
"Kamu dari mana sih, Mas, kok jam segini baru pulang? Kamu tahu kan anakmu itu lagi sakit!"
"Pergi sama teman, bentar."
"Bentar kamu bilang? kamu lihat deh udah jam berapa! Ini sudah jam sebelas. Ody sakit, dan kamu malah kelayapan enggak jelas!" Salma menggerutu sambil menatap tajam ke arah pria yang baru saja masuk ke kamarnya.
"Apa salahnya sih, aku tiga bulan sekali baru pulang ke rumah, cuma mau ngumpul bareng teman saja dilarang!"
"Aku nggak bakal ngelarang kalau Ody nggak sakit! lagian kamu itu beda sama mereka. Teman-temanmu belum punya keluarga, Mas! Harusnya kamu prioritaskan mana yang jadi tanggungjawab mu!" Salma menarik napas dalam-dalam. "Di sana ada Regina juga, kan? Kalian kencan berdua di saat anakmu sedang sakit pikiranmu di mana sih, Mas!"
Sabda menatap kesal ke arah Salma.
"Mau ngelak? Banyak foto mesramu bareng dia!"
"Kamu memata-matai aku?!"
"Tanpa aku minta, semua orang bakal ngasih tahu aku, kalau kamu sering kencan sama dia!"
"Serah mau bilang apa!"
"Kalau tau sifatmu bakal berubah kek gini! seribu kali kamu mengajakku nikah, aku nggak bakalan mau sama kamu!"
"Ya udah sana cari cowok lain!"
"Maksudmu apa bilang kayak gitu?!" tantang Salma. Melihat Sabda hanya diam dia melancarkan aksinya dengan memukuli tubuh Sabda dengan guling, dia mencoba meluapkan amarah yang sejak tadi dipendam. "Laki-laki, breng-sek kamu!"
"YA, AKU BRENGSEK! Aku nggak bisa didik kamu! kerjaannya cuma ribut terus sama mertua! Pulang sana ke rumah bapakmu! capek ngerti nggak tiap hari nggak kamu nggak ibu kerjaannya ngadu terus! kalau kamu memang nggak betah tinggal sama ibu pulang sana-pulang ke rumah bapakmu!"
Satu pukulan terakhir begitu keras menghantam tubuh Sabda. Yang semakin membuat Salma terpukul, pria itu telah menjatuhkan talak dua padanya. Salma lantas menggendong tubuh Aundy yang masih demam, membawanya pulang ke rumah orang tuanya.
Hari sudah malam, dalam kondisi Aundy demam Salma membawanya menggunakan motor. Sepanjang perjalanan Salma menangis sejadi-jadinya. Dia membenci Sabda yang diam-diam selalu mengencani Regina setiap pulang cuti. Cukup lama dia diam, tapi hari ini dia tidak bisa lagi.
Tak ingin membuat orang tuanya khawatir, Salma berhenti sejenak di lapangan dekat rumahnya. Merasakan tubuh Aundy semakin panas, Salma berusaha membangunkan putrinya.
__ADS_1
"Ody, Ody! Ody!" Salma terus menggerakan tubuh putrinya, dia menangis tersedu-sedu saat Aundy tak segera bangun. "Ody, jangan tinggalin Bunda, Nak! Ody!"
Salma yang ketakutan terus berteriak berusaha keras membangunkan Ody. Sekuat tenaga sampai dia kembali bangun dari tidurnya.
"Ody?!" Gumamnya sambil meraba ranjang yang biasa digunakan Aundy. Salma mende-sah kasar saat menyadari putrinya belum kembali. Sabda masih membawanya pergi liburan.
"Pasti ini gara-gara foto tadi!" Salma bergumam lirih. Sebelum ketiduran dia sempat melihat foto Sabda dan Aundy pergi bersama keluarga besar Sabda. Dan sialnya, kejadian beberapa tahun yang lalu justru kembali merecoki pikiran Salma. Hadir melalui bunga mimpi.
Salma meraih ponselnya, memeriksa adakah pesan dari Sabda yang terlewatkan. Dan sayangnya tidak ada sama sekali. Jika biasanya Sabda yang mengirimkan pesan, kini Salma terpaksa mengirim pesan terlebih dahulu.
Salma : Ody dianterin ke rumah jam berapa, Mas?
Salma khawatir karena ini sudah pukul delapan malam. Sedangkan besok Aundy harus sekolah. Seharusnya dia tidak percaya Sabda begitu saja, yang mengatakan hanya pergi sebentar. Lebih parahnya lagi pesan yang Salma kirimkan ke nomor Sabda hanya dibaca saja. Pria itu mengabaikannya.
Salma sudah berpindah duduk di ruang tamu, menunggu Sabda mengantar Aundy pulang. Dia sama sekali tidak cemburu, melihat Aundy terlihat dekat dengan Hani. Akan tetapi, Salma tampak gelisah karena sebenarnya Aundy tidak mau pergi dengan Sabda.
Suara mesin mobil yang berderu membuat Salma segera beranjak dari sofa. Dia lekas keluar menyambut kepulangan Aundy.
"Aku langsung ya, Sal. Aku masih harus mengantar Hani." Sabda menyerahkan Aundy ke tangan Salma. Lalu segera kembali ke mobil. Bahkan tanpa mendengar jawaban langsung dari Salma.
Salma berusaha membangunkan Aundy, tapi gadis itu enggan membuka mata. Dia mengatakan matanya lengket.
"Bunda seka badanmu pakai air hangat ya, Ody bobo saja."
Gadis itu mengangguk, Salma tersenyum simpul. Lalu meninggalkan kecupan singkat sebelum pergi mengambil air hangat.
Salma dengan cekatan menyeka tubuh Aundy. Dia mengganti pakaian Aundy dengan piyama yang lebih nyaman. Rasanya lega sekali melihat Aundy sudah kembali ke pelukannya.
Setelah semuanya selesai, Salma pun bisa tidur dengan nyenyak. Endra juga tidak akan mungkin menghubunginya, pria itu sudah izin hendak pindah ke kontrakan. Jadi, Salma paham pria itu pasti lelah setelah mengangkuti barang-barang.
Salma ikut memejamkan mata. Namun, belum ada satu jam Salma terlelap dia merasakan ranjangnya bergerak. Aundy berlari cepat menuju kamar mandi, lalu terdengar suara muntah dari dalam kamar mandi. Salma yang kasihan lekas mendekat, memeriksa kondisi Aundy.
"Ody sakit? Mana yang sakit?"
__ADS_1
"Sakit kepala, Bunda! Mual juga."
Salma lalu menangkap tubuh Aundy, saat kulitnya bersentuhan dia bisa merasakan suhu panas di tubuh putrinya.
"Perutnya nggak enak? Sini bunda kasih minyak." Salma menggendong Aundy tidak tega saat melihat tubuh Aundy begitu lemas, kalau sudah begini dijamin semalam suntuk dia akan begadang. Aundy ini memiliki watak sama seperti ayahnya, selalu manja setiap sakit, minta ini itu. Dan susahnya lagi, enggak mau makan.
Tapi kali ini Aundy berbeda, wajahnya terlihat pucat pasi, suhunya juga panas, bolak-balik gadis itu masuk kamar mandi karena ingin muntah. Sampai akhirnya Salma membawa baskom untuk menampung cairan muntahan itu, supaya Aundy tidak perlu mondar-mandir.
Pukul dua pagi, Aundy masih saja muntah, setelah muntah Salma memberi air hangat untuk Aundy. Tapi setelah pukul tiga, tubuhnya sudah lemas, Aundy tidak bisa lagi meminum air mineral yang disodorkan Salma ke depan bibirnya. Dia menolak.
Keputusan Salma saat ini adalah menelpon Panji. Dia perlu membawa Aundy ke rumah sakit, takut gadis itu akan kekurangan cairan.
"Bunda ... Ody sakit. Ody sakit, Bunda ...." Gadis itu merintih, di tengah matanya yang terpejam rapat, tubuhnya bergerak gelisah.
"Iya sayang, kita cari obat ya. Ibu minta bantuan om Panji dulu buat nyetir."
Salma tidak menyalahkan Sabda, karena sebenarnya dia yang memaksa Aundy untuk ikut bersama mereka. Itupun karena dia tahu mereka tidak akan pergi terlalu lama.
"Hallo, Pan! Ke rumah bentar ya! Urgent!" Salma tidak mungkin mengatakan perintahnya di sini. Khawatir panji akan terkejut dan kedua orang tuanya ikut panik.
"Kenapa sih, Mbak? Ngantuk nih!"
"Ody sakit, Pan. Kakak khawatir dia kehabisan cairan." Salma tidak bisa lagi menundanya saat melihat Aundy muntah.
Panji langsung menutup panggilan itu. Salma tahu pria dua puluh tiga tahun itu selalu siaga jika itu perkara Aundy. Bapak pernah bilang jika Aundy anak ketiga dari Arif Wicaksana, jadi Panji ikut menyayangi dan menjaga Aundy.
"Sabar ya, Ody! Om Panji sudah dalam perjalanan." Salma berusaha menenangkan.
"Apa ayah Sabda juga akan datang?!" Tanya Aundy lemah.
"Ody enggak mau pergi lagi, Bunda ... Ody takut."
Salma terus mengusap lembut rambut Aundy, berusaha menenangkan. Beruntung Panji segera datang, dia langsung mengeluarkan mobil dari sarangnya, kemudian mengantar Aundy ke rumah sakit.
__ADS_1