
Sepanjang jalan pulang, airmata Emma tak berhenti mengalir. Ia telah mencoba menahannya namun tak bisa. Bayangan Rany yang bergelayut mesra pada suaminya terus mengganggu pikirannya juga bayangan wajah bahagia Richard suaminya ketika bersama dengan Rany.
'Aku tak bisa pulang ke rumah dengan kondisi seperti ini. Aku tak ingin anak-anakku melihat kesedihanku.' Emma membatin lalu membelokkan sepeda motornya. Ia menuju ke taman kota. Gerimis hujan perlahan turun. Emma memarkirkan sepeda motornya dan duduk di bangku taman di bawah pohon paling ujung di taman itu. Taman itu sepi. Hanya terlihat beberapa orang yang mulai berpindah ke warung kopi karena gerimis. Emma tak peduli dengan bulir-bulir bening langit yang mulai membasahi wajahnya. Ia meletakkan tangannya di dadanya, mencoba menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Masih terasa sangat sesak. Ia mengangkat wajahnya menatap langit yang sedang menangis, lalu perlahan ia memejamkan matanya berharap airmatanya tak akan mengalir lagi namun sia-sia. Saat matanya terpejam, bulir-bulir bening kembali mengalir deras dari kedua sudut matanya. Kini, Emma tak berusaha menahannya lagi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan terisak. Ia membiarkan dirinya menangis.
'Richard, mengapa kau melakukan ini lagi dan lagi? Apa salahku padamu? Apa kurangku padamu? Katakan saja kepadaku, aku akan siapendengarnya tetapi jangan dengan cara seperti ini. Aku hanya manusia biasa, Richard. Sabarku ada batasnya. Sampai kapan kau mau menyakitiku terus seperti ini? Aku sungguh tak kuat lagi. Rasanya aku ingin mati saja.' Emma berkata di dalam hatinya. Bahunya bergoncang pelan tanda tangisnya semakin menjadi. Ponsel di dalam tasnya terus berdering namun ia sama sekali tidak peduli. Ia menunduk dan meletakkan dahinya di atas meja taman. Airmatanya masih belum berhenti mengalir. Rambutnya sudah basah oleh gerimis yang masih setia menyirami bumi. Ia mencoba menenangkan hatinya namun masih tak bisa. Ponselnya masih terus berdering. Ia tahu bahwa suaminya yang menelponnya sehingga ia memilih untuk mengabaikannya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menyentuh bahunya. Ia segera mengangkat wajahnya dan menyeka airmatanya lalu menoleh. Ia terkejut melihat Devan sedang berdiri di belakangnya.
"Pak Devan? Sejak kapan bapak ada disini?" Emma bertanya sambil berusaha tersenyum.
"Devan, not Pak Devan," jawab Devan sambil tersenyum lalu melepaskan jaketnya dan memberikannya kepada Emma.
"Pakai ini lalu ikut aku ke mobil," ujar Devan. Emma menggeleng.
"Tidak, Devan. Terima kasih. Biarkan aku sendiri." Emma berkata lalu mengembalikan jaket Devan.
__ADS_1
"Lihatlah sekelilingmu. Orang-orang itu memperhatikanmu sejak tadi. Lagipula sedang gerimis. Aku hanya ingin kau merasa nyaman. Jika kau ingin menangis, jangan disini. Menangislah di dalam mobilku. Tak akan ada yang melihatmu juga kau tak akan basah oleh hujan," ujar Devan. Emma terdiam sesaat lalu mengangguk. Tanpa mengatakan apapun lagi, Emma berjalan menuju ke mobil Devan. Devan mengikutinya dari belakang.
"Minumlah," kata Devan sambil menyodorkan sebotol air mineral. Lagi-lagi tanpa kata Emma mengambil dan langsung meneguknya. Devan menatap kosong jauh ke depan. Ponsel Emma berdering lagi. Devan melirik ke arah Emma. Emma terlihat tak peduli dengan dering ponselnya. Matanya sembab dan memerah. Wajahnya terlihat kusut. Matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam. Sesekali ia mengusap wajahnya dan menggeleng. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Bersamaan dengan itu, airmatanya kembali mengalir deras. Devan memalingkan wajahnya dan menatap Emma. Emma memegangi dadanya dan terisak pilu. Sesaat kemudian, ia meoleh melihat Devan lalu suara tangisnya pecah. Devan spontan mengulurkan tangannya, meraih kepala Emma dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Menangislah. Luapkan semuanya. Apapun itu, luapkan. Jangan menahannya," bisik Devan sambil menepuk-nepuk pelan bahu Emma. Emma menangis sesenggukan di dalam dekapan Devan. Suara tangisnya terdengar lirih. Kali ini, ia sungguh sangat terluka. Luka di atas luka yang diberikan oleh Richard, pria yang sangat dicintainya. Pria yang selalu ia hormati dan yang sudah ia percayakan kesempatan kedua kini kembali mengkhianatinya.
*****
"Emma, bolehkah aku bertanya?" Devanmelebarkan bola matanya menunggu persetujuan dari Emma. Emma mengangguk pelan.
"Apakah kau masih merasa sakit hati?" tanya Devan.
Emma menoleh menatap Devan lalu mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Menurutmu? Apakah kau pikir melupakan kejadian tadi semudah membalikkan telapak tangan? Tentu saja aku masih sangat sakit hati, Dev. Aku bahkan tak bisa berpikir jernih. Pikiranku sangat kacau. Aku stress, Devan," jawab Emma dengan nada tegas. Devan tersenyum mendengar jawaban Emma.
"Baiklah, Emma. Kau masih sangat sakit hati. Kau juga belum bisa berpikir jernih untuk saat ini jadi jangan mengambil keputusan apapun untuk saat ini. Kau boleh membuat keputusan disaat pikiranmu sudah tenang. Keputusan yang kau buat saat ini adalah hasil dari pikiranmu yang masih penuh dengan amarah. Kau belum melibatkan perasaanmu. Emma, aku tak membela Richard. Sama sekali tidak. Aku tidak memihak kepada kesalahan tetapi aku ingin mengatakan kepadamu bahwa tak ada manusia yang sempurna. Aku tidak sedang memaksamu untuk memaafkan dia tetapi aku ingin mengingatkanmu bahwa ketika pertama kali kau memutuskan untuk menikah dengannya itu artinya kau sudah siap menerima baiknya juga buruknya dia. Bukankah setiap rumah tangga memiliki ujiannya masing-masing?" Devan berkata dengan sangat lembut. Emma terdiam sesaat.
"Devan, aku yang merasakannya. Kau tak tahu betapa beratnya aku menjalani semua ini. Betapa susahnya aku berjuang untuk tetap kuat, untuk tetap waras meskipun berulang kali dia menyakiti aku. Aku hukan robot, Dev. Aku hanya wanita yang rapuh. Aku tak sanggup lagi. Aku ingin menyerah," jawab Emma dengan nada pelan. Devan tersenyum dan menepuk bahu Emma.
"Bagiku tidak. Kau bukan wanita yang rapuh. Jika kau adalah wanita yang rapuh, kau tak mungkin bisa bertahan sejauh ini. Lihatlah dirimu. Kau masih kuat, kau masih tegar dalam kondisi yang sama sekalipun kau masih bisa kembali tenang seperti ini. Emma, kau boleh mengeluh, boleh menangis, boleh marah tetapi jangan pernah berhenti berjuang. Bisa jadi ketika kau hampir putusasa, keajaiban sudah sangat dekat denganmu. Kau tak boleh kalah dengan masalah. Masalah yang harus kalah denganmu." Devan berkata sambil memberikan tissu kepada Emma. Emma mengambil tisu dan mengusap wajahnya.
"Tak usah memikirkan jawaban untuk merespon perkataanku barusan. Bersihkan wajahmu dan pakailah make up. Kau harus tetap terlihat bahagia dan bersemangat di hadapan anak-anakmu. Tunjukan cinta dan kebahagiaan kepada mereka, jangan kesedihanmu. Mereka tak pantas ikut merasakan sakitnya luka yang kau rasakan. You are a good mother. I trust you, Emma," ujar Devan. Emma menatap lama wajah Devan lalu ia tersenyum. Kali ini senyumnya terlihat lebih tulus dari sebelumnya.
"Demi anak-anakku," ujar Emma lalu menqrik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Devan tersenyum bahagia.
"Terima kasih, Devan," lanjut Emma.
__ADS_1