
Hari Senin 17 Juli 2017, akan menjadi hari bersejarah bagi Salma. Meski tanggalnya cantik, tapi tidak dengan nasib wanita itu—seumur hidupnya dia akan mengingat kejadian hari ini.
Salma duduk di depan hakim pengadil, mendengar setiap kalimat yang dibacakan hakim dengan takzim. Kali ini kursi di sampingnya tidak lagi kosong. Ada perwakilan dari pihak Endra yang hadir mengikuti sidang.
“ ... Dengan ini, saya selaku hakim ketua mengabulkan gugatan yang diajukan oleh pihak pertama, selaku penggugat Rajendra Arwenda. Berdasarkan proses persidangan yang dijalani oleh kedua belah pihak, pengadilan memutuskan, mengabulkan permintaan penggugat yang diajukan pada tanggal 15 April 2017. Mulai hari ini 17 Juli 2017 saudara Rajendra Arwenda resmi bercerai dengan Amora Salmadani.”
Suara ketukan palu adalah pertanda sah-nya keputusan hakim pengadilan. Kepala Salma tertunduk, sedih dan bahagia kini berkumpul menjadi satu dalam tubuhnya.
“Tidak apa-apa, Salma!” Bu Deva mengusap punggung Salma usai hakim ketua selesai membacakan sidang putusan. "Rotasi kehidupan manusia itu cuma ada dua. Sedih dan bahagia. Sudah banyak kesedihan yang kamu lalui. Setelah ini, semoga kehidupanmu akan dilingkupi kebahagian."
Salma berbalik menatap kedua orang tuanya bergantian. “Maaf, Pak, Bu! lagi-lagi Salma membuat masalah dalam kehidupan kalian. Jangan pernah menyesal karena sudah melahirkan Salma, Bu!”
“Ngomong apa kamu, Sal! Nggak usah berpikiran buruk seperti itu, sedikitpun ibu tidak pernah menyesal karena memilikimu.”
“Lebih baik kita segera pulang, supaya bisa mempersiapkan keberangkatanmu nanti malam.” Pak Arif memberi saran.
Salma menganggukan kepala, kemudian berlalu dari ruang sidang. Baru beberapa meter kakinya melangkah, dia kembali berbalik. Melihat perwakilan dari Endra masih membereskan berkas, Salma berniat mengambil akte cerainya dari pria itu.
“Sebentar, Pak, Bu!” kata Salma meminta mereka untuk berhenti. "Sebaiknya kalian menungguku di depan ruangan."
Pak Arif dan istrinya tidak membantah. Dia lekas pergi meninggalkan ruang sidang. Sedangkan Salma kini menghampiri pria yang tadi mewakili pihak Endra.
“Apa Mas Endra sudah keluar dari rumah sakit?"
Pria itu menatap Salma dengan sinis. "Untuk apa kamu menanyakan Endra lagi?"
"Aku hanya ingin tahu kondisinya."
"Dia masih koma."
Ternyata benar apa yang diucapkan beberapa orang di sekitarnya yang membicarakan kondisi Endra yang masih dalam keadaan koma.
"Apa aku bisa meminta akte cerai itu?" pinta Salma ragu-ragu. "Em, maksudku—aku ingin memberikan langsung pada istri keduanya."
__ADS_1
“Apa kamu bisa dipercaya?”
Salma menganggukan kepala, dia berniat memberikan surat itu langsung kepada keluarga Endra. Setelah mendapatkan akte cerai itu. Salma kembali menemui keluarganya.
“Bapak sama Ibu pulang dulu saja. Ada hal yang ingin Salma lakuin sebelum pergi.” Salma berusaha menyembunyikan niatnya, jika mereka tahu, kedua orang tuanya itu tak akan berhenti mengkhawatirkannya.
“Kamu mau ke mana, Sal? Jangan menemui Endra, istri barunya bisa menyakitimu kalau sampai kamu muncul di depan Endra.”
Kali ini Salma tidak bisa merahasiakan niatnya pada Sang ibu. Dia memberitahu jika hendak menyerahkan surat cerai itu pada Endra. "Enggak lama kok, Bu! Salma janji nggak akan sampai adzan ashar."
“Kita pulang dulu, biarkan panji yang mengantarmu!” Bu Deva menarik kuat tangan Salma memaksanya untuk pulang.
“Bu! Tidak akan terjadi hal buruk dengan Salma, lagian itu rumah sakit bukan rumah yang bisa seenaknya saja mereka memaki Salma.” Salma membujuk Bu Deva yang keras kepala ingin memaksanya pulang.
Pak Arif yang mendengar permintaan Salma hanya bisa membuang napas kasar. Meski tidak sepenuhnya ikhlas, dia harus percaya dengan Salma.
“Jaga dirimu! Bapak bisa berbuat gila kalau sampai mereka menyakitimu.” Tak ingin perdebatan semakin panjang, pak Arif memberi pesan dan membiarkan izin.
Salma menganggukan kepala, kemudian memisahkan diri dari mereka untuk bertolak ke rumah sakit Parinama.
Setelah berhenti sejenak untuk membeli parcel buah, akhirnya Salma berhasil tiba di rumah sakit Parinama. Tujuan utama Salma adalah kamar perawatan yang ada di lantai dua. Di mana Endra tengah berbaring lemah di sana.
Tiba di depan pintu kamar Flamboyan Salma berusaha sopan dengan mengetuk pintu kayu bercat putih. Sayangnya tak ada jawaban apapun dari dalam ruangan. Hingga Salma memutuskan untuk masuk ke ruangan tersebut.
Hal pertama yang menyambut pandangan Salma adalah tubuh Endra yang terbaring lemah di atas brankar. Tak ada siapapun yang menemani pria itu, hanya alat-alat medis yang setia menemani kesendiriannya.
Saat itu Salma menyesal dengan keputusannya, menyadari jika wanita yang kemarin memaksanya untuk pergi, justru tidak ada di samping Endra. "Bagaimanapun, dulu kita pernah memiliki ikatan. Bohong kalau aku tidak menyukaimu, Mas!" gumam Salma. "Cepatlah bangun, Mas Endra. Aku dan Aundy akan selalu berdoa untuk kesembuhanmu. Dan kamu—akan melihat bagaimana anak kandungmu tumbuh dewasa. Kamu bisa membawa istrimu ke Kutai kapanpun kamu mau. Aku berharap, jika suatu hari nanti kita bertemu. Kita berdua berada dalam kehidupan yang dilingkupi kebahagian." Salma memberikan senyum terakhirnya untuk Endra.
Saat dia hendak meletakan amplop coklat ke meja samping ranjang. Seorang dokter memasuki ruang perawatan Endra. Salma merasa memiliki celah untuk mengetahui kondisi Endra lebih jelas lagi.
Melihat dokter sudah selesai memeriksa Salma langsung melemparkan pertanyaan. “Gimana kondisinya Pak Endra, Dok?”
Dokter itu hanya tersenyum simpul. “Kita doain saja semoga pasien bisa segera bangun.”
__ADS_1
“Sejak terakhir aku datang, sepertinya tidak ada perkembangan berarti. Apa keluarganya tidak berniat memindahkan pak Endra ke rumah sakit lain?”
“Saya dengar, istrinya baru saja melahirkan. Jadi masih terlalu repot untuk mendatangi pasien, biasanya tiga hari sekali Bu Arienta datang untuk berkunjung.”
“Keluarganya?”
“Wah, kalau itu saya tidak begitu paham.”
“Anda, siapa?” tanya dokter itu.
“Saya mantan istrinya.”
Dokter itu kembali tersenyum lalu menganggukan kepala. “Semoga pasien segera siuman, supaya kita bisa meneliti lebih jelas mengenai kerusakan motoriknya.”
“Apa yang terjadi—mohon maaf saya tidak begitu tahu mengenai kondisinya.” Salma semakin penasaran setelah mendengar penjelasan singkat dari dokter.
“Ada bagian sarafnya yang mengalami kerusakan.”
Salma menganggukan kepala, matanya menatap lekat wajah Endra yang terlihat seperti orang tidur, tenang dengan wajah tak terawat.
“Saya permisi dulu, Bu Salma.” Dokter itu berpamitan.
Belum juga berhasil melangkah Salma menahan kepergian dokter itu. "Dari mana dokter tahu nama saya?" tanya Salma curiga.
"Saya hanya asal menebak. Tapi syukurlah kalau nama anda beneran Salma?" Dokter itu tersenyum simpul. "Beberapa kali saya mendengar pak Endra menyebut nama ibu."
Salma termenung. Saat hendak melemparkan pertanyaan kedua, dokter itu sudah berlalu dari ruangan Endra. Salma menoleh ke arah pintu saat mendengar pintu terbuka.
“Ngapain kamu datang? Ingin menertawakanku?”
“Kenapa berkata begitu? Aku hanya ingin menyerahkan ini, surat dari pengadilan agama. Ini adalah bukti kalau aku dan Mas Endra sudah resmi bercerai.” Salma menyerahkan amplop coklat dari pengadilan kepada Arienta. “Kalian akan bahagia kok, tenang saja! setelah ini, tidak aka nada lagi yang menghalangi hubungan kalian.”
Seringai licik muncul dari bibir Arienta. “Sudah, kan?Sebaiknya kamu pergi.”
__ADS_1
Salma tersenyum simpul. “Aku akan pergi. Tanpa kamu memintaku.” Salma kemudian berlalu meninggalkan ruangan yang ditempati Endra.
Selesai sudah urusannya di Semarang. Setelah ini dia benar-benar akan meninggalkan kota kelahirannya.