
“Apa ibu sudah datang bulan?” seseorang yang kini duduk dihadapan Salma bertanya dengan nada lirih. Wanita itu adalah petugas dari pengadilan yang akan mendampingi proses mediasi antara Salma dan Endra.
"Sudah. Baru saja selesai dua hari yang lalu."
Mungkin pihak pengadilan khawatir, saat di tengah proses perceraian tiba-tiba Salma mengumumkan jika dirinya tengah berbadan dua, yang artinya proses persidangan harus ditunda, setidaknya sampai Salma melahirkan.
“Syukurlah, itu artinya proses perceraian bisa dilanjutkan.”
Salma tersenyum masam, seraya menatap kursi di sampingnya yang masih kosong.
“Kita tunggu pak Endra dulu ya, Bu! setidaknya sampai pukul sembilan. Jika tidak ada perwakilan yang datang, sudah jelas pihak dari pak Endra tidak ingin mencabut keputusannya.”
Sejak kejadian sore itu di rumah sakit, Salma tidak tahu lagi kabar mengenai Endra. Pihak dari Endra juga tidak mengabari, pria itu sudah sadar atau belum.
Jauh di lubuk hatinya, Salma berharap Endra akan datang hari ini. Akan tapi, mendapati jarum jam sudah hampir pukul 9 pagi, sepertinya pria itu tidak akan hadir di proses mediasi.
Toh, mau mediasi pun, Salma juga akan tetap pada keputusannya, bercerai dengan Endra. Dalam kamus hidupnya, tidak ada kesempatan kedua bagi pengkhianat.
Jarum jam sudah melewati dari batas yang dikatakan petugas. Pupus sudah harapan Salma untuk bertemu dengan Endra.
“Sidang kita lanjutkan minggu depan ya, Bu! Semoga pihak dari pak Endra bisa hadir.” petugas itu menjelaskan singkat, mengenai jadwal persidangan ke dua.
"Baik, Bu. Insya Allah saya akan datang tepat waktu."
"Seandainya bisa, minta dari pihak pria datang ya, Bu!"
Salma mengangguk ragu, sekalipun dia memberitahu Endra. Dia tidak tahu apakah pria itu bisa datang atau tidak.
Setelah persidangan selesai, Salma langsung keluar dari ruang sidang. Hari ini, dia datang sendiri. Bu Deva lupa dengan jadwal sidang yang harus dilewatinya hari ini. Karena belum izin pada pelanggannya, Salma pun melarang wanita itu untuk libur, dan memutuskan pergi sendirian.
Sebelum taksi yang ditumpangi tiba di rumah orang tuanya. Salma meminta sang sopir untuk mengantarnya ke sekolah Aundy. Salma ingin membicarakan masalah pencabutan berkas Aundy demi kepentingan pindah sekolahnya nanti.
Aundy sendiri tidak tahu menahu jika hari ini, Salma hendak mendatangi sekolahnya. Jadi, Salma langsung ke meja guru, mendatangi wali kelas Aundy.
Salma langsung disambut hangat oleh wanita yang menjadi wali kelas Aundy. "Kebetulan sekali anda datang Bu, ada hal yang ingin saya sampaikan mengenai perkembangan Aundy di sekolah."
Salma yang penasaran membiarkan wali kelas Aundy berbicara terlebih dahulu. Sayangnya, Bu Rohana yang menjadi wali kelas Aundy menyampaikan jika beberapa Minggu ini, Aundy lebih sering melamun ketimbang memperhatikan pelajaran. Dan itu berimbas ke nilai pelajaran yang didapat Aundy.
__ADS_1
"Saya tahu, nilai akademik memang tidak menentukan masa depan anak-anak. Tapi, coba cari penyebab Aundy sering melamun ya, Bu! mungkin kita bisa masukan dia ke psikiater untuk mengetes fokusnya juga! Memang dia tidak berada di urutan paling bawah, tapi melihat Aundy yang dulu dan sekarang, itu jauh berbeda. Dan saya merasa kasihan."
Kalimat itu seolah menjadi cambuk peringatan bagi Salma supaya lebih memperhatikan Aundy. Ya, setelah kejadian kecelakaan itu Salma memang lebih sering mengurus dirinya sendiri ketimbang Aundy. Mungkin, itu yang mengakibatkan nilai harian Aundy merosot. "Insya Allah, akan saya perbaiki, Bu."
Salma kembali mendengar cerita wanita itu yang membicarakan kegiatan Aundy di sekolah. Setelah merasa cukup panjang obrolan mereka, Salma pun mengambil alih. Dia membicarakan berkas yang bisa dipakai Aundy pindah sekolah.
“Bunda!” panggilan dari balik tubuh Salma membuat wanita itu menoleh ke arah bibir pintu ruang Guru.
Seorang Gadis kecil berlari kecil menghampiri Salma, lalu bergelayut manja di lengannya. “Sebaiknya jangan beri tahu Aundy dulu, Bu! Saya belum membicarakan masalah ini padanya.” Salma memberi peringatan, lirih.
“Baiklah, saya akan memprosesnya, Bu.” balas wali kelas Aundy. Lalu berpindah menatap Aundy yang kini begitu manja pada Salma. “kamu harus belajar ya, biar bisa ngerjain soal!” pesan bu guru yang menjadi wali kelas satu.
“Iya, Bu.” Aundy menjawab seraya bersembunyi di bawah keti-ak Salma.
Di tengah-tengah mereka sedang asyik berbincang, tiba-tiba saja ponsel Salma berdering nyaring. Salma yang paham langsung berpamitan pada Bu Rohana, begitupun dengan Aundy, karena sudah jam pulang dia lekas mengikuti langkah Salma. “Hallo, ada apa, Mas?” tanya Salma setelah berhasil menerima panggilan dari Sabda.
“Sal, uang untuk Ody udah aku transfer.”
Ini baru tanggal 28. Mungkin begitu saldo masuk ke rekeningnya Sabda. Pria itu langsung mengirim sebagian gajinya untuk Aundy.
“Mas—bukannya Mas lagi butuh uang ya buat biaya pernikahan. Sebaiknya mas simpan saja, deh!”
“Mau, bicara sama Ody? Ini dia—
“Kamu udah check up lagi? kamu enggak lupa kan kalau dokter memintamu datang setelah satu bulan.”
Salma menyugar rambutnya kasar. “Iya, besok aku ke rumah sakit.”
“Beneran loh, Sal! Jangan ditunda, harusnya kan kemarin.”
“Iya.” Salma menjawab malas. Lalu memberikannya pada Aundy yang sedari tadi memasang wajah penasaran.
“Hallo, Ayah!”
“Hallo, Sayang, Ody lagi apa?”
“Di sekolah, bunda lagi bicara sama bu Rohana.”
__ADS_1
“Bicara apa?”
“Biasa ayah, kan besok senin Ody tes jadi dikasih wejangan.”
Pria di seberang terkekeh. “Ody bandel pasti ya!”
“Enggak Lah, Ayah!”
“O, ya? satu minggu ke depan ayah jangan telepon Ody dulu ya! Ody mau fokus belajar biar dapat peringkat.”
“Kalau dapat peringkat mau hadiah apa dari Ayah?!”
“Jalan-jalan ke Bali boleh?”
“Okay deh, cuti depan ya. Ayah beliin tiket. Tapi, ody harus bisa bujuk bunda supaya mau ikut!”
“Okay, Ayah. Semoga ody pas liburan.” Aundy begitu senang, mendengar tawaran Sabda. Menurutnya membujuk Salma lebih mudah. “Ayah—apa ayah nggak kangen Ody?”
“Bagaimana bisa enggak kangen, setiap menit aja ayah pengennya ketemu Ody!”
“Kenapa ayah enggak bawa Ody ke sana saja?”
“Ody mau ke sini?”
“Mau lah. Nanti kita tinggal sama Bunda juga.”
“Ody, Ody! Eh udah dulu ya, ayah lagi di tempat kerja, nih. Ody harus jagain bunda.”
“Iya iya! Punya ayah kok bawel banget sih!”
Ucapan Aundy disambut tawa oleh Sabda, dia heran anak gadisnya sudah bisa mengomelinya.
"Bye, Ayah!"
"Ya, hati-hati pulangnya, Sayang!"
Panggilan diputus oleh Aundy.
__ADS_1
Setelah ponsel itu kembali ke tangan Salma. Wanita itu lekas memeriksa uang yang masuk ke nomor rekeningnya. Sabda selalu seperti ini, memberi Aundy lebih dari kesepakatan.
“Sepertinya aku memang harus memblokir nomor rekening ini!” kata Salma, seraya melangkah menggandeng tangan Aundy. Dia tidak ingin berhubungan dengan pria di masa lalunya. Mengingat mereka berdua sudah siap dengan kehidupan barunya masing-masing.