
Ruang cempaka yang ditempati Aundy, terlihat penuh saat jam besuk dibuka. Ranjang pasien sebelah yang semula kosong kini sudah terisi oleh pasien anak berusia 10 tahun yang hendak melakukan operasi amandel.
Malam ini Nenek Tantri, ibu dari Endra, beliau datang bersama kakek Adiguna. Membawa ayam katsu kesukaan Aundy. Tapi sayang, karena masih sakit. Apa yang masuk ke perut Aundy begitu dikontrol oleh suster jaga. Jadi, tetap Salma nanti yang akan menghabiskan. Tak beda jauh dengan Bu Deva, beliau datang bersama pak Arif, bahkan sebelum besannya datang.
Di ruangan itu, ibu Deva sibuk memijit kaki Aundy, membaluri dengan minyak telon. Aundy bak ratu, tapi tetap saja apa yang ada tidak mampu mengubah raut wajahnya yang sendu.
Banyaknya pengunjung dari pasien sebelah, membuat pak Arif dan pak Adiguna pamit untuk berbincang di luar. Kini menyisakan mereka bertiga yang sibuk menghibur Aundy.
“Nanti biar Panji datang buat nemenin kamu, Sal!” Bu Deva memberi saran, kasihan dengan Salma yang terlihat begitu kelelahan.
“Enggak usah, Bu! sungkan sama pasien sebelah kalau banyak yang nungguin.” Salma menolak. Dengan ranjang sebelah hanya di batasi kain gorden. Takutnya keberadaan Panji yang biasa suka nerocos itu menganggu jam istirahat pasien lain.
“Terus kamu, kan juga butuh istirahat.” Bu Deva kekeh dengan pendapatnya.
“Ody sudah enggak mual, suhunya juga mulai stabil. Mudah-mudahan Ody bisa tidur nyenyak, jadi Salma juga bisa ikut tidur.” Sedangkan Salma berpegang teguh dengan pendapatnya. Sekali tidak tetap tidak.
“Apa mbah putri aja yang bobo sini, Nduk Cah Ayu?” Bu Tantri ikut menimpali. Wanita itu begitu baik, rela mengorbankan waktunya untuk Aundy. Salma bersyukur memiliki mertua yang bukan hanya menyayanginya, melainkan juga mau menerima Aundy menjadi bagian dari keluarga mereka. Sikap dan wataknya jauh berbeda dengan Bu Habibah. Bahkan orang tua Sabda, membentak Sabda yang kekeh ingin menjaga Aundy yang sedang sakit. Dan terpaksa Sabda meninggalkan Aundy saat gadis itu masih terlelap.
“Tidak perlu, Bu. Kasihan ibu, nanti waktu istirahatnya jadi keganggu.” Salma menolak, halus. Kasihan, selain usianya yang sudah tua, hawa rumah sakit tidak baik untuk kesehatan mertuanya.
"Ya sudah. Kalau begitu, besok pagi ibu kirim sarapan ya!" ucap Bu Tantri. Salma tidak menolak, itu adalah wujud perhatian yang diberikan mertuanya. Perkara nanti, mau dimakan atau tidak yang penting diterima dulu.
"Nggeh, Bu ...." Salma menjawab singkat. "Tapi misal merepotkan, nggak usah juga tidak apa-apa, Bu. Nanti biar Salma makan di kantin rumah sakit. Atau nggak usah saja nanti ibu kecapean."
__ADS_1
"Tenang saja, jarak rumah sakit juga enggak begitu jauh. jadi, bisa lah kalau hanya untuk mengantar sarapan." sayangnya begitu banyak populasi manusia keras kepala di dunia ini, termasuk Bu Tantri, dan itu nurun ke Endra.
Setelah jam kunjung habis, mereka semua membubarkan diri dari ruang Cempaka. Tidak hanya keluarga besar Salma. Pengunjung pasien sebelah pun ikut pulang. Menyisakan suasana sepi di dalam ruangan itu.
Ketika Salma membereskan sampah plastik, pertanyaan Aundy menghentikan gerakan tangannya.
“Ayah nanti datang kan, Bunda?”
Salma menoleh ke arah Aundy, memberikan senyuman manis. Lalu tangannya terulur, mengusap rambut putrinya. “Ayah, kan kerja. Ya enggak dong!” jawab Salma.
“Ayah Sabda—Bunda, ayah Sabda kan pulang!” Aundy ngotot, dia enggak bakalan lupa jika sebelum dia tidur sang ayah ada dan memeluknya.
Padahal Salma berusaha mengalihkan perhatian Aundy dari Sabda. Khawatir Aundy dipaksa menerima kenyataan pahit. Dia sendiri tidak tahu apakah Sabda akan kembali atau tidak, dia saja merinding mendengar suara Bu Habibah saat menelpon Sabda tadi.
Gadis itu menatap Salma lekat-lekat, dari rautnya ada hal yang ingin ditanyakan. “Apa besok ody boleh pulang, Bun? Kalau belum boleh, lalu kapan Ody bisa main sama ayah? Padahal Ayah udah janji mau bawa Ody jalan-jalan sama bunda.”
“Kapan ayah Sabda bilang begitu?” tanya Salma yang sudah selesai mencuci tangan. Dia naik ke brankar, duduk di samping Aundy.
“Kemarin. Tapi ayah bilang jangan bilang siapa-siapa dulu!”
“Ody kalau mau main sama ayah. Main saja, biar Bunda di rumah sendiri.”
“Kenapa begitu?" wajah Aundy terlihat penasaran. "Ayah Endra aja bisa pergi sama Ody dan bunda. Kenapa ayah Sabda nggak boleh? dia kan juga ayah Ody?”
__ADS_1
“Ody ... Kan, Ody sudah tahu, kalau bunda sama Ayah Sabda itu sudah bercerai. Itu artinya, karena bunda udah punya ayah Endra. Harus jaga perasaanya dong, supaya ayah Endra nggak marah ke bunda. Sebenarnya ini masalah dewasa, tapi terpaksa bunda kasih tahu ke kamu supaya nanti enggak berharap kita liburan bertiga. Kita cuma bisa pergi bertiga, itu sama ayah Endra.” Salma menjelaskan panjang lebar, berharap Aundy akan memahami.
“Kalau begitu, gimana kalau Ody yang bilang sama ayah Endra supaya bunda dan ayah Sabda enggak dimarahi.” Aundy berbicara dengan nada polos. Sepasang bola matanya tampak berkilau, dia memohon dengan menampilkan wajah sendu. Yang membuat Salma tidak tega jika harus menolak keinginannya itu.
“Yah, bunda—mau ya!” bujuk Aundy, semakin memelas.
“Ayah Sabda yang minta ke Ody, buat ngelakuin ini ke bunda?”
“Enggak. Ody sendiri kok. Ody pengen kita berlibur bertiga, kita nginap di villa mewah. Terus kita foto bertiga, sama seperti saat Ody masih bayi!” jelasnya polos.
Helaan napas panjang Salma lakukan. Dia akhirnya mengalah dan menyetujui permintaan Aundy. “Eh, tapi bunda izin sama ayah Endra dulu. Kalau enggak boleh ya nggak berangkat ya!” pesan Salma.
Gadis itu mengangguk semangat.
“Udah, sekarang Ody bobo, biar cepat sembuh!” pesan Salma.
Aundy langsung memejamkan mata, tingkahnya membuat Salma gemas. Dia yang merasa tubuhnya pegal, ikut merebahkan tubuhnya di samping Aundy.
Samar-samar, hidungnya masih bisa mencium aroma parfum Sabda. Dari dulu hingga hari ini, selera pria itu sama sekali tidak berubah. Menurut Salma, hanya selera perempuannya saja yang naik tingkat. Dari dia, Regina, Hani.
Perlahan dan pasti Salma yang sudah mengantuk, mulai memejamkan matanya rapat. Sangking lelahnya, Salma terlelap begitu cepat, udara dingin dari AC semakin membuainya masuk ke alam mimpi. Salma sampai tidak menyadari jika ada yang menyelimuti tubuhnya.
Pria itu menatap sendu ke arah plastik yang ada di tangan, lalu meletakkannya ke atas meja. Saat ujung matanya melirik ke arah jam tangan digital di pergelangan tangan, dia baru menyadari jika ini sudah larut. "Pantas saja sudah tidur, sudah pukul sebelas rupanya." Dia bergumam sambil memandangi Aundy dan Salma bergantian.
__ADS_1