
Emma menatap wajahnya di cermin kecil yang selalu dibawanya. Ia tersenyum. Devan menatapnya dengan tatapan penuh arti.
"Kamu cantik," ujar Devan. Emma menoleh.
"Really?" tanya Emma sambil mengerutkan keningnya.
"Ya, kamu cantik," jawab Devan. Ia tak berhenti menatap Emma.
"Thank you, Devan. Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Emma terlihat bingung. Devan tertawa mendengar pertanyaan Emma.
"Tentu saja kau harus pulang dulu ke rumah. Anak-anakmu pasti sedang menunggumu," jawab Devan. Emma mengangguk pelan.
"Baiklah, aku akan pulang. Devan, terima kasih ya," ujar Emma.
"Terima kasih untuk apa?" tanya Devan.
"Untuk semuanya. Aku merasa lebih tenang sekarang," jawab Emma.
"Aku senang mendengarnya, Emma. Jaga dirimu. Kamu harus tetap kuat, tetap sehat dan kamu juga harus bahagia," ujar Devan.
"Siap, boss Devan." Emma berkata sambil tertawa lalu membuka pintu mobil. Devan mengantar Emma ke tempat Emma memarkirkan sepeda motornya.
__ADS_1
"Sampai bertemu di kantor besok. Berhati-hatilah. jangan ngebut," pesan Devan kepada Emma. Emma mengangguk sambil tersenyum.
"Jangan lupa pakai helmnya," lanjut Devan. Emma menoleh dan menatap Devan untuk beberapa saat. Devan tiba-tiba menjadi salah tingkah.
"Aku akan melakukan semua yang kau katakan, sahabat terbaikku," ujar Emma lalu melajukan sepeda motornya meninggalkan Devan. Devan menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan lalu berbalik menuju ke mobilnya.
"Bajingan kau, Richard! Jika saja aku tak memikirkan Emma dan anak-anakmu juga posisi dan statusku aku sudah membuat perhitungan denganmu. Kau tak layak disebut suami, tak pantas disebut ayah. Apa yang ada di pikiranmu sehingga kau selalu dan selalu menyakiti istrimu yang sangat mencintai dan menghormatimu. Kau sangat beruntung memiliki Emma. Harusnya kau bersyukur. Kali ini kau selamat tetapi lain kali aku tidak akan membiarkanmu menyakiti Emma lagi, tidak akan." Devan berkata seorang diri dengan nada marah. Ia meluapkan emosinya yang sejak tadi ditahannya. Bayangan wajah Emma memenuhi pikirannya. Setengah mati ia menahan perasaannya kepada Emma karena ia sangat menghormati pernikahan Emma dan Richard namun melihat semua yang terjadi Devan sepertinya tak peduli lagi. Ia sudah terlanjur kesal dan kecewa dengan perbuatan Richard. Sesaat ia terdiam. Ia mengacak kasar rambutnya.
"Andai saja, ahhh," gumam Devan lalu melajukan mobilnya meninggalkan taman kota.
Hari sudah malam. Richard mondar mandir tak tenang di depan rumah sambil memegang ponselnya. Wajahnya terlihat cemas. Beberapa kali anak-anaknya memanggilnya dan menanyakan ibu mereka. Sekali lagi ia mencoba menelpon Emma namun ponsel Emma kini tak aktif lagi.
"Sorry, sorry, sorry, sorry," gumam Richard terus menerus. Perasaannya tak tenang. Pikirannya kacau. Tiba-tiba terdengar bunyi sepeda motor. Richard memalingkan wajahnya melihat ke jalan. Emma pulang. Richard mengembuskan napas lega. Emma memarkirkan sepeda motornya. Richard berdiri mematung di depan pintu.
"Selamat malam juga, mah," balas Richard lalu memberi jalan kepada Emma yang langsung masuk tanpa melihatnya. Richard memutuskan untuk diam dan duduk di teras. Terdengar suara anak-anak berseru gembira ketika melihat kedatangan ibu mereka. Richard mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Jantungnya berdebar kencang. Malam itu tak ada yang berbeda. Emma melakukan tugasnya seperti biasa. Bahkan setelah menyiapkan makan malam, ia keluar dan memanggil suaminya di teras untuk makan malam bersama. Richard sungguh salah tingkah. Ia menjadi kikuk. Sikap Emma yang tenang membuat Richard semakin cemas.
*****
Malam semakin larut. Anak-anak sudah tidur. Richard masih betah di teras. Ia tidak berani masuk ke kamar.
'Apa yang harus aku katakan kepadanya? Aku sudah sangat bersalah. Ia pasti tidak akan memaafkanku. Ia pasti sangat kecewa denganku.' Richard berkata di dalam hatinya. Suasana rumah sudah sepi. Richard berdiri dan melangkah perlahan ke dalam. Ia mengunci pintu dengan hati-hati. Jantungnya berdebar semakin cepat ketika kakinya melangkah menuju ke kamar.
__ADS_1
'Aku harus siap menerima resiko atas perbuatanku. Aku memang salah,' batinnya lalu membuka pintu kamar perlahan. Emma terlihat sedang duduk di meja kerjanya. Di hadapannya ada secangkir teh dan laptop. Jari-jari lentiknya sibuk memainkan keyboard di depannya. Sesekali ia terlihat berpikir lalu kembali mengetik lagi. Ia sepertinya tak menyadari kehadiran suaminya. Richard menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan lalu berjalan menghampiri Emma.
"Mah," katanya lalu mengulurkan tangannya. Ia memberanikan dirinya menyentuh bahu Emma. Seketika, Emma menghentikan pekerjaannya.
"Maafkan aku, aku akui aku salah, mah. Aku sangat bersalah," lanjut Richard. Kini kedua tangannya memegang bahu Emma dari belakang. Emma melepaskan kacamatanya dan meletakannya di atas meja. Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya dengan kasar.
"Aku tak butuh permintaan maafmu. Jangan meminta maaf kepadaku tetapi minta maaflah kepada janji-janjimu yang pernah kau ucapkan untuk tidak melakukan hal hina itu lagi," jawab Emma dengan nada tegas.
"Aku sudah siap menerima resiko atas perbuatanku. Aku memang bersalah," ujar Richard.
"Kau telah siap menerima resiko karena memang itu yang kau inginkan, itu yang kau tunggu-tunggu selama ini. Kau ingin meninggalkanku tetapi kau tak mau mengatakannya kepadaku. Kau sengaja mengulangi lagi perbuatanmu dengan harapan aku meninggalkanmu seolah-olah aku yang salah karena aku yang membuat keputusan. Bukankah benar begitu? Aku tahu apa yang kau rencanakan." Emma berkata dengan nada lirih. Richard menggeleng.
"Tidak, mah. Sama sekali tidak. Aku tidak punya niat seperti itu. Aku tak merencanakan semua ini. Aku berani bersumpah, Mah. Maafkan aku." Richard berkata lalu menunduk.
"Lalu, mengapa kau melakukan ini kepadaku? Untuk apa semua ini? Mengapa kau tega menyakiti aku lagi dan lagi? Lihatlah diriku. Apakah kau tak punya rasa kasihan sedikitpun kepadaku? Mengapa kau tak bisa berhenti melukai perasaanku? Mengapa?" Emma berkata sambil berdiri dan berbalik menghadap Richard. Wajahnya memerah, tangannya gemetar. Ia menahan marah dan sakit hati.
"Aku salah, mah. Aku salah. Maafkan aku. Aku bukan suami yang baik. Aku sungguh mengaku salah," ujar Richard sambil berusaha memegang tangan Emma namun Emma menolaknya. Emma berusaha mengontrol emosinya. Matanya berkaca-kaca. Ia berusaha menahan airmatanya. Ia tak mau menangis di hadapan suaminya.
"Kau sungguh sedang membunuhku secara halus. Aku ingin kau katakan kepadaku sekarang juga, apa salahku? Apa kurangku sehingga kau menyakiti aku lagi? Katakan padaku mengapa aku harus selalu mendapatkan kecewa dan sakit hati ini? Apakah dengan begini bisa membuatmu bahagia? Jika ya, katakan saja biar aku tahu." Emma berkata sambil menatap tajam mata Richard. Richard menunduk diam.
"Mah, aku khilaf. Aku sungguh telah bersalah kepadamu. Kau bebas melakukan apapun kepadaku, aku pasrah karena aku salah," jawab Richard. Emma menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Airmatanya mengalir. Sesaat kemudian, ia bergerak dengan cepat mengambil kunci motor di atas mejanya lalu berlari keluar kamar. Richard yang melihat hal itu segera mengejar Emma. Ia berusaha mengambil kunci motor itu kembali dan menahan Emma agar tak pergi.
__ADS_1
"Lepaskan aku. Apakah kau tahu dan sadar siapa kau dan siapa aku sekarang? Bertahun-tahun aku mencoba sabar menghadapi sikapmu dan lihat apa yang aku dapatkan? Aku memang wanita yang bodoh. Aku bodoh karena terlalu percaya kepadamu, kepada semua janji manismu. Salahku adalah terlalu mencintaimu dan berharap kau juga sama tetapi ternyata aku bodoh. Susah payah aku menjaga kesetiaanku kepada pria yang sama sekali tidak menghargai aku dan hanya menganggapku sebagai pajangan. Aku tak dianggap. Siapa aku? Aku bukan siapa-siapa. Statusku sebagai istri hanyalah simbol semata. Aku telah kehilangan sandaran." Emma berkata dengan suara yang semakin pelan. Ia jatuh terduduk lemas di lantai. Airmatanya mengalir deras. Richard menunduk dan mengulurkan tangannya."
"Jangan menawarkan apapun lagi kepadaku termasuk harapan. Kau tak perlu mencoba menenangkanku. Aku tak butuh belas kasihanmu," ujar Emma. Air matanya mengalir semakin deras.