NALURI ISTRI

NALURI ISTRI
Dilema Pecundang


__ADS_3

Richard sangat terkejut ketika pintu kamar tiba-tiba terbuka. Ia tertangkap basah sedang mengutak atik ponsel istrinya. Reaksi Emma diluar dugaan.


"Sayang, maaf, ini ponselmu. Tadi berdering jadi kuambil. Aku pikir ada telpon penting untukmu, ternyata bukan telpon tetapi sms," ujar Richard sambil mengembalikan ponsel Emma. Ia terlihat salah tingkah.


"Sms? Dari siapa? Coba dibaca pah. Tanganku basah. Aku lupa sabun wajahku masih di dalam tas, jadi aku kemari untuk mengambilnya," ujar Emma sambil membuka tasnya. Richard terdiam sesaat lalu membaca pesan masuk di ponsel Emma.


"Dari Santi mah," jawab Richard.


"Akan kubalas nanti setelah aku mandi, pah," jawab Emma sambil berjalan keluar dari kamar. Richard terlihat bingung. Ia menarik bapas panjang dan mengembuskannya dengan kasar. Ia menunduk kembali. Wajahnya sangat serius melihat layar ponsel Emma.


[Emma, kenapa kamu gak balas pesanku? Apa benar suamimu selingkuh lagi? Besok kamu punya waktu gak? Kita ketemuan ya kalo kamu gak sibuk. Aku pengen ngobrol sama kamu.]


Jantung Richard berdebar kencang membaca pesan dari sahabat istrinya.


'Darimana Santi tahu kalau aku berselingkuh?' Richard membatin. Ia sangat khawatir. Ia segera meenghapus pesan dari Santi dan meletakan ponsel Emma. Ia lalu naik ke atas ranjang dan membaringkan tubuhnya. Pikirannya kacau. Perasaannya tidak tenang.


"Bagaimana jika istriku sudah tahu tentang Rani?" Richard menggumam sambil mengacak kasar rambutnya. Ia gelisah. Jauh di dalam lubuk hatinya, ada perasaan takut. Ketika ia hampir terlelap, terdengar suara pintu kamar terbuka. Ia terkejut dan spontan menoleh ke arah pintu.


'Ia sudah selesai mandi," Richard membatin lalu segera bangun dan duduk. Emma berjalan menuju ke meja dan mengambil ponselnya.


"Sayang, maafkan aku. Aku telah melakukan kesalahan," ujar Richard sambil berjalan menghampiri Emma. Emma menoleh dan mengerutkan dahinya.


"Kesalahan? Kesalahan apa?" Emma bertanya.


"Aku tidak sengaja menghapus pesan dari Santi, sayang," ujar Richard sambil memeluk Emma dari belakang dan mengecup pipi Emma.

__ADS_1


"Tak masalah," ujar Emma sambil tersenyum. Senyuman yang terlihat datar, tawar dan terpaksa. Richard mengecup pipi Emma sekali lagi.


"Aku merindukanmu," bisik Richard. Emma tak menjawab. Ia diam saja.


"Aku akan mandi dan bersiap," lanjut Richard lalu melepaskan pelukannya. Emma mengangguk pelan. Richard segera berjalan keluar dari kamar. Tak seperti biasanya, ia yang selalu meletakan ponselnya dimanapun ketika ia mandi, kini, ponselnya dibawa. Emma menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan lalu tersenyum pahit.


"Tuhan, beri aku kesabaran seluas samudera. Aku ingin tetap waras dan sehat agar bisa membahagiakan anak-anakku," gumam Emma sambil tersenyum getir. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Santi. Ia meminta maaf karena untuk pesan yang tak sempat dibacanya. Ia tahu bahwa suaminya sengaja menghapus pesan itu. Acara makan dengan suaminya tiba-tiba terpaksa dibatalkan karena suaminya mendapat telpon dari kantor bahwa ada urusan penting yang sangat mendesak. Suaminya meminta maaf kepadanya dan berangkat lagi ke kantor.


"Maafkan aku mah. Next time ya. Aku mencintaimu." Richard mengirim pesan kepada Emma setelah tiba di kantor. Rekannya sudah menunggu. Mereka langsung bekerja. Ponsel Richard terus saja berdering ketika ia sedang bekerja.


'Itu pasti Rani,' batinnya lalu meneguk air di gelas yang ada di atas mejanya. Hari sudah malam. Richard dan temannya baru selesai bekerja. Keduanya bersiap untuk pulang. Richard memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan masuk dari Rani.


Richard mencoba mengabaikan. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam sakunya dan berjalan keluar dari kantor. Entah apa.yang dipikirkannya, ia mengambil kembali ponselnya dan mengecek pesan dari Rani.


[Yank, motorku mogok. Please, jemput aku. Sudah malam, aku takut pulang sendiri.] Bunyi pesan Rani.


Richard berpikir sesaat.


"Kamu dimana?" Richard membalas pesan Rani.


[Di kafe dekat kantor.] Rani membalas.


"Baiklah. Aku akan menjemputmu.] Richard mengirim lalu segera melajukan sepeda motornya meninggalkan kantor dan menuju ke kafe yang jaraknya tdak jauh dari kantor. Tak sampai sepuluh menit, Richard audah tiba di kafe tersebut. ia memarkirkan motornya lalu melihat sekelilingnya. Ia tak melihat Rani. Ia mengambil ponselnya dan menelpon Rani.


"Kamu dimana?" Richard bertanya segera setelah Rani mengangkat telponnya.

__ADS_1


"Aku di dalam. Masuk aja," jawab Rani.


"Kamu yang keluar. Aku tak akan masuk." Richard menjawab lalu mematikan telponnya. Beberapa saat kemudian, Rani muncul di pintu kafe. Richard terkejut melihat penampilan Rani. Rani mengenakan gaun pendek selutut. Bagian dada gaun itu terbuka agak lebar. Rani berjalan dengan cepat menghampiti Richard.


"Kamu kenapa jawabnya ketus amat. Kenapa kamu tiba-tiba berubah kayak gini?" Rani bertanya ketika melihat wajah Richard yang tiba-tiba berubah. Richard diam tak menjawab. Ia segera menghidupkan mesin sepeda motornya.


"Ayo naik. Kamu menelponku untuk menjemputmu, bukan?" Emosi Ranik memuncak seketika saat mendengar ucapan Richard.


"Richard, kamu kenapa sih? Apa salah aku sama kamu. Baru tadi kamu bersikap manis sama aku. Kenapa tiba-tiba sekarang kamu berubah?" Rani sangat kesal. Richard memalingkan wajahnya dan menatap Rani dalam-dalam.


"Oh, aku tahu, aku paham sekarang. Kau berubah karena istrimu sudah kembali, iya?" Rani meelotot marah kepada Richard.


"Kamu mau pulang atau tidak? Aku lelah. Aku mau beristirahat," jawab Richard sambil mengalihkan pandangannya ke depan.


"Richard, aku tidak mau tahu. Aku mau kau ikut aku ke dalam. Temani aku sebentar saja dan setelah itu antar aku pulang," ujar Rani tak mau kalah. Beberapa orang yang lewat disitu melihat mereka. Richard menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan kasar. Ia mematikan mesin sepeda motornya lalu memarkirkan kembali sepeda motornya. Ia turun lalu menarik tangan Rani dengan kasar.


"Ayo masuk. Aku memberimu waktu lima menit, setelah itu kita pulang." Richard berkata dengan nada yang kasar. Rani tak menjawab. Ia terlihat menahan emosi. Setelah sampai di delam kafe, Rani berubah pikiran. Ia melepaskan tangan Richard san berjalan keluar lagi dari kafe. Richard mengikutinya.


"Rani, jangan menguji kesabaranku." Richard berkata sambil menarik tangan Rani.


"Lepaska aku. Aku akan pulang sendiri. Aku tidak mengerti denganmu. Mengapa kau tiba-tiba berubah menjadi kasar kepadaku? Apa salahku, Richard? Katakan, biar aku tahu. Jangan begini. Kau menyakiti perasaanku. Aku sayang sama kamu, Richard. Aku cinta sama kamu. Atau mungkin kamu sudah tak cinta lagi padaku? Jujurlah, tak apa-apa," Rani berkata lirih. Matanya berkaca-kaca. Richard terdiam. Pikirannya kacau. Entah mengapa bayangan wajah istrnya memenuhi pikirannya. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Rani. Setelah terdiam beberapa saat, ia meraih tubuh Rani dan memeluknya.


"Maafkan aku," bisik Richard kepada Rani. Rani mengangguk pelan.


'Jika kau pikir aku akan menyerah dan mengikuti kemauanmu, kau salah, Richard. Aku tak akan mengakhiri begitu saja apa yang sudah kumulai dengan susah payah. Kau harus mengikuti semua yang aku mau.' Rani membatin lalu tersenyum sinis.

__ADS_1


__ADS_2