
Dua bulan berlalu, Sabda masih belum menemukan titik terang mengenai keberadaan Salma dan Aundy. Dan lebih menyedihkannya lagi, dia terpaksa berada di jobsite untuk mengikuti prosesi kenaikan jabatan.
Meski tidak berniat sedikitpun jadi mandor, tapi Sabda juga tidak ingin dipindahkan ke lokasi lain dan berpisah dengan teman sekamarnya. Selain itu, dari tahun angkatannya dia lah yang pantas mendapat gelar karyawan terbaik.
Akibatnya, seluruh rencana yang disusun Sabda buyar. Hari yang hendak digunakan untuk mengambil hati pak Arif—justru sekarang dia masih mengikuti ujian tertulis.
Satu bulan yang lalu, Rendi memberitahu Sabda, menjelaskan jika Regina pernah bertemu Salma saat wanita itu menutup buku tabungannya. Saat itu, Sabda ingin langsung terbang ke Semarang, tapi dilarang oleh Rendi, percuma karena Salma juga sudah tidak ada di rumah.
Mengetahui hal itu, semangat kerja Sabda pun sirna, kenyataan semakin jelas jika dia tidak bisa lagi menghubungi Salma dan Aundy.
Sekarang, hari-hari berat itu berhasil dilewati Sabda. Siang ini, dia sudah dalam perjalanan menuju kota Semarang. Dia sudah mengambil cuti lebih untuk mencari keberadaan Salma.
“Mas Sabda!” seru Hani.
Sabda memang meminta wanita itu untuk mengantarnya. Dan sekarang, bocah ingusan itu sudah berdiri di depannya.
“Mas—tempat ku sudah rame-rame, udah bikin jadah sama wajik buat menyambut mas Sabda ke rumah nanti malam,” selorohnya saat melihat sikap Sabda begitu dingin.
“Kamu sudah bilang sama orang tuamu?”
“Belum, aku enggak berani!” Hani merangkul lengan Sabda. "Bantuin ngomong!"
Sabda memejamkan mata, lalu membawa Hani keluar dari area bandara. “terus pacarmu mana?”
“Nanti malam, nanti dia mau datang!”
Sabda kesal, karena Hani berbuat bodoh untuk kehidupannya sendiri. “Kan aku sudah bilang, pakai pengaman, kalau begini kan yang repot siapa?”
“Kan demi kita nggak jadi nikah!” balas Hani tanpa dosa. Sepertinya, dia tidak menyadari kalau perbuatannya itu salah besar.
“Naudzubillah min dzalik, gila banget kelakuanmu! Kasihan anak mu harus nanggung dosa orang tuanya!” Sabda geleng-geleng kepala atas tindakan Hani, dulu dia memang meminta wanita itu untuk mencari solusi supaya mereka batal menikah. Tapi bukan berarti dia berhubungan badan dengan kekasihnya sampai hamil. Sekarang dia menyesal sudah memberi Hani saran seperti itu.
Melihat wajah ditekuk yang ditampilkan Hani, Sabda berhenti mengomel. Dia menuntun Hani keluar dari bandara, dia harus mencari taksi untuk mengantar Hani pulang ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Hani, tidak ada obrolan serius mengenai pernikahan mereka yang akan digelar esok hari. Saat mobil berhenti di depan rumah Hani, suasana rumah itu sudah terlihat begitu ramai. Karena masih jetleg, Sabda memutuskan untuk langsung pulang.
“Aku pulang dulu, jangan sampai pacarmu tidak datang, kalau sampai kamu salah sedikit saja, akibatnya kita berdua akan tetap menikah!” pesan Sabda sebelum meminta sopir taksi untuk kembali melajukan mobilnya.
__ADS_1
Kepulangan Sabda ke rumah disambut meriah oleh ibunya. Bu Habibah tau jika saat ini Sabda sudah diangkat menjadi mandor. Bahkan, cerita itu sudah sampai ujung gang Delima.
Sambutan dan pujian dari bu Habibah begitu keras. Sepertinya Bu Habibah sengaja melakukan itu, supaya tetangga rumah mendengar kalau Sabda sudah pulang. Tapi asal bu Habibah tahu—Sabda justru malu mendapati sikap ibunya.
"Bu, malu! jangan teriak-teriak begitu! Yang jauh di atas Sabda itu masih banyak!" kata Sabda seraya melangkah masuk ke dalam rumah.
“Kenapa malu, to, Le! Ibu justru mau ngadain pengajian syukuran kenaikan jabatanmu. Ngundang pak ustadz biar ikut doain kesuksesanmu. Tapi, sekalian ya sama acara ngunduh mantu!”
Sabda menjatuhkan tubuhnya di kursi depan layar televisi. Lelah melihat sikap ibunya. "Sabda pengen nyari Salma, Bu! Sabda butuh penjelasan kenapa membawa Ody pergi!"
“Eh, nggak boleh gitu, besok kamu nikah, ada Hani—kamu jaga perasaan Hani, Sabda! Mulai besok kamu nggak bisa hidup seenaknya sendiri. Kalau udah sah sama Hani, kamu bisa bikin anak sebanyak-banyaknya, buat pengganti Ody.”
Sabda menggeleng. “Kok ibu ngomong gitu! Ingat, Bu! Ody itu darah daging Sabda. Aku enggak bisa kalau enggak ada dia! Dengar ya, Bu! Enggak ada yang bisa gantiin Ody sama Salma! mau aku punya anak selusin pun, kalau bukan Ody, itu enggak akan bikin Sabda bahagia!”
"Pelet nya pakai apa sih tu si Salma! nggak berubah-ubah dari dulu!"
"Harusnya ibu yang intropeksi. Nggak perlu kan, apa yang menjadi keinginan ibu itu terpenuhi. Ibu egois, pengen menang sendiri tanpa mikirin perasaan Sabda!"
Bu Habibah tampak mengurut dadanya naik turun. “Udah mendingan kamu istirahat, persiapan buat nanti malam acara midodareni.”
Kepala Sabda semakin nyut-nyutan mendengar ucapan ibunya. Dia cuma bisa pasrah, berharap kekasih Hani muncul dan membatalkan pernikahan mereka.
...----------------...
Acara yang dinantikan oleh Bu Habibah dan Bu Astuti telah tiba. Kini keluarga besar Sabda mendatangi kediaman Hani untuk mengikuti acara midodareni.
Suasana di rumah Hani tampak begitu ramai, dihadiri oleh tetangga dan tamu undangan. Mereka tampak mengikuti acara dengan baik, menikmati hidangan yang tersaji seraya menunggu acara inti dimulai.
Namun, di tengah-tengah acara terdengar kehebohan dari kamar yang di tempati Hani. Seorang pria tampak ingin membawa Hani kabur dari acara itu.
MUA yang semula bersama Hani memekik terkejut, lalu berteriak meminta tolong. Sabda yang paham ini scenario Hani hanya diam saja. Menunggu apa yang hendak dilakukan gadis bodoh itu.
"Hani, jangan bikin malu keluarga!" Hardik pak Rianto yang melihat Hani bersembunyi di balik tubuh pria yang baru saja menelusup masuk. Sebagai seorang pemimpin dia berhak menjaga nama baik keluarganya.
“Kamu kenapa sih, Nduk!” tanya bu Habibah saat melihat Hani terisak. Setia bersembunyi di balik tubuh kekasihnya.
“Bu … Bu Bibah, paring pangapura.” Hani memohon. “Hani nggak bisa lanjutin pernikahan ini!” ucapnya penuh sesal dengan air mata yang terus menetes membasahi pipi. "Hani enggak bisa menikah dengan Mas Sabda!" lirihnya.
__ADS_1
Pak Rianto hendak melayangkan pukulan tapi segera dihadang oleh Sabda. "Sabar, Pak! Sebaiknya kita dengarkan dulu penjelasan Hani."
“Kenapa? Apa Sabda menyakitimu?” tanya Bu Habibah semakin penasaran.
Hani keluar dari persembunyiannya. Kini dia berdiri sejajar dengan sang kekasih. “Han—Haniii sebenarnya sudah punya pacar!” ucapnya menatap keluarga Sabda dan keluarganya bergantian. “Mas Ezra adalah pacar Hani, aku mencintainya,” sambungnya, sambil menunduk dalam, takut melihat wajah sang ayah yang begitu murka.
“Ayah, Ibu. Maafkan Hani enggak bisa menikah dengan Mas Sabda.” Hani terus mengulang perkataanya.
“Kenapa? Dia udah jadi mandor loh, gajinya juga cukup buat membiayai hidup kamu, Hani!” bu Habibah tampak keberatan dengan keputusan Hani yang begitu mengejutkan.
“Nggak bisa Bu lek. Aku cuma kasihan sama Mas Sabda.”
Bu habibah tertawa lirih. “Kasihan kenapa, apa dia enggak pantas buat kamu? Apa ini ada hubungannya dengan masa lalunya?"”
“No, mboten bu lek. Ta—tap—piii … Hani hamil dengan pria lain.” Hani menundukan kepala, tidak berani menatap siapapun.
“Apa Hani? Ibu enggak salah dengar? Kamu hamil, dengan Sabda kan?” Bu Habibah memegang erat pundak Hani, mencari penjelasan.
Hani menggeleng. “Eum, sebenarnya Hani ud—dah punya kekasih Bu Lek. In—ini pacar Hani.” kata Hani dengan terbata-bata.
Mendengar itu, pak Rianto langsung memukul wajah Ezra. Tak ada yang melerai perkelahian itu. Mereka membiarkan seorang ayah meluapkan kemarahannya, akibat putrinya dirusak oleh lelaki bejat.
“Ayah, jangan—kalau dia mati, anakku akan jadi anak yatim!” teriak Hani menghentikan aksi pak Rianto.
“Kamu itu—kuliah tinggi-tinggi tapi otak isinya urat aja, nggak bisa dibuat mikir sedikit.” Pak Rianto geram, memaki Hani habis-habisan di depan orang banyak.
“Mbakyu, kalau begitu—kita batalkan saja pernikahan ini, kasihan sama Sabda.” Bu Astuti tentu saja memihak putrinya, setelah tahu dia hamil anak dari Ezra.
“Enggak papa, biar Sabda yang bertanggungjawab.” Bu Habibah berkata dengan lantang tapi langsung ditolak oleh pak Ageng.
“Jangan memaksakan, jika kita menikahkan Sabda dengan Hani, itu artinya, kita mendukung Hani untuk melakukan kejahatan pada anaknya sendiri. Bapak biologisnya ada di sini, jadi biarkan dia yang bertanggungjawab!”
Meski Sabda kasihan dengan Hani, tapi dia bersyukur bisa lepas dari jeratan perjodohan yang diatur oleh ibunya.
Setelah kejadian besar itu, pak Ageng membawa keluarga besarnya pulang.
"Ibu akan tetap nyariin jodoh buat kamu! lihat saja cuti depan ibu akan menemukan wanita terbaik untukmu."
__ADS_1
"Nggak perlu repot -repot, Bu! Sabda udah punya calon sendiri. Ibu cukup berdoa saja!"
"Sekalipun Salma sudah jadi janda lagi. Ibu tetap tidak akan rela kamu kembali padanya."