
Aundy begitu bahagia saat mendengar kabar jika Salma hendak membawanya liburan ke rumah tante Astrid. Apalagi saat Salma memberitahu jika mereka akan pergi menggunakan kereta, dia sudah tidak sabar menanti kepulangan sang bunda, yang katanya sedang ada urusan penting mengenai tiket kereta.
“Bunda ke mana sih, Uti? Kok nggak pulang-pulang! Ody udah nggak sabar pengen naik kereta.”
Naik kereta adalah hal baru untuk Aundy. Jadi wajar saja jika gadis itu tak sabar untuk lekas pergi.
“Baru beli tiket, kan harus antre dulu.” Bu Deva yang pulang lebih dulu dari Salma menjawab singkat. "Bobo siang dulu aja, supaya nanti tidak ngantuk!" bujuk Bu Deva, yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Aundy.
Dengan wajah cemberut, Aundy menunggu kepulangan Salma di teras rumah. Bu Deva yang melihat tingkah Aundy seakan diingatkan oleh tingkah Salma di masa lalunya.
Bu Deva melangkah memasuki rumah, mengambilkan makan siang untuk Aundy. Sambil menunggu Salma, Bu Deva sengaja menyuapi Aundy. Beruntungnya, gadis itu diam dan menurut berbeda dengan Salma dulu yang terus lari-lari sembari menunggu kepulangan suaminya.
“Ody, di sana nanti nggak boleh bandel, harus nurut sama bunda, enggak boleh minta pulang terus!” pesan Bu Deva setelah berhasil memasukan nasi ke bibir mungil Aundy.
“Emang kenapa, Uti? Enam Minggu lagi kan ayah pulang. Nanti kalau ayah pulang, dia mau ngajakin Ody jalan-jalan ke Bali. Jadi nggak papa, kan kalau Ody mau cepat-cepat pulang.” Aundy menjawab setelah makanan di mulutnya sudah berhasil pindah ke perut.
Bu Deva menghela napas kasar. “Pokoknya di sana nanti Ody harus nurut sama Bunda. Kan kasihan bunda kalau punya anak suka bantah.” Bu Deva sendiri merasa keberatan melihat mereka akan pergi. Tapi demi kebaikan Salma dia berusaha merestui kepergian putri dan cucunya.
“Jangan lupa, sering-sering menelpon Uti.”
“Iya dong! Nanti kalau Uti sakit karena kangen Ody, kasihan akung siapa yang ngerawat,” balas Aundy. Sampai detik ini Aundy belum tahu kalau kepergiannya untuk pergi selamanya dari kota Semarang.
Aundy langsung beranjak dari kursi saat melihat mobil warna putih khas mobil taksi berhenti di depan rumah. Dia menyambut kedatangan Salma dengan wajah sumringah.
“Bunda, bunda—ayo aku udah siap pergi!” kata Aundy, seraya memeluk pinggang Salma. Sampai di dalam rumah dia menunjukan koper kecil yang berisi pakaiannya.
“Bagus!” Salma memberinya pujian. “Bunda mandi dulu ya. Ody minta om Panji buat nganterin kita.”
“Hm." Gadis itu berlari mencari keberadaan Panji yang sedang sibuk di bengkel bersama pak Arif.
Jadwal kereta yang akan ditumpangi Salma akan berangkat pukul tujuh malam. Waktu masih terlalu panjang kalau harus berangkat sekarang.
Salma pun memilih merebahkan tubuhnya di ranjang, mengisi energinya sejenak sebelum nanti berpisah dengan kedua orang tuanya. Sembari menunggu waktu. Untuk terakhir kalinya dia membuka status Sabda.
Status pria itu dibuat pukul tiga dini hari tadi, sebuah gambar tentang cuaca sekitar tambang usai diguyur hujan. Masih banyak genangan air, hingga terlihat beberapa alat berat berhenti beroperasi. Caption Sabda begitu menggelitik hati Salma; Tetap semangat H-42 menjemput jodoh.
Meski tangannya gatal ingin berkomentar tapi Salma mengurungkan niatnya itu. "Yang mau nikah sama Hani, gini amat! perasaan dulu nggak seheboh ini!" akhirnya Salma mengetikan pesan.
__ADS_1
Salma : Semoga sakinah, mawadah warohmah aamiin.
Tidak ada respon apapun dari Sabda, Salma pun menghapus kembali pesan yang belum sempat dibaca oleh Sabda. "Doa nggak perlu diketik, kan? cukup diucapkan saja saat sujud." katanya berusaha menguatkan niat.
Selama ini Salma berupaya senatural mungkin, supaya Sabda tidak mencurigai kepergiannya. Jemarinya tetap membalas dengan ramah, ketika Sabda mengirimkan pesan padanya.
Pelan-pelan, Salma mulai meninggalkan kesadaran. Dia terbangun ketika Aundy masuk ke dalam kamar, protes karena mobil dan Panji sudah siap.
Kepala Salma justru nyut-nyutan saat Aundy berteriak membangunkannya. "Iya, nanti dulu Ody! bunda nggak mau menunggunya kelamaan!" balas Salma. "Sini, kamu telepon ayah dulu!" Salma memberi waktu supaya Aundy menelpon Sabda untuk yang terakhir kali.
“Ayah masuk malam kan bunda? Pasti masih bobo.” Aundy menolak. Di pikirannya sudah terbayang serunya naik kereta.
“Kita coba ya!” Melihat Aundy mengangguk Salma lekas menghubungi nomor Sabda. Cukup lama menunggu Sabda menjawab panggilan itu. Khawatir menganggu waktu istirahat, Salma pun mengurungkan niatnya untuk menelepon Sabda.
Saat Salma hendak beranjak dari ranjang. Kini giliran Sabda yang menghubunginya.
“Kenapa, Sal?” tanya Sabda.
“Bangun tidur?” balas Salma.
“Hm.”
“Pamit? Emang mau ke mana?” tanya Sabda, penasaran.
“Ini, kan musim liburan. Jadi, ya—kita mau jalan-jalan berdua.” Salma menjawab, sesuai dengan apa yang dijelaskan pada Aundy.
“Berdua saja?”
“Iya.”
“Ke mana? Nggak mau liburan ke sini aja?” goda Sabda di akhiri tawa kecil.
“Enggak! Nih, ngomong aja sama Ody.”
“Sal, tunggu dulu! aku kirim uang lagi ya, biar puas kalau mau beli ini itu. Ody pasti jajannya juga nekat banget di tempat wisata.”
“Nggak perlu!” cegah Salma cepat, dia khawatir Sabda menyadari jika dia sudah memblokir nomor rekeningnya. "Uang Ody masih banyak kok!"
__ADS_1
“Ya sudah. Hati-hati ya, jaga Ody kita.”
“Ya.” Salma kemudian menyerahkan ponselnya pada Aundy.
“Ayah, aku mau liburan sama Bunda.” Aundy memberitahu Sabda, suaranya terdengar penuh semangat.
“Liburan ke mana?”
“Ke rumah tante Astrid, dia bilang banyak pantai indah di sana. Tapi, nanti kita harus tetap liburan ya, yah!”
“Siap, tuan putri.” Sabda sendiri tidak tahu siapa itu Astrid. Jadi, dia hanya bisa menyetujui saja. “Ody!”
“Ya, Ayah”
“Hati-hati ya! jagain bunda,” kata Sabda.
Aundy terkekeh. “Kebalik ayah, harusnya bunda yang jagain Ody.”
Salma pun membiarkan keduanya menghabiskan waktu. Dia tetap membiarkan Aundy bercerita pada Sabda, selama obrolan mereka masih dalam situasi aman.
Hingga panggilan itu terpaksa terputus karena Sabda pamit hendak mandi, ingin bersiap untuk berangkat bekerja.
Sabda : Tadi ngirim pesan apa, Sal?
Salma tidak membalas pesan Sabda, dia memilih mandi, demi melegakan Aundy. Salma berusaha mengulur-ulur waktunya, dia tidak ingin menunggu terlalu lama di stasiun.
Sampai waktu magrib tiba, Panji mulai memasukan dua koper mereka berdua. Setelah salat maghrib Salma pergi ke stasiun diantarkan keluarganya. Banyak pesan yang disampaikan pak Arif untuk Salma dan Aundy. Tangis haru pun mewarnai perpisahan mereka.
“Uti, sama Akung ini, kaya nggak bisa telepon Ody. Padahal kan kita juga pergi untuk beberapa hari saja.” Aundy protes melihat kakek neneknya berpelukan dengan sang Bunda.
“Iya-iya. Maaf!”
“Salma, kabari ibu mengenai kondisi di sana, nanti kalau semuanya sudah kondusif insya Allah kita yang bakal datang.”
Salma menganggukan kepala, lalu membawa Aundy masuk ke dalam gerbong usai mendengar panggilan penumpang.
Malam itu 17 Juli 2017 Salma membawa Aundy meninggalkan kota Semarang. Berniat untuk tinggal di wilayah pinggir pantai yang ada di sekitar Kulonprogo. Berharap di tempat baru, Salma akan menemukan pengalaman hidup yang jauh lebih menyenangkan ketimbang kenangan masa lalunya.
__ADS_1
"Selamat tinggal kota Semarang. Doakan aku jadi wanita lebih kuat lagi," gumam Salma seraya melambaikan tangan ke arah keluarganya.
"Dah Uti, Akung, om Panji!" teriak Aundy, lantang. Tanpa peduli mereka mendengar teriakannya atau tidak.