
"Ayah, apa itu istri ayah Endra. Kenapa dia punya istri lagi?" Aundy bertanya dengan suara parau. Gadis itu tampak terluka melihat Endra datang dengan perempuan lain.
Sabda langsung menutup mata Aundy dengan telapak tangannya. Dia langsung menggendong Aundy menjauh dari tempat resepsi itu. Dalam hati Sabda terus merutuki sikap Endra saat ini.
Tidakkah pria itu menyadari, jika saat ini Salma tengah sibuk menanti kabar darinya. Bahkan, perasaan Salma cemas meskipun ada di sampingnya.
Setelah situasi cukup aman, Sabda menurunkan Aundy dari gendongan. Pria itu berjongkok, sengaja mensejajarkan tubuhnya dengan Aundy.
"Ody, kamu tadi salah lihat itu bukan ayah Endra." Sabda berusaha merecoki Aundy dengan skenario lain, setidaknya anak itu tidak akan menceritakan kejadian malam ini kepada Salma.
"Ayah, bunda selalu kasih aku jus wortel. Mata Ody masih jernih, Ody bisa melihat itu ayah Endra!" Bantah Aundy. "Bohong itu dosa ayah, bunda sering melarang Ody berbohong! Tapi kenapa sekarang jadi ayah yang ngajari Ody bohong?!" Mata Aundy menatap Sabda penuh amarah, kini tangannya sudah di depan dada. Sama dengan sikap Salma ketika sedang menasehatinya.
Sabda bingung harus memberi alasan apalagi. "Maaf ..." Ucap Sabda. "Tapi, Ody, apa kamu mau janji sama ayah?" Tawar Sabda.
"Janji apa?"
Kedua tangan Sabda memegang pundak Aundy, keduanya saling melempar pandang. "Em, Ody ... Apa keinginan Ody yang belum ayah penuhi."
Gadis itu berpikir sejenak, bola matanya berputar-putar, seakan sedang memperhitungkan keuntungan untuk dirinya sendiri. "Jalan-jalan ke Bali, kita lihat pantai, lihat bule pakai biki-ni."
Sabda membuang napas kasar atas sikap polos yang ditunjukan Aundy. Apaan sih? Kenapa ada biki-ni segala?! Pikir Sabda. "Okay, ayah bakal nurutin itu."
"Horeee ... Jadi apa yang harus Ody lakuin?!" Aundy paham tidak ada hadiah jika dia tidak melakukan hal baik. Sabda selalu melakukan itu, dan biasa menyebutnya reward.
"Em, janji sama ayah apa yang Ody lihat malam ini, jangan bilang ke bunda." Sabda menjelaskan pelan-pelan, supaya Aundy segera paham.
"Kenapa?" Tanya Aundy penasaran.
"Katanya mau jalan-jalan ke Bali? Ini masalah orang dewasa Ody. Ayah jelasin pun kamu belum tentu paham. Jadi, lebih baik kamu diam ya, Sayang."
__ADS_1
"Apa Ody sebodoh itu? masa iya sudah dijelasin tapi Ody nggak akan paham?"
"Eh, tidak. Kamu pintar, hanya saja untuk sikap ayah Endra malam ini jangan sampai bunda Salma tahu. Kamu mau janji sama ayah?"
"Apa itu benar istrinya ayah Endra?" Tanya Aundy, sepertinya rasa ingin tahunya belum terjawab, dia terus bertanya mengenai apa yang terjadi dengan ayah sambungnya itu.
"Itu hanya teman. Belum tentu yang gandengan dan kaya gitu itu pasangan Ody. Ayah Endra udah punya bunda Salma jadi tidak akan mungkin menikahi wanita lain. Paham, Sayang?"
Aundy menganggukan kepala ragu-ragu. "Terus, kenapa bunda nggak boleh tahu? Ayah Endra kan pulang, terus kenapa dia nggak menemui bunda dan Ody? Apa dia enggak kangen kita?"
Sabda hampir kehilangan kalimatnya untuk menjawab pertanyaan Aundy. "Mungkin ayah Endra sedang banyak tugas. Jadi, dia belum sempat menemui ayah Endra. Ody nggak mau bunda Salma sedih, kan? Kalau bunda Salma kejadian malam ini, pasti akan sedih. Ody mau Bunda Salma menangis?"
Aundy menggeleng lagi. "Jangan ayah, Ody sayang bunda."
"Jadi Ody, anggap saja kamu tidak tahu apapun hari ini. Okay?"
"Gimana kalau Ody bilangnya besok besok saja."
Aundy mengangguk yakin. "Apa itu namanya selingkuh, Ayah? Selingkuh itu kaya gitu ya? Ayah dulu juga gituin bunda kan, makanya kalian berpisah dan bunda bersedih? Ow, jadi kalau bunda tahu, dia bisa pisah sama ayah Endra, kaya bunda sama ayah Sabda?"
Sabda memejamkan mata, perih juga rasanya meski ucapan itu keluar dari bibir Aundy. "Kita pulang, ya!" Ajaknya seraya menggandeng tangan Aundy, menuntun gadis itu menuju area parkir mobilnya.
"Ayah sop aku belum habis." Aundy masih berdiri di tempat, berniat ingin kembali dan menghabiskan sajian yang tadi disiapkan.
"Besok kita beli di luar."
"Tapi nanti nggak ada makaroninya?"
"Em, ayah cari yang ada."
__ADS_1
Sabda langsung membawa Aundy pergi menjauh dari Endra, bahkan dia lupa belum berpamitan dengan bu Sum. Sebelum benar-benar pergi, Sabda memastikan lagi, jika Salma tidak melihat kejadian malam ini. Sabda mencoba bertanya melalui pesan singkat.
Sabda : Sudah sampai, Sal?
Baru saja menutup pintu mobil, terdengar dering panggilan dari ponsel Sabda, senyum terbit di bibirnya.
"Hallo, sudah sampai kan Sal?" Sapa Sabda, terlebih dahulu.
"Ya. Mohon maaf, Mas. Saya menelpon Anda, apa mas keluarga dari pasien?'
Pikiran Sabda langsung blank. "Pasien? Maksudnya apa." Sabda terlihat bingung, sampai beberapa detik berlalu dia baru menyadari satu hal. "Apa mobil travelnya kecelakaan?" Sabda baru ingat jika sore tadi hujan lebat mengguyur wilayah Dieng, dengan begitu mengakibatkan jalanan licin.
"Iya, Mas. Segera ke rumah sakit Suwiryo ya!"
Tanpa pikir panjang lagi, Sabda lekas melajukan mobilnya menuju villa, dia hendak mengambil barang-barangnya sekalian, sebelum melihat kondisi Salma saat ini.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit Suwiryo, gadis itu sibuk bernyanyi. Berbeda dengan Sabda yang sejak awal perjalanan hingga tiba di rumah sakit jantungnya seperti ditabuh begitu cepat. Dia sengaja tidak memberitahu Aundy, khawatir gadis kecilnya ikut panik mencemaskan kondisi Salma.
Tiga puluh menit berlalu, Sabda dan Aundy sudah tiba di rumah sakit. Sabda menuntun Aundy masuk, bahkan melawan security saat mereka melarangnya membawanya Aundy.
"Di mana bisa melihat pasien yang kecelakaan itu, Mbak?" tanya Sabda.
"Atas nama siapa, Pak?" perawat itu balik bertanya.
"Ayah, kok kita ke rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?" Aundy menyela, suasana rumah sakit sudah sepi jadi dia sedikit takut.
"Iya, Sayang ... mobil yang tadi dinaiki bunda mengalami kecelakaan. Kita mau lihat kondisi bunda dulu."
Sabda beralih ke arah perawat. "Amora, Salmadani." Sabda menyebutkan nama lengkap Salma, memberitahu petugas.
__ADS_1
"Jadi begini, Pak! Mobil elf yang ditumpangi Bu Amora mengalami kecelakaan dan masuk jurang. Lima orang meninggal di tempat dan tiga orang belum diindentifikasi masih kritis dan dibawa ke ICU Yang dua sudah ketemu keluarganya. Ada juga korban Lula ringan dua. Ponsel ini ditemukan di TKP jadi kita tidak tahu benar ponsel ini milik pasien mana." perawat itu menjelaskan panjang lebar yang semakin membuat Sabda ketakutan akan berita buruk yang hendak diterima.
"Lalu, Bunda saya di mana, Sus?" tanya Aundy. Sepertinya dia juga kesal karena wanita itu terlihat banyak bicara.