Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Menunggu Endra Sadar


__ADS_3

“Salma!” Sabda lekas berlari, kemudian menahan tubuh Salma supaya kepala wanita itu tidak membentur kursi. "Istirahatlah!" pintanya. Lalu menoleh ke arah Panji yang tengah berdebat dengan Bu Tantri.


“Kenapa kepalaku sakit sekali!” keluh Salma, pelan-pelan memijit pelipisnya.


“Aku kan sudah bilang, kamu tidak boleh stress berlebihan!” peringat Sabda dengan nada tinggi, bahkan suaranya beradu dengan tuntutan Panji terhadap Bu Tantri.


“Kita periksa dulu kondisimu, Sal!” bujuk Sabda.


Sayangnya, hanya dibalas gelengan kepala oleh Salma. Perempuan yang kini mengenakan kaus hitam tanpa gambar apapun itu menolak. “Aku akan baik-baik saja! aku hanya terusik dengan kehadiran perempuan itu!” dagu Salma menunjuk ke arah bu Tantri.


“Kamu ingat dia?” Sabda penasaran. Berharap ingatan Salma akan segera kembali.


Lagi-lagi Salma menggeleng.


Melihat jawaban itu, Sabda meminta Salma untuk minum. Dia mengangsurkan air mineral yang baru saja dibeli dari kantin rumah sakit.


Salma tidak menolak, dia lekas membuka dan meneguk air mineral tersebut. “Aku hanya mengingat dia pernah meminta uang padaku,” lirih Salma usai menutup kembali botol tersebut.


Sabda berusaha menerka, apa mungkin Bu Tantri menekan Salma dengan terus menerus meminta uang. Alhasil, wanita itu lebih dulu diingat Salma.


“Udah, sebaiknya kamu istirahat saja! Sudah ada bu Tantri yang menjaga Endra!” bujuk Sabda.


“Enggak bisa aku istrinya.” dengan sedikit tenaga tangan Salma menyingkirkan tubuh Sabda yang menutupi pandangan. Dia ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi antara panji dan bu Tantri. "Kamu saja pulang! ngapain kamu di sini?"

__ADS_1


"Aku mengkhawatirkan mu! semua orang sibuk mengurusi Endra, kalau bukan aku, siapa yang akan memperhatikanmu. Bahkan dirimu saja abai dengan kondisimu."


“Jelaskan! Atau aku akan melapor pada bapak!”


Teriakan Panji membuat Sabda menghentikan ucapannya. Sedangkan Salma sudah menunggu apa yang hendak dijelaskan Bu Tantri.


“Tutup mulutmu, bocah kecil! kamu tidak perlu ikut campur urusanku! Mengerti?” tolak Bu Tantri.


“Ow, jadi kalian benar-benar ingin menipu kami! Mas Endra mengaku lajang padahal sudah beristri?! Baiklah, tidak ada ampun bagi kalian, lebih baik aku masukin aja sekalian ke kantor polisi!” Panji mengancam, jemarinya sudah menari-nari di atas layar ponsel.


“ANAK BODOH! HENTIKAN!” bu Tantri murka. Matanya membulat sempurna. “Salah sendiri kakakmu tidak segera memberi keturunan, jadi ya—Endra cari perempuan subur!”


Perkataan itu tentu saja menusuk dada Salma, menembus organ paru-paru, mengusir stock udara yang tersedia di sana. Jadi ini masalahnya? Yang dipendam Endra dan keluarganya? Tiba-tiba Salma teringat akan ucapan dokter hari itu, kista yang bersarang di rahimnya, itulah penyebab dia sulit hami.


“Jangan mengada-ada, Bu! Saya tahu Mas Endra menjalin hubungan dengan wanita itu sudah lama.” Panji berusaha menyanggah ucapan bu Tantri dia tidak percaya, karena Endra sendiri menjalin hubungan dengan Arienta bahkan sebelum pria itu menikah dengan sang kakak.


“Kamu mau jawaban yang sebenarnya?!” Bu Tantri menantang. “Ya, benar! kami memanfaatkan pernikahan Salma dan Endra. Memangnya siapa yang mau menikah dengan kakakmu?!” ujarnya terdengar jumawa. “Kalau bukan hutang kami yang terlalu banyak pada orang tua kalian, kami berdua tidak akan sudi melepas Endra untuk Salma! Sebenarnya aku kasihan dengan Endra. Dia yang sudah memiliki kekasih harus kami tuntut menebus kesalahan yang sudah kami lakukan!”


Air mata Salma luruh mendengar kalimat itu. Dalam hatinya bertanya tanya; Seburuk itukah dirinya? sampai jodoh saja, dipilih asal-asalan oleh Bapak. Bahkan Endra sudah memiliki kekasih sebelum menikah dengannya. Kalau bukan asal, pasti bapak cari tahu dulu mengenai hal itu.


“Tapi terlepas itu, Endra juga bodoh! seharusnya Arienta tidak hamil dulu. Berulangkali aku meminta mereka untuk sabar. Tapi apa boleh buat semua sudah terlanjur terjadi! Arienta hamil, dan kami terpaksa menikahkan mereka.” Pandangan bu Tantri beralih pada Salma yang kini tengah menunduk dalam. “Dan kamu, sebaiknya segera ceraikan Endra! Biarkan Endra menikah resmi dengan Arienta. Selama ini, sudah cukup dia menderita dengan pura-pura mencintaimu!”


“Lalu, gimana hutang ibu dengan keluarga kami?” sela Panji, tak pernah terpikirkan sebelumnya, jika mereka lebih licik dari yang dia duga selama ini.

__ADS_1


“Hutang? Ayahmu hanya menuntut untuk menikahkan Salma dengan Endra. Bukankah sudah terwujud?” Bu Tantri tertawa remeh. "Bahkan tidak memberikan batasan waktu!"


“Ibu menganggap pernikahan itu permainan?!” protes Panji dengan suara gemetar, kesal dengan wanita yang kini ada di depannya. Apalagi menyadari sang kakak yang kembali disakiti rasanya tidak terima.


“Ya, atau Salma ingin dijadikan istri tua yang tidak bisa memiliki anak. Kami bisa saja mengatakan hal itu pada tetangga, jadi Salma resmi mengizinkan Endra untuk menikah lagi.”


“Stop!" potong Sabda saat melihat Panji hendak memberi balasan, dia tidak tega melihat Salma kebingungan dan hanya bisa menangis. "Entah apa yang akan terjadi ke depannya. Sebaiknya kita pikirkan kondisi Endra yang sedang kritis. Dan lagi, tidakkah kalian khawatir kalau Endra tidak selamat. Kondisinya sekarang kritis! tapi kalian justru ribut!” menatap lekat ke arah Bu Tantri.


“Aku hanya ingin Salma dan Endra bercerai!”


Salma tertawa gamang. “Bagaimana bisa kita bercerai, sedangkan suami saya saja terbaring lemah di ruang operasi.” Salma menelan air liurnya. “Jika itu kemauan ibu, saya bisa saja mengabulkannya. Tapi bagaimana dengan Mas Endra?” menatap pintu ruang operasi. “Apakah ibu tidak takut, waktu sudah merubah perasaan mas Endra pada Salma?”


“Salma.”


Salma menggeleng melarang Sabda untuk menyela. “Aku belum tahu pasti, seperti apa hubunganku dengan Mas Endra. Tapi yang kuketahui saat ini, apa yang dia lakukan selama aku sehat, itu palsu! Dia hanyalah boneka yang dimainkan orang tuanya.” Salma memejamkan mata, menghalau air mata yang menuntut untuk dikeluarkan.


“Aku siap bercerai, setelah Mas Endra sadar. Dengan syarat dia menyetujui perceraian kami!” Kemudian melirik ke arah panji. “Untuk sementara waktu, kita rahasiakan ini dari Bapak, Nji! Aku tidak ingin terjadi sesuatu dengan Bapak. Tenaganya terlalu sayang, untuk memikirkan masalahku!”


“Keluarga Endra!” panggilan itu membuat semua orang yang ada di sana mendekat pada sosok dokter yang baru saja keluar dari ruang operasi.


“Selamat ya, Bu. Bayinya sudah lahir, jenis kelaminnya laki-laki. Tapi, karena kelahiran premature, kita perlu melakukan perawatan khusus.”


“Lalu gimana kondisi ibunya?” tanya Salma.

__ADS_1


“Kondisi ibunya mulai stabil, kita tinggal menunggu pasien siuman.”


Salma bimbang, harus bahagia atau bersedih saat mendengar penjelasan dokter. Yang jelas terlalu menyakitkan mendapati wanita yang notabene selingkuhan suaminya, kini melahirkan anak dari hubungan gelap mereka.


__ADS_2