
Kehidupan penuh bahagia, tawa dan canda kini berubah menjadi tangisan.
Emma harus menahan airmata setiap melihat suaminya. Ia berpikir lebih baik segera berpisah daripada hidup dalam penderitaan.
Hari demi hari terlewati, masih dingin, masih tak ada yang berubah. Emma lebih banyak diam, terlihat jelas kondisi suaminya yang penuh beban, jarang tersenyum dan menjadi sering melamun sendirian. Entah apa yang ada di pikirannya, Emma tak ingin mencari tahu. Sangat tak enak menjalani hubungan tanpa kejelasan. Emma ingin segera mendapat status yang pasti. Ia tak ingin dibayang bayangi harapan yang tak pasti. Ia memutuskan untuk berbicara dengan suaminya. Ini bukan hal yang mudah namun Emma harus melakukannya demi sebuah kepastian.
Di suatu hari ketika suaminya sedang bersantai setelah makan malam, anak-abak sudah tidur dan Emma menggunakan kesempatan ini untuk berbicara.
" *bolehkah aku bicara?"
"boleh, mau bicara apa*?"
suaminya menjawab dingin tanpa menatapnya sama sekali.
"sampai kapan aku harus menunggu? kapan kamu akan siap untuk meninggalkan aku? Aku butuh kepastian karena aku ingin segera memulai kehidupan baru dengan anak-anakku, aku tak mau membuang waktuku dengan tangisan tidak berguna ini, anak-anakku membutuhkanku jadi tolong kamu pastikan."
Nada bicara Emma kali ini tegas dan pasti. Suaminya terdiam, tak bicara apapun, Ia hanya tertunduk memegang kepalanya.
"jawab pertanyaanku dan berikan aku kepastian. Aku tak ingin menjadi bodoh dan hancur karenamu, kamu sudah memilh Tasya yang jauh lebih baik dariku lalu apalagi yang kamu tunggu?
Aku tidak ingin membuang waktuku.
Kali ini Emma berkata dengan sedikit kesal. Masih tanpa suara, suaminya tetap menunduk, Di bawah cahaya lampu Emma bisa melihat dengan jelas ada airmata yang mengalir di pipinya.
__ADS_1
Emma mendekat,,
"kamu kenapa? apa ada yang salah dengan ucapanku? jika kamu tak suka mendengarkanku baiklah aku akan pergi tidur, tapi sekali lagi aku minta segera pastikan hubungan ini karena aku sudah lelah meenunggu,"
Tanpa menunggu jawaban suaminya Emma masuk ke dalam kamar.
Suaminya segera menyusulnya.
" Berikan aku waktu tiga hari lagi untuj berpikir, aku janji akan segera menyelesaikan semuanya.
Tiba-tiba suaminya berkata menarik paksa tangan Emma dan memeluknya.
Emma melepaskan pelukan suaminya dengan kasar.
" ingat baik-baik, kamu sendiri telah membuat jarak diantara kita, jangan pernah melanggar keputusanmu sendiri, aku bukan mainanmu.
Suaminya tidak membantah lagi, segera ia juga naik ke ranjang dan tidur.
******
Tiga hari telah berlalu. Emma gelisah, khawatir dan penasaran menjadi satu.
Meskipun sedang hancur Emma telah siap untuk menghadapi kenyataan ini.
__ADS_1
Namun sampai hari ke lima tak ada apapun yg dibicarakan oleh Richard.
Hingga pada hari ke lima itu Emma mendapat pesan dari Tasya.
Tasya : "kak, maaf telah lancang mengirim pesan kepadamu, apakah kita boleh bicara?
Emma : apa yang ingin kamu bicarakan lagi? katakan sekarang aku tak punya banyak waktu"
Tasya : aku tak bisa berbicara melaui telepon aku ingin kita bertemu dan berbicara secara langsung.
Emma : Dimana?
Tasya : Besok sore di taman di luar kota.
Emma : Baiklah aku akan mengajak Richard. aku ingin dia tahu apa yang akan kamu bicarakan
Tasya : Boleh.
Setelah mendapat pesan dari Tasya. Emma segera memberitahu suaminya.
" *Tasyamu ingin bertemu denganku. Apakah kamu tahu apa yang ingin dia bicarakan denganku? Sebenarnya aku tak sudi melihat wajah munafiknya namun aku ingin tahu apa yang i gin dikatakannya. Kamu akan ikut denganku. "
"baiklah*" jawab suaminya pelan.
__ADS_1
Emma yakin bahwa Tasya pasti ingin meminta maaf dan akan pamer kemesraan dan keseriusannya dengan Richard. Emma berpikir tak mengapa, Emma akan berusaha untuk kuat.
perasaan gelisah dan penasaran menghantuinya. Ia tak sabar menunggu esok hari.