.


“Aku masih mencintaimu. Aku belum bisa ngelupain semuanya tentang kita.” Sabda sadar diri, dia harus berhati-hati dalam berbicara. Tapi, inilah yang dirasakan saat ini. “Tapi aku sadar diri—kalau kita memang tidak ditakdirkan menua sampai akhir. Entah denganku atau tidak, aku harap kehidupanmu akan bahagia.” Sabda mengalah, meski rasanya dua kali lebih berat dari kehilangan Salma pertama kalinya.


"Aku akan pergi! ya, aku akan benar-benar menjauh darimu." Hati Sabda begitu lembek saat dihadapkan dengan Salma. Kalau tidak ditahan, mungkin bisa saja dia menangis di depan Salma. Tapi, kali ini dia berupaya untuk tegar. “Aku pamit. Besok aku akan pergi bekerja.” Sabda berkata lirih, dan jelas. Kemudian menjauh dari pintu utama rumah Salma, membawa kepedihan hatinya menjauh dari hadapan Salma.


Baru saja beberapa langkah Sabda meninggalkan rumah itu, pertanyaan Salma kembali menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Apa wanita itu yang akan menikah denganmu!”


Sabda yang sudah berbalik menghadap Salma mendadak berat untuk menganggukan kepala. Hani bukan pilihannya, untuk ke depannya mana bisa dia mencintai Hani? “Pilihan ibu.” Sabda berusaha tersenyum ke arah Salma.


“Semoga kalian bahagia.” kalimat itu disusul dengan pintu utama yang ditutup rapat oleh Salma. Sabda tidak tahu apa yang terjadi di balik pintu tersebut, yang jelas dia tidak mengaminkan doa yang diucapkan Salma. Mana bisa dia bahagia, jika Salma tidak ada di sampingnya.


Kali ini Sabda pasrah, kembali melangkah menuju mobilnya. Ikhlas tidak ikhlas, rela tidak rela kenyataanya memang harus seperti ini. Sekalipun keduanya saling cinta, Sabda tidak bisa mendekap Salma menjadi miliknya.


Dengan berat hati, Sabda meninggalkan rumah sederhana itu. Kini semuanya sudah berakhir. Tidak ada kesempatan kedua untuk mengambil kembali hati Salma.


Semakin jauh dari rumah Salma, Sabda menambah laju kendaraan yang dikemudikan. “Haruskah memang seperti ini?!” gumam Sabda, masih merasa sakit yang luar biasa saat menyadari dia harus melepas Salma dari hidupnya.


Sabda memukul keras stir kemudi. Tidak peduli jika klason mobil ikut menyala kerasa. Dia meluapkan emosinya, dengan mengemudikan mobilnya ugal-ugalan. Tidak peduli dengan teriakan pengendara motor lain yang memintanya untuk berhati-hati.


Sampai beberapa menit berlalu, dering panggilan masuk mengganggu konsentrasi Sabda. Sambil mengangkat panggilan itu, Sabda menurunkan kecepatan mobilnya. Lalu mengangkat panggilan itu.


“Hallo, lagi di mana?” tanya pria di seberang panggilan.


“Lagi di jalan, mau pulang. Ada apa?” tanya Sabda, dengan nada malas.


“Mas tahu, aku punya berita yang mungkin tak pernah terpikirkan oleh Mas Sabda.”

__ADS_1


“Apa? Katakan! Aku harus menyelesaikannya sebelum kembali ke tambang.” Sabda setengah hati merespon ucapan pria di seberang sana.


Hening, Sabda menunggu pria itu mengatakan sesuatu. "Katakan, aku sudah lelah, Nji!" pintanya pada Panji.


__ADS_2