Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
TAMAT


__ADS_3

Sebenarnya untuk datang ke wilayah Kulonprogo lebih dekat menggunakan jalur bus. Akan tetapi, karena Astrid sedang berada di Yogyakarta. Salma diminta untuk turun di stasiun Tugu.


Menempuh perjalanan hampir empat jam, akhirnya—tepat pukul 11 malam kereta yang tumpangi Salma berhenti di stasiun tujuan.


Melihat Aundy terlelap, Salma tidak tega untuk membangunkan gadis kecil itu. Dia pun memutuskan memanggil jasa angkut untuk membawa barang-barangnya.


Salma mengeluarkan ponselnya dari saku jaket, berniat memberitahu Astrid jika dia sudah tiba.


"Astrid, kamu di mana?" tanya Salma, menyadari panggilan itu sudah terhubung.


"Aku di depan pintu kedatangan."


"Ow, okay, biar aku keluar dulu." Panggilan ditutup oleh Salma.


Setelah menemukan orang yang bersedia mengangkut barangnya, Salma berjalan lebih dulu, seraya menggendong tubuh Aundy. Menunjukan pada petugas di mana mereka harus membawa barangnya.


Berjalan sekitar lima puluh langkah, akhirnya Salma berhasil melewati pintu keluar. Dari kejauhan tampak sepasang pria dan wanita tengah menunggu kedatangannya.


Salma tersenyum cerah, saat Astrid menyadari kedatangannya. Mereka berdua berpelukan erat tanpa peduli masih ada tubuh Aundy yang menjadi penghalang.


Tanpa Astrid sadari, pelukan itu justru membuat Salma kembali menangis. Dia teringat dengan nasib pernikahan keduanya yang kembali gagal.


"Udah, udah! Nggak usah dipikirin lagi. Kamu tutup buku lama mu. Kita akan sambut masa depan baru." Pelukan itu berubah, Astrid beralih mengusap lembut pundak Salma. "aku janji akan membantumu membahagiakan Ody," imbuhnya. "Sini Ody-nya! kamu pasti lelah." Astrid mengambil Aundy dari gendongan Salma.


Melihat Aundy sudah nyaman di gendongan Astrid, Salma beralih menyapa suami dari sahabat kecilnya. "Mas Farhan, apa kabar?" Salma menyapa sosok pria yang kini menjadi suami Astrid.


"Alhamdulillah, sehat." Meski singkat pria itu menampilkan wajah ramah, begitulah sosok Farhan, dia golongan pria irit bicara, sebelas dua belas dengan Endra.


"Ayo, kita ke hotel dulu! Aku udah memesan kamar buat kamu dan anakku." Astrid menuntun Salma keluar menuju tempat parkir, mendatangi kamar hotel yang tidak jauh dari stasiun.


Salma dan Astrid kini duduk di belakang dengan Aundy berada dalam dekapan Astrid. Wanita itu terlihat begitu menyayangi Aundy, terpancar jelas, dari matanya Astrid mendambakan kehadiran buah hati.


"Kalau dipikir-pikir, Allah itu adil banget ya, Sal!" Gumam Astrid, sambil menyisir poni Aundy dengan jari. "Aku punya segalanya, materi, suami baik, bisnis juga jalan." Astrid tersenyum kecut. "Tapi Allah mengujiku dalam hal keturunan. Begitupun denganmu, kamu punya Ody yang menggemaskan, tapi kamu diuji dalam hal pasangan."


Salma menganggukan kepala. Dia bersandar di lengan Astrid, seakan sedang beristirahat dari kelelahan dunia. "Untung aku ketemu sama kamu. Punya teman sebaik kamu. Aku nggak tahu apa jadinya Ody kalau tidak ada kamu yang membantuku."


"Lebay ih! Aku kan mempekerjakan mu! Emang gratis? enggak lah, aku jemput kamu malam-malam begini, harus ada timbal baliknya!" Astrid mengakhiri dengan tawa. Sengaja menggoda Salma supaya tidak kembali ingat dengan masa lalunya. "Ini Ody, aku bangunin boleh enggak sih? Gemes banget sama poni nya!"


"Jangan, aku mau istirahat, capek!" rengek Salma, seakan sedang mengeluh pada Bu Deva.


"Ya sudah istirahat aja. Biar Ody tidur sama kita!"


"Nanti ganggu!" Cibir Salma.


"Udah bosen, Sal!" Balas Astrid. "tiap hari pelukan mulu sama mas Farhan!"


Salma pasrah membiarkan Astrid membawa Aundy masuk ke kamarnya. Setelah tiba di hotel, Salma langsung diminta masuk kamar untuk beristirahat.


Di dalam kamar, Salma justru menghampiri jendela kamarnya. Mengamati gemerlap lampu kota di luar sana. Salma termangu memikirkan kejutan apalagi yang akan dilewatinya nanti.


Setelah merasa bosan, Salma berjalan mengambil ponselnya. Jemarinya mematikan ponsel itu. Pergi meninggalkan Semarang berarti juga siap memutus hubungan dengan siapapun yang ada di sana kecuali keluarganya. Percuma kalau dia masih berhubungan dengan Sabda, bisa saja kan pria itu berusaha melacak keberadaanya.


Salma menyimpan ponselnya ke tempat aman yang tidak bisa ditemukan oleh Aundy. Air mata Salma menetes deras, dia meratapi nasib Aundy yang kini tumbuh tanpa cinta dari ayah kandungnya.


"Maaf ya, Ody. Bunda terpaksa melakukan ini. Maaf kalau bunda jahat sudah memisahkan mu sama ayah Sabda. Suatu hari nanti, kalau kamu sudah tumbuh dewasa dan mengerti—kamu bisa mencarinya. Kamu berhak memilih dengan siapa kamu akan tinggal. Bunda nggak mau keberadaan kita menjadi penghalang kebahagian ayahmu. Maafin bunda, Ody!" Salma menutup kotak itu, lalu menguncinya rapat.


Masalah ponsel kini sudah selesai, sepertinya besok dia akan meminta bantuan Astrid untuk menemaninya membeli ponsel baru.


...****************...


Matahari yang bersinar berhasil mengusik ketenangan tidur Salma. Dia berusaha membuka mata saat teringat akan Aundy yang tidak tidur bersamanya. Dia segera beranjak, membersihkan diri lalu menyusul ke kamar Astrid.


Tiga puluh menit berlalu, Salma sudah rapi dengan pakaian bersih. Dia sudah berdiri di depan kamar Astrid, menunggu penghuni kamar hotel itu membukakan pintu.

__ADS_1


"Ody, mana?" tanya Salma setelah melihat Astrid berdiri di balik pintu.


"Lagi berenang sama suamiku."


"Ngrepotin nggak?" tanya Salma, memastikan kalau Aundy tidak banyak tingkah.


"Santai aja, Sal! Udah kamu senengin diri dulu aja. Nanti kalau aku udah puas ketemu Ody, aku kembalikan sama kamu." Astrid berusaha menenangkan, dia tidak ingin Salma membuat batasan terlalu tinggi padanya.


"Kalau begitu—aku tinggal nyari ponsel ya. Aku butuh nomor dan ponsel baru."


"Enggak nunggu aku? aku bisa menemanimu?"


"Enggaklah. Aku bisa sendiri." Salma sungkan, khawatir akan merepotkan Astrid.


"Ah, iya. Lagian nanti sore kita juga sudah harus balik. Ya, sudah kamu pergi sana!" usir Astrid.


Mendengar itu Salma segera berlalu. Sebelum pergi ke counter hp, Salma berusaha mencari rumah rumah makan. Sejak kemarin perutnya belum terisi apapun. Dia baru merasakan lapar setelah tadi membuka mata.


Salma berusaha menikmati waktunya dengan menelusuri sepanjang jalan Malioboro. Suasana di sana masih tampak sepi, pedagang yang berjualan juga terlihat masih sedikit. Atau mungkin karena Salma datang terlalu pagi. Jadi belum begitu banyak yang membuka outletnya.


Pukul sepuluh pagi Salma sudah mendapatkan ponsel dan nomor baru. Nomor yang akan digunakan hanya untuk menghubungi keluarganya, memberi kabar apapun mengenai dia dan Aundy.


Setelah barang itu berada di tangan, Salma memutuskan untuk kembali ke hotel. Kali ini Salma kembali dengan ojek. Kakinya lelah jika harus kembali berjalan menelusuri jalanan Malioboro.


"Bunda!" Seruan itu membuat Salma menghentikan langkahnya. Saat dia menoleh Aundy sudah rapi dengan pakaian bagus yang membalut tubuhnya.


"Kalian dari mana?" tanya Salma yang begitu penasaran.


"Jalan-jalan dong!" Astrid menjawab tegas, sambil menggandeng tangan Aundy.


Salma menggelengkan kepala saat melihat sikap Astrid dan putrinya. "Ody, siapa ibumu?" tanya Salma.


"Bunda, dong!"


"Bukan cuma mama Astrid, tapi papa Farhan juga! baju kita sama, Bunda," balas Aundy.


Salma menggelengkan kepala melihat jawaban Aundy, dan benar saja saat melihat Farhan yang baru saja bergabung, baju mereka bertiga terlihat sama. Selama tujuh tahun, kenapa dia tidak memikirkan hal gila seperti ini? Gumam Salma.


"Udah yuk makan siang!" Ajak Farhan, yang bingung dengan tatapan Salma.


"Kalian duluan saja, aku masih ada urusan!" Salma menolak, sungkan kalau harus merepotkan mereka berdua.


"Eh, enggak bisa. Kita makan siang bareng, Sal! tadi pagi, kamu sudah enggak sarapan sama kita, sekarang enggak boleh lagi."


Salma hanya bisa pasrah saat tangannya ditarik kasar oleh Astrid. Mau tidak mau, dia harus mengikuti langkah Astrid, kemanapun mereka akan membawanya pergi.


Kini mereka sudah duduk di meja makan, menunggu pesanan makanan datang. Di tengah-tengah mereka menunggu, Aundy mendekat ke arah Salma.


"Bunda, aku pinjam ponsel bunda dong! Aku mau kasih tahu ke ayah kalau liburan Ody benar-benar seru," punda Aundy dengan tangan menengadah.


Salma memasang wajah muram, lalu memberikan ponsel barunya pada Aundy. Dia sudah mempersiapkan diri jika ini akan terjadi, dugaanya pun benar. Bahkan, sebelum waktunya lebih dari 24 jam.


"Bunda beli ponsel baru?" Gadis itu bersorak girang.


"Iya, soalnya—handphone yang biasa bunda pakai, dicopet sama penjahat waktu perjalanan naik kereta, semalam. Jadi, bunda terpaksa membeli baru." Salma menjelaskan. Dia terpaksa membohongi Aundy, supaya ke depannya tidak akan bertanya mengenai ayahnya.


"Yaaaahh, berarti Ody enggak bisa telepon ayah Sabda, bunda?"


Salma menggeleng pelan. "Maaf, ya. Nanti bunda ingat -ingat lagi nomor ponsel ayah Sabda. Soalnya bunda menyimpan nomor ayah Sabda di ponsel itu. Bunda juga baru pulih dari kecelakaan jadi nggak begitu ingat."


Wajah Aundy terlihat begitu sedih. Dalam hati Salma terus menerus mengucapkan permohonan maaf. Beruntungnya, ada Astrid yang bisa menenangkan Aundy.


Salma membiarkan mereka memanjakan putrinya sebelum harus kembali berpisah karena Astrid hendak tinggal di Malang. Karena itulah Astrid mempercayakan kedai kopinya padanya.

__ADS_1


Makanan sudah tersaji di atas meja, Astrid begitu telaten menyuapi Aundy. Bahkan, memintanya untuk segera makan, biar tubuhnya nggak sekurus ini.


Sore hari, mereka melakukan perjalanan ke wilayah Kulonprogo. Mereka tiba di rumah Astrid sekitar pukul delapan malam, karena sempat mampir ke tempat makan untuk menikmati jamuan malam.


Dan sekarang Salma bisa leluasa menikmati hamparan pasir putih dari balik jendela kamar. Deburan ombak yang bergulung menyapa pendengaran. Salma merasa di sini adalah tempat paling pas untuk menghabiskan hari-harinya.


Karena Astrid dan Farhan besok sudah harus berangkat ke kota Malang, malam ini Salma dilarang untuk tidur, dia menerima arahan dari Astrid untuk mengelola kedai kopi miliknya. Dia hanya perlu memantau kinerja tiga karyawan yang bekerja di Kedai.


"Pokoknya kamu harus berlagak seperti kamu itu yang memiliki kedai itu. Karena jika tidak mereka akan seenaknya sama kamu."


Salma mengangguk, paham.


"Akan ada tiga karyawan, namanya Aruni sama Biyan, di depan. Dan yang satu di bagian belakang namanya Stefani. Dan lagi kopi akan datang setiap Sabtu dan Rabu sore. Gula setiap Jumat pagi. Kamu kontrol terus pokoknya, jangan sampai kurang, dan lihat, mereka tidak boleh curang masalah takaran, sekali saja beda rasa pelanggan akan pergi! ini yang perlu kamu perhatikan baik-baik, Sal."


Salma kembali menganggukan kepala. Netranya tertuju pada kedai kopi di dalam sana. Tidak begitu menarik, tapi biasanya orang yang datang betah duduk di sana karena disuguhkan dengan pemandangan alam yang menakjubkan.


"Jika aku bosan, apa aku boleh menambahkan menu?" tanya Salma, ragu-ragu. Yang langsung dihadiahi pukulan di lengannya oleh Astrid.


"Kan, aku udah bilang, kamu anggap saja itu milikmu. Tapi setiap bulan kamu harus setor sama aku 30 juta. Sebagai uang bagi hasil."


Salma terkejut, dalam hatinya berpikir apa itu mungkin untuk kedai kopi yang dimiliki Astrid. Tiga puluh juta bukan uang yang sedikit dan harus dihasilkan dalam kurun waktu satu bulan! "Kalau aku nggak target apa aku akan dipecat?" kalau sampai dipecat dia bingung harus tinggal di mana lagi.


"Kalau nggak target aku pindahin sekolah Ody ke Malang!" ancam Astrid.


Aundy adalah harta Salma yang tak ternilai dengan apapun. Meski tahu Astrid tidak serius dengan ucapannya, tapi dia ingin menjadikan itu sebagai penyemangat nya dalam bekerja. Salma ingin bekerja keras memenuhi target yang sudah menjadi standarisasi Astrid. "Cukup menantang!" gumam Salma, sambil tersenyum penuh arti.


Melihat Astrid beranjak dari kursi, Salma menatap wanita itu heran. "Sorry ya, sepertinya aku harus kembali tidur dengan Ody."


"Ya, terserah!" Salma membalas malas, dia memilih mempelajari apapun yang sudah ditulis di buku itu. Ini memang tidak mudah dan hal baru untuknya. Dia pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah diberikan Astrid kepadanya.


Salma yang kelelahan justru ketiduran di ruang televisi. Dia sampai tidak menyadari seseorang telah menutupi tubuhnya dengan selimut tebal. Dia terbangun saat Aundy membangunkannya.


"Bunda! bangun, dong!" Aundy terlihat mengguncang tubuh Salma.


"Apaan sih, Ody?"


"Bunda— Ody mau telepon Ayah. Ody kangen sama Ayah Sabda."


Salma berusaha memeluk tubuh Aundy, mencoba menenangkan putrinya. "Nanti bunda usahain ya, secepatnya bunda akan dapatin nomor Ayah."


Rengekan Aundy membuat Salma tidak tega. Tapi dia harus bertahan.


Astrid yang melihat itu merasa tidak tega. Dia mendekati mereka berdua. "Gimana kalau Ody ikut mama sama papa ke Malang? Kan, Ody masih liburan nih. Nanti kalau sudah hari masuk mama anterin, deh!"


"Nggak perlu, nanti merepotkan kalian. Udah biarkan dia di sini."


"Bunda kamu perhitungan banget Ody!" cibir Astrid.


"Boleh ya, Bunda?" rengek Aundy. Salma tak bisa berbuat apapun karena Aundy begitu memaksa untuk ikut. "Beri nomor bunda yang baru. Biarkan setiap hari Ody telepon Bunda."


Astrid yang mendengar itu hanya tersenyum penuh kemenangan. "Kamu juga bisa mempelajari seputar kedai dulu, Sal!"


Salma pun terpaksa mengizinkan Aundy pergi. Membiarkan mereka membawa Aundy. Pukul sepuluh pagi mereka berangkat menuju bandara. Dengan berat hati Salma melepas kepergian Aundy dengan mama papanya. Selain kesedihan karena harus berpisah, tidak ada firasat apapun yang dirasakan Salma pagi ini.


Salma langsung masuk kedai usai mereka pergi, mencoba mengenali dunia barunya. Tepat pukul sebelas siang, tampak mobil polisi mendatangi kedai tersebut.


Salma mengira mereka hendak menikmati kopi di sana. Akan tetapi, bukan itu niat mereka. Polisi itu datang dengan tujuan lain.


Gelas yang baru saja diambil Salma terjatuh, saat mendengar kabar jika mobil yang dikemudikan Farhan mengalami kecelakaan tunggal. Dadanya bergemuruh hebat, mengingat momen perpisahan dengan putrinya.


"Ody?!" Salma terisak, kakinya mendadak kehilangan kekuatan, setelah itu dunianya terasa gelap dia pingsan usai mendengar penjelasan dari polisi mengenai kondisi putrinya.


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2