NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
PART 15


__ADS_3

Tibalah hari yang ditunggu. Emma dan Richard berangkat ke tempat dimana mereka akan bertemu dengan Tasya.


Saat Emma dan Richard masuk ke taman terlihat Tasya sudah ada disitu dan sedang duduk di sebuah bangku panjang yang menghadap ke pantai.


Perasaan Emma kacau. Ia sedang berpikit keras,


" bagaimana jika mereka berdua menyerangku. Aku hanya sendiri tanpa siapapun dipihakku dan mereka berdua,


apa sebenarnya yang sedang mereka rencanakan. Bagaimanapun juga aku harus berhati hati, wanita ini sangat licik."

__ADS_1


Emma berkata di dalam hatinya.


sepeda motor Richard berhenti tepat di belakang Tasya. Emma segera turun dan berdiri sedikit jauh dari Tasya. Tasya terlihat sangat gugup. Richard mengajak Emma duduk di bangku panjang dimana Tasya juga duduk disitu.


Kini Emma bisa melihat dengan jelas wajah Tasya bahkan terlihat tangannya gemetar dan wajahnya terlihat sedikit panik.


" katakan apa yang ingin kau katakan. Aku tak punya banyak waktu ."


Tasya tertunduk, tangannya masih gemetar entahlah mungkin karena gugup atau ketakutan melihat Emma, wanita yang sudah dikhianatinya dan dihancurkannya. Ia mulai berbicara namun ia tak berani menatap ke arah Emma.

__ADS_1


" kak..sebelumnya saya mohon maaf yang sebesar besarnya untuk semua kesalahanku. Aku akui aku salah, tapi jujur tak ada sedikitpun berniat menghancurkan rumah tangga kalian. Aku salah dan kuakui itu. Aku mohon maafkan aku. Aku janji aku tidak akan mengganggu keluarga kakak lagi, aku sangat malu, kemanapun aku pergi aku selalu dicibir aku selalu menjadi bahan pembicaraan orang aku sangat malu aku tidak bisa hidup begini.Silahkan jika kak Emma mau menamparku atau memukulku, aku siap terima, silahkan kak tampar aku jika itu bisa membuat kak Emma merasa lega ."


Tasya berkata sambil menangis, bibirnya. Richard terlihat diam membisu. Emma berusaha menahan airmatanya. Wanita yang telah merebut kebahagiaannya kini berada tepat di depan matanya, ingin rasanya Emma mencakar wajahnya, mencaci maki, meludahinya, meluapkan semua amarah, kekecewaan, kekesalan dan sakit hati yang ia pendam selama ini. Namun Emma mencoba tenang, ia berusaha melawan emosinya.


" Cukup Tasya, stop bersandiwara di depanku, semuanya sudah terlambat. Kamu sudah hampir berhasil memisahkan aku dan anak-anakku dari suamiku. Aku tak mau dibodohi lagi dengan janji manismu karena aku sudah pernah memberikan kesempatan kepadamu tapi kau sia-siakan itu. Apa kamu tahu bagaimana perasaanku?


Tahukah kamu bagaimana rasanya dibentak oleh suami demi membela wanita lain? Diabaikan suami, diacuhkan hanya demi menjaga perasaan wanita lain? Kamu, kamu Tasya telah mengambil semuanya dariku. Demi kamu suamiku terus membohongiku, demi kamu suamiku tak punya waktu lagi untukku dan anak-anakku, karena kamu suamiku berulang kali membentaku, terang-terangan membelamu di depanku, dengan mulutnya sendiri mengatakan langsung kepadaku ingin meninggalkanku demi kamu. Apa kamu tahu bagaimana perasaanku? kamu tidak akan pernah tahu bagaimana perjuanganku bertahan dengan luka yang bertubi tubi . Yang kamu pikirkan hanya bagaimana merebut perhatian, kasih sayang suamiku agar ia lupa kepada istri juga anak-anaknya. Airmataku sudah kering tapi luka yang menganga lebar di hatiku yang paling dalam ini tak akan kering karena terus menerus disakiti lagi dan lagi. Kalian berdua puas kan sudah mmbuatku hancur?? Entah apa salahku pada kalian, atau mungkin aku bukan yang terbaik buat suamiku. Mungkin kamu yang lebih pantas berada disisinya. Aku tidak akan menampar, memukul atau mencaci maki kamu Tasya karena aku juga seorang wanita, aku sangat menghargai diriku itulah sebabnya aku sangat menghargai sesama wanita, meskipun aku disakiti. Aku tak akan membalas luka dengan luka karena aku tahu bagaimana rasanya terluka, mungkin karena sikapku inilah yang membuatmu sangat berani mengulangi perbuatanmu, perbuatan kalian. Karena kalian tahu aku hanya akan bisa membalas dengan airmata."


Emma meluapkan semua isi hatinya, ia tetap kuat, tak ada airmata yang mengalir meskipun di dalam hati ia merasa seperti tertusuk ribuan jarum.

__ADS_1


Suasana menjadi sepi hanya sesekali terdengar suara isak tangis pelan dari Tasya.


__ADS_2