NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Pengakuan Emma


__ADS_3

"Devan, terima kasih ya." Emma berkata lalu membuka pintu mobil. Devan mengangguk.


"Emma, tunggu," kata Devan lalu mengambil sesuatu. Emma menutup kembali pintu mobil yang sudah setengah terbuka.


"Aku hampir lupa. Ini oleh-oleh untuk anak-anakmu. Dan ini cemilan untukmu. Sengaja kubelikan karena aku khawatir kamu akan merasa lapar tengah malam." Devan menyodorkan dua kantong plastik berukuran besar.


"Devan, kamu tak perlu repot-repot. Aku jadi tidak enak denganmu, lagipula tengah malam aku sudah bermimpi, jadi aku tak akan sadar kalau aku lapar. Thank you so much ya Dev,' ucap Emma sambil menerima pemberian Devan.


"Aku tahu, kamu selalu tidur lewat tengah malam. Aku penikmat tulisanmu jadi aku bisa tahu jam kerja kamu." Devan berkata sambil tersenyum. Emma mengangkat alisnya. Ia sedikit terkejut mendengat ucapan Devan.


"Devan? Kamu tahu aku suka menulis?" Emma bertanya. Ia merasa tak percaya karena ia tak pernah memberitahu siapapun di kantor kalau ia suka menulis bahkan ia sudah menulis beberapa novel di beberapa platform.


"Kamu tak percaya?" Devan balik bertanya.


"Iya, aku tak percaya," jawab Emma santai.


"Mau kubuktikan?" Devan merasa tertantang karena Emma tak percaya kepadanya. Emma mengangguk.


"Cinta, sejauh apapun dipisahkan, ia akan menemukan jalannya untuk kembali. Terkadang cinta memang tak selalu segera memiliki, jika jodoh, akan tetap bersatu pada waktunya." Devan berkata setengah berbisik. Ucapannya berhasil membuat Emma terpaku.


"Kalimat itu....," Emma tak melanjutkan perkataannya. Ia menatap dalam-dalam wajah Devan.


"TLC, bukankah itu adalah novel yang kamu tulis? Aku tahu itu kamu, meskipun kamu menggunakan nama pena yang berbeda dengan nama aslimu." Ucapan Devan berhasil membuat Emma kembali teekejut.


"Devan?"


"Emma, just say yes, karena aku tahu itu tulisanmu."


"Ya, aku akui, itu memang tulisanku, Dev. Aku hanya terkejut."

__ADS_1


"Aku mengingat dengan baik diksi yang kamu mainkan di setiap bab. Aku menyukai caramu menulis."


"Terima kasih Devan. Aku senang mendengarnya. Dan juga, terima kasih sekali lagi untuk pemberianmu. Aku sangat menghargainya." Emma berkata sambil tersenyum, lalu membuka pintu mobil.


"Terima kasih kembali, Emma." Devan melirik jam tangannya.


"Masuklah. Aku akan menelponmu. Besok, aku akan menjemputmu disini. Selamat malam," lanjut Devan.


Emma mengangguk dan tersenyum.


"Selamat malam juga, Devan," balas Emma. Emma melangkah perlahan sambil sesekali menoleh ke mobil. Devan tersenyum.


'Maafkan aku, Emma. Aku telah diam-diam mencari tahu tentang kehidupanmu. Kamu wanita yang kuat dan sabar. Jujur, aku mencintaimu namun aku tak akan berharap banyak. Aku hanya ingin menjagamu meski dari jauh. Aku hanya ingin membahagiakanmu meskipun hanya dengan cara sederhana yang aku bisa. Aku ingin hubungan persahabatan kita tetap terjaga.' Devan berkata di dalam hatinya sambil tersenyum. Ia terus melihat Emma sampai Emma tiba di lobby hotel.


*****


Waktu sudah menunjukan pukul 06.30 pagi. Emma masih tertidur pulas. Ia baru bisa memejamkan matanya ketika subuh. Emma terkejut mendengar ponselnya yang berdering. Ia segera bangun dan mengambil ponselnya di atas meja.


"Hai, pagi." Terdengar suara devan menjawab dari seberang panggilan.


"Dev, maafkan aku. Aku ketiduran. Duh, gimana ini Dev," Emma terlihat kacau.


"Apanya yang bagaimana, Emma?" Devan bertanya.


"Dev, aku terlambat pesawat, bukan?" Emma mengacak rambutnya.


"Iya, kamu terlambat. Aku sudah di dalam pesawat. Kamu ikut penerbangan besok pagi ya." Devan menjawab.


"OMG, Devan, aku harus pulang hari ini. Maaf karena aku terlambat bangun. Tetapi aku tidak bisa menunda kepulanganku lagi. Aku akan cari tiket siang." Emma terlihat frustrasi. Devan tertawa.

__ADS_1


"Calm down, Emma. Aku hanya bercanda. Kamu belum liat pesan WA yang aku kirim kan? Liat dulu, jangan panik dulu." Devan tertawa.


Emma menarik napas lega.


"Soalnya aku baru bangun, kaget liat belasan panggilan dari kamu. Aku pikir aku terlambat pesawat," ujar Emma.


"Aku menelponmu, pertama , aku ingin memastikan apakah kamu sudah bangun atau belum. Yang kedua, aku mau tanya, kamu sudah sarapan atau belum. Yang ketiga, aku mau bilang kalau aku sudah pesan sarapan untukmu jadi jangan kaget kalau ada yang antar makanan kesitu." Devan menjelaskan.


Emma terdiam sejenak setelah mendengar penjelasan Devan.


"Hallo? Emma? Hallo?" Terdengar suara Devan memanggil-manggil Emma dari seberang panggilan.


"Iya Dev, aku masih disini. Terima kasih untuk pedulimu," jawab Emma singkat.


"Emma, maafkan aku. Mungkin aku terlalu berlebihan dan membuatmu tak nyaman. Sungguh aku minta maaf. Tolong cek WA kamu. Aku akan menjemputmu. Jangan lupa sarapan. Sampai ketemu nanti."


Terdengar suara Devan yang tadinya sangat bersemangat, tiba-tiba berubah. Suaranya terdengar sangat pelan. Ia seperti kehilangan semangat.


"Devan, kamu tidak berlebihan. Aku hanya..."


"Emma, please. Maaf. Aku merasa malu dengan sikapku sendiri. Aku janji, aku tak..."


"Devan, dengarkan aku. Aku belum selesai bicara."


"Emma, aku bisa menebak, apa yang akan kamu katakan. Aku tidak siap mendengarnya. Maafkan aku. Mungkin kamu menganggap perhatianku berlebihan, jadi aku..."


"Devan! Justru aku bahagia karena sebelumnya, aku hampir tidak pernah mendapatkan perhatian seperti yang kau berikan kepadaku dan aku bisa merasakan kalau pedulimu itu tulus. Aku senang, aku bahagia, bahkan sangat bahagia, Devan!"


Nada suara Emma meninggi.

__ADS_1


Tut... tut... tut.. Telepon terputus. Setelah menyelesaikan ucapannya, Emma sengaja mengakhiri panggilannya sepihak. Ia tak memberi kesempatan kepada Devan untuk merespon ucapan terakhirnya. Emma melempar ponselnya di atas ranjang. Ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, memeluk erat bantal guling di sampingnya lalu tetesan airmata perlahan jatuh membasahi pipinya.


"Bahkan suamiku sendiri tidak sepeduli ini kepadaku. Untuk mendapatkan pedulinya, aku sering harus mengemis belas kasihannya. Aku bisa merasakan setiap perhatian yang dia berikan kepadaku, terkadang hanyalah pura-pura. Peduli yang kuharapkan dari suamiku ternyata diberikan oleh orang lain kepadaku." Emma berkata sambil terisak. Setelah semua masalah yang ia lalui, memang suaminya berubah, namun perubahan itu tak seperti dulu lagi. Semuanya terasa berbeda, tak lagi seperti dulu. Dulu, akun sosial media milik suaminya selalu ada foto dirinya bahkan foto berdua. Kini, tak satupun lagi foto dirinya di akun sosial media suaminya. Meskipun mungkin ini adalah hal yang sepeleh, namun terkadang membuat Emma merasa beban. Ia merasa bahwa sepertinya, suaminya malu mengakuinya karena mungkin ia tak cukup cantik dibandingkan dengan wanita-wanita idaman suaminya. Ia juga menduga bahwa mungkin ada hati yang lain, yang sedang dijaga oleh suaminya, sehingga suaminya tak pernah lagi memposting fotonya atau foto kebersamaan mereka.


__ADS_2