
Beberapa menit tanpa pembicaraan, akhirnya Richard bersuara.
" mah.. semua ini salahku, aku sudah mengkhianati kamu, aku sudah membohongi kamu. aku khilaf mah. Sebenarnya aku tidak siap, bahkan tidak akan bisa meninggalkanmu karena aku sangat mencintaimu dan anak-anak kita, aku salah sangat salah, meskipun mungkin kamu tidak bisa percaya padaku lagi tapi aku janji aku akan memperbaiki semua yang hampir hancur ini, aku akan melakukan apapun untuk mengembalikan semuanya seperti semula, aku terlalu banyak salah padamu mah. Maafkan aku.
Richard berkata sambil mencoba menggenggam tangan Emma namun Emma menepisnya.
" Aku tak boleh lemah, dengan mudah ia meminta maaf aku tidak yakin dia akan berubah, aku tidak mau rasa cintaku yang sangat besar untuknya membuatku lemah dan percaya pada ucapannya begitu saja."
Emma berkata di dalam hatinya. Ia menatap suaminya dan sambil tertawa sinis.
" Susah payah aku berjuang mempertahankan namun kau hancurkan lagi dan lagi, begitu mudah kau ucapkan janji tapi kau ingkari lagi dan lagi, apa kamu pikir aku ini robot? apa kamu pikir aku tak bisa merasakan sakit? Sampai hati kau bohongi aku berulang kali, tak ada sedikitpun rasa kasihan di hatimu ketika aku memohon kepadamu untuk tetap tinggal, aku tidak percaya kepadamu lagi "
__ADS_1
Ucap Emma tegas sambil menatap dalam-dalam mata suaminya. Richard menunduk tanpa kata. Terlihat Tasya sudah berhenti menangis.
" aku menunggu keputusanmu, kamu bilang sudah lelah denganku, sudah bosan denganku dan mau hidup bersama Tasya, kamu meminta waktu dan aku sudah memberikanmu waktu, sekarang Tasya juga ada disini jadi kamu pastikan semuanya biar Tasya juga tahu. Aku muak dengan kebohongan, sandiwara, permainan apapun itu aku muak. Aku tidak percaya kamu sudah berubah pikiran, jika kamu berubah karena ibumu yang meminta maka lebih baik lupakanlah. Lakukan apapun yang menurut kamu baik dan yang bisa membuatmu bahagia. Kesempatan yang sudah aku berikan kamu sia-siakan. "
Emma meninggikan suaranya. Beruntung tempat itu sedang sepi jadi tak ada yang melihat dan mendengarkan pembicaraan mereka.
Emma menarik nafas dalam, menghembuskan perlahan mencoba menenangkan hatinya. Sekuat hati ia menahan airmatanya. Matanya berkaca kaca ia mengalihkan pandangannya ke laut. Richard memandang istrinya ia tak bisa melakukan apapun hanya diam yang ia bisa.
Tasya berkata namun masih tetap tertunduk.
" Jika kamu mengajakku bertemu hanya untuk memintaku agar tak berpisah dengan Richard kamu keliru, harusnya yang kamu ajak ketemu itu Richard bukan aku. Karena yang memutuskan untuk pergi dan meninggalkan adalah Richard bukan aku dan kamulah alasannya,. Aku bukan boneka mainan kalian, seenaknya kalian mempermainkanku, memutarbalik pembicaraan sesuka hati kalian, setengah mati aku berjuang untuk menerima kenyataan ini, kenyataan akan ditinggal pergi suami yang sangat kucintai demi memilih wanita lain.
__ADS_1
Cukup Tasya, jangan memaksa kami untuk tetap bersama jika di dalam hati Richard hanya kamu yang dia inginkan, yang ia cinta yang ia harapkan.
Aku tak percaya kamu tak mau kami pisah, bukannya kamu sangat berambisi mendapatkan suamiku, buktinya sudah kuperingatkan tapi kamu malah semakin berani?
ingat Tasya, wanita baik-baik tak akan merusak rumah tangga orang lain meskipun ada kesempatan.
Emma mengakhiri pembicaraannya sambil mengambil tasnya, dan berjalan pergi meninggalkan Richard dan Tasya. Suaminya berlari mengejarnya.
" Tunggu mah, aku tahu kamu marah tapi tunggu kita akan pulang sama-sama. "
Emma menghentikan langkahnya dan menunggu suaminya. Tasya masih tetap diam di bangku panjang sambil sesekali megusap matanya. Mungkin ia menangis lagi, namun Emma tak peduli.
__ADS_1