
Emma yang baru saja pulang dari kantor sedikit terkejut ketika melihat Richard sedang menata taman bunga.
"Udah pulang mah?" sapa Richard lalu segera berdiri menyambut istrinya.
"Udah," jawab Emma singkat. Richard hanya bisa tersenyum tawar melihat respon istrinya yang masih dingin itu. Ia segera menyusul Emma dan membuatkan teh hangat untuk Emma. Emma yang sedikit bingung melihat sikap Richard, diam-diam memperhatikannya.
"Tehnya ,mah," ujar Richard menyodorkan teh hangat yang dibuatnya kepada Emma yang baru saja duduk setelah mengganti pakaiannya. Emma mengangkat wajahnya menatap Richard sesaat.
"Makasih. Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Emma.
Richard mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya, Mah?" tanya Richard bingung.
"Tumben kamu berubah gini. Apa kamu ingin sesuatu?"
Emma bertanya dengan nada sinis. Richard spontan menggeleng.
"Jadi kamu pikir aku baik-baik gini karena ada maunya? Nggak mah. Aku punya niat untuk berubah. Aku akan berjuang dan bertanggung jawab atas semua kesalahan yang telah aku lakukan," jawab Richard. Wajahnya terlihat serius. Emma menarik napasnya perlahan lalu mengembuskannya dengan kasar kemudian meneguk teh yang dibuat oleh suaminya. Tiba-tiba, ponsel Richard berdering. Emma spontan melirik ke arah Richard sementara Richard membiarkan ponselnya berdering. Terlihat jelas, itu telpon dari Rany.
"Angkat," kata Emma jelas.
"Nggak mah. Kamu aja yang angkat," jawab Richard. Emma tersenyum sinis.
"Tidak. Aku tak punya urusan dengannya. Itu ponselmu, privasimu. Mana bisa aku menyentuhnya?" sindir Emma. Mendengar ucapan istrinya, Richard segera mengambil ponselnya yang masih berdering lalu diberikannya kepada Emma.
"Milikku adalah milikmu juga," ujar Richard pelan.
"Sejak kapan?" tanya Emma.
"Saat ini dan seterusnya." jawab Richard pasti.
"Really? Okay. Itu mungkin berlaku untukmu tetapi tidak untukku. Bagiku, milikku adalah milikku dan milikmu adalah milikmu, sama seperti urusanmu adalah urusanmu dan juga urusanku adalah urusanku. Bukankah itu yang berlaku selama ini? Aku tak mudah beradaptasi dengan perubahan yang tiba-tiba," jelas Emma tegas. Richard meletakan lagi ponselnya di atas meja. Ia terdiam merenungi ucapan istrinya. Sepertinya karma atas segala perbuatannya sudah dimulai dan dia sedang menuainya satu demi satu.
__ADS_1
"Kita makan ya," ajak Richard. Emma tak menjawab. Ia menatap kosong sambil terus meneguk tehnya. Richard menyiapkan makanan. Emma yang melihatnya segera bergegas dan membantunya.
Sepanjang hari dilalui, Emma masih tak banyak bicara. Ia hanya bicara seperlunya sedangkan Richard selalu berusaha untuk memghidupkan suasana. Malam harinya, ketika Richard sudah siap untuk tidur, Emma masih sibuk di depan laptopnya. Tiba-tiba, ponselnya berdering. Devan menelponnya. Emma melirik ke arah suaminya yang baru saja tidur. Ia lalu mengambil ponselnya dan berjalan keluar. Richard yang ternyata belum nyenyak diam-diam mengikutinya keluar.
"Hallo," sapa Emma.
"Hallo, Emma. Udah tidur ya?" tanya Devan.
"Belum kok. Ada apa?"
"Gapapa, kamu baik-baik saja kan?" tanya Devan.
"Iya, aku baik-baik saja. Jangan khawatir. Aku bisa mengatasi semuanya. Aku ingat pesan kamu," jawab Emma lalu tersenyum.
"Bagus. Itu yang ingin aku dengar. Istirahat ya. Aku hanya ingin memastikan keadaanmu."
Suara Devan terdengar bersemangat dari seberang panggilan.
"Siapa yang nelpon?" tanya Richard yang tiba-tiba sudah ada di belakang Emma. Ia memang sengaja menguping sejak tadi. Emma berjalan mendekatinya dan menatapnya dalam-dalam lalu berkata,
"Teman aku," jawabnya singkat lalu masuk.
...****************...
"Boleh aku tahu, siapa?"
Rupanya, Richard masih penasaran.
"Tidak perlu tahu. Kan aku dah bilang, teman aku. Kenapa emang?" tanya Emma ketus.
"Gapapa, aku hanya ingin tahu. Tidurlah," jawab Richard. Emma tak menjawab lagi. Ia segera tidur sedangkan Richard gelisah. Ia tak bisa tidur. Pikirannya kacau. Ketika ia mencoba untuk tidur, tiba-tiba, ponsel Emma bergetar. Ada pesan masuk. Richard bangun. Ia penasaran. Ia melirik ke arah Emma untuk memastikan kalau Emma sudah tertidur pulas. Ia melangkah perlahan ke meja dan mengambil ponsel Emma. Ia penasaran siapa yang mengirim pesan di tengah malam.
"Sial. Aku nggak tahu paswordnya," gumam Richard. Ia mencoba beberapa kali namun tak bisa. Richard putus asa dan memutuskan untuk kembali tidur.
__ADS_1
Di tempat lain, Devan tak bisa tidur. Ia terus menatap layar ponselnya berharap Emma membalas pesannya. Ia mencoba untuk menahan segala perasaannya untuk Emma namun semakin ia mencoba untuk menahan, perasaan itu semakin menggebu dan menyiksanya.
"I just want you to be happy. Aku tak bisa melihatmu menderita. Andai ada satu kesempatan kamu kasih ke aku, aku tak akan sia-siakan itu. Aku ingin kamu. Ingin sama-sama melewati semuanya. Susah, senanng. Aku ingin kamu selalu tersenyum. Tapi. Aku sadar, hanya begini yang aku bisa." Devan berkata seorang diri. Emma sungguh telah menaklukan hatinya.
"Bagaimanapun juga, kebahagiaanmu yang paling penting. Aku tak bisa memaksamu atau memintamu untuk ikut apa mauku. Apapun yang terjadi, aku akan selalu bersama kamu," lanjut Devan lalu mencoba memejamkan matanya. Tidur malamnya ditemani bayangan wajah Emma. Entah mungkin di dalam mimpinya juga Emma hadir. Pagi-pagi benar ia sudah bangun. Hal pertama yang dilakukannya adalah memeriksa ponselnya. Belum ada balasan dari Emma. Perkara ini, Devan bukan tipe yang sabar. Ia terlalu cepat khawatir. Ia memutuskan untuk menelpon Emma. Tiga kali panggilan, barulah Emma menjawabnya.
"Pagi," Suara Emma terdengar lembut dari seberang panggilan.
"Maaf nelpon pagi-pagi. Aku khawatir soalnya kamu nggak balas pesan aku. Aku takut kamu sakit," ujar Devan. Suara tawa Emma terdengar.
"Kamu ada-ada aja. Aku sedikit sibuk pagi ini jadi tidak sempat balas pesan kamu," jawab Emma.
"Ya udah. Kamu siap-siap. Nanti aku jemput ya," Devan menawarkan.
"Tak perlu. Aku akan berangkat sendiri seperti biasa," tolak Emma.
"Ayolah," pinta Devan.
"Makasih tapi aku sendiri aja gapapa kok," Emma tetap tak mau.
"Ya udah kalau begitu. Sampai ketemu di kantor ya. Hati-hati di jalan ntar," pesan Devan. Emma mengucapkan terima kasih lalu mengakhiri panggilannya.
Seperti biasa, Emma bersiap k kantor.
"Kamu nggak kerja?" tanya Emma ketika melihat suaminya yang malah bersiap untuk mencuci pakaian.
"Iya, aku nggak kerja," jawab Richard. Hatinya dipenuhi rasa penasaran dan cemburu lantaran istrinya kini berani menerima telpon dari teman prianya di hadapannya. Emma yang dulu telah berubah.
"Kenapa? Kamu sakit?" tanya Emma. Richard menggeleng.
"Mau kuantar?" tanya Richard menawarkan. Seperti biasa, Emma menolak.
"Ya sudah. Hati-hati di jalan ya," pesan Richard. Emma mengangguk. Richard sengaja tak ke kantor. Sebenarnya ia sedang berpikir untuk resign. Alasannya hanya satu. Rany masih disana. Ia berusaha untuk menghindari Rany. Meskipun tak mudah namun Richard memiliki kemauan dan niat yang kuat untuk berubah. Ia mengantar Emma sampai ke depan pintu. Tak ada hal spesial seperti dulu lagi. Ritual pamitan dan ciuman. Emma telah mulai berubah.
__ADS_1