
'Siapa ya? Oh iya, mungkin pelayan hotel.' Emma membatin lalu bergegas membuka pintu. Ketika pintu terbuka, Emma sangat terkejut melihat siapa yang datang.
"Devan?" Emma hampir tak percaya melihat Devan yang sedang berdiri di hadapannya.
"Hai, maaf aku mengejutkanmu." Devan berkata sambil tersenyum. Emma masih tak bergerak. Wajahnya terlihat bingung. Ia seperti kehilangan kata-kata. Ia terdiam untuk beberapa saat.
"Devan, mengapa kamu kesini? Maksudku, mengapa kamu tiba-tiba ada disini? Apakah ada hal yang penting? Atau, apakah aku melakukan kesalahan?" Emma mulai khawatir.
"Emma, jangan khawatir. Aku akan menjawab semua pertanyaanmu nanti. Sekarang kamu siap-siap. Kita akan keluar untuk makan." Devan berkata. Emma menatap Devan dengan ekspresi wajah penuh tanya.
"Ayo. Aku tunggu," ujar Devan lalu membalikan tubuhnya membelakangi Emma. Emma tak punya pilihan. Kebetulan ia juga telah siap. Ia bergegas masuk mengambil tas dan ponselnya, lalu keluar.
"Sudah siap?" Devan bertanya. Emma mengangguk pelan.
"Baiklah, ayo kita pergi," ujar Devan lalu melangkah disusul oleh Emma. Keduanya menuju ke halaman parkir. Devan berhenti tepat di samping sebuah mobil berwarna hitam. Ia membuka pintu mobil itu.
"Ayo, silakan masuk," ujar Devan. Emma mengucapkan terima kasih lalu masuk ke dalam mobil.
"Aku akan menjelaskan semuanya," ujar Devan seolah paham akan kebingungan Emma. Emma hanya mengangguk dan tersenyum tipis. Di dalam perjalanan keduanya tak banyak bicara.
"Mau makan apa?" Devan bertanya sambil melirik sebentar ke arah Emma.
"Apapun, yang penting bisa mengenyangkan perutku yang sedang lapar ini," jawab Emma sambil tertawa pelan. Devan ikut tertawa. Tak lama kemudian, Devan menghentikan mobil di depan sebuah restoran kecil. Tanpa menunggu, Emma langsung membuka pintu mobil.
"Emma, apa kamu tak masalah makan disini? Ini hanya restoran kecil, tetapi aku jamin makanannya enak dan bersih." Devan menahan tangan Emma. Ia terlihat ragu.
"Dev, aku tak masalah. Dimanapun asalkan bisa makan aku akan sangat bersyukur," jawab Emma dengan senyuman manisnya yang khas.
Devan mengangguk.
"Terima kasih," ucap Devan. Keduanya masuk ke dalam restoran itu. Sambil menunggu pesanan makanan keduanya mengobrol. Emma terlihat sedikit canggung, namun Devan selalu berusaha mencairkan suasana dengan candaan ringan. Ia paham. Ini pertama kalinya ia makan bersama Emma jadi wajar jika Emma merasa canggung.
__ADS_1
"Devan, ceritakan padaku bagaimana kamu bisa sampai disini. Bukannya kamu harus ke Bali?" Emma bertanya dengan wajah serius.
"Setelah kamu berangkat, aku juga berangkat ke Bali, lalu siangnya aku kesini. Kebetulan ada urusan keluarga." Devan menjelaskan. Emma mengangguk-angguk mendengar penjelasan Devan.
"Lalu, kapan kamu akan pulang ke Bali?" Emma bertanya lagi.
"Aku tidak ke Bali lagi. Kita akan pulang bersama besik pagi. Devan menjawab dengan nada pasti. Emma terlihat sedikit terkejut. Sebenarnya ia masih ingin tahu, namun ia memutuskan untuk tidak bertanya lagi karena bagaimanapun juga Devan adalah bossnya dan ia harus menghargai Devan dengan tidak menanyakan hal-hal yang tidak seharusnya ia ketahui. Setelah makanan yang dipesan datang, keduanya mulai makan. Tak ada pembicaraan diantara mereka. Mereka hanya sesekali saling menatap dan tersenyum.
"Bungkus satu ya buat malam, siapa tahu kamu kamu lapar." Devan menawarkan.
"Tak usah Dev, terima kasih," jawab Emma sambil menggeleng. Setelah makan keduanya langsung pulang.
"Sebentar ya." Devan menghentikan mobilnya dan membuka pintu dengan buru-buru lalu berlari keluar.
Emma terlihat gelisah. Sambil menunggu Devan, ia masih mencoba lagi untuk menghubungi suaminya namun ponsel suaminya masih tidak aktif.
"Dimana kamu pah? Mengapa ponsel kamu tak aktif? Mengapa kamu sama sekali tak menanyakan kabarku? Apakah kamu baik-baik saja? Aku khawatir. Please aktifkan ponselmu pah." Emma berkata seorang diri. Ia menatap kosong ke luar melalui jendela. Pikirannya melayang jauh.
"Emma, ada apa? Mengapa wajahmu muram begitu?" Devan bertanya. Emma tak menjawab.
"Maaf jika aku lancang," ujar Devan lalu menyalakan mesin mobilnya.
"Tak perlu minta maaf, Dev." Emma berkata. Ia mengembuskan napasnya perlahan.
"Terima kasih. Aku merasa bersalah melihatmu seperti ini karena kamu sejak tadi bersamaku. Siapa tahu aku melakukan sesuatu yang salah tanpa kusadari." Devan berkata sambil melirik sebentar ke arah Emma.
"Kamu tak melakukan kesalahan apapun kepadaku, Devan. Aku hanya sedang merasa bingung, gelisah dan juga sedikit..., ah entahlah." Emma tak jadi meneruskan ucapannya.
"Kamu memikirkan suamimu?" Devan spontan bertanya. Emma terkejut. Ia menoleh, menatap Devan.
"Darimana kamu tahu?" tanya Emma.
__ADS_1
"Itu ponsel kamu." Devan menjawab sambil menunjuk ponsel Emma dengan matanya. Emma mengalihkan pandangannya ke ponselnya. Layar ponsel yang masih menyala dengan tampilan belasan panggilan keluar untuk suaminya.
"Ponselnya tidak aktif sejak siang tadi.Tidak biasanya dia begini. Aku khawatir," ujar Emma. Devan mengurangi kecepatan mobilnya.
"Mungkin dia sibuk. Sms saja dulu. Kalo sudah terkirim baru kamu telepon. Kalo masih merasa gelisah, berdoalah agar kamu merasa lebih tenang." Devan menyarankan. Emma mengangguk.
"Tetapi aku yakin, dia baik-baik saja. Mungkin sibuk. Apa kamu mau aku menyuruh orangku untuk mengeceknya?" Devan menawarkan. Emma berpikir sejenak. Ia merasa tak perlu melakukan itu, namun di dalam hati kecilnya ia sangat penasaran.
"Kamu bisa melakukannya?" Emma bertanya. Ada secercah harapan di matanya.
"Bukan aku, tetapi orang kepercayaanku," jawab Devan.
"Lakukan apa yang bisa kamu lakukan. Tolong. sejujurnya aku sangat tak tenang," pinta Emma. Sebenarnya ia sangat terpaksa meminta tolong kepada Devan untuk mengecek suaminya. Ia tak punya pilihan lain. Meskipun begitu, wajahnya masih menunjukan sedikit keraguan.
"Jangan khawatir. Orang kepercayaanku akan melakukannya dengan baik. Tenangkan perasaanmu. Aku akan berhenti samapi kamu tersenyum lagi seperti beberapa saat yang lalu." Devan berkata lalu menghentikan mobilnya.
"Dev," Emma menatap Devan.
"Iya. Aku sedang tak ingin mendengarkan protes. Aku hanya ingin melihat kamu tersenyum." Devan berkata sambil menatap ke depan deengan wajah serius. Emma menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Ia mencoba untuk tersenyum.
"Dev, Devan," Emma memanggil Devan.
"Hmm, sudah?" Devan bertanya.
"Iya, sudah," jawab Emma.
Devan menoleh. Ia melihat Emma yang sedang tersenyum menatapnya. Devan ikut tersenyum. Ia menatap wajah Emma.
"Terima kasih. Kamu harus tetap tersenyum. Jika kamu murung, aku yang merasa bersalah." Devan berkata. Emma mengangguk.
"Terima kasih Devan. Maaf aku telah menyusahkanmu," ujar Emma.
__ADS_1
"Kamu sama sekali tidak menyusahkanku. Jangan berkata begitu,OK? Sekarang aku akan mengantarmu kembali ke hotel. Aku akan mengurus tiket untuk besok." Devan berkata lalu menjalankan mobilnya.