
BERDOA hanya ini satu satunya yang bisa Emma lakukan sekarang ini. Emma terpuruk dalam kesedihan yang panjang, larut bersama luka yang kian dalam, jika saja tak ada anak-anaknya sebagai pengobat sakit di hatinya mungkin Emma sudah terjatuh tak mampu bangkit kembali.
Kondisinya semakin memburuk hingga sempat jatuh sakit dan sempat dirawat di rumah sakit. Luka karena cinta lebih sakit ia rasakan daripada luka karena pengkhianatan.
"aku kecewa, hatiku sakit teramat sakit, namun hati ini tak mampu marah, tak bisa mencaci makinya, aku terlalu mencintainya, aku akui aku tak bisa tanpanya namun sekarang aku harus mencoba terbiasa tanpa bergantung padanya, aku harus bisa "
******
Tak seperti dulu lagi, biasanya jika Richard berangkat ke kantor Emma selalu berpesan kepadanya untuk berhati hati di jalan dan jika sudah tiba di kantor Richard selalu segera mengabari. Emma tak pernah lupa mengingatkan suaminya untuk makan siang untuk selalu berdoa selalu semangat dalam bekerja. Hubungan mereka sangat harmonis dan romantis terbukti dari komunikasi mereka yang sangat baik dan kepedulian antara satu sama lain, kini semuanya hilang dalam sekejap. Tak ada pesan dari Emma dari pergi hingga pulang kantor, meskipun berat namun Emma harus terbiasa. Hanya Doa tak putus di dalam hatinya untuk suaminya.
Suatu hari sejak pagi saat suaminya berangkat ke kantor, Emma mematikan ponselnya. Ia berpikir lebih baik ponselnya dimatikan daripada aktif namun tanpa kabar, ia merasa tersiksa dan dalam rasa khawatir.
Menjelang malam suaminya belum juga kembali dari kantor. Emma mengaktifkan ponselnya, tak dipungkiri masih ada harapan dihatinya agar suaminya memberi kabar. Ternyata benar, beberapa pesan masuk dan beberapa panggilan whatsaap terlewatkan. Emma tak sabar segera membuka pesan tersebut.
__ADS_1
"kenapa kamu mematikan ponselmu, kenapa kamu tak menanyakan kabarku seperti biasa? aku sedang di jalan aku berhenti sebentar aku ingin memastikan jika tak ada kabar apapun darimu aku lebih baik mati di jalan, kamu benar-benar tidak peduli lagi kepadaku"
Ia membaca pesan suaminya dengan sedikit rasa heran. Bukannya ini yang diinginkan suaminya karena suaminya sudah memiliki Tasya yang peduli kepadanya. Emma ingin sekali protes namun ia mengurungkan niatnya. Ia berpikir suaminya sedang di jalan, ia tak ingin ada sesuatu yg buruk menimpa suaminya mengingat jarak yg jauh dan suaminya menggunakan sepeda motor. Ia tak ingin suaminya mengendarai dalam keadaan kacau.
" pulanglah pah..anak-anak sudah menunggumu sejak tadi. kita bicarakan baik-baik di rumah ya. Aku sudah memasak makanan kesukaanmu. Berdoalah sebelum melanjutkan perjalanan"
Emma membalas pesan suaminya, ia sengaja membalas seperti itu agar suaminya tenang dan tak banyak pikiran. Hati tak bisa dibohongi, Emma masih menaruh harapan agar suaminya berubah dan kembali kepadanya. Ia tahu ini tak mudah namun ia masih memiliki stitik harapan, ia bawa dalam Doa segala harapannya. Ia pasrah. Entah mengapa ia merasa suaminya akan kembali kepadanya. Emma selalu menghayal dalam khayalannya ia membayangkan suaminya kembali, meminta maaf padanya dan meninggalkan Tasya. Emma sadar ini tak mungkin namun hatinya selalu berharap. Hari-hari dilaluinya dengan tetap menjalankan tugasnya sebagai istri meskipin mereka tak seranjang lagi.
*****
" mah..apa kamu marah kepadaku,? sudah beberapa hari ini kamu tak memberikan kabar sedikitpun, apakah harus secepat ini kamu berubah?"
Tiba-tiba suaminya bertanya. Emma yang sudah berjalan menuju ke kamar akhirnya menghentikan langkahnya, berbalik dan duduk di kursi di samping suaminya.
__ADS_1
" aku tidak berubah pah, perhatian dan peduliku masih seperti dulu, aku hanya ingin melatih diriku agar jika tiba saatnya nanti aku sudah bisa aku sudah terbiasa tanpa kabarmu dan tanpa memberi kabar padamu, agar aku benar-benar siap ketika kamu tak lagi bersamaku. "
Emma menjawab sambil tersenyum tipis. Bukan senyum kebahagiaan namun senyum palsu menutupi perasaan yang semakin hancur.
"aku mau tidur sekarang, makanan sudah tersedia di atas meja,"
Ketika ia berbalik dan berjalan menuju ke kamar tiba-tiba Richard berdiri menarik tangannya, memeluknya erat sambil berkata,
"maafkan aku mah aku tak bisa membahagiakanmu, aku bukan suami yang baik untukmu."
Emma melepaskan pelukan suaminya,menatap mata suaminya dan berkata,
" aku tidur sekarang ya, jangan lupa makan."
__ADS_1
Kata-kata tak selalu mewakili suara hati yang sesuangguhnya. Emma mengalihkan pembicaraan, tak ingin luka di hatinya berdarah lagi. Ia sudah pasrah.