Nafkah Mantan Suami

Nafkah Mantan Suami
Kesedihan


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukan pukul sebelas malam. Setelah menghubungi Panji, mengabari jika Salma mengalami kecelakaan, Sabda kini kembali mendatangi meja perawat. Dia harus membujuk perawat jaga supaya mengizinkan Aundy ikut masuk dan menemani Salma.


Bujukan terus Sabda lakukan, demi mendapatkan izin. Tapi sayang perawat tetap keras kepala. "Rumah saya ada di Semarang, jauh, Mbak! Kasihan anakku kalau harus tidur di ruang tunggu."


"Pak, mohon maaf. Anak kecil saja sebenarnya dilarang masuk ke rumah sakit ini. Jadi saya tetap pada pendirian! mohon mengerti karena saya juga mentaati peraturan!"


"Katakan apa yang kamu inginkan, supaya aku bisa membawaku putriku masih ke ruang ICU?"


"Sebaiknya Bapak juga menunggu di luar!" perawat justru mengusir Sabda. "jika ada sesuatu dengan pasien, nanti saya akan memanggil Bapak."


Sabda melirik ke arah Aundy, gadis itu mungkin masih meraba mengenai apa yang terjadi saat ini. "Mbak, apa kamu sudah menikah?"


"Ya."


"Mbak lihat anak itu?" Sabda menunjuk ke arah Aundy. "Dia korban broken home. Sekarang, mungkin dia sedang bingung dengan situasi yang terjadi di keluarganya."


Perawat itu menatap Aundy. Perlahan rasa Kasihan itu muncul. "Hanya untuk untuk malam ini!" ujarnya setelah berulangkali menimbang keputusannya.


Sabda berulangkali mengucapkan terima kasih, kemudian menghampiri kursi tunggu yang ditempati Aundy. Dia membawa putrinya masuk ke ruang ICU, menunggu Salma membuka mata.


Beberapa menit berlalu, Aundy masih setia menatap Salma yang terbaring di ranjang. Gadis itu seakan takut, melihat kondisi Salma yang terdapat banyak luka. Terlebih bunyi mesin EKG dan alat kesehatan lain yang menempel. Suara itu begitu mereka bagi gadis usia enam tahun sepertinya.


Mulut Aundy masih setia terkunci rapat. Baru kali ini melihat Salma tak berdaya, jadi dia pun tidak tahu harus melakukan apa.


“Ody bobo saja, yuk!” Sabda berusaha meminta Aundy meletakan kepalanya di pangkuan. Tapi gadis itu menolak. Dia menggeleng tegas, bibirnya bergetar menahan tangis.


“Ody mau pulang, Ayah?” Aundy merengek, suaranya begitu kecil. Tatapannya memohon ke arah Sabda. “Ody mau ketemu bunda!” imbuhnya, dengan suara bergetar.

__ADS_1


Sabda berusaha tersenyum simpul. “Itu bunda Salma. Masa ody enggak mengenali?” Sabda menunjuk pada sosok Salma yang berbaring di ranjang.


Aundy menoleh ke arah brankar. Wanita yang dulu selalu mengomelinya, kini justru tak bisa melakukan apapun. Dan Aundy merasa ini aneh. “Bunda kan tadi baik-baik saja? pasti sekarang sudah di rumah. Ayo pulang, Ayah ....”


Sabda tampak kebingungan. “Ody … musibah itu tidak ada yang tahu kapan akan datang. Jadi, sore tadi, mobil elf yang di tumpangi bunda itu masuk jurang—dan bunda sekarang jadi sakit akibat kecelakaan itu.” Sabda berusaha menjelaskan.


Mata Aundy kini berubah merah, air mata sudah menganak sungai, dia menangis dalam diam. Sesedih Aundy saat ini, saat menyadari jika Salma berada dalam kondisi gawat darurat.


“Ayah bisa bangunin Bunda, kan? Bilang sama bunda tidurnya jangan lama-lama. Nanti Ody bisa kangen,” kata Aundy, sepertinya belum begitu paham dengan apa yang dimaksud kritis. Ya, Salma mengalami kritis akibat trauma di kepalanya.


“Iya—nanti ayah bilang sama Bunda Salma. Tapi, sekarang Ody tidur dulu ya!” pinta Sabda, dia tidak ingin Aundy sakit dan membuatnya bingung hendak mengurusi yang mana dulu.


Gadis itu menurut, meletakan kepalanya di pangkuan Sabda. Sedangkan netranya, menatap ke arah ranjang di mana Salma kini masih memejamkan mata.


Mata Aundy terasa begitu perih, dia sudah mengantuk, tapi tak rela jika tidur sekarang, dia seakan sedang menunggu detik demi detik Salma membuka mata. Kini suara asing itu menemaninya, Aundy semakin takut, terjadi sesuatu dengan Salma.


Air mata Aundy kembali tumpah melihat Salma mengalami sesak napas. "Bunda ... Bunda ...." Aundy berusaha memanggil Salma.


“Dokter! Dokter!” Sabda yang berada di samping brankar berteriak, begitu keras, mengundang dokter jaga.


Di sela menunggu dokter datang, Salma mengeluarkan cairan dari dalam mulutnya. Apa yang terjadi di depannya semakin membuat Aundy kacau, dia tidak tahu harus melakukan apa.


“Bunda …” lirih Aundy, sambil menyeka air matanya yang terasa menganggu. "Bunda jangan meninggal. Aku mau jadi anak nurut. Bunda ... bunda! Bunda aku nggak mau seperti Lucy yang tidak memiliki bunda. Bunda jangan meninggal!" Aundy terus merancau lirih, saat dokter jaga memeriksa kondisi Salma.


Perlahan suara Aundy berubah menjadi suara tangisan. Dia tidak tega, melihat kondisi Salma ketika saat dokter jaga berusaha menstabilkan kondisinya.


“Denyut jantungnya melemah," ujarnya, lalu memberi isyarat pada perawat untuk membawa Sabda serta Aundy keluar ruangan.

__ADS_1


Tidak, aku tidak boleh keluar. Ody harus temani bunda melewati ini. pikir Aundy saat melihat seorang perawat menghampirinya.


"Aundy mau di sini jagain bunda ayah!"


"Ody, ayo ini demi kebaikan bunda, Sayang ...."


"Enggak ayah, Ody enggak mau!"


Saat mereka berdebat sengit karena Aundy tidak ingin keluar. Denyut jantung yang semula lemah kini mendadak tak berdetak sedikitpun. Bunyi mesin EKG hanya terdengar satu suara panjang, Aundy ikut bingung melihat dokter meminta perawat untuk menyiapkan alat kejut jantung.


“Bundaaaa!” pekik Aundy yang melihat tubuh Salma berkejut. Dia terus merancau, menyebut nama Salma dengan lirih. Sedangkan Sang ayah kini sudah berjongkok dilantai, mengawasi dokter yang sedang bekerja mengembalikan denyut jantung Salma. Pasti pria itu juga hancur melihat Salma seperti itu.


Dokter menggeleng bukan menyerah, tapi sepertinya denyut jantung Salma tidak bisa kembali lagi. "Nyawanya tidak tertolong," ucap dokter pada perawat.


Aundy mendengar lekas berlari kecil menghampiri ranjang Salma. Dia menghentikan gerakan tangan perawat yang hendak melepas alat-alat medis di tubuhnya. "Jangan, Suster! bunda masih bernapas!"


"Adik ... nggak boleh seperti ini ya!"


Tangis Aundy dan Sabda pecah, memenuhi ruang ICU. Keduanya begitu terpukul atas kepergian Salma. “Bunda—bunda! Bundaaa! Bunda jangan pergi! Bunda Ody enggak mau kehilangan Bunda!” Aundy terus berteriak. Sepasang tangan kecilnya mengguncang tubuh Salma berusaha membangunkan wanita itu.


“Bunda! Bunda!” Aundy menangis pilu, hingga sebuah pelukan berusaha menenangkannya. Sabda memeluk erat tubuhnya, menggenggam tangannya yang masih setia mengguncang tubuh Salma.


“Bunda udah pergi, kita hanya bisa bertemu melalui mimpi dan doa, Ody.”


“Enggak ayah! Aku mau bunda! Bunda! Bunda, Ayah! Aku pokoknya mau bunda.”


Aundy terus berteriak, dia tidak rela saat Sabda menggendong dan membawanya menjauh dari brankar. Dia memberontak ingin kembali ke samping brankar.

__ADS_1


"Ody, Ody! Jangan begini, Sayang. Ada ayah di sini!" kata Sabda, berusaha menenangkan.


__ADS_2